[BAB 8] Kebahagiaan

Aku terkadang tidak habis pikir dengan tingkah kawanku yang satu ini. Dia sangat senang membuat semua orang penasaran dengan cerita-ceritanya. Disaat yang mendebarkan itu, yaitu saat Zini hampir saja mampus tertimpa tiang bendera, dia dengan senyum bangga mengatakan cerita itu akan dia lanjutkan lain waktu. Wajar saja aku dan si mbak yang punya warteg langsung kecewa dan protes. Akan tetapi dia malah semakin terlihat bangga dengan aksi protes kami. Dengan sombong dia berkata akan menyambung cerita itu dua hari lagi, saat dia selesai mengatur catalog perpustakaannya. Berpikir karena hari sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi saat itu, aku mengikhlaskan rasa penasaran itu untuk ditangguhkan dua hari lagi.

Dari warteg tersebut, aku langsung pulang ke kos-an dan tidur. Sekitar pukul sebelas siang, aku terbangun lagi dan berangkat menuju tempat bimbingan belajar di Jalan Kelapa Dua.

Dua hari kemudian.

Belajar dengan keras di tempat bimbingan belajar (bimberl) memang sangat melelahkan. Kalau bukan karena cita-cita untuk masuk universitas terbaik, mungkin aku sudah keluar dari bimbel tersebut. Tidak apa-apa. Karena sebentar lagi aku akan mendapatkan hiburan di warteg tempat aku biasa mengisi perut. Ryand berjanji akan melanjutkan ceritanya. Dan dalam perjalanan menuju warteg tersebut, aku menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan Zini. Kalau saja aku bisa menebak dengan benar, aku yakin bahwa sosok misterius yang menahan tiang itu adalah Hilarious. Siapa lagi kalau bukan dia? Dia Dewa jahil, dan mungkin juga yang menyebabkan tiang itu jatuh juga dia, karena dia memang Dewa yang kurang kerjaan. Selain itu aku juga penasaran dengan nama Xaviera yang diceritakan oleh kawanku si pawang cerita itu. Dia selalu membuat cerita dengan sangat rumit (atau bukan rumit, sebenarnya, melainkan terlalu bertele-tele). Seperti yang aku ceritakan pada paragaraf-paragraf di atas, bahwa tidak ada tebakan lain selain Zini, yang akan menjadi tokoh penentu perang Xofgar tersebut. Nama gadis itu adalah Zini, Zini Xaviera, dan juga menjadi tokoh utama dalam cerita itu (dari yang kita lihat menurut cerita yang dituturkan oleh si Ryand ini). Ya, aku yakin adalah Zini.

Aku masuk ke dalam warteg, dan belum melihat batang hidung si tukang cerita. Aku bertanya kepada si mbak, ”Temen saya yang cerita kemarin belum datang, ya, mbak?”

”Belom, Mas!” jawab si Mbak sambil menyediakan sepiring nasi untuk pelanggan lain. ”Saya juga menunggu-nunggu kedatangannya dari tadi pagi. Saya juga penasara, lho, Mas dengan ceritanya. Siapa? Si Jini itu, lho!?”

”Hahaha, akhirnya dia mendapat satu orang penggemar juga,” gerutu saya sambil tertawa. ”Ya udah, sambil nunggu dia, biasa, deh, Mbak. Nasi pake kangkung, tempe, dan telor dadar, ya!”

”Oke, Mas!”

Ryand baru menampakkan batang hidungnya saat nasi di piringku tinggal setengah. Dia tidak datang sendiri, tetapi dengan dua orang (mungkin temannya) yang umurnya kurang lebih sama dengan kami. Laki-laki dan perempuan.

”Kau begitu semangat sekali, kawan!” kata Ryand. ”Sudah menunggu dari tadi?” dia tersenyum lebar.

”Tidak, aku ke sini karena lapar,” kataku seraya menenggak seteguk es teh manis.

”Oh, kau tidak mau dengar cerita lanjutan Zini?”

”Aku yakin kau pasti mau bercerita karena tidak ada selain aku yang mau mendengarnya,” aku mencemooh.

”Oh, tidak!” kata Ryand geleng kepala. ”Kau salah, aku sudah ada pendengar baru yang setia sekarang!” katanya lagi seraya melirik ke dua temannya.

Aku mengangguk kepada dua orang itu.

”Kenalkan kawanku yang satu ini, Manshur, atau biasa dipanggil Tolenk, Tolenk Junior, begitulah dia bangga dengan namanya,” kata Ryand seraya memperkenalkan aku dengan dua temannya. ”Lenk, kenalkan Amanda, dan Budi.”

”Senang berkenalan denganmu, Tolenk!” ujar Amanda. Aku tersenyum dan mengangguk.

”Kau sudah berteman lama dengan Ryand?” tanya Budi seketika duduk di sebelahku.

”Kami teman sejak duduk di bangku SMA,” jawabku. ”Aku kaget dia bisa mendapatkan teman dan ’pendengar setia’ selain aku!” kataku lagi seraya menggerakkan kedua tangan memberikan gaya tanda kutib.

Amanda tersenyum. ”Dia memang orang yang penuh imajinasi, ceritanya menarik.”

