[BAB 7] Kencan yang Manis dan Indah?

Semua rakyat berduka. Kematian seorang panglima perang yang gagah berani adalah kesedihan yang sangat mendalam. Kedukaan tidak hanya dirasakan oleh teman seperjuangan, prajurit yang setia, ataupun raja yang sangat membutuhkan kekuatan seorang panglima. Akan tetapi kedukaan juga dirasakan oleh para pemuda yang bercita-cita menjadi prajurit sejati, oleh para gadis yang mendambakan kepahlawanan seorang laki-laki, oleh ibu-ibu tua yang mendambakan kesuksesan anaknya di medan perang, dan oleh anak-anak yang mengidolakan pahlawan perang mereka. Panglima Humdown dan Jenderal Redoxland adalah pahlawan yang menjadi penyemangat di hati semua rakyat. Bahkan alam pun ikut berduka dengan memberikan suasana suram dengan mendung di cakrawala. Gerimis halus dari langit seolah-olah menyatakan bahwa alam ikut menangis atas kepergian seorang pahlawan perkasa dan penuh jasa.

Xelodon menenggak bir. Ada banyak persediaan bir di warung istana. Ada banyak para gadis yang siap melayani para pahlawan sepulang dari perang. Ada banyak makanan, dan ada banyak hiburan. Tetapi bukan hanya Xelodon, melainkan semua prajurit bersedih hati dengan kepergian pemimpin mereka. Walau tidak menangis, tetapi semua orang tahu bahwa Xelodon, prajurit yang paling dekat dengan Redoxland, sangat merasakan kepedihan di hatinya pascaperang yang tak berarti ini.

”Xelodon!” seru seseorang dari belakang.

”Ya?!” Xelodon membanting botol di tangannya ke meja seraya menoleh ke sumber suara.

”Toefl memanggilmu!”

Di negeri yang hampir hancur ini, mereka mempunyai beberapa orang tetua, yang menjadi penasihat andalan raja, dan diyakini bisa melihat aura negeri. Mereka bisa meramalakan atau memberi solusi terbaik (meskipun terkadang solusi itu bisa saja salah) kepada kaum-kaum politik dan pertahanan di istana. Toefl adalah salah satu dari mereka. Dan masalahnya adalah, Toefl adalah yang paling tidak hebat.

”Mengapa si tua brengsek itu memanggil ku disaat seperti ini?” tanya Xelodon berang.

”Itu bukan urusan ku,” kata si pemanggil. ”kau urus saja urusan mu dengannya sendiri!”

Xelodon berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Toefl.

”Ramalan bodoh apa lagi yang akan kau katakan, Toefl?” tanya nya saat bertatap muka dengan sang tetua.

”Aku memikirkan nama Xaviera, yang akan menjadi penyelamat negeri kita,” ujar Toefl. ”Dia yang akan menyelamatkan negeri kita dari perang, dan membawa kedamaian!”

”Nama seperti itu ada banyak di negeri ini,” kata Xelodon seraya mengambil kursi dan duduk dengan malas. ”dari mana kita tahu anak yang mana dan seperti apa yang akan menyelamatkan kita?”

”Hanya Dewa yang tahu,” jawab Toefl. ”Hal seperti itu tidak bisa aku jelaskan.”

Meskipun Toefl hampir tidak bisa dipercaya oleh orang-orang yang mengetahui bagaimana dirinya, ramalan itu tetap saja menjadi buah bibir. Mau tidak mau raja tetap mengambil langkah untuk mencari anak bernama Xaviera itu. Dan setelah tiga minggu melakukan penyusuran, nama Xaviera tidak juga ditemukan. Akhirnya, atas pertimbangan para petinggi dan raja, diadakan sebuah acara adat, memohon berkah dari Dewa untuk mengutus anak bernama Xaviera itu agar mampir ke istana. Semua orang yakin, apabila Dewa berkehendak, orang yang bernama Xaviera itu pasti datang ke negeri ini untuk melaksanakan tugas mulianya. Dan pemujaan kepada Dewa Langit pun dilaksanakan selama tujuh hari dengan berbagai persembahan.

