Workshop Literasi Media wepreventcrime Bersama Forum Lenteng

Tulisan ini sudah pernah dimuat di website akumassa, tertanggal 8 Februari, 2014.
_______________________________________________________________________

Melakukan-tinjauan-terhadap-hasil-rekaman-video-selama-proses-observasi-di-lapangan_02-copy

“Waktu pertama kali gue ngasih ide workshop literasi media, apa yang kepikiran sama lu?” tanya saya kepada Yanuar melalui chat facebook.

“Jujur, blank, Bang!” jawabnya. “Gue gak tahu apa-apa tentang literasi media. Sempet googling, itu kayak ngebahas beberapa poin penting, kayak bagaimana seharusnya media memberikan informasi yang baik, bagaimana mengkritisi media lain, dan lain-lain. Tapi, ya, itu… masih ngablu.”

Workshop-menulis_03

Hari itu, 7 Februari, 2014, Yanuar dan beberapa temannya: Meiki, Mela, Albert, Kaspo dan Akbar, berkumpul di Forum Lenteng untuk menyelesaikan karya dalam workshop literasi media yang mereka ikuti sejak tanggal 3 Februari, 2014. Kegiatan ini bekerja sama dengan Forum Lenteng. Otty Widasari, Koordinator Program akumassa Forum Lenteng, menjadi fasilitator, dibantu oleh saya sendiri, dan Muhammad Sibawaihi (anggota komunitas dampingan akumassa di Lombok Utara, Pasir Putih).

Membuat-laporan-melalui-gambar-copy

Yanuar dan teman-temannya itu adalah anggota wepreventcrime (biasanya disingkat WPC), dari Himpunan Mahasiswa Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Tahun ini, komunitas ini membentuk kepengurusan baru. Yanuar, yang sekarang menjabat sebagai pemimpin umum, berinisiatf untuk mengembangkan wawasan anggota WPC tentang media. Kerja WPC sendiri selama ini adalah mengelola media online berbasis webblog, wepreventcrime.wordpress.com, dan memproduksi Buletin Wepreventcrime. Harapannya, dengan bekal yang didapat selama workshop dengan Forum Lenteng, teman-teman WPC mampu melakukan aksi produksi dan distribusi pengetahuan kriminologi bagi seluruh lapisan masyarakat dengan lebih kreatif dan inovatif.

Workshop-menulis_02-copy

Pada workshop ini, media audiovisual adalah fokus utama yang menjadi kajian dan medium berkarya. Kegiatan ini nantinya akan memiliki output berupa teks, gambar (image) dan video. Oleh karena itu, di H-2, teman-teman WPC sibuk menyelesaikan karya tulis untuk jurnal, dan menyelesaikan suntingan karya video, yang akan dipresentasikan ke hadapan khalayak Forum Lenteng, pada tanggal 9 Februari, 2014.

Membuat-laporan-melalui-gambar_02-copy

Membuat-laporan-melalui-gambar_03-copy

Membuat-laporan-melalui-gambar_04-copy

Membuat-laporan-melalui-gambar_05-copy

Memetakan-lokasi-untuk-karya-video-dan-tulisan-copy

Lu lagi nulis tentang topik apa?” tanya saya lagi kepada Yanuar, mengganggu konsentrasinya menyelesaikan tulisan.

“Tentang signifikansi media audiovisual terhadap kriminologi, Bang,” jawabnya. “Ada referensi, gak, Bang?”

Tanpa menghiraukan pertanyaannya, saya lanjut bertanya, “Bagaimana cara lu melihat hubungannya?”

“Nah, itu dia, Bang!” kata Yanuar. “Kemarin Mbak Otty ngegabungin ide Albert sama tulisan gue. Albert ngusulin…menerapkan presumption of innocence dalam berita kejahatan…”

Observasi-lapangan-dengan-memanfaatkan-medium-video-copy

Orang-nyebrang-copy

Cukup lama saya menunggu, Yanuar melanjutkan pendapatnya, “Ya, gitu, Bang… gimanapengaruh audiovisual ke masyarakat, gimana audiovisual bisa diakses oleh banyak orang dan banyak alat, masuk ke ruang privat…”

Chat facebook Yanuar diam lagi. Beberapa saat kemudian, nongol lagi jawabannya: “Sementara kita sendiri kurang paham bagaimana harusnya menanggapi informasi yang masuk melalui media itu…di satu sisi, kita harus belajar menanggapinya, di sisi lain kita harus belajar bagaimana menghasilkan informasi yang sehat melalui media audiovisual itu.”

