[BAB 3] Dewa Hilarious dan Perang Xofgar

Lima belas menit kemudian, perut Zini sudah terasa sedikit lapang. Dia bisa bernapas dengan lega. Dia melirik jam tangannya, pukul setengah enam, hari sudah semakin sore. Dan entah mengapa bus yang ia tunggu tak kunjung datang. Dan dalam penantian itu, pikiran Zini kembali berkelana kesana-kemari.

Andaikan saja dia tidak masuk SMA memuakkan itu, mungkin dia sudah bisa pulang dari tadi. Jarak SMK sangat dekat dari rumahnya. Lagi pula, dia tidak harus mampir tiap pulang sekolah ke rumah Ebok (Ebok berpesan kalau dia harus mampir setiap pulang sekolah. Kalu tidak, Ebok berjanji tidak akan pernah mau membuatkannya roti bakar lagi). Dari pikiran roti bakar, pikirannya beralih kepada penjual roti yang sering berhenti di depan sekolah, menawari roti-roti murahan kepada siswa (yang secara merata adalah anak-anak kaya) yang tidak akan mungkin mau membeli rotinya. Dan dari pikiran itu, dia teringat lagi bahwa pendapatnya salah. Karena di sekolah hari ini ada seorang siswa yang dengan senang hati mau membeli roti itu, dan anehnya, Zini tidak pernah melihat siswa itu sebelumnya. Anak itu (laki-laki yang tampangnya selalu ceria) berpenampilan sangat menarik (bukan “menarik” seperti yang kau pikirkan. Tapi menarik, menarik perhatian semua orang). Bukan dari bajunya ataupun gaya berjalannya, atau gaya bicaranya, tapi entah mengapa (Zini pun menyadari) semua orang melihat kehadiran si anak laki-laki itu (bahkan anak itu bernyanyi dengan riang tanpa peduli akan sekitarnya). Zini sempat yakin kalau dia salah lihat (dan sangat yakin tidak ada siswa baru ataupun seniornya seperti anak itu), tapi nyatanya anak laki-laki itu ada dan berpakaian sama seperti anak Biru Dongker yang lain.

Tersadar dari lamunannya, Zini semakin terkejut. Anak laki-laki yang baru saja dia pikirakan itu ada di sampingnya, masih dengan wajah yang ceria.

“Hai?!” dia menyapa Zini. “Jangan memasang wajah terkejut seperti itu!”

“Kau yang beli roti tadi..?” Zini mengernyit.

“Oh, ya!” anak itu mengangguk. “Aku salut kepada kalian, tidak kusangka ada makanan senikmat itu di dunia ini. Tampaknya aku harus memberitahukan ini kepada yang lain.”

“Ng…?” Zini merasa aneh dan bingung dengan kalimat yang baru saja terlontar dari anak itu.

“Kau tidak kenal aku?” tanya anak itu, membusungkan dada.

“Siapa?” Zini menggeleng. “Aku bahkan tidak pernah berpikir ada anak seperti mu, seperti… (“orang gila,” kata Zini dalam hati). Kau siapa?”

“Astaga!” seru anak itu, memukul keningnya. “Ternyata anak-anak manusia zaman sekarang tidak ada yang mengenal aku. Kau adalah anak ke-7659 yang berkata seperti itu.”

“Aku memang tidak kenal,” kata Zini dengan kening berkerut.

“Aku memang tidak kenal!,” seru anak itu, menirukan gaya bicara Zini. “Pantas saja kalian tidak ada yang sejahtera. Kalian bahkan tidak tahu sumber keceriaan di dunia ini. Dasar payah!!!”

“Oke, baiklah,” seru Zini (yang sudah bisa memegang kontrol akan kebingungan dan keanehan ini). “Aku mengenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Zini, Zini Xaviera. Kau?!” tanya Zini sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.

Anak itu menjabat tangan Zini dengan semangat. “Oh, jadi begini cara berkenalan sekarang? Tidak seperti anak-anak manusia yang dulu. Hahahah!”

Zini semakin bingung. Apa maksud kata “anak-anak” yang diucapkan oleh orang aneh di depannya ini.