___________________________

”Zini Xaviera,” ujar ku sambil menepuk meja. ”Jadi begitu ceritanya? Aku terpaksa mengatakan ini kepadamu, kawan, bahwa cerita ini mulai tidak menarik. Aku sudah bisa menebak bahwa gadis kita ini, si Zini, akan menjadi penentu dalam perang Xofgar itu, bukan!?”

”Siapa yang tahu ceritanya,” tanya Ryand dengan tersenyum. ”Aku atau kau?”

Aku hanya mengangkat kedua alis. Semua juga tahu bahwa si Ryand ini lah si pawang cerita.

”Semua yang mendengar cerita ku pasti berkata seperti itu,” kata Ryand. ”termasuk si mbak di belakangmu itu, dari wajahnya saja sudah terlihat bahwa dia kecewa. Tidak, kau tidak akan tahu sebelum mendengar semua ceritanya.”

”Ya ya ya, baiklah! Lanjutkan ceritamu!”

___________________________________

Pemujaan dengan begitu banyak persembahan akhirnya di dengar oleh para Dewa. Zactuwisnu duduk di singgasana langitnya. Semua para dewa berkumpul seperti mereka-mereka yang duduk di lembaga tinggi negara.

”Jadi bagaimana ini?” tanya Dewa Angin. ”Apakah kita kabulkan saja permintaan manusia untuk mengutus gadis bernama Xaviera ini?”

”Masih banyak yang harus kita lakukan, mengutus seorang bernama Xaviera bukanlah hal yang sulit, tetapi sedikit mengganggu ketenangan kita dalam menata alam.”

”Hahaha, seandainya saja manusia tahu bahwa kita tidak butuh berbagai persembahan yang merusak sungai murni itu. Aku sudah susah merawat alam dengan begitu teliti, tetapi mereka malah mencemarkan sungai dengan melempar bangkai ke dalamnya,” ujar Dewa Banyu.

”Namanya juga manusia,” kata Hilarious.

”Ya, namanya juga manusia!” kata Zactuwisnu. ”Hilarious, kau saja yang urus masalah ini. Kau tentukan saja siapa yang berhak mendapat nama Xaviera dan bisa menjadi kunci perdamaian di negeri orang-orang yang melakukan ritual membosankan itu.”

”Oh, sial!” gerutu Hilarious. ”Aku bukan dewa yang bertugas seperti itu. Tugas ku hanyalah menebarkan keceriaan, tanpa harus memikirkan masalah pelik dan tak berguna bagi dewa seperti itu.”

”Kau mau ku laporkan ke Dewa Petir, agar pantat mu itu disengat oleh pedang gledeknya?” tanya Zactuwisnu mendelik.

”Oke baiklah!” Hilarious mengalah. ”tapi percuma saja bukan? Semua sudah di tulis di kitab Mahfuz, bahwa semua sudah ada skenario nya. Percuma saja mereka menantikan nama Xaviera yang bahkan tidak ada kaitannya dengan suratan takdir negeri itu. Ritual yang mereka lakukan jadi percuma. Tidak ada yang bernama Xaviera yang menjadi penentu perang.”

”Aku akan tulis nama itu di kitab Mahfuz, dan menjadikan nama Xaviera sebagai penyelamat konflik perang tersebut.”

”Xaviera apa?” tanya Hilarious.

”Xaviera yang mereka yakini!” dan seketika nama itu di tulis oleh Zactuwisnu dalam kitab takdir.

”Maksudmu?” tanya Hilarious. ”Aku tidak mengerti.”

”Kau saja yang tentukan siapa anak itu, kawan! Sidang ditutup!” kata Zactuwisnu seraya menghilang, begitu juga dengan dewa-dewa yang lain.

”Baiklah,” ujar Hilarious. ”Kalau aku yang menentukan, begini saja!” kemudian hilarious menggali lubang hidungnya, dan membuang kotoran itu ke bumi. ”Siapa saja yang terkena tahi hidung ku itu, dari segala waktu dan segala masa serta segala zaman, dan seluruh galakasi dan tempat huni makhluk, dia adalah penentu nasib perang Xofgar!”