Sedikit banyak, pendapat Yanuar itu menggambarkan tentang bagaimana pentingnya kesadaran kita terhadap media, khususnya audiovisual. Video, terutama, pada era ini dianggap sebagai teknologi paling accessible bagi lapisan masyarakat mana pun untuk memproduksi informasi sendiri. Melalui medium teks, mungkin, ide-ide itu sulit tersampaikan dengan efektif dan efisien akibat kondisi sosial dan budaya masyarakat kita yang terbangun oleh budaya lisan. Melalui visual dan audio (suara), ide-ide itu lebih mudah ditangkap. Namun begitu, audiovisual juga merupakan bahasa. Mempelajari logika bahasa itu lah salah satu aspek penting dalam literasi media [audiovisual] yang dipelajari dalam workshop ini.

Workshop-menulis-copy

Dari chat facebook dengan Yanuar, saya melompat ke Albert, dan bertanya tentang idenya mengenai presumption of innocence yang menjadi topik tulisannya.

“Nah, itu, belum tahu, sih, Bang,” kata Albert. “Kalau pake yang kemarin, cerita yang kita baca tentang kereta itu, mungkin. Tapi yang ide itu juga belum ketemu.”

Cerita yang dimaksud Albert itu adalah sebuah tulisan di website akumassa, berjudul “Cerita Sebuah Perjalanan Bersama Kereta Bengawan” (Imam Rahmadi, 16 Februari, 2010). Imam menarasikan pengalamannya melihat sebuah peristiwa orang kehilangan uang di dalam kereta. Dari sudut pandangnya sebagai penumpang kereta, Imam memaparkan hal itu sebagai sebuah informasi dari warga biasa. Memang, dalam tulisannya tak terdapat unsur-unsur klarifikasi yang lebih jauh, sebagaimana yang biasa tersaji dalam tulisan-tulisan jurnalistik di media massa arus utama, atau standar penulisan karya jusnalistik investigasi. Pada workshop hari kedua, tulisan Imam cukup menjadi perdebatan. Sebab, dalam sudut pandang kriminologi (dan juga jurnalistik), klarifikasi informasi dengan narasumber yang jelas adalah sesuatu yang penting. Akan tetapi, letak polemiknya adalah tentang sudut pandang. Dalam konteks pengalaman Imam, pendapatnya sebagai warga biasa dalam menilai peristiwa itu juga merupakan informasi yang tak kalah penting. Imam, sejatinya, ikut andil bagi gerakan aktivisme jurnalisme warga, bahwa melihat persoalan kriminalitas melalui perspektifnya sebagai warga biasa, bukan penegak hukum dan bukan pula jurnalis profesional. Menanggapi metode yang digunakan Imam untuk tulisannya, Albert mencoba mengulas unsur ‘praduga tak bersalah’ dalam kemasan cerita dan berita kejahatan. Dengan kata lain, workshop ini juga mendorong para peserta agar piawai membingkai isu, sesuai dengan latar belakang mereka sebagai mahasiswa kriminologi. Setiap tulisan yang telah dibuat, dibahas dan dikoreksi oleh Otty Widasari.

