[BAB 4] Teman Baru?

Xelodon berdiri dengan gagah sambil menggenggam pedangnya yang berlumuran darah para prajurit. Beribu jasad para pejuang dari dua negara besar bergeletakan, siap menjadi makanan para elang yang kelaparan. Desir angin yang sedari awal sepertinya terus menyimak perang, membawa aroma-aroma bangkai para pejuang yang telah berada di alam berbeda. Mereka yang masih betahan, bertumbu dengan tombak dan kaki terluka, menyaksikan tanah Paghera yang dahulunya putih kini menjadi tanah merah. Suara seruan tanda kesakitan dari mereka yang terluka, suara senjata-senjata yang dipungut dari mayat-mayat, serta suara derap kaki beberapa kuda yang masih hidup, dan desiran jubah para prajurit kuat yang masih bisa berjalan dengan gagah. Siapakah yang memenangi perang ini? Xelodon sendiri tidak bisa menjawab.

“Berapa kepala yang kau penggal dalam perang kali ini?” Tanya Shimagiga, prajurit pedang Urmon, teman seperjuangan Xelodon.

“Tak sempat ku hitung,” jawab Xelodon sambil mengusap keningnya. “mungkin lebih dari tiga puluh. Kau?”

“Yah, tidak jauh berbeda denganmu,” ujar Shimagiga sambil mengangkat bahu.

“Apakah kita memenangkan perang ini?”

“Aku tidak tahu,” jawab Shimagiga, menoleh ke arah rombongan prajurit yang masih tersisa. “perang kali ini begitu tidak jelas. Lebih baik kita kesana, mendengarkan perintah panglima.!”

“Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi,” ujar Xelodon pelan.

Mereka berdua melangkah di antara mayat-mayat. Bahkan Xelodon sempat menjerit dalam hati dan membuang muka saat menyadari banyak temannya yang ikut gugur dalam perang. Magasync, si pembual waktu mereka masih berada di sekolah pedang, mati dengan tertusuk tombak di dadanya. Zamvoera, yang terkenal sangat berani dan kuat, potongan kepalanya tergeletak di samping tubuhnya. Dan masih banyak lagi pejuang Urmon yang gugur.

Ingin rasanya Xelodon mengangkut semua jasad itu, dan menguburnya dengan hormat. Tapi kondisi tidak mendukung karena mereka belum tahu keadaan sebenarnya. Apakah mereka menang atau tidak?
Saat tiba di tempat rombongan prajurit yang tersisa, Xelodon menyadari semuanya.

Inclander, pemimpin pasukan pedang, tertunduk sambil menitikkan air mata. Xelodon dan Shimagiga mendekati sang ketua. Wajah yang keras dari ketua itu, yang dibasahi oleh air mata dan noda darah, memberitahukan segalanya.

“Bahkan seorang prajurit kuat seperti dia pun, suatu saat akan gugur dalam perang!” kata Inclander sambil menekan kedua matanya, menahan air mata.

Shimagiga yang baru menyadari bahwa semuanya telah terjadi, mengepalkan tangan dan memukul keningnya sendiri, merasakan kekesalan dan rasa duka yang sangat mendalam. Kemudian dia ikut menangis.

Xelodon berjalan mendekati mayat Sang Panglima Humdown, yang dada kiri dan  punggungnya tertusuk lebih dari sepuluh anak panah, dan perutnya tertusuk tombak panjang. Semua prajurit, tanpa diperintah pun, menundukkan kepala merasakan duka yang sangat dalam.

“Aku memang tidak berguna,” kata Xelodon pelan. “padahal aku telah berusaha melindungi sang panglima!”

“Segala kemungkinan dalam perang bisa terjadi,” ujar Shimagiga. “walau begitu, Panglima Humdown mati dengan sangat gagah demi negeri Urmon yang jaya. Namanya pasti akan diingat selalu oleh zaman.”

Sang pemimpin pasukan perang telah tiada. Kini yang mempunyai tanggung jawab untuk mempimpin pasukan tersisa adalah Redoxland, pemimpin pasukan kuda berjubah emas, karena dialah parjurit tersisa yang memiliki jabatan tertinggi diantara yang lain. Dia turun dari kuda, dan berlutut di sebelah jasad sang panglima. Menundukkan kepala dengan khidmat, mendoakan arwah sang pemimpin semoga diterima disisi para Dewa.

“Berapa orang prajurit kita yang tersisa?” Tanya Redoxland.

“Sekitar tujuh puluh prajurit, ketua!” kata sang kurir pengintai perang. “dan hanya sekitra lima belas yang merupakan prajurit berkuda. Empat puluh orang pasukan pedang kita yang kuat, dan sisanya pasukan tombak dan pasukan berjubah besi.”

“Pasukan musuh melarikan diri ke hutan,” kata kurir yang satu lagi. “Ghamnarck, pemimpin mereka, terluka parah. Jumlah pasukan sisa mereka tak lebih dari seratus orang. Dari jumlah pasukan sisa dan keberadaan pemimpin, kita kalah. Tapi dari segi bertahan di medan, kita menang.”

“Lagi-lagi perang ini tidak membuahkan hasil,” kata Redoxland sambil menggelengkan kepala pelan. “Inclander, pimpin pasukan untuk kembali pulang. Kau ku beri tugas untuk memimpin pasukan ini, dan laporkan segalanya kepada Sang Raja. Kalian yang masih kuat, angkat jasad Panglima Humdown. Aku sendiri akan mengejar kepala Ghamnarck!”

“Tapi, Ketua! Kalau kau hanya sendiri, kau akan mati sia-sia!” kata Inclander.