____________________________________

”Dan yang menjadi masalah adalah, kita tidak tahu kepada kemana kotoran hidung itu jatuh. Apakah ke seorang anak yang sedang bertani, seorang pria yang sedang berpidato, atau kepada seorang gadis yang ktia bicarakan ini, Zini?”

”Tentunya kepada dia, bukan?” tanyaku. ”Kalau tidak, mengapa dia menjadi tokokh penting dalam cerita ini?”

”Kau bedoa saja dia yang terkena tahi hidung dewa paling menjengkelkan itu!” ujar Ryand tersenyum seraya menengguk teh nya yang sudah dingin.
____________________________________________

”Oke! Kejadian tadi siang memang menakjubkan! Tapi itu bukan magic. Pasti ada triknya. Atau anak bernama Hilarious itu memang orang yang punya ilmu hitam!” Zini berkali-kali mengutarakan kalimat itu dalam pikirannya saat itu.

Di dalam kamarnya yang nyaman, saat semua tugas dan pekerjaan rumah telah selesai dikerjakan, Zini biasa melamun di atas tempat tidurnya. Dan tema lamunan malam itu adalah kejadian spektakuler (seperti yang dikatakan orang gila tadi siang itu) yang membuat gempar satu sekolah. Sepulang sekolah, Hatta menjadi anak yang populer karena pertunjukan tendangan dahsyatnya itu. Tapi Zini tahu bahwa bukan Hatta yang melakukannya, melainkan Hilarious.

Lamunannya beralih dari Hilarious menuju kepada Hendru. Walaupun Hatta menjadi buah bibir orang satu sekolah, tetap saja ketampanan dan kewibawaan Hednru tidak terkalahkan. Dan semua gadis masih tetap berpendapat seperti itu. Kemudian, entah mengapa Zini tersenyum tanpa sadar saat mengingat Hendru bermain futsal tadi siang. Pikiran tentang kejadian spektakuler Hatta terlupakan begitu saja.

Dan sesaat kemudian, sms dari Hendru menggetarkan handphone Zini, begitu juga dengan hatinya. Tersenyum lebar, Zini tertidur dalam perasaan yang senang.

Besoknya adalah hari minggu. Betapa beruntungnya Zini, karena sekarang dia bisa berjalan di mall berdua dengan Hendru, si bintang sekolah. Tidak sembarang gadis bisa mendapatkan keberuntungan seprti itu.

Seusai menonton film terbaik yang diputar hari itu, mereka menyempatkan diri untuk makan siang menjelang sore di sebuah restoran cepat saji. Dan disinilah biasanya menjadi hal menarik dalam kisah cinta remaja. Menyatakan cinta? Belum.

”Menurutmu bagaimana dengan film tadi?” tanya Hendru sambil mengunyah ayam kentang goreng di hadapannya. Dia duduk berhadapan dengan Zini (yang saat itu mengenakan style casual terbaiknya).

”Bagus banget!” jawab Zini bersemangat. ”Biasanya film selalu menceritakan kita diserang alien, tapi kali ini beda. Manusia lah aliennya.”

”Bagus deh, aku suka kalau melihat kamu senang seperti itu!” kata Hendru tersenyum (yang bisa meluluh kan hati para wanita. Disini aku tidak membual, Kawan!)

”Tokoh utama laki-lakinya hebat, berani berkorban untuk bangsa yang tertindas, dan demi wanita yang dicintainya. Sangat menyentuh..!”

”Ya, memang hebat. James Cameron memang pantas mendapat penghargaan.” ujar Hendru santai.

”Iya, ceritanya diluar logika, tetapi menyentuh perasaan.”

Mendadak meja di sebelah mereka berdentum keras. Ternyata ada pasangan yang sedang bertengkar. Terlihat jelas bahwa si laki-laki sedang mengintimidasi teman wanitanya. Si wanita menangis terisak mendapat tekanan dari si laki-laki.