Membedah-Filem_Pencuri-Sepeda_karya-Vittorio-De-Sica_1949-copy

Diskusi-setelah-membedah-filem_melihat-keterkaitan-antara-wawasan-filem-media-kejahatan-dan-kriminologi-copy

Proses-penyuntingan-karya-video-copy

Di dalam workshop ini, teman-teman WPC juga dibagikan wawasan mengenai bagaimana mengemas sebuah karya yang kreatif dan tidak baku. Eksplorasi ide dan bentuk karya ditekankan agar hasilnya tidak kering. Hal itu juga yang sejatinya coba diusahakan dalam produksi karya video. Berangkat dari pemahaman yang didapat ketika membedah filem “Pencuri Sepeda”, karya Vittorio De Sica (1949), yakni tentang eksperimentasi visual dan bangunan montase, teman-teman WPC berniat membuat karya video berbasis dokumenter, merekam gejala-gejala sosial yang erat hubungannya dengan kajahatan-kejahatan ‘kecil’ sehari-hari. Lokasi yang menjadi fokus adalah lingkungan simpang Gang Sawo dan Gang Kober, di pinggir Jalan Raya Margonda, Depok, Jawa Barat. Mereka mencoba ‘bermain-main’ dengan visual-visual yang didapatkan selama observasi dan proses suting di lapangan, khususnya dalam proses editing, untuk mengemas sajian artistik melalui medium video berdasarkan praktek-praktek sosial masyarakat di lingkungan itu yang sering kali melakukan tindakan-tindakan pelanggaran aturan, sadar tidak sadar.

supir-baca-angkot-copy

Benturan-benturan dalam penggunaan ruang kota, aturan-aturan lalu lintas, kesepahaman tak terucap antara pejalan kaki dan pengendara motor ketika berkomunikasi melalui aktivitas menyeberang jalan, ketidakpekaan para supir angkutan umum yang ngetem di depan Gang Sawo, kesibukan para pekerja bangunan untuk menyelesaikan pembangunan apartemen, serta keriangan orang-orang lokal, seperti pengamen, calo angkot, pedagang kaki lima, dalam menjalani aktivitas untuk mencari peruntungan sehari-hari. Chaos yang terjadi di lokasi itu, barangkali, adalah komedi, sangat filemis, dan adalah suatu bingkaian yang pas bagi kita untuk mempersoalkan kejahatan dalam sudut pandang yang lebih filosofis. Melalui workshop ini lah, teman-teman WPC mencoba mengembangkan skills dan pemikiran, demi menunjang kegiatan-kegiatan Himpunan Mahasiswa Kriminologi di ranah media agar lebih baik lagi.

I’m criticizing ourself

Almost two years, we have been shouting and twittering that we prevent crime, and being the wepreventcrime. Almost two years we have been trapped in the narcotizing dysfunction syndrome and being proud of pseudo prevention. We claim to be people who prevent crime, but what crime did we prevented? We say that we prevent crime by means of researches, but I don’t see the real research! We say that we prevent crime by means of studies, but I don’t see there are problems we solve! We say that we prevent crime by means of works, but I don’t see the Work! We say that we prevent crime by means of journals publication, but there’s no journal we have issued. We should realize that our crime prevention action can not be real if we have not managed to quell our own ‘crime’ yet. Ironically, we are proud of being red while the ‘red’ means danger and absolutely be dangerous.

a little help from my friends

72

What would you do if I sang out of tune,

Would you stand up and walk out on me.

Lend me your ears and I’ll sing you a song,

And I’ll try not to sing out of key.

Oh I get by with a little help from my friends,

Mmm, I get high with a little help from my friends,

Mmm, I’m gonna try with a little help from my friends.

 

What do I do when my love is away.

(Does it worry you to be alone)

How do I feel by the end of the day

(Are you sad because you’re on your own)

No, I get by with a little help from my friends,

Mmm, get high with a little help from my friends,

Mmm, gonna to try with a little help from my friends

 

Do you need anybody?

I need somebody to love.

Could it be anybody?

I want somebody to love.

 

Would you believe in a love at first sight?

Yes I’m certain that it happens all the time.

What do you see when you turn out the light?

I can’t tell you, but I know it’s mine.

Oh, I get by with a little help from my friends,

Mmm I get high with a little help from my friends,

Oh, I’m gonna try with a little help from my friends

 

Do you need anybody?

I just need someone to love.

Could it be anybody?

