[BAB 6] Bintang Lapangan

Perbincangan Zini dengan seorang anak laki-laki yang terkesan sangat idealis terlupakan begitu saja. Setelah beberapa minggu kemudian, Zini bisa menjalani hari dengan baik di sekolah barunya. Bahkan dia sudah mendapatkan beberapa teman yang bisa digaet menjadi teman terdekat atau gang. Akan tetapi Zini nya saja yang tidak tertarik dengan pertemanan gang tersebut. Dia lebih menitik beratkan pola pikir untuk berbaur di sekolah baru itu.

Semester satu hampir habis waktu itu. Para siswa mengadakan kegiatan selepas ujian, yaitu kompetisi futsal di lapangan. Karena keterbatasan fasilitas, lapangan basket lah yang dijadikan sebagai lapangan futsal. Bahkan ingatan tentang orang gila yang mengaku sebagai dewa sudah tidak ada lagi di pikiran Zini. Namun, sepertinya alam memaksa dirinya untuk mengingat kembali laki-laki itu.

Bagaimana kita mengimajinasikan kekuatan Dewa? Pada hari itu Zini mulai mencoba untuk menerima bahwa orang gila tersebut adalah orang yang istimewa. Begini ceritanya:

Di tengah lapangan, biasanya para bintang futsal lah yang berjaya. Dengan sedikit trik, gocekan bola, semangat, dan teriakan support dari para gadis-gadis manis di pinggir lapangan, gol spektakuler akan terjadi. Setelah itu, celebration paling membanggakan akan dilakukan.

Zini, yang bahkan namanya sudah mulai dikenal di sekolah itu, ikut serta menjadi supporter yang bersorak ria meneriakkan bintang kelasnya bermain futsal. Owh owh, dan hal inilah yang menjadi bagian paling aku tidak suka dalam sebuah cerita: bintang utama selalu dijodoh-jodohkan dengan tokoh cowonya.

____________

“Bwahahahah!!!” aku tertawa melihat gelengan kepala Ryand saat itu. “Jangan kau bilang kau jatuh cinta dengan tokoh rekaan mu sendiri, si Zini ini!?” kataku lagi.

“Bukan begitu, kawan!” kata Ryand mendelik kesal. “Aku memang tidak suka dengan hal-hal berbau teenlit seperti itu.”

“Oh, ya, aku juga. Baiklah, lanjutkan saja ceritamu!” Aku pun terkejut bahwa kami sudah berjam-jam duduk di dalam warteg tersebut. Bahkan hari sudah hampir pagi. Aku tidak sadar yang punya warteg menutup wartegnya tanpa mengusir kami. Dan yang pailng aneh adalah, mbak yang punya warteg ikut mendengarkan cerita si Ryand. Mantab!

_____________

“Yeah!” semuanya bersorak. Zini tersenyum saat Hendru Darmono berjalan mendekatinya. Zini melempar handuk, Hendru menangkapnya dengan sigap, kemudian melap keringatnya. Skor 6-2 babak pertama untuk kelas Zini.

“Pesta gol!” kata Zini tersenyum, menyikut perut Hendru, yang seraya duduk di sebelahnya.

“Biasa saja,” kata Hendru santai. “Memang mereka yang tidak memberikan perlawanan berarti.”

“Sombong!!!” kata Zini tersenyum manis sambil mengacak-acak rambut Hendru. Keduanya tertawa.

“Cie cieeee!!!” suara dari berbagai arah. Kemudian apa yang terjadi?

Benar sekali, keduanya jadi salah tingkah!!!! Begitulah cinta remaja di SMA. Dan aku paling tidak suka hal ini.

Beberapa teman Hendru memberikan siulan penyemangat, dan beberapa teman Zini tersenyum-senyum girang melihat kemesraan meraka berdua. Tapi mereka belum pacaran (ingat itu!). Namun ada juga beberapa pihak (yang suka dengan Zini atau suka dengan Hendru) merasa sedikit terganggu dan cemburu. Ya, begitu lah…

_____________

“Ya, tersenyum manis. Manis sekali!!! Coba kau bayangkan seorang gadis yang berbicara dengan bintang sekolah, ganteng, dan si gadis sedikit menaruh hati kepada si anak ganteng. Bagaimana? Tersipu, malu tapi mau, bukan begitu??? Dan tahukah kau aku paling benci cerita seperti ini?!” kata Ryand geleng-geleng kepala.

“Bwhahahahaha!!!” aku tertawa. “Kalau begitu kau ganti saja ceritanya dengan yang lain. Tidak perlu menceritakan romantisme remaja SMA seperti itu,” kataku.

“Dimana profesionalitasku sebagai tukang cerita?” kata Ryand. “memang begitulah ceritanya, dan aku harus menceritaknnya walau aku tidak suka.”

Mbak yang punya warteg ikut tersenyum geli.

“Aku harap akan ada bagian yang bagus setelahnya!” kataku.

“Tentu saja!” kata Ryand tersenyum.

“Ciuman?” tanya ku bersemangat.

“Kau kira aku tukang cerita mesum?” kata Ryand tertawa. “Bukan, bukan itu! Dengarkan saja lanjutannya…!”

___________________

Babak kedua. Dan sepertinya kelas lawan akan mendapat bantaian yang sangat berarti oleh tim yang dipimpin oleh Hendru Darmono, si bintang lapangan.

Aku tidak membual. Si Hendru ini memang seorang bintang lapangan. Coba kau ingat seorang yang bernama Solomon Lubis dari SMA negeri 8 Pekanbaru?! Kemampuannya melebih anak itu. Hendru memang ahli dalam permainan bola dan futsal. Dan sangat wajar jika dia menjadi idola para gadis disekolah itu (termasuk para senior wanita). Coba kau bayangkan lelaki paling ganteng di sekolah dan paling berkarisma?! Hendru punya segala kelebihan itu.

Semua melompat gembira saat gol ke tujuh tercipta. Dan semangat keintiman pun muncul dari masing-masing pendukung tim yang menang. Para gadis di pinggir lapangan mulai merasa cantik sendiri melihat aksi Hendru. Begitu juga dengan Zini. Owh owh…!!!

“Hendru!!! Hendru!!! Hendru!!!” semua penonton memberi semangat!!! Laki-laki mana yang tidak iri melihatnya!!!!!

“Bwahahahahah!!!” suara tawa meledak di samping Zini. “Larinya seperti monyet Goarva di gurun Pareghas!” kata suara anak laki-laki disampingnya, tetapi tidak mengenakan seragam seperti Zini.

“Jangan kau ledek dia, kawan!” kata yang satu lagi. “Dia adalah bintang sekolah. Bisa-bisa kau akan di hajar oleh gadis satu sekolah!”

Zini tau yang berbicara barusan. Dia adalah Hatta, Hatta Vaafta. Anak yang menjadi teman ngobrolnya pertama kali di sekolah itu.

“Tapi memang begitu adanya!” kata anak yang satu lagi. “Vaafta, kau bahkan bisa lebih keren dari dia, meskipun kau adalah orang paling culun di kampung mu!”

Zzzeeeeppp!!! Seketika ingatan tentang orang gila yang mengaku dewa muncul di kepala Zini. Anak yang berbicara dengan Hatta adalah anak yang sinting itu.

“Sialan kau!!” gerutu Vaafta sambil menyikut perut kawannya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal meledek aksi Hendru si Bintang Lapangan. Jelas sekali mereka meremehkan, atau mereka sirik dan tidak senang? Siapa tahu?!

Zini memperhatikan mereka dengan tatapan tidak senang. Zini berpikir bahwa mereka hanyalah para anak laki-laki yang tidak senang dengan kepiawaian Hendru dan hanya besar mulut. Dan Zini tidak suka dengan orang yang bisanya menjelek-jelekkan permainan orang lain. Apalagi itu yang mereka hina adalah… adalah… adalah…. ya, Zini akui sebenarnya dia tidak senang dengan orang yang menjelek-jelekkan Hendru.

“Oh, kawan, sepertinya putri kita merasa tidak senang dengan gurauan kita!” kata si anak yang dianggap Zini sinting. Hatta dan temannya melihat ke arah Zini.

“Owh, Zini!” kata Hatta. “Menjadi salah seorang pendukung bintang lapangan, rupanya?” tanya Hatta tersenyum geli.

“Hatta Vaafta,” kata Zini mengangguk pelan, tapi matanya masih melihat tidak senang ke arah dua lelaki kurang menyenangkan tersebut. “Aku jarang melihatmu!”

“Hahaha!” anak yang sinting tertawa. “Si ‘pemalu’ sudah bisa berkata seperti ini, ternyata!?”

“Hilarious, jangan berkata seperti itu!” kata Hatta.

Zzzzeeeppp!!! Zini ingat, anak sinting itu bernama Hilarious. Ya, Hilarious, si anak yang mengaku sebagai Dewa.

Zini mengalihkan matanya ke pertandingan. Skor 8-3 sekarang. Zini kemudian masa bodoh dengan mereka berdua, si duo besar mulut yang mungkin tidak bisa apa-apa. Bahkan Hilarious bukan siswa di sekolah itu, dan adalah hal yang bodoh bila menghiraukan mereka berdua.

“Ayo, Hendruuuu!!!” Teriaknya mengikuti para penonton lain yang meneriakkan semangat kepada si bintang lapangan.

Diam beberapa saat, kemudian si Hilarious duduk di sebelah Zini. “Kau masih ingat dengan aku, gadis manis?” tanya Hilarious sambil merangkul bahu Zini.