”Semua cowo selalu seperti itu, tidak memikirkan perasaan wanita!” gerutu Zini pelan.

”Yah, memang begitu lah fakta yang ada,” kata Hendru tersenyum. ”Aku punya seorang teman bernama Joko. Dia selalu bersikeras bahwa logika adalah hal yang sangat penting. Karena logika sumbernya dari otak, dan otaklah yang mengatur segalanya. Akan tetapi kamu juga harus tahu bahwa di sebuah universitas pengembangan tambak ikan pernah dilakkan suatu penelitian tentan gseberapahebat kekuatan pikiran itu. Ikan adalah objek dari penelitian tersebut. Dan hasilnya memang begitu, pikiran yang dihasilkan oleh otak, yang mana outputnya berupa logika, adalah sesuatu kekuatan yang sangat hebat. Namun porfesor yang memimpin penelitian itu berkata, ’Otak memang hebat. Pikiran adalah kekuatan yang sangat luar biasa dan tanpa batas. Tetapi, begitu hebatnya sebuah pikiran, dibutuhkan sebuah media untuk mengontrol pikiran tersebut, yaitu hati. Dan karenanya perasaan juga begitu penting dalam segala hal.”

”Wow..! aku lebih tertarik denga kata-kata profesor itu daripada kata temanmu si Joko itu. Dan… dari mana kamu tahu informasi seperti itu?”

”Aku suka membaca. Dan tidak sengaja aku membaca itu di harian surat kabar,” jawab Hendru tersenyum. Dan hal ini membuat Zini semakin takjub kepadanya. Selain ganteng dan jago olahraga, Hendru ternyata anak yang smart.

”Kalau aku boleh tahu, kamu lebih cenderung kemana (ini di luar konteks laki-laki dan perempuan), logika atau perasaan?” tanya Zini serius.

____________________________

”Owh owh!!! Si Zini mulai menguji cowo idamannya!” seruku sambil tertawa.

”Ya, biasa. Bagi seorang cewe, menilai pasangan dari obrolan adalah hal yang penting!” kata Ryand.

”Kau sepertinya begitu ahli dalam bidang seperti ini?!” tanyaku menggoda.

”Kalau tidak, aku tidak akan jadi playboy!”

”Playboy dalam hati!” kataku tertawa lepas.

”Sialan kau!”

__________________________________

”Pertanyaanmu sungguh berat, dan sangat menguji ku!” kata Hendru garuk-garuk kepala.

”Ya, aku memang sedang menguji, kok!” kata Zini tersenyum jahil.

”Menguji untuk apa?”

”Aku ingin tahu pendapat kamu tentang itu.”

”Kalau kamu sudah tahu? Apa keuntungan yang kamu dapat?” Hendru tersenyum penasaran.

”Egh…?!” seketika wajah Zini memerah. ”Tidak, kok. Aku hanya ingin tahu saja. Apa tidak boleh?” Zini berusaha menenangkan diri supaya tidak terlihat gerogi.

Hendru tetap tersenyum, tetapi tatapannya langsung menuju ke mata Zini.

”Baiklah, pertanyaan yang menarik!” kata Hendru mulai serius (masih menatap mata Zini). ”Kalau aku ditanya seperti itu, aku hanya akan menjawab bahwa aku tidak akan merusak hubungan pertemanan dengan memili salah satunya. Aku akan mengkombinasikan keduanya, demi tercipta silaturahmi yang baik.”

”Jawabanmu seperti diplomat saja,” kata Zini sambil mengambil kentang goreng, mencelupkannya ke dalam saus tomat, dan mengarahkannya ke mulut.

”Itu adalah jalan aman untuk jawaban pertanyaan yang sangat rumit.”

”Ya, memang sangat rumit. Tapi aku lebih memilih mementingkan perasaan daripada logika. Karena logika tidak selalu benar,” kata Zini.