I want somebody to love

 

Oh, I get by with a little help from my friends,

Mmm, gonna try with a little help from my friends

Ooh, I get high with a little help from my friends

Yes I get by with a little help from my friends,

with a little help from my friends

untitled

Saya juga punya hak suara dan pendapat. Dan untuk ranah dunia maya, dengan beberapa paragraf inilah saya berpendapat dalam usaha menyalurkan aspirasi yang lebih beretika. Artikel opini ini tidak menutup diri dari kritik.

Saya percaya, dan dari dulu pula saya memiliki keyakinan ini, bahwa yang dilihat sebagai sebuah prestasi ialah ketika kita bisa menghasilkan sebuah perubahan yang baik bagi diri sendiri dan orang lain. Dan saya juga percaya bahwa keyakinan ini mestinya dimiliki oleh semua orang. Terlebih mahasiswa Universitas Indonesia, yang memiliki tingkat intelektualitas yan baik dan keterbukaan cara pandang dalam melihat persoalan, keyakinan ini menjadi sebuah modal mutlak yang harus dimiliki.

Lantas apa jadinya ketika kita mengikis keyakinan itu hanya karena hasrat untuk menjadi bangga pada suatu hal yang, pada dasarnya, hanyalah kebanggan semu dan tidak memiliki dampak yang berarti pada perubahan yang kita bayangkan?

Coba lihat lagi, apakah kita sudah berhasil melakukan perubahan kalau hingga detik ini, pertengkaran sepele selalu menjadi hal yang dibesar-besarkan di atas nama emosi? Beranjak dari fase ‘bocah’ menuju fase kedewasaan berpikir dan kebijakan sikap pun, sepertinya saya pesimis ketika, lagi-lagi, harus menonton debat kusir yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kalau sudah seperti itu, saya menjadi bertanya-tanya: apa gunanya kegiatan yang selama ini kita perjuangkan untuk terus dipertahankan tradisinya, jikalau, ujung-ujungnya kita melestarikan sifat iri hati, dan sikap saling tuding-menuding, salah-menyalahkan, sindir-menyindir?

Coba pikir lagi baik-baik, kita sedang mempertengkarkan apa? Yang berlalu biarlah berlalu. Segala yang dianggap berhasil akan menjadi titik atau tolak ukur untuk meningkatkan kualitas pencapaian, sedangkan yang gagal akan menjadi jejak koreksi agar tidak mengulangi kesalahan dan kegagalan baru. Masalahnya, siapa yang berhak dan mampu menentukan mana yang berhasil dan mana yang tidak? Toh, kegiatan yang kita lakukan hanyalah sebuah inisiatif yang berangkat dari semangat kebersamaan, mengapa malah justru memunculkan keretakan? Ini konyol, namanya!

Pertengkaran yang menjadi tontonan ini memang “menarik” dan “menghibur”, yang dengan secara bersamaan juga membawa ketidakharmonisan. Dan pertemuan-pertemuan yang dilakukan, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, akan menjadi percuma jikalau kita semua sama-sama membawa kepala batu dan kebanggaan semu yang ingin terus dipertahankan.

Kita ingin bangga? Ya berbanggalah pada prestasi yang benar-benar riil! Berbanggalah pada capaian-capaian yang memang menghasilkan perubahan yang benar-benar dapat dirasa pengaruh baiknya. Jikalau merujuk pada pertengkaran yang terjadi, rasa-rasanya kita semua gagal membawa perubahan yang baik itu.

Di kampus sana, masih ada bibit-bibit baru. Mereka membutuhkan bimbingan kita yang sudah memiliki pengalaman melakukan berbagai hal. Menurut saya, memberikan perhatian yang sebesar-besarnya kepada bibit-bibit baru ini agar mereka dapat belajar dengan cara yang lebih baik, dan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di waktu lalu, adalah sebuah persoalan yang lebih penting ketimbang berdebat kusir tiada henti yang justru memberikan contoh yang buruk, dan bahkan memalukan.

Ayo, lah… lebih baik kita bersenang-senang, duduk berkumpul bersama, tertawa dan bernyanyi di sebuah meja yang, saya yakin, sangat dicintai oleh kita semua. Tidak ada gunanya bertengkar seperti ini.