Dengan sigap Zini melepas rangkulan itu, kemudian berkata dengan sinis, “Ya, Dewa!” Jelas dari kata-kata itu Zini ingin memberitahukan kepada Hilarious, “Dasar orang sinting, mana ada dewa di dunia ini?”

“Ho hoooo, ternyata dia masih tidak percaya kalau aku Dewa.”

“Yeah!!!!!” sorakan kemenangan. Pertandingan telah usai. Skor 10-5 untuk kemenangan kelas Zini.

Semua orang merasa puas dengan pertandingan, pertandingan yang sangat seru. Teman-teman dan gadis-gadis pendukung Hendru merasa bangga mempunyai teman seorang bintang lapangan. Penampilannya selalu keren dan spektakuler, semua orang suka, termasuk Zini.

“Kami bisa lebih keren dari penampilan futsal tadi,” kata Hilarious, mengganggu Zini lagi yang sedang bersiap-siap mendekati Hendru.

Zini memandangnya remeh. “Maksud mu?”

“Taruhan!” kata Hilarious. “Temanku Vaafta bisa memasukkan bola ke ring itu dengan menendangnya sampai tiga kali berturut-turut dengan bantuan kekuatanku. Tapi setelah itu kau harus percaya aku Dewa!”

“Howh, kegilaan apa lagi ini? aku percaya kok kalau kamu dewa! Hehe..!” kata Zini dengan ekspresi jijik.

Hilarious hanya mengangkat kedua bahunya.

“Vaafta, dia perlu diyakinkan.”

“Jangan bawa-bawa aku, kawan! Aku ingin ke kantin, lapar!”

“Ayolah, tendang saja bola itu! Ada tiga bola. Kau tendang saja ke arah tiang ring!”

Zini dan Hatta melirik ke arah tiga bola yang terletak diam di pinggir lapangan, ditinggalkan begitu saja oleh para pemain karena pertandingan telah usai.

“Ayo, tendang saja!” kata Hilarious.

Hatta Vaafta hanya mengangkat kedua bahu, lalu berjalan ke arah bola, dan menendangnya ke arah ring.

Tendangannya sangat pelan, namun bola meluncur dengan cepat melambung ke atas, kemudian menukik ke arah ring, dan JLEB! Masuk, 3 point dengan kaki.

Zini terpana dengan apa yang baru saja dia lihat. Menakjubkan? ya! Nyata? dia meragukannya.

“Sekali lagi, kawan!” kata Hilarious tersenyum jahil.

Hatta yang tersenyum geleng-geleng kepala menendang bola ke dua. Dan sekali lagi masuk. Kali ini semua perhatian orang yang ada di lapangan melihat ke arah Hatta. Terpana? Ya. Dan coba kau bayangkan seseorang menendang seperti itu di lapangan basket sekolah mu. Spektakuler? Lebih.

Buset, siapa yang menendang bolanya?” kata salah seorang.

“Apaan sih, apaan sih?” kata yang lain.

“Wow, dia hebat ya!” ujar yang lainnya lagi.

“Dia siapa? Hatta si pemain tetaer, bukan?”

“Ada apa?”

“Ah, palingan kebetulan!” kata yang lain lagi. Dan yang lain malah menjawab, “Mana mungkin, dia sudah melakukannya dua kali.”

“Hebat!” semua orang mulai berseru seperti itu.

Hilarious melihat wajah Zini yang terpana. Dia tersenyum geli melihat semua orang takjub dengan keajaiban itu.

“Kau puas membuat semua orang terpana, kawan!?” ujar Hatta tertawa geli.

“Ayo, yang terakhir!”

Hatta menendang bola yang terakhir. Bola itu melesat dengan cepat, arah garis lurus langsung menuju ring, kemudian masuk dengan dentuman keras; ring itu patah.

Tepuk tangan kekaguman terdengar seketika. Zini tersedar dari ketakjubannya dan melihat kesekeliling lapangan, semuanya penuh dengan orang-orang yang terkagum-kagum. Teman-temannya yang lain ikut bertepuk tangan, termasuk Hendru si bintang lapangan pujaan para gadis.

Spectacular!!!” seru Hilarious sambil tertawa girang, kemudian melompat dari tepat duduknya, meninggalkan Zini. Kemudian merangkul Hatta Vaafta. “Ayo, ku traktir ke kantin, kawan!” katanya.

Dua anak laki-laki aneh itu berjalan ke arah kantin sambil tertawa meninggalkan lapangan yang penuh dengan orang-orang yang terkagum-kagum. Suara tepuk tangan masih saja berkumandang.

“Wow!” seru Zini pelan tidak percaya.

_____________

“Sedikit menghibur,” kataku kecewa. “tapi tidak seperti yang aku harapkan.”

“Sudah ku bilang, ceritanya memang seperti itu!” kata Ryand.

Bersambung

Klik di sini untuk [Bab 7] Kencan Yang Manis dan Indah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s