Ryand dan Budi memesan sepiring nasi kepada si Mbak sementara Amanda hanya memesan es teh mani. Kami berempat duduk satu meja. Kemudian Ryand berkata, ”Baiklah pendengar setiaku (dan seketika juga si Mbak duduk di meja kasir dan menghadap ke meja kami, ikut mendengarkan cerita. Dan sementara pengunjung lain di warteg itu hanya melihat dan diam tidak berbicara). Aku akan lanjutkan ceritanya. Sampai dimana waktu itu?”

”Tiang bendera!” ujar Amanda.

Aku heran, ternyata Ryand sudah menceritakan cerita Zini kepada dua temannya itu dan terputus pada episode yang sama denganku. Sepertinya Ryand mulai meniti karir sebagai tukang cerita yang serius. Aku tertawa dalam hati.

”Kita tinggalkan sejenak lapangan upacara bendera yang suasananya tegang itu,” kata Ryand. ” Kita beralih ke negeri Urmon, tetapi bukan pada masa dimana Xelodon berjuang keras melawan musuh-musuh dari Numlock. Tetapi sekitar sepuluh tahun sebelum itu. Kita akan melihat situasi kahyangan setelah mendengar persembahan dari manusia-manusia dari kerajaan Urmon.”

”Tunggu sebentar, aku sedikit bingung di sini!” ujar Budi. ”Bukankah persembahan yang dilakukan itu adalah pada masa Xelodon hidup, atau pada masa perang Xofgar sedang berkobar? Tapi mengapa kau bilang sepuluh tahun sebelum itu, dan mengatakan lagi setelah persembahan manusia-manusia di kerajaan Urmon. Rancu sekali ceritanya.”

”Aku tidak memberikan gambaran yang rancu, kawan!” ujar Ryand. ”Aku beri tahu kalian, di kahyangan, tidak dikenal waktu. Setiap para dewa mendengarkan doa-doa semua makhluk hidup dari berbagai tempat dari setiap galaksi atau bintang-bintang (mungkin maksud Ryand adalah planet, dia sediki berpuitis disni!) kehidupan, dan dari berbagai massa. Jadi bisa saja dalam waktu bersamaan, Dewa mendengar doa orang pada masa PD I, masa sekarang, dan seratus tahun yang akan datang. Semua doa itu ditampung di kekuasaan para Dewa, atau lebih tepatnya Pencipta Alam. Seperti yang aku ceritakan tempo hari, semua sudah digariskan dalam kitab Mahfuz itu.”

”Seperti penggambaran sebuah media komputer, ya?” ujar Amanda.

”Maksudnya?”

”Ya, sepertinya semua sudah diatur mulai dari terciptanya kehidupan hingga hari kiamat tiba,” jelas Amanda. ”seperti sebuah stok kaset, yang merekam semua skenario dari berbagai waktu. Atau seperti sebuah sistem komputer yang sudah diatur sedemikan rupa, jadi Dewa-dewa tinggal melihat keadaanya dari layar monitor. Dan lebih tepatnya, Dewa-dewa tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang telah terjadi di masa lalu, dan apa yang terjadi di masa sekarang (di kehidupan manusia atau makhluk hidup lainnya), karena semuanya ada di dalam sistem komputer mereka. Bukan begitu?”

”Kurang lebih seperti itu,” jawab Ryand. ”Dewa bisa melihat apa yang kau lakukan kemarin, sekarang, dan besok secara bersamaan dengan ’sistem komputer’ mereka!”

”Bukan kah memang begitu yang namanya kekuasaan Tuhan?” ujarku.

”Ya, Tuhan Mahakuasa!” kata Ryand. ”Dan dalam cerita ini, Dewa adalah Tuhan mereka.”

”Dewa Hilarious mengakui dirinya dalah Dewa kegembiraan dan kebahagiaan,” lanjut Ryand mulai bercerita lagi. ”Dan karenanya dia sering membuat ulah untuk membuat semua kehidupan bisa tertawa lepas. Walau terkadang ulahnya itu terlalu berlebihan, dan dia sering berurusan dengan si Dewa Petir. Coba kau ingat-ingat, pernahkah kau melihat orang mengumpat-umpat (atau kita sebut saja istilah ‘latah’) saat mendengar petir berbunyi dengan sangat keras?! Nah, itu sebenarnya adalah ulah dari Dewa Petir dan Dewa Jahil. Mereka bertengkar dan berseteru, kemudian berdampak kepada kehidupan manusia di bumi.

”Mendapat tugas dari Zactuwisnu untuk mengatur dan menata kehidupan manusia pada masa perang Xofgar, membuat Hilarious begitu kesal.

”Bukan seperti ini tugas Dewa kegembiraan!” Ryand memperagakan imajinasinya tentang ekspresi Dewa Hilarious di depan kami. ”Ini menganggu kinerja dan karirku sebagai Dewa paling berbahagia di seluruh jagat.”