Komoditas Adalah Agama Baru Kita

Disiplin sosiologi dan antropologi telah cukup lama ‘mencurigai’ agama sebagai komoditas yang bukannya meluruskan jalan manusia, tetapi justu menyesatkan. Menggunakan istilah fetishism (Fetischismus), Marx melakukan analisis tentang agama, mengacu pada komoditi sebagai satu analogi jimat-karakter (Fetischcharakter). Dalam situs science.jrank.org dijelaskan, istilah itu mencerminkan argumen Marx: ekonomi muncul di titik mana agama telah dianut pada periode-periode sebelumnya, memiliki fungsi sebagai sebuah ‘lembaga hukum’ yang tampak alami.

Balibar dan Althusser, dalam menjelaskan ide Marx tentang ‘fetisisme komoditas’, memancing pendapat para antropolog Marxis: dalam masyarakat non-industri, sifat hubungan sosial kita ditentukan oleh faktor-faktor dan institusi-institusi ekstra-ekonomi, yang dilihat “alami atau ilahi”, seperti gereja (masjid) atau kerajaan (monarki). Dan kapitalisme, merupakan “mode produksi dimana fetisisme mempengaruhi wilayah ekonomi”. Singkatnya, dalam masyarakat yang tiada memiliki ‘market economy’ mapan, fetisisme (fetisisme komoditas: pemujaan terhadap sesuatu yang kemudian mengamankan dominasi modal ekonomi, politis maupun ideologis) dapat beroperasi dengan menghadirkan produk dengan kualitas sesuai ‘lingkungan sosial’-nya.

Sedikit lebih jauh, kita perlu meninjau pemikiran Theodor Adorno, salah satu ‘jagoan’ Frankfrut (1991: 34). Dijelaskan oleh Dominic Strinati (1995: 101), masyarakat yang heboh membeli tiket konser Toscanini (disinggung dalam jabaran Adorno) justru sedang memuja harga yang dibayarkan untuk tiket. Dengan kata lain, masyarakat lebih memuja uangnya dibandingkan pertunjukan musiknya sendiri. Masyarakat tersebut menjadi “korban fetisisme komoditas ketika relasi sosial dan apresiasi budaya diobjektivikasi dalam pengertian uang”.

Mae, seorang blogger (thefeed.blackchicken.ca) menulis: If the sacred becomes commodified, does it then fall into the realm of the profane? Religion has surely become big business and it appears that the commodification of religion is being widely accepted and even propagated. Sebagai contoh, Mae memajang beberapa T-shirt yang mengkombinasikan tema keagamaan dengan humor.

Agama bukan lagi menjadi hal hakiki, melainkan celah bagi para pebisnis untuk menjual produk mereka untuk kita konsumsi. Kita yang ‘cinta’ dengan agama, tidak lagi melihatnya sebagai ‘iman’, tapi sebagai barang konsumsi dan menjadikannya atribut identitas keagamaan yang kita anut.

Contoh, kita mau duduk lama menonton sinetron “Para Pencari Tuhan” buatan Deddy Mizwar, produksi PT Demi Gisela Citra Sinema. Hampir di setiap adegan ada iklan, ditayangkan pada jam yang seharusnya menjadi waktu untuk ibadah Berbuka Puasa atau Sholat Tarawih. Tidak sedikit, ada yang lebih memilih mengkonsumsi hiburan itu ketimbang melaksanakan kewajiban yang sesungguhnya. Tak hanya itu, pada rentang waktu hari-hari besar keagamaan, Bulan Ramadhan dan menjelang Natal misalnya, sajian TV seketika berubah menjadi ‘alim’; bisnis iklan bertopeng agama, melemparkan slogan-slogan menjalankan ibadah dengan khusyuk, tapi secara tak etis mempengaruhi publik untuk lebih peduli (hingga ke aksi membeli dan mengkonsumsi) barang yang diiklankan dengan nuansa religius.

Argumen ini bukan tanpa dasar. Penelitian yang dilakukan Pradip Thomas (2009) dari Universitas Queensland, Australia, berjudul Selling God/Saving Souls: Religious Commodities, Spiritual