“Baikklah, waktu istirahat sudah selesai,” seru anak itu sambil berdiri. “Masih ada tempat-tempat yang harus aku kunjungi. Terima kasih sudah mau berbincang denganku, Nona manis!” anak itu mencubit pipi Zini dengan lembut.

“Eh, ng..? Oh, ya!” sekali lagi Zini tersadar dari keterkejutan yang tak disadarinya. “Aku juga senang bisa berkenalan dengan… kau belum menyebutkan namamu!”

“Oh, Meeeen! Aku masih tidak bisa terima ini!” kata anak itu. “Merupakan hal yang paling tidak kusuka kalau ada anak manusia yang tidak kenal aku. Tapi, karena kau adalah anak yang manis dan sangat menarik, aku maafkan. Ingat ini selalu, aku adalah Dewa!”

“Dewa?” tanya Zini sinis (bahkan tertawa terpingkal-pingkal dalam hatinya. Anak aneh yang berada di depannya itu ternyata memang gila.)

“Ya, aku Dewa. Dewa Hilarious!”

“Wow!” Zini mengerjap (“Keren juga nama khayalan Dewa-nya. Hahahahaha!” Zini berseru dalam hati)

“Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi!”

“Oh, ya! Daaah!” kata Zini.

Anak itu berlari dengan riang sambil bernyanyi dengan suara lantang penuh semangat. Anak itu berbelok ke arah gang paling ujung.

Sesaat setelah itu, bus yang ditunggu-tunggu datang. Zini segera menyandang tas, dan masuk ke dalam bus.

Di dalam bus, tetap memilih tempat yang dekat jendela (karena Zini suka akan hembusan angin), Zini kembali teringat anak yang baru saja dikenalnya. Bukan apa-apa, hanya saja, baru pertama kali pipinya dicubit dengan sangat lembut oleh seorang anak laki-laki (dan tanpa dia sadari, dia sudah tersenyum-senyum sendiri dengan wajah merona).

“Dewa?” ujar Zini pelan kepada dirinya sendiri. “Konyol!”

—————————

“Gyahahahaha!” saya tertawa. “Wajar saja Zini merasa aneh mendengar ada anak yang mengaku sebagai Dewa.”

“Hahaha!” Ryand juga tertawa. “Semua orang pasti akan mengira kau gila kalau mengaku sebagai Dewa. Tapi ini bukan bualan. Karena anak laki-laki yang ditemui oleh Zini itu memang Dewa.”

“Aku tebak, anak itu pasti Dewa dari peradaban Urmon. Dan dia bukan anak laki-laki seperti kelihatannya. Karena dia memang Dewa, yang sedang berpenampilan seperti manusia biasa,” kata saya dengan penuh semangat.

“Ya, betul sekali, Kawan!” kata Ryand.

“Aku jadi penasaran. Ayo lanjutkan ceritamu!”

“Sabar, aku butuh minum!” kata Ryand sambil mengisi gelasnya yang kosong dengan air putih.

————————–

Mari kita tinggalkan sejenak Zini. Kita kembali ke masa-masa jaya di Negeri Urmon. Apakah kau pernah membaca Taiko? Di dalamnya ada banyak kisah perang. Perang Xofgar, persis seperti perang itu. Sepertinya Ryand tidak begitu kreatif. Dia meniru cerita perang di novel itu, bahkan hingga ke elemen-elemen yang membangun dramatik kisahnya. Sebagaimana yang saya tuliskan di sini:

Sebarisan pasukan besar bergerak pelan menuju tanah lapang Paghera. Semangat tempur sudah ada di dalam benak setiap prajurit. Kalau tidak menang, maka bersedia mati. Bahkan bagi prajurit paling lemahpun, pulang tanpa goresan luka bertanding satu lawan satu dengan musuh merupakan aib paling memalukan.

Paghera adalah dataran yang sangat luas, yang membatasi pemukiman dengan pegunungan Orthocurst. Ada dua negeri yang mendiami pemukiman di kaki pegunungan ini, yaitu Urmon dan Numlock. Untuk mempertahankan ideologi dan kekuasaan, dua negeri ini terus bertikai dalam perang. Tanah luas Paghera pun menjadi saksi bisu perang Xofgar.