”Bukan Hilarious namanya kalau dia tidak mempunyai seribu ide dan imajinasi,” mata Ryand mulai bersemangat. ”Dia tahu bagaimana caranya membuat tugasnya menjadi menarik. Dengan wewenang yang dimilikinya untuk mengurus sebagian kehidupan manusia itu, akhirnya dia mempunyai gagasan untuk membuat kisah manusia-manusia Urmon lebih menarik dan mengesankan. Dan pada suatu waktu, Hilarious turun ke bumi untuk menjalankan tugasnya. Dan seperti yang aku bilang tadi, Dewa dengan mudahnya datang dan pergi dalam kehidupan manusia, dengan mudahnya melintasi setiap jaman dan waktu, dan dengan mudahnya melakukan segalanya di kehidupan manusia (termasuk bumi),” jelas Ryand. ”Karena Dewa adalah Dewa!”

”Kelihatannya cerita mulai rumit untuk dicerna, kawan!” kataku.

”Terkesan seperti cerita novel terjemahan saja,” ujar Amanda.

”Aku bukan seorang plagiat,” kata Ryand seraya minum segelas air.

”Lanjutkan ceritanya,” bisik Budi. ”sepertinya semua orang dalam warteg ini melai tertarik dengan ceritamu!”

Aku melihat kesekeliling ku, dan apa yang dikatakan Budi benar sekali. Semua mata tertuju ke arah meja kami.

Jelas sekali suaranya dibesar-besarkan (Ryand mulai tersanjung dengan respon orang-orang dalam warteg), Ryand melanjutkan ceritanya.

________________________________

Masih sepuluh tahun yang lalu.

Disuatu wilayah terpencil di kaki Gunung Algarine, ada sebuah ladang yang dimiliki oleh seorang petani tua bernama Callusol. Dia memiliki seorang cucu berumur delapan tahun bernama Almeira Wovauro. Kakek-cucu ini hanya tinggal berdua. Sejak umur satu tahun, gadis kecil itu ditinggal oleh kedua orang tuanya karena perang. Callusol sebenarnya bukanlah kakek kandung Almeira. Wovauro adalah seorang saudagar kaya waktu Almeira masih kecil. Namun, dia dan isterinya mati saat desa mereka diserang oleh musuh, bangsa Numlock. Desa tempat tinggal Almeira dulu adalah desa kecil di ebelah Barat Daya istana Urmon. Sebagai orang keprcayaan saudagar, Callusol pergi membawa Almeira, dan menjaganya dari maut. Callusol memiliki kemampuan bela diri yang tangguh, dan dia mengajarkannya kepada Almeira. Dia berharap dapat menebus kesalahan karena tidak berhasil melindungi tuan Wovauro dari kematian dengan mewariskan ilmu bela diri itu kepada gadis yang sudah dianggapnya sebagai cucu sendiri.

”Kakek, waktunya makan!” Almeira bersorak dari pondok di pinggir ladang.

Callusol yang sekarang sudah benar-benar tua, memegang pinggangnya karena sudah seharian mencangkul tanah. Dia berjalan tertatih-tatih menuju pondok.

”Ini, Kek, sagu kepal nya!” ujar Almeira seraya memberikan sagu yang di tanak di atas daun pisang. Callusol menerimanya dengan tersenyum kemudian mengipas-kipas topi taninya untuk menyejukkan diri, lalu menyantap sagu tersebut.

”Bagaimana kabar musafir itu?” tanya Callusol kepada Almeira.

”Dia sedang duduk dengan tenang membaca buku,” jawab Almeira. ”Aku akan ke kamarnya untuk memberikan sagu tanak.” kata Almeira lagi seraya pergi.

Tujuh hari yang lalu, Almeira yang sedang bermain di ladang, dikejutkan oleh suara rintihan dari balik batang jagung. Ternyata suara itu adalah suara seorang laki-laki yang sedang cedera dan memerlukan bantuan. Almeira berlari memanggil kakeknya dan memberitahukan bahwa ada seorang yang terluka. Callusol dan cucunya kemudian membawa orang tersebut ke pondok mereka. Luka yang diderita oleh orang asing itu tidak terlalu parah, namun mau tidak mau mereka harus memberikan kamar kepada mereka sampai lukanya sembuh. Kepada Callusol, orang asing tersebut mengaku sebagai seorang musafir yang sedang dikejar-kejar oleh pasukan perang karena dicurigai sebagai mata-mata dari bangsa Numlock. Namun dia meyakinkan Callusol dan cucunya bahwa dia hanyalah seorang musafir yang mencari kebenaran tentang ilmu pengetahuan dan sejarah, yang tersesat dan berusaha menyelamatkan diri dari kejaran para parjurit yang salah sangka. Dia berjanji akan meninggalkan pondok sesegera mungkin apabila lukanya sembuh. Tapi Callusol adalah seorang yang baik hati. Dia dan cucunya menawarkan kepada si musafir untuk tinggal selama dia mau. Si musafir menerima tawaran itu dengan senang hati.

”Tuan musafir, aku membawakanmu makanan sagu untuk santapan siang!” ujar Almeira seraya meletakkan makanan itu disampingnya.

Si musafir mengangkat wajahnya dari balik buku, kemudian tersenyum riang kepada Almeira. ”Terimakasih, gadis kecil!” katanya. ”Kau memang baik sekali.”

”Kau sedang baca apa, Tuan?” tanya Almeira penasaran dengan buku yang dibaca oleh si musafir.

