[BAB 1] Sekolah Idaman

Beberapa hari ini saya sudah berada di kota Jakarta. Berasal dari daerah—kota Pekanbaru, provinsi Riau—tujuan saya memijakkan kaki di ibu kota adalah mengikuti bimbingan belajar (mungkin di satu lembaga yang disebut-sebut oleh saudara saya bagus kualitasnya), berharap bisa melanjutkan pendidikan ke universitas yang terbaik.

Tapi latar belakang itu tak penting. Karena malam telah larut, saya berlari dari hujan menuju warteg yang masih buka pada pukul sepuluh malam itu. Duduk dan memesan makanan kepada si mbak pemilik warteg, saya kaget melihat seseorang tersenyum ke arah saya.

“Hei, kau di sini juga?!” saya berseru, menyapanya. “Apa kabar?”

“Hahaha! Baik…,” jawab pemuda itu. Ryand, namanya. Kami lantas duduk di meja yang sama. “Kau sedang apa di sini?”

“Baru pulang bimbel,” jawab saya. “Susah, ya, di sini. Harus biasa makan warteg.” Saya mengeluh seperti itu, waktu itu, karena di kampung selalu makan-makanan Minang, dan tidak terbiasa makanan Jawa.

“Kau tidak pernah berubah sejak SMA, selalu saja mengeluh.”

“Ini, Mas, nasinya!” kata si mbak penjaga warung.

“Makasih, Mbak!” kata saya kepada si mbak, tapi fokus saya masih ke teman saya itu.

“Bualanmu sudah jadi kenyataan?” tanya saya lagi kepada Ryand, sedetik sebelum menyuap nasi putih yang sudah dingin.

“Tentu saja!” jawab Ryand bersemangat. “Datang lah kapan-kapan, akan kutunjukkan padamu buku-buku terbaikku.”

“Ngomong-ngomong, apa enaknya, sih, jadi pustakawan?” saya bertanya dengan mulut penuh nasi.

“Hah! ‘Apa nikmatnya…?!’ Ubah isi kepalamu itu. Kalau kau senang, mau kerja apa pun pasti bahagia.”

“Aku selalu sial…”

“Makanya kau perlu hiburan,” kata Ryand. “Aku punya cerita. Mau dengar…?”

“Kau selalu begitu. Setiap sebentar, pasti ada cerita,” tanggap saya. “Cerita apa lagi sekarang?”

Ryand tersenyum, lalu meneguk air sebelum memulai ceritanya. Seperti biasa, dia mengawali cerita itu dengan batuk yang dibuat-buat.

“Ehem! Ini cerita tentang orang-orang Urmon. Ibukotanya Akamsi. Di sana ada banyak penyihir dan petarung. Meskipun kecil, petarung-petarung Akamsi terkenal hebat. Karenanya Urmon menjadi negara yang kuat. Tapi itu tidak lama. Perang yang terus-menerus terjadi membuat dunia mengalami krisis. Generasi kemudian hancur. Urmon dan Akamsi pun kini hanya tinggal nama.”

“Ngarang…!?” saya berceletuk, tak percaya.

“Bukti-bukti mengenai perang Xofgar sudah dilenyapkan para malaikat,” Ryand terus saja bercerita, seolah tak menyadari celetukan saya. “Perang itu yang membuat Urmon hancur.”

“Tapi kita harus beralih dari negeri Umron kuno itu. Karena yang ingin kuceritakan kepadamu sebenarnya adalah tentang seorang gadis, yang hidup pada masa sekarang ini, yang baru saja memulai harinya di sebuah sekolah yang sangat bagus di sebuah kota bernama Simbadda. Gadis itu biasa dipanggil Zini. Hal yang paling dibenci oleh Zini adalah menyesuaikan diri dengan segala hal yang baru. Hari pertama yang dilaluinya di SMA Biru Dongker, kota Simbadda, sangatlah membosankan, menurutnya.” Ryand berhenti sebentar untuk minum seteguk air lagi.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya, yang sebaiknya saya tuliskan di bawah ini agar lebih jelas dan nyaman untuk menyimak cerita Ryand (saya menulisakannya dari sudut pandang Ryand):

Zini Xaviera adalah seorang yang cuek. Itu selalu keluar dari mulut orang-orang pada pertemuan pertama mereka dengan gadis ini. Seorang gadis yang tipikalnya tomboy, jutek, dan wajahnya jarang tersenyum. Menganggap semua yang ada di sekitarnya bukan hal penting. Selalu saja mengeluh, “Membosankan!”, di setiap situasi dan kondisi. Ia menganggap laki-laki sebagai makhluk paling jahat sedunia. Bahkan di waktu Sekolah Menengah Pertama, dia pernah digosipkan sebagai gadis yang mempunyai kelainan sehingga ia dijauhi oleh teman-teman gadisnya, dan menjadi bahan olok-olokan di kalangan teman laki-laki. Tapi dia tetap saja masa bodoh dengan semua itu walaupun sesungguhnya dalam hati yang paling dalam dia mengharapkan teman yang benar-benar baik.