Pasukan berhenti. Derap kuda yang membahana juga berhenti. Keringat membanjir dalam baju besi. Haus melanda tenggorokan setiap prajurit. Tidak ada yang bersuara. Bahkan angin pun seolah-olah ikut bergeming, karena perang menuju kematian segera dimulai.

Debu pasir yang sedari tadi menghalangi pandangan kini mulai menipis. Mata setiap prajurit kini tertuju ke depan, menanti pasukan musuh. Saat angin mulai berdesir pelan, sayup-sayup terdengar bunyi lonceng dan derap kuda dari seberang. Secara perlahan, puncak bendera pasukan musuh mulai terlihat. Derap kuda yang terdengar menandakan bahwa pasukan musuh juga mempunyai semangat yang tidak kalah hebatnya. Sekitar 300 meter, pasukan musuh berhenti. Masing-masing pasukan meniup terompet, dan mereka saling memberi semangat kepada masing-masing prajurit/rekan senegeri.

“Ingat lah ini, wahai prajurit!” seru Sang Panglima. “Ingat akan negeri kita. Berperangalah dengan penuh semangat dan siap untuk mati. Mati, untuk negeri, maka kita akan berada di sisi Dewa. Tunjukkan bahwa kita adalah pasukan Urmon yang terkuaaaaat!!!”

“Huooooooooooooooo!” teriak semua pasukan.

Terompet berkumandang lagi. Tombak-tombak panjang yang tadi seakan-akan mencakar langit, kini bergerak turun, mata tajam pisaunya mengarah ke musuh.

Derap seekor kuda terdengar mendekat. Seorang kurir pengintai turun dari kuda tersebut dan memberikan laporan.

“Pasukan musuh berjumlah lebih dari seribu. Tujuh ratus pasukan bertombak, tiga ratus diantaranya berjubah besi. Sisanya adalah pasukan pedang dan pasukan berani mati.”

“Kekuatan kita seimbang dengan musuh,” ujar Panglima. “Ini berarti kita harus berperang dengan sungguh-sungguh. Karena kemungkinan menang antara kedua belah pihak sangat kecil.”

Terompet berbunyi lagi, menandakan setiap pasukan sudah menerima laporan dari masing-masing kurir pengintai. (Dalam perang juga terdapat sportifitas, sehingga akan tampak siapa yang benar-benar kuat).

Setiap prajurit berdebar. Menanti seorang prajuirt paling berani yang akan bersedia menjadi anak tombak. Menjadi anak tombak merupakan suatu status paling tinggi dalam pasukan. Tapi bayarannya, kau harus bersedia bergerak menuju paling pertama, dan kemungkinan mati juga sangat besar. Menjadi anak tombak, berarti kau menjadi orang paling berani. Tapi siapa yang berani?

“Aku Undorfaz, dari pasukan kuda, bersedia menjadi anak tombak!” seru salah seorang prajurit berpedang di atas kuda berjubah perak.

“Dewa memberkatimu!” kata Sang Panglima.

“Serbuuuuuuuuuuu!”

Seketika debu pasir berterbangan. Sedetik kemudian, masing-masing pasukan bergerak saling mendekat. Undorfaz, anak tombak pasukan Urmon bergerak dengan gagah berani. Tapi, nasib malang, sebuah anak panah mendarat dikeningnya. Jasad sang prajurit terjatuh dari kuda.

Pasukan beradu. Pedang bertemu pedang, tombak beradu tombak. Pasukan tak berkuda ditindas pasukan berkuda. Hujan anak panah tak berhenti, darah mulai melumuri tanah Paghera yang tadinya bersih.

Pasukan tombak berkuda Numlock membentuk formasi sayap elang, kemudian menyapu bersih pasukan tombak tak berkuda Urmon. Setiap kepala terpenggal. Semakin banyak prajurit yang mati, sebagai pecundang atau sebagai pahlawan?!

Seorang prajurit tombak dari Numlock bergerak diantara pasukan pedang Urmon. Tak ada satupun orang yang berhasil melukai dagingnya.

“Aku Barbart, prajurit tombak Numlock, menantang Humodown, panglima pasukan tombak Urmon!” serunya dengan gagah.