”Oh, kau tertarik dengan buku ini?” tanya si musafir. ”Ini adalah buku sejarah, menceritakan tentang kisah kepahlawanan Dewa Voyage dalam mitologi bangsa Raghnaraz.”

”Siapa itu Dewa Voyage?” tanya Almeira lagi.

”Dia adalah Dewa Perang yang berhasil menyelamatkan Gunung Olygampus dari serangan Demon,” jelas si musafir. ”tapi, ya, tidak begitu hebat lah. Masih hebat lagi si Dewa Kebahagiaan.” si musafir tertawa terkekeh saat mengucapkan kalimat tersebut.

Almeira yang kebingungan bertanya lagi, ”Mengapa dia tidak begitu hebat? Bukan kah Dewa Perang itu sungguh gagah dan berani. Dan tidak bisa dibandingkan dengan Dewa Kebahagiaan. Apa kehebatan Dewa Kebahagiaan?”

”Oooooh, dasar anak kecil!” gerutu si musafir pelan kepada dirinya sendiri, sangat pelan dan Almeira tidak mendengarnya. ”Kau memang benar, gadis kecil! Dewa Voyage (”Yang sangat angkuh itu,” gerutu si musafir pelan) adalah Dewa yang sangat hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal mengangkat pedang dan busur serta panah. Tetapi bukankah kebahagiaan adalah sesuatu yang paling hebat dan paling luar biasa di dunia ini? Kehebatan Dewa Kebahagiaan adalah memberikan kebahagiaan kepada kehidupan,” kata si musafir.

”Kebahagiaan?”

”Ya, kebahagiaan!” si musafir mengangguk dengan yakin. ”Semua orang di dunia ini butuh kebahagiaan. Butuh sesuatu untuk bersenang-senang, butuh sedikit lelucon agar bisa tertawa. Karena kebahagiaan adalah hal yang penting untuk menikmati hidup.”

”Seperti apa tepatnya kebahagiaan itu?” tanya Almeira

”Hmm, siapa orang yang paling kau cintai di dunia ini?” tanya si musafir.

”Kakek bilang ayah dan ibuku adalah orang yang baik. Mereka sangat menyayangi ku. Tapi sayang mereka harus meninggal di tangan para prajurit perang. Kakek bilang, kalau seandainya tidak ada perang, mungkin ayah dan ibu bisa berkumpul bersama-sama dengan kami, hidup sejahtera dalam damai. Aku juga sangat mencintai mereka, meskipun belum pernah berjumpa.”

”Itu adalah kebahagiaan, gadis kecil!” jawab si musafir tersenyum hangat.

”Aku juga menyayangi kakek,” kata Almeira bersemangat. ”Dia mengajariku bagaimana cara menanam jagung, mengajariku ilmu beladiri, dan menceritakan dongeng setiap kali aku akan tidur.”

”Dan itu juga kebahagiaan!” jawab si musafir.

Almeira tersenyum lebar. Dia memandang wajah si musafir, yang meskipun terlihat aneh, sangat hangat dengan senyum di wajahnya. ”Sepertinya aku mengerti apa itu kebahagiaan!” katanya kemudian.

”Makan makanan enak buatan gadis kecil seperti mu, juga merupakan kebahagiaan!” kata si musafir tertawa seraya menyuap sagu tanak.
_________________________________

”Siapa lagi itu si Almeira?” tanyaku bingung. ”semakin banyak saja tokoh dalam ceritamu.”

”Dan siapa si musafir itu?” tanya Budi menimpali.

”Dengarkan saja dulu ceritanya, jangan banyak tanya!” kata Ryand jengkel.

Amanda tersenyum geli menahan tawa.

”Kita kembali ke masa-masa Urmon sibuk dengan perang Xofgar. Tetapi waktunya berubah sedikit beberapa saat. Agar terkesan menarik, tentunya. Kau bisa menebak apa yang akan terjadi!” kata Ryand tersenyum dengan bangga.
______________________________

Hilarious bukanlah jin atau sejenisnya. Tetapi kali ini dia harus ikhlas menjadi asap dalam sebuah bola kristal. Dan dia sangat muak mendengar mantra-mantra yang tidak jelas dari mulut dukun sialan di luar bola kristal tersebut, yang sedang berusaha melihat ramalan.

”Dari mana dukun brengsek ini mendapat kata-kata tidak berguna seperti itu?” ujar Hilarious dalam hati. ”Lagipula, aku tidak mengerti sama sekali dengan mantranya. Dasar manusia kurang bahagia! Ah, menjadi asap dalam bola kecil ini memang sangat memuakkan. Lebih baik aku selesaikan segera.”

Saat mantra dari dukun semakin kencang, asap dalam bola kristal mulai berputar dan membentuk sesuatu. Kemudian bola kristal mulai terasa panas, dan dari balik asap terlihat cahaya yang sangat terang. Samar-samar sebuah tanda mulai terlihat.

Dentuman keras terdengar dari belakang saat pintu terbuka dengan paksa. Seorang prajurit membanting helm dari jubah zirahnya, kemudian mencabut pedang panjangnya dan mengarahkannya kepada si dukun yang bergetar ketakutan.