”Memang. Noda saus di bibir juga merupakan bentuk dari kesalahan logika karena gerogi!” seru Hendru seraya membersihkan saus tomat yang belepotan di bibir Zini dengan tissue. Dan seketika jantung Zini berdegub kencang, dan wajah merah merona tidak bisa disembunyikan lagi.

___________________________________________

”Suit suit!!!!” seruku merasa geli mendengar roman picisan dar si Ryand. ”Kau sudah bisa bercerita cinta monyet sekarang, kawan!”

”Hahahahah!” Ryand juga tertawa. ”Baiklah, cerita berlanjut. Hari Senin. Upacara bendera menjadi hal yang paling tidak disuka oleh Zini. Bukan dia tidak cinta dengan negaranya, tetapi, ya, memang begitu lah. Kita semua (terutama kalian yang sekarang masih duduk sebagai siswa), pastinya sedikit setuju dengan apa yang Zini rasakan sekarang. Dan yang paling tidak dimengerti oleh Zini (juga oleh semua murid yang lain), meskipun minggu-minggu ini adalah minggu tenang selesai ujian semester (tinggal menunggu hari penerimaan rapor), upacara bendera d hari Senin ini tetap dilaksanakan.”

”Aku tidak,” ujar ku. ”Aku suka dengan upacara bendera. Karena momen seperti itulah yang menyadarkan aku tentang perjuangan para pahlawan untuk negeri yang penuh dengan koriptor ini. Lumayan, 20 menit bisa mencintai negeri, meskipun nanitnya kembali membencinya karena melihat berita di televeisi tentang kasus para koruptor.”

”Hahaha, ternyata kau orang yang mengikuti perkembangan juga.”

”Tentu saja. Aku adalah calon mahasiswa. Aku mengikuti bimbel untuk masuk ke universitas yang bagus, dan semoga saja bisa menjadi mahasiswa seperti Gie!”

”Amin. Mengingat upacara, aku ingin mengatakan bahwa ada beberapa paham yang tidak setuju dengan upacara. Terutama dari mereka yang mengaku kaum Islam radikal. Mereka menganggap bahwa upacara adalah suatu hal yang syirik. Karena yang perlu di hormati (sembah) hanyalah Allah semata, bukannya bendera.”

”Begitulah dunia, perkembangan paham dan pemebenaran selalu saja berkembang. Tapi aku yakin bahwa Islam tiak seperti itu. Buktinya, tidak ada ftawah MUI yang mengharamkan upacara bendera di hari Senin.”

”Mas, lanjutin ceritanya donk!” ujar si Mbak yang di belakang.

Aku dan Ryand saling berpandangan dan tersenyum.

”Sepertinya kau harus menulis ini dan mengirimkannya sebagai cerita bersambung ke harian Kompas!” ujarku.

__________________________________________

Sudah hampir dua bulan, keberadaan Xaviera yang dicari-cari tidak juga diketemukan. Xelodon mulai merasa berang. Perang terus saja berkobar, dan dalam dua bulan ini, benteng pertahanan di garis depan sudah dua kali di serang oleh musuh. Walau perang terbuka selanjutnya belum dimulai karena saat-saat seperti ini adalah masa pemulihan bagi kedua belah pihak yang bertikai, namun serangan-serangan kecil tetap dilancarkan dari masing-masing pihak. Dan Xelodon tetapi menjadi prajurit gagah berani yang meredakan serangan-serangan ke benteng pertahanan.

Suatu sore, saat perang masih berkecamuk, Xelodon yang masih emosi berlari menuju ruangan Toefl bersemedi. Dia membanting pintu dengan paksa, lalu ia juga membanting helm baju zirah nya ke lantai di dalam ruangan Toefl. Kemudian mengeluarkan pedang panjangnya dan mengarahkan mata tajamnya kepada tetua yang sedang serius melihat bola kristal tersebut.

”Lagi-lagi kau memberikan bualan tidak berguna!” kata Xelodon marah. ”Xaviera itu tidak ada. Semua kurir sudah diperitahkan mencariny ke pelosok negeri, tetapi tidak ditemukan juga. Sementara perang dan serangan-serangan musuh tetap berjalan. Kami tidak bisa menunggu. Kau harus membatalkan ramalan itu dan memberitahukannya kepada raja, bahwa perang terbuka harus segera dipersiapkan!”