Di sela-sela dentingan pedang dan aduan tombak, Barbart melihat sesosok tubuh perkasa. Kesempatan untuk memenggal kepala Humdown tidak datang dua kali. Dia akan membawa potongan kepalanya kepada Sang Raja.

Barbart berlari, mengarahkan tombaknya kepada Humdown. Tapi sedetik kemudian dia terpental. Seorang prajurit pedang dari Urmon berdiri dengan gagah.

“Prajurit hina!” serunya. “Beraninya kau mengarahkan tombak kepada Panglima Humdown tanpa sepengetahuannya. Kau bahkan tak layak beradu senjata dengannya.”

“Memenggal kepalanya adalah impianku,” gerutu Barbart. “Sebelum dirinya, kepalamu akan kupenggal terlebih dahulu.”

“Aku Xelodon, prajurit pedang kelas menengah dari Urmon, menerima tantanganmu!”

Kedua prajurit saling berlari. Tombak beradu pedang. Tak ada prajurit lain yang berani mengusik. Atau mungkin karena setiap prajurit sibuk dengan lawan mereka masing-masing. Pertarungan mematikan antara kedua pasukan semakin panas.

Xelodon terpental. Barbart meloncat tinggi, mengarahkan ujung tombak ke tanah, siap menghujam Xelodon. Tapi Xelodon tidak bodoh, dia berputar dan menghindar dari tombak Barbart. Xelodon melemparkan pisau kecil ke arah Barbart. Pipi prajurit itu tergores.

“Bangsat! Hyaaaaaaaaaaarrrgh!!!”

Xelodon bergerak ke kiri, menghindari tombak Barbart yang diarahkan dengan membabi buta. Mendapat celah, Xelodon melancarkan tendangan telak ke perut Barbart. Barbart tersungkur. Tapi Barbart masih bias menangkis pedang Xelodon dengan tombaknya. Kini giliran Barbart yang melancarkan tendangan ke perut Xelodon. Xelodon mundur tiga langkah kebelakang. Dengan cepat, mata tombak Barbart menusuk paha Xelodon. Xelodon berteriak.

Barbart mengelurakan belati dari pinggang nya, siap memenggal kepala Xelodon. Tapi Xelodon kuat, dia mencabut tombak, dan bergerak mundur menjauhi Barbart beberapa langkah.

Barbart mengejar Xelodon. Dengan kekuatan terakhir, Xelodon meloncat dan mendarat di belakang Barbart. Dengan cepat dia menusuk punggung prajurit tombak Numlock tersebut. Barbart tersungkur, nyawanya masih ada di tenggorokan.

Bagi seorang prajurit, memenggal kepala musuh dengan permohonan adalah suatu upacara sakral, dan selalu dipatuhi dalam etika bertanding satu-lawan satu.

“Penggal kepalaku, jangan biarkan aku mati hinda dengan tusukan di punggung!” gerutu Barbart terengah-engah menahan rasa sakit dan kekalahan.

“Sebelum aku penggal, sebutkan permintaan terakhirmu!” kata Xelodon dengan gagah.

Mereka diam beberapa saat. Angin berdesir, membelai rambut Xelodon yang panjang.
“Aku ingin perdamaian!” kata Barbart pelan.

“Aku juga,” kata Xelodon. “Tapi kita terlahir untuk berperang.”

Barbart tersenyum untuk terakhir kalinya. Sesaat kemudian pedang Xelodon bergerak dengan cepat, memenggal kepala sang prajurit Numlock.

“Huooooooooooooooooooooo!” Xelodon berteriak ke langit.

Kemudian prajurit pedang Urmon itu bergerak kembali, mencari kepala prajurit Numlock yang lain. Perang masih panjang…

bersambung


[i] Cerita kali ini akan menggambarkan sebuah perang (perang Xofgar). Pengarang terinspirasi cerita Taiko yang dikarang oleh Eiji Yoshikawa sehingga gambaran perang tersebut ditulis ulang dalam cerita Zini ini dengan bahasa dan kata-kata sendiri namun hampir serupa sebagaimana gambaran Eiji Yoshikawa.

Klik di sini untuk [Bab 4] Teman Baru?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s