”Lagi-lagi kau memberikan bualan tidak berguna!” kata prajurit itu dengan marah. ”Xaviera itu tidak ada. Semua kurir sudah diperintahkan mencarinya ke pelosok negeri, tetapi tidak ditemukan juga. Sementara perang dan serangan-serangan musuh tetap berjalan. Kami tidak bisa menunggu. Kau harus membatalkan ramalan itu dan memberitahukannya kepada raja, bahwa perang terbuka harus segera dipersiapkan!”

Walau ketakutan, si dukun masih menatap bola kristal dengan serius. Cahaya dalam bola mulai membentuk bahasa-bahasa spiritual, kemudian si dukun mengerti apa maksud dari tanda-tanda itu.

Kemudian si dukun membalikkan badan, dan melihat wajah si prajurit yang merah padam karena seking marahnya. Si dukun berkata, ”Aku telah melihat cahaya. Xaviera sebentar lagi akan tiba!”

”Kapan?” tanya prajurit itu semakin marah.

”Sebentar lagi!” dukun itu mengangguk. ”Kau boleh penggal kepalaku jika ramalan ku tidak benar, sampai perang terbuka terjadi.”

Prajurit itu terdiam terpaku mendengar sumpah keyakinan dari dukun yang membaca mantra itu.

Dari dalam bola kristal itu, Hilarious tertawa melihat kejadian di luar bola. Dia merasa geli mendengar sumpah dari si dukun tua bodoh itu. Dan juga tertawa melihat keringat kekhawatiran di kening prajurit yang marah-marah tersebut. Setiap manusia terlalu menakutkan dan mengkhawatirkan apa yang terjadi.

”Hah, dasar manusia bodoh!” gerutu Hilarious pelan. “People are too concern with what was and what will be. There’s a saying. Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the “present”. Tidakkan mereka pernah mendengar pepatah tersebut? Gwahahahhah!!!”

Kemudian asap mulai menghilang dari bola kristal. Hilarious dalam tawanya keluar dari bola itu dan pergi ke tempat lain yang ingin dia tuju.

____________________

Zini masih shock, dan dia sekarang terduduk di bangku di ruangan majelis guru. Kejadian sepuluh menit yang lalu benar-benar mengejutkan.

“Zini kamu baik-baik saja?” tanya Bu Aat kepada Zini. “Kamu tidak cedara, kan? Ada yang luka?”

Zini hanya bisa menggeleng. Tubuhnya masih bergetar dan lidahnya masih kaku untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sementara itu, pikirannya masih melayang mengingat tiang itu hendak menghantam kepalanya. Dan orang yang menolongnya tadi, siapa?

Kemudian beberapa guru masuk, begitu juga dengan kepala sekolah.

”Kamu tidak apa-apa?” tanya kepala sekolah. Lagi-lagi Zini hanya menggelengkan kepala. ”Untung ada Vicko, kalau tidak, bapak tidak bisa membayangkannya. Jam pelajaran kita undur setengah jam lagi, lebih baik suruh siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Burhan, tolong perbaiki tiang bendera itu!”

”Baik, Pak!” kata penjaga sekolah.

”Kamu lebih baik tenangkan diri di sini dulu! Ibu Aat, bisa ke ruangan saya sebentar?” kata kepala sekolah.

”Baik, Pak!” jawab Bu Aat. ”Kamu di sini saja dulu, ya, Zini!”

Zini hanya mengangguk.

Dari tempat duduk itu, Zini bisa melihat ke luar, ke koridor, dan dari arah sana terdengar hiruk pikuk karena kejadian tadi. Sesaat kemudian Zini melihat sosok yang menolongnya tadi, dia adalah Vicko, si ketua OSIS.

”Aksimu begitu hebat, kawan!” kata teman Vicko sambil memukul udara. ”Kau seperti Hulk saat menahan tiang itu!”

”Kau belajar itu dari mana?” tanya temannya yang lain.

”Kita harus merayakan ini ke kantin!” kata yang lain lagi. ”Ketua OSIS kita memang seorang jagoan sekolah!”

Zini kemudian merebahkan badannya di sandaran bangku. Menghela napas, dan dia mulai merasakan dirinya tenang.

”Wow!” serunya pelan.

Pada jam istirahat kedua, Zini duduk di kantin pujasera. Perasaannya sudah lebih baik saat itu. Kemudian datang Hendru menghampiri sambil membawa minuman softdrink.
”Kamu mau?”

Thanks!” kata Zini tersenyum.

”Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Hendru khawatir. ”Kejadian tadi pasti benar-benar bikin shock. Sayang aku keburu pindah tempat setelah memberi kamu saputangan. Seandainya aku masih di samping kamu tadi…”

”Ya, aku baik-baik saja, kok!” kata Zini tersenyum. ”Kenapa kalau seandainya kamu masih di samping aku tadi?”

”Ya, aku pasti menolong kamu!” Hendru garuk-garuk kepala. ”Tapi ada yang lebih cepat dari aku!”

”Ya wajar, kamu, kan, jauh dari aku barisannya,” ujar Zini. ”tapi aneh… mengapa dia bisa secepat itu?”

”Maksud kamu Vicko?”

”Ya.”