Tetua Toefl menoleh perlahan ke arah Xelodon. Matanya terbuka dengan yakin, dan memperlihatkan wajah yang begitu bersemangat. Kemudian dia berkata, ”Aku telah melihat cahaya. Xaviera sebentar lagi akan tiba!”

”Kapan?” tanya Xelodon semakin marah.

”Sebentar lagi!” Toefl mengangguk. ”Kau boleh penggal kepalaku jika ramalan ku tidak benar, sampai perang terbuka terjadi.”

Xelodon terdiam terpaku mendengar sumpah keyakinan dari Tetua Toefl.

_______________________

“Dan sekarang kita beralih lagi kepada cerita Zini itu!” kata Ryand.

_____________________________

Semua murid dengan khidmat (kalau aku boleh jujur, tidak semua sih!) hormat kepada bendera. Lagu kebangsaan dinyanyikan dengan suara terompet yang memekakkan telinga. Bahkan ada beberapa guru yang mengernyitkan mata karena tidak tahan dengan suara terompet itu (atau mereka hendak buang air besar? Maaf.)

Sesudah pengibaran bendera, seperti biasa adalah ceramah dari kepala sekolah. Semua barisan di istirahat tempatkan.

”Aku paling tidak suka bagian yang ini. Dia selalu bekoar kata-kata panjang lebar dalam waktu yang lama,” gerutu Hatta pelan ke teman sebelahnya Arif.

Zini kaget melihat Hatta. Jujur saja dirinya baru pertama kali melihat Hatta mengikuti upacara (kemana saja dia selama ini?). Barisan Arif tepat di sebelah barisan Zini. Sekolah ini tidak seperti sekolah lain. Barisan dibiarkan acak tanpa patokan kelas, yang penting barisan yang terbentuk harus rapi. Jika kau termasuk dalam kategori yang merusak barisan, kau terpakasa harus menerima hukuman mencuci WC sekolah.

Meskipun kaget, Zini tidak menyapa Hatta. Dia hanya melihat saja. Walaupun Hatta adalah orang yang pertama kali dikenalnya di sekolah ini, tetapi dia tidak akrab dengan Hatta.

”Lantas mau bagaimana? Ini memang kuasa si pembual nomor satu di sekolah ini, kepalasekolah kita yang tercinta. Sebentar lagi dia pasti akan membangga-banggakan prestasi sekolah di tingkat nasional. Padahal aku tahu bahwa semua itu hanya prestasi karbitan untuk menaikkan nama sekolah kita!” ujar Arif.

”Kau jangan asal ngomong! Prestasi-prestasi itu beberapa diantaranya merupakan sumbanganku!” kata Hatta.

”Apa? Juara teater SMA? Hah, aku yakin namamu tidak ada dalam sertifikat.”
”Tentu saja tidak ada. Aku hanya orang di balik layar. Kalau tidak ada aku, sekolah kita tidak akan juara.”

”Mana peduli si pembual yang berdiri di depan sana. Dia tahunya bahwa sekolah meraih juara karena binaan dia sebagai kepala sekolah!”

”Kau benar juga,” kata Hatta mengangguk.

”Sekolah lain upacara 20 menit paling lama. Semetnara sekolah kita terkadang lebih dari 45 menit. 25 menit terseita utuk mendengarkan curhatan pribadi si pembual itu. Huh!” Arif mengangguk.

”Dari mana kau dapat data seperti itu?” tanya Hatta penasaran.

”Apa kau mau mendengarkan bualan selama 25 menit itu? Tidak, bukan? Tetapi aku merelakan suatu hari untuk menghitung berapa lama dia membual, dengan tujuan mungkin hal ini menjadi lelucon dan bahan pembicaraan pada upacara selanjutnya untuk mengisi waktu sambil mendengar bualan-baualannya yang lain.”

”Owh, usahamu sudah kau lakukan barusan!” kata Hatta mengangkat kedua bahu.

