[BAB 2] Angin

Mungkin, kalau memang dalam satu hari itu mesti ada hal yang kita senangi, maka hal yang disenangi oleh Zini saat itu adalah jam pulang sekolah. Karena dia bisa lepas dari segala perintah senior, aturan-aturan yang memuakkan, serta pandangan orang-orang yang, mungkin, takut atau tidak senang dengan dirinya. Keluar dari sekolah Biru Dongker itu, dia langsung menuju bagian pinggir kota menaiki tranportasi umum menuju pusat kota untuk mampir ke rumah bibinya. Selama perjalanan ini, dia bisa menikmati hari dengan sendiri dalam keramaian.

Kota Simbadda, yang sekarang sudah mulai dibangun berbagai sarana transportasi di setiap sudut kota, tetap menjadi kota yang sangat asri.

Duduk di kursi belakang dekat jendela, Zini menghadapkan wajahnya keluar, menantang angin sambil berusaha menikmati roti lapis daging yang rasanya tawar, buatan Chacha, bibinya yang satu lagi. Zini sangat hobi makan, tapi (menurutnya) hobi itu tidak perlu diumbar dan tidak pula berarti harus makan semua makanan. Tidak. Dia hanya suka makanan yang benar-benar dia suka dan benar-benar harus dimakan. Dan menurutnya, roti buatan Chacha adalah roti yang harus dimakan.

Suapan terakhir, dia menyelipkan bungkus roti itu ke dalam saku celananya. Dia melirik jam tangan, masih sepuluh menit lagi bus yang dinaikinya berhenti. Seseorang yang duduk di sebelahnya sedang membaca koran. Zini melirik dan melihat ada kabar-kabar terbaru mengenai kelanjutan persaingan para calon walikota yang akan memerintah kota Simbadda. Melihat berita itu, yang mana selalu sama setiap harinya, membuatnya mendenguskan hidung. Menurutnya, sudah semestinya koran-koran itu mengganti tema berita yang lebih menarik, seperti membahas group band kesayangannya.

Bus berhenti. Zini turun dan menyusuri trotoar menuju jalan setapak ke arah rumahnya. Berjalan sekitar lima menit, dia belok ke arah kiri dan menuju rumah mungil berwarna putih. Pekarangan rumah itu memiliki banyak tanaman hias (yang Zini sendiri pun tak tahu nama tanaman-tanaman itu). Dia langsung membuka pagar dan masuk ke dalam pekarangan. Salakan anjing yang tiba-tiba tidak membuatnya terkejut sama sekali.

“Guk guk guk!”

“Halo…! Masih terkurung di dalam kandang seperti biasa? Anjing malang!” katanya pelan. “Kalau ada waktu, aku pasti akan mengajakmu jalan-jalan.”

Zini menarik tali lonceng yang tergantung di depan pintu. Bunyi sayup lonceng menggema ke seluruh penjuru rumah. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, seorang wanita paruh baya tersenyum menyambutnya.

“Bagaimana dengan sekolah barumu?” kata wanita itu. “Pasti menyenangkan, bukan? Semua remaja di kota Simbadda memimpikan bisa menjalani hari pertama di Sekolah Biru Dongker itu. Kau sangat beruntung bisa masuk kesana.”

Beruntung? Tidak bagi Zini. Karena pasti lebih asik jika dia diizinkan masuk SMK.

“Hari ini adalah hari kedua, Ebok!” jawabnya (‘Ebok’ adalah sapaan sayangnya untuk sang bibi). “Aku sudah masuk dari kemarin. Maaf  kemarin aku harus langsung pulang karena ibu harus mengajar kelas sore.”

“Oh, bukan hari ini?” tanya Ebok, dengan ekspresi wajah yang sedikti kecewa. “Padahal aku sudah sangat yakin hari pertamamu di sekolah adalah kemarin. Tapi patokannya adalah, kau berjanji akan mengunjungiku di hari pertama. Karena kemarin kau tidak datang, aku pikir hari pertamamu adalah hari ini.”

“Hyah, itu tak jadi soal,” kata Zini mengangkat bahu. “yang penting kan aku sudah datang.”

“Tapi betul, kan?” tanya Ebok dengan girang lagi. “Pasti menyenangkan!?”

“Lumayan!” jawab Zini sambil menghela napas. “Dijemur dibawah terik matahari dan diperintah ini itu, benar-benar memu…”

“Bukan memuakkan!” kata Ebok tegas. “Kau harus menghilangkan sikap yang selalu mengeluh itu. Jalani saja, hanya seminggu, bukan!? Nanti kau pasti akan menemukan sesuatu yang menarik. Karena Sekolah Biru Dongker itu penuh kejutan.”

“Oh, yeah!?” kata Zini, menelengkan kepalanya.

“Katanya, sih, begitu…,” ujar Ebok sambil mengangkat kedua bahunya. “Kau sudah makan?”

“Sudah, dalam bus tadi aku makan roti lapis buatan Chacha.”

“Hahaha! Pasti rotinya tawar, kan!” kata Ebok. “Aku akan buatkan roti yang lebih enak untukmu!”

“Tapi aku sudah kenyang, Ebok!”

“Ck! Apanya yang sudah kenyang?” tukas Ebok. “Lihat badan kamu! Kurus. Ayo, makan setengahnya saja juga tidak apa-apa!”

“Hadeuh…!” Zini hanya bisa mengehla napas dan tidak bisa menolak. Tabiat Ebok sama dengan tabiat ibunya.

————————–

Saya sudah menghabiskan sepiring nasi beserta lauknya saat cerita Ryand berhenti di bagian yang itu.

“Kenapa berhenti?” tanya saya, lalu menenggak segelas air sampai habis.

“Nasi kau sudah habis,” kata Ryand. “Kau mau pulang?”

“Pulang?” kata saya, mengernyit. “Kau gila? Di tengah hujan deras begini? Lanjutkan sajalah ceritamu, aku dengarkan. Mbak, saya pesan sepiring nasi lagi, lauknya sama, ya!”

“Nah…! Kau memang pendengar setia,” kata Ryand girang.

“Pendengar setia? Hahaha! Cuma aku yang pernah dan mau mendengarkan ceritamu.”

“Ya, kau memang memiliki selera yang tinggi!” kata Ryand berteori. “Mereka-mereka yang tidak mau mendengarkan ceritaku itu, tidak tahu apa yang dimaksud dengan cerita yang bermutu. Hanya kau, yang memiliki pikiran…”

“Sudah, lanjutkan saja ceritanya!” kata saya saat satu piring nasi yang saya pesan lagi itu datang.

“Oh, baiklah!” kata Ryand bersemangat. Dia minum seteguk air (selalu saja begitu kalau memulai cerita).

————————

Sekitar pukul tiga sore, Zini berjalan lagi di trotoar menuju halte. Perutnya benar-benar kenyang saat itu. Ebok memang jago masak, dan patut diacungi jempol akan cita rasa masakannya. Tapi jika kau dipaksa untuk makan sementara kau sudah kenyang, itu merupakan suatu siksaan. Dan siksaan itu sedang menimpanya.

Zini terduduk di halte untuk menenangkan perutnya. Dia melirik kanan-kiri, berharap bus segera datang.

 

Klik di sini untuk [BAB 3] Dewa Hilarious dan Perang Xofgar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s