Hendru hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian meminum softdrinknya. Begitu juga dengan Zini. Kemudian perhatian Zini terlaihkan ketika secara tak sengaja melihat Vicko sedan berjalan menuju aula sekolah melintasi lapangan basket di depan kantin pujasera.

”Tunggu sebentar ya!” kata Zini. Kemudian Zini berlari dari kanitn.

”Mau kemana?” tanya Hendru.

Ternyata Zini berlari mengejar Vicko. Saat berhasil menyusulnya, Zini memanggil ketua OSIS itu. ”Vicko!”

Si ketua OSIS menoleh, dan tersenyum. ”Hei, kamu baik-baik aja, kan?”

”Oh, ya!” jawab Zini dengan canggung. ”Aku… aku mau bilang terimakasih, karena sudah…”

”Sama-sama!” jawab Vicko santai. ”Saran dari ku, lain kali jangan melamun saat upacara!”

”Aku tidak melamun, tapi tiang itu begitu cepat. Tapi untung saja kamu datang menolong.”

”Yah, aku lebih cepat!” kata Vicko tersenyum. ”Aku ke aula dulu, ya!”

Zini masih berdiri di tempat melihat Vicko hinggga dia masuk ke dalam aula. Kemudian dia kembali ke kantin dan duduk di samping Hendru.

”Pahlawan baru?” celetuk Hendru.

”Maksud kamu?” tanya Zini mengernyit.

Nggak..!” Hendru meminum lagi softdrinknya.

”Hhhh…!” Zini menghela napas sambil memandang botol di mejanya.

Dan tanpa tanda apa-apa, tiba-tiba saja tangan Hendru menyentuh tangan Zini, kemudian berkata dengan lembut, ”Lain kali, kalau hal seperti itu terjadi lagi, aku berjanji bahwa aku lah yang pertama kali akan menolong kamu!”

Zini tertunduk malu menyembunyikan wajah merah meronanya.

___________________________

”Aaaarrrgghh!!!!” seru ku memukul kening. ”Lagi-lagi cerita ini dibumbui oleh cinta remaja SMA seperti itu!”

”Bagus, kan?” ujar Amanda. ”Romantis!”

”Aku setuju!” jawab Budi seketika menatap gadis di depannya itu.

”Sayang sekali aku katakan kepada kalian, bahwa memang seperti itulah ceritanya!” kata Ryand. ”Mbak, tambah nasinya donk!”

_______________________________

Hatta dan Arif duduk di bawah tangga lab komputer dan membicarakan kejadian waktu upacara itu.

”Kau yang harus bertanggung jawab!” kata Arif.

”Lho, kenapa aku?”

”Ya, kau yang tadi berkata bahwa kau berharap tiang itu jatuh. Dan itu menjadi kenyataan.! Hahahaha!”

”Hahahah! Aku juga heran kenapa bisa terjadi kebetulan seprti itu. Mantap!”

”Ya, aneh sekali. Padahal tidak ada tanda-tanda bahwa tiang bendera itu rusak, kan?”

”Entahlah, pasti ada apa-apanya!”

”Jangan-jangan tiang itu ada penunggunya, dan karena marah mendengar ceramah si tukang bual (kepala sekolah), dia menumbangkan diri. Tapi sayangnya tiang itu tidak tumbang ke arah mimbar upacara!”

”Dasar bodoh!” kata Hatta tertawa. (”Tapi mungkin saja ini ulah si Hilarious!” ujarnya dalam hati.)

Tanpa terasa bel masuk berbunyi. Semua murid masuk ke kelas masing-masing. Saat Hatta berjalan menuju kelasnya, dia melihat sosok aneh dan jahil dari sudut pandang kirinya.

”Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Hatta melihat tingkah aneh si Hilarious. ”Dan, dari mana kau dapat seragam biru dongker itu?”

”Berkeliaran di sekolah ini dengan pakaian bebas akan dicurigai sebagai anak jalanan oleh si penjaga sekolah,” jawab Hilarious. ”Mendapatkan seragam, sih, gampang! Aku mengambilnya dari toilet, saat anak kelas satu sedang mengganti pakaian dengan pakaian olahraga.”

”Kembalikan nanti. Jangan buat onar lagi di sekolah ini. Cukup kejadian tadi pagi saja, aku benar-benar tertawa melihatnya!” kata Hatta mendelik.

”Kejadian tadi pagi?” tanya Hilarious bingung.

”Ya, pertunjukan tiang bendera jatuh itu begitu mengesankan. Aku lebih terkesan lagi kalau kepala sekolah yang menjadi sasaran, bukan seorang siswi.”

”Tiang bendera apa yang tumbang? Aku tidak mengerti!”

”Kau jangan pura-pura tidak tahu, kawan! Kau Dewa, kau bisa berbuat segalanya!”

”Tunggu sebentar!” kata Hilarious yang seketika menyentuh kepala Hatta. Hilarious memejamkan matanya, dan mulai membaca ingatan kepala Hatta.

”Sangat merepotkan, memang. Tidak seperti di kahyangan, aku bisa melihat segalanya dari sana. Tapi kalau disini, aku harus menelusuri setiap kepala agar tidak ketinggalan peristiwa.”

”Jadi?” Hatta bertegak pinggang.