”Haha!” arif seolah merasa bangga.

”Tolong semuanya dengarkan saya berbicara. Kita harus bangga dengan prestasi yang telah kita raih di tingkat nasional berupa…” suara dari kepala sekolah yang begitu besar di depan mic.

Sinar pagi hari ternyata terasa ckup terik. Zini meneteskan keringat di dahinya. Rasa lelah menyerang karena harus berdiri hampir satu jam karena mengikuti upacara yang membosankan ini. Zini tidak berdiri di barisan depan, melainkan nomor tiga dari belakang, jadi dia bisa sedikit bersantai, meluruskan tangan dari sikap istirahat di tempat, dan melap keringatnya dengan tangan. Dari barisannya itu dia bisa melihat tiang bendera (karena lebih tepat tiang itu berada dalam garis lurus barisannya) yang begitu sangat tinggi (dan dia juga tidak mengerti karena merasa bahwa tiang bendera itu adalah tiang bendera tertinggi yangpernah dia lihat, mengalahkan tiang berndera sekolah lain). Dia berpikir, kalau seandainya tiang itu tumbang ke arah barisannya, tiang itu bisa mengenai kepalanya dan murid yang lain di barisannya.

”Aku ingin sesuatu terjadi, supaya dia berhenti membual!” kata Arif.

”Seperti…?” Hatta bertanya.

”Ya, mungkin saja hjan tiba-tiba… atau… apa lah!”

”Kalau aku lebih memilih tiang bendera itu tumbang!” kata Hatta tertawa pelan.

”Kau sedikit brutal, kawan!” kata Arif juga tertawa pelan,

Semua murid dan semua staf guru perhatiannya teruju kepada kepala sekolah. Sinar matahari netah mengapa terasa begitu terik dan panas menyengat. Zini semakin stres karenanya. Keringat karena terik matahari begitu banyak (bukan hanya dia, semua murid yang lain juga merasakannya).

”Ini sapu tangan!” kata Hendru.

”Lho, kamu? Sejak kapan?” tanya Zini yang sangat sadar bahwa disebalahnya tadi bukanlah Hendru.

”Gampang, kok, menyelinap dari barisan untuk sampai ke sini!” jawab Hendru tersenyum.

”Oh, segitu niatnya!” Zini juga tersenyum. ”Makasih, ya, saputangannya.”

”Sama-sama!” kata Hendru.

Dan seketika (bisa kalian tebak juga), bahwa deheman-dehaman pelan muncul dari mulut-mulut sekitar. Dan beberapa murid yang merasa iri malah mengumpat-umpat dalam hati. Oh, cinta remaja!

Mendadak terdengar bunyi dentum keras dari tengah lapangan. Bukan, bukan kepala sekolah yang berteriak atau dia terjatuh dari mibar. Bukan itu. Tetapi semua perhatian tertuju ke tiang bendera yang mulai lunglai, dan mulai rebah, tumbang dan jatuh ke arah barisan tempat Zini berdiri. Murid-murid yang lain lebih cekatan dan tanggap, langusng berlari menjauhi barisan itu. Zini yang (mungkin) pikirannya lebih lambat, langkah kakinya juga terlambat. Seakan membatu, dia hanya bisa menatap tiang itu mulai mendekati kepalanya dengan cepat.

BUMM!!!

Zini masih bisa merasakannya. Nafas keterkejutannya masih bisa didengar, dan detak jantungnya sangat cepat. Tetapi dia juga sadar bahwa tiang itu tidak menyentuh kepalaya. Tiang bendera yang tumbang itu masih ada di atas kepalanya, tetapi tidak menyentuh kepala???

Ada seseorang yang SEKARANG (bukan tadi) berdiri sangat dekat di sebelahnya, secara cepat menahan tiang tersebut. Siapa,siapa orang ini? Pikir Zini.

Hendru?… Hatta?… Arif?… Siapa?

Atau…. Hilarious si Dewa Jahil?

Bersambung

Klik di sini untuk [Bab 8] Kebahagiaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s