Tapi itu dulu, waktu kelas satu SMP. Saat dia menjalani tahun kedua di SMP itu, dia mendapat teman-teman yang baik. Bahkan mereka membentuk kelompok dengan nama Q~. Tidak ada yang tahu maknanya selain mereka. (dan jangan tanya aku, karena aku yang bernama Ryand ini, yang ahli dalam bercerita, tidak selalu tahu segalanya akan sebuah cerita yang dia baca ataupun dia dengar). Tapi mereka (si Zini dan teman-temannya itu) harus berpisah saat kelulusan. Teman-temannya ada yang pindah ke luar kota, atau melanjutkan sekolah ke SMA lain. Hanya dia saja yang secara beruntung (karena dalam pelajaran di kelas, sebetulnya Zini tidak telalu pintar) bisa masuk ke SMA yang bagus itu.

Dia adalah siswi baru SMA Biru Dongker di tahun itu. Dahulunya, dia sekolah di SMP Saga Gede, yang tidak jauh dari rumahnya. Sebetulnya dia ingin masuk Sekolah Menengah Kejuruan saja, supaya bisa lebih fokus mendalami ilmu komputer. Tapi ibunya memaksa untuk masuk SMA Biru Dongker, yang katanya adalah SMA terbaik di kota Simbadda. Karena tak ada daya untuk melawan, akhirnya dia sekolah di sekolah yang menurutnya sangat mebosankan itu.

Baru hari pertama saja, dia sudah mengangap kalau SMA yang dia tempati sekarang ini adalah SMA yang paling memuakkan. “Ini adalah hari pertama sekolah, bagi SMA konyol ini!!!” gerutunya  “Bukan bagi SMA di kota Simbadda.”

Sekolah Biru Dongker memulai hari belajar seminggu lebih awal dari sekolah yang lain. Minggu pertama ini dimanfaatkan sebagai minggu orientasi bagi siswa baru. Seluruh siswa diwajibkan untuk mengenakan pakaian serba putih, dan bagi para gadis diwajibkan memakai pita rambut warna-warni. Mereka juga diwajbkan membawa hanya tiga potong roti dan sebotol air mineral untuk bekal. Mulai dari pagi sampai siang, mereka akan diajarkan cara baris-berbaris a la Biru Dongker. Siangnya, mereka akan makan bersama di aula besar sekolah. Makan siang disediakan oleh pihak sekolah, dan setelah jam makan siang mereka akan melakukan berbagai macam permainan yang bertujuan untuk mempererat kebersamaan. Dan sekali lagi aku tegaskan, hal ini masih saja membosankan bagi gadis yang kita perbincangkan ini. Ingat kata ini: membosankan!!!

Hari kedua, saat jam istirahat pertama, sekitar pukul sepuluh pagi, seluruh siswa dipersilakan untuk berteduh di bawah pohon-pohon pinggir lapangan, di belakang sekolah, untuk minum dan makan sepotong roti. Beberapa siswa baru yang sudah saling kenal dan akrab membentuk kelompok-kelompok kecil dan saling berbincang. Sementara Zini, karena belum ada yang ia kenal (padahal ia sangat berharap memiliki teman yang baik di SMA ini), ia pun memilih tempat duduk di bawah pohon yang paling rindang dan menikmati bekalnya sendiri sambil memperhatikan yang lain (salahnya, tampangnya salalu saja cemberut dan tidak bersahabat, sehingga orang mengira dia adalah orang yang tidak bisa diganggu).

“Huh, capek, panas lagi!” keluh seseorang dari sebelah kanan. Zini menoleh dan melihat beberapa anak cewek berkumpul dan mengibas-ngibaskan topi untuk mengurangi rasa panas.

“Aku tidak habis pikir, kenapa, sih, kita disiksa kayak prajurit yang akan berperang?” kata anak yang mengeluh tadi. “Kalau bukan gara-gara dia, aku pasti sudah protes!”

“Iya, kakak yang itu sungguh berwibawa, wajahnya juga ganteng!” seru temannya. “Sayang banget dia gak mimpin barisan anak-anak cewek. Tapi untung aja kalau barisannya digabung, kakak itu yang selalu mimpin!”

“Kamu, sih, enak, berdiri di depan!” kata temannya yang lain. Kemudian mereka tertawa sambil memperhatikan kakak kelas ganteng yang dimaksud.

Zini menoleh ke arah kakak yang menjadi bahan gosip para gadis, dan dia melihat sosok remaja laki-laki tinggi yang sedang tertawa bersama teman-temannya.

“Ganteng, sih, tapi…!?” ujar Zini dalm hati.

 

Klik di sini untuk [Bab 2] Angin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s