”Ya, ya, ya!” Hilarious mengangkat kedua bahunya. ”aku tahu peristiwa tiang bendera tumbang itu. Tetapi bukan aku yang melakukannya, kawan!”

”Kalau bukan kau, siapa? Tiang itu tidak ada tanda-tanda kerusakan!”

”Hahahahahahah!” Hilarious tertawa sambil geleng-geleng kepala. ”Sepertinya ini akan menjadi menarik.”

___________________________

”Jadi siapa pelakunya?” tanyaku penasaran kepada Ryand.

”Vicko sepertinya punya kekuatan,” ujar Amanda. ”Bisa jadi dia yang sengaja membuat tiang itu tumbang, dan bersikap seperti pahlawan.”

”Lalu siapa Vicko? Darimana dia dapat kekuatan?” tanya Budi.

Kami bertiga kemudian menatap Ryand dengan penasaran. Dia hanya tersenyum girang karena semua orang dalam warteg itu penasaran.

Dasar tukang cerita sialan. Memang hobinya membuat kami penasaran. Tapi aku salut dengan ceritanya. Ya, sedikit mulai menarik cerita itu, kataku dalam hati.

_______________________________

Pernah suatu waktu di kahyangan, Hilarious menangisi nasibnya karena mendapat tugas dari Dewa Langit, si Zactuwisnu yang congak (Hilarious selalu menyalahkan pihak-pihak yang merugikannya) untuk mengurus permasalahan perang Xofgar dan nama Xaviera ini. Akan tetapi, hukuman dari Sang Penguasa, Dewa Tertinggi lebih menakutkan daripada rasa kesal dan jengah yang akan dihadapinya. Oleh karena itu mau tidak mau dia harus membuat perang Xofgar menjadi berkah untuk kesejahteraan umat manusia.

Dalam kitab mahfuz, dikatakan bahwa mereka (manusia-manusia itu) melakukan persembahan (dan karenanya, Hilarious mengumpati si Dewa Takdir yang dengan iseng menulis seperti itu) untuk mendapatkan kesejahteraan. Dan entah mengapa ada seorang manusia menyebut nama Xaviera (dan sekali lagi Hilarous menyalahkan Dewa Takdir yang sering iseng menulis takdir manusia seperti itu. Bahkan Dewa Takdir, yang sering iseng menulis alur kehidupan manusia itu, tidak menuliskan solusi terhadap perang Xofgar, dan hanya menulis nama Xaviera secara menggantung dan tidak mempunyai ujung. Apa guna dan fungsi nama tersebut tidak diketahui. Dasar Dewa Takdir kurang kerjaan!). Oleh karenanya, Dewa Langit kemudian memperbaiki tulisan di kitab mahfuz, dan menulis bahwa ada Xaviera yang diyakini untuk menyelesaikan perdamaian di perang Xofgar. Akan tetapi masalahnya adalah, entah mengapa si Dewa Langit (Zactuwisnu) juga iseng menulis bahwa akan ada seorang Dewa yang akan membantu nama Xaviera tersebut, bahwa Dewa itu lah yang akan menentukan alur (dengan pikirannya sendiri) ujung dari kisah perang Xofgar. Dan yang lebih parah lagi, Hilarious tidak bisa menerima bahwa nama Dewa tersebut adalah namanya. Dan dia tidak bisa menghindar, karena apabila melanggar alur yang tertulis dalam kitab mahfuz, seorang Dewa (Hilarious sebenarnya setingkat malaikat) akan hilang tidak berbekas. Namun, Zactuwisnu juga menuliskan bahwa Hilarious mempunyai wewenang untuk mengatur apa yang akan terjadi nanti dengan perang Xofgar. Dan ini membangkitkan kegairahan Hilarious untuk berbuat jahil (yang dianggapnya sebagai suatu bentuk kegembiraan bagi kehidupan manusia).

_____________________________

Sepuluh tahun yang lalu, di kaki Gunung Algarine, seorang musafir yang sudah mulai sembuh dengan luka-luka yang dideritanya, sedang menulis sebuah daftar di lembaran-lembaran kertas yang panjang.

Almeira mendekati si musafir, kemudian bertanya, ”Apa yang sedang kau lakukan, Tuan?”

”Aku sedang menyusun bahasa baru, yang akan menjadi sangat penting bagi dunia!”

”Mengapa kau menyusun bahasa itu?”

”Karena aku adalah seorang musafir, juga seorang ilmuwan. Aku yakin suatu saat bahasa ini berguna!” jawab si Musafir tersenyum kepada Almeira.

”Apa itu artinya Jippunosu?”

”Kebahagiaan!” jawab si Musafir.

”Kalau Dhoorfalnossu?”

”Itu memiliki arti kegembiraan, gadis kecil!” jawab Musafir tertawa. ”Kau mau aku ajarkan bahasa ini? Ada banyak kosa kata yang sudah aku susun. Dan setiap bahasa kita bisa kita terjemahkan ke dalam bahasa ini, begitu juga sebaliknya.”

”Ya, aku mau, Tuan!”

Demikianlah, akhirnya Almeira diajarkan tentang bahasa baru buatan si musafir. Suatu hari nanti bahasa itu akan menjadi media yang penting dalam permasalahan-permasalahan yang tengah kita hadapi dalam hidup. Bahasa kebahagiaan.