“Jangan melanggar perintah,” kata Redoxland tegas. Wajahnya telah melihatkan tekad yang benar-benar bulat. Dia sangat gagah.

Redoxland menaiki kudanya, kemudian memutar arah ke hutan, dan seketika melesat dengan cepat mengejar pasukan musuh. Sendiri!!!

Inclander dengan berat hati memimpin pasukan tersisa menuju kerajaan Urmon. Selama perjalanan, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana menjelaskan perang yang tak berujung ini kepada Raja yang kesehatannya semakin memburuk.

————————————————
Aku baru saja memesan piring ketiga saat Ryand kembali diam dan minum segelas air lagi. Ceritanya mengenai perang itu benar-benar membuatku takjub. Kehebatannya bercerita tentang dunia yang tak pernah kau jamah, sangat hebat.

“Lalu bagaimana dengan Redoxland?” tanyaku antusias. “Apakah dia berhasil mengalahkan seratus prajurit sisa dari negeri Numlock itu serorang diri?”

“Tidak, dia malah mati terkena hujaman tombak dan pedang dari prajurit Numlock yang melarikan diri itu,” kata Ryand geleng kepala.

“Yah, sayang sekali!” kataku. “Padahal tindakannya sudah berani, tetapi dia malah mati sia-sia.”

“Siapa bilang dia mati sia-sia?”

“Lantas?!”

“Dia mati, tapi berhasil menghujmkan pedangnya ke kepala Ghamnarck,” jelas Ryand. “Hujaman pedangnya sangat kuat dan memiliki energi supranatural. Kepala itu terpisah dari badannya dan hancur terlempar jauh (tak ada yang menemukan kepala Ghamnarck), dan tubuh Ghamnarck terbakar oleh energi kemarahan Redoxland.”

“Wow!” aku terpesona degan kekuatan Redoxland. Mungkin dia bisa jati tokoh favoritku. “Jadi perang itu seri?”

“Begitulah!” kata Ryand.

“Lalu bagaimana dengan Zini dan Dewa konyol itu?” tanyaku penasaran. “Kaitannya dengan perang Xofgar dan negeri Urmon apa?”

“Tenang, Kawan!” kata Ryand seraya menelan seteguk air lagi. “Semuanya akan aku jelaskan, tapi pelan-pelan. Kan, hujannya masih lama!”

Ryand memang benar, sedari tadi hujan masih saja lebat. Padahal hari sudah menunjukkan pukul semiblan malam.

“Kalau begitu lanjutkan ceritamu!” kataku seraya menyantap piring ketiga.

—————————————————————-

Minggu pertama sudah dilewati di Sekolah Biru Dongker oleh Zini. Dan perlu diingat, tujuh hari itu dilalui dengan kata “bosan”.

Berjalan di taman sekolah sendiri saat jam istirahat kedua mungkin bisa membuang rasa bosan itu, dan hal itu dilakukan oleh gadis manis ini pada hari kedelapan. Waktu istirahat kedua lebih panjang daripada yang pertama, karena pada jam ini, para siswa diizinkan untuk sarapan di aula besar, dan guru-guru serta pegawai sekolah lainnya mendapat kesempatan untuk melonggarkan urat leher untuk sementara. Biasanya waktu SMP dulu, pada jam-jam seperti ini Zini selalu pergi ke perpustakaan sekolah untuk menghabiskan waktu. Zini tidak terlalu suka dengan membaca, tetapi menghabiskan waktu di tempat yang tenang sambil membaca lebih baik daripada duduk manis di kantin sekolah sambil menerima tatapan-tatapan penasaran orang lain: sendiri. “Sendiri”, itu yang jadi masalah sekarang ini. Sampai hari kedelapan itu, Zini belum juga mendapatkan teman yang bisa diajak mengobrol.

Jalan setapak taman itu melewati jalur yang berada tepat di depan pintu perpustakaan sekolah. Zini berhenti untuk menatap bangunan lusuh, yang sepertinya jarang dikunjungi oleh siswa itu, berusaha memutuskan untuk masuk atau tidak. Kalau dia masuk, berarti hari itu adalah hari pertamanya untuk mulai memegang buku-buku di dalam perpustakaan tersebut, dan berarti pula dia harus bisa berbasa-basi dengan pustakawan yang menjaganya.

“Mungkin bisa dijadikan teman pertama untuk diajak ngobrol,” ujar Zini pelan kepada dirinya sendiri.

Dia melangkah, berjalan ke gedung tersebut, dan masuk ke dalamnya.

Di dalam perpustakaan, dia tidak menemukan sang pustakawan. Pustaka itu lumayan luas, dan sekarang dalam keadaan kosong (maksudnya tidak ada orang selain dia). Zini mengangkat bahunya, dan berpikir bahwa hal yang wajar kalau siswa zaman sekarang malas membaca buku, termasuk dirinya sendiri.

Dia melangkah menyusuri rak yang menjulang tinggi hampir menyentuh langit-langit ruangan. Dia melihat sekilas buku demi buku, dan mengambil secara asal, untuk dibaca-baca sampai bel masuk berbunyi. Dia berjalan ke meja baca, dan duduk di sana, mulai membuka halaman pertama buku yang dia ambil tadi.

“Uhuk!” suara batuk.

Zini baru sadar ada seseorang (siswa laki-laki) di meja seberang. Dia sedang membaca buku sambil garuk-garuk kepala, dan kelihatannya anak laki-laki itu sedang berpikir.

Zini pun berniat untuk mengajaknya ngobrol.

bersambung

Klik di sini untuk [Bab 5] Teka-Teki Sastra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s