__________________________

Xelodon merenung di dalam ruangannya. Dia menulis catatan harian, tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya sekarang. Perang Xofgar, keadaan istana, dan segalanya. Kemudian suara ribut terdengar dari luar. Xelodon bergegas keluar.

”Ada apa?” tanyanya kepada prajurit yang lain.

”Benteng kita diserang lagi!”

”Bangsat!” umpat Xelodon. Dia bergegas mengambil perlengkapan perangnya, dan berlalri menuju arah benteng untuk memimpin pasukan.

”Xelodon!” kata sebuah suara. Sesaat kemudian ledakan dari meriam musuh terdengar di barisan depan. Suara sorakan penjaga benteng garis depan menggetarkan semangat. Akan tetapi Xelodon harus berhenti berlarli karena panggilan suara itu. Ternyata Shimagiga lah yang memanggilnya.

”Ada apa?”

”Tetua kepala memanggilmu!”

”Ada apa lagi ini!?” gerutu Xelodon.

Dalam ruangan para tetua, ada Toefl juga, semuanya berwajah serius.

”Ada apa, Baghdara?” tanya Xelodon dengan hormat.

Baghdara, si Kepala Tetua, berkata, ”Ramalan Toefl benar. Kami para tetua juga melihat hal yang sama dalam bola kristal.”

Xelodon melirik Toefl, yang wajahnya kini sumringah. ”Lantas?” tanya Xelodon.

”Kami sudah mendiskusikan hal ini dengna Raja, dan dia setuju. Kau harus cari seseorang yang bisa dipercaya untuk menjalankan misi mulia!”

”Maksudnya?”

”Cari seseorang yang mampu untuk melaksankan misi mulia!”

”Untuk apa?” tanya Xelodon berang. ”Masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku harus memimpin pasukan di benteng pertahanan. Lebih baik kalian memikrikanasihat:  apa solusi untuk perang ini. Lebih baik kalian pikirkan strategi untuk perang terbuka nanti!”

”Itu tugas para tentara kerajaan, bukan kami, Xelodon!” jawab Toefl.

”Kami akan memberi solusi yang terbaik, tanpa pertumpahan darah!” sambung Baghdara.

”Apakah bisa?”

”Xaviera akan menolong kita!” jawab Toefl.

”Siapa yang akan jadi Xaviera? Di mana dia berada? Siapa dia?”

”Penolong ini harus kita sambut. Harus ada seseorang yang bisa menjemput Xaviera untuk datang ke negeri Urmon. Karena Xaviera tidak hidup di masa kita.”

”Maksud kalian?”

”Kita lakukan ritual Lintas Waktu!” ujar Toefl.

______________________________

”Owh owh owh! Semakin rumit saja!” ujar Budi.

“Mbak, tambah nasinya donk!” kataku.

______________________________

Saat pulang sekolah, Hendru dan Zini pulang bersama. Hendru mau menemani Zini sampai ke rumah, meskipun itu harus naik bus yang sempit. Sebelum naik bus tersebut, mereka mampir dahulu ke taman kota, berjalan-jalan menghilangkan penat. Kemudian mereka duduk di salah satu bangku, sambil makan es krim, dan memperhatikan pertunjukan akrobat dari para badut. Zini tertawa terpingkal-pingkal saat melihat si badut dan bertepuk tangan karena kagum dengan aksinya. Kemudian para badut mendekat ke arah mereka karena mendapatkan perhatian dari Zini. Sesaat kemudian, setelah pertunjukan selesai, para badut itu pergi.

”Zini, aku boleh ngomong sesuatu?” tanya Hendru dengan serius.

”Ya?” Zini menanggapi. Dan tanpa sadar detak jantung Zini mulai berdegup kencang lagi, dan lagi-lagi wajahnya merah merona.

”Ng… aku… aku…!”

”Ya, kenapa?”

__________________________________

”Hentikan, kawan! Aku jijik mendengarnya!” kataku.

”Jangan ganggu ceritaku!” kata Ryand tertawa.

”lanjutkan!” kata Amanda.

____________________________________

Mungkin ada sesuatu yang akan dikatakan oleh Hendru. Ya, ya, ya! Aku juga sudah bisa menebak apa yang ada di kepala kalaian. Jelas sekali di taman itu Hendru hendak mengutarakan perasaannya kepada Zini. Begitu juga dengan Zini, yang malu malu mau mendengar ungkapan itu. Hhhhh! Cintaaa cintaaaa!

Akan tetapi, maaf maaf saja, kawan! Karena pada waktu yang bersamaan segerombolan anak jalanan datang mendekati mereka.

”Maaf adik-adik!” kata salah satu dari mereka. ”Drama cinta harus berakhir di sini. Ayo, berikan uang kalian, dan kami akan segera pergi!”

Zini dan Hendru terjebak di antara para preman yang jumlah nya tidak sedikit. Ada lima orang. Zini yang ketakutan, berlindung di balik punggung Hendru. Mereka berdua terancam.

___________________________________

”Aku harap Hilarious atau Vicko datang membantu!” ujar Budi seraya menenggak tegukan terakhir es teh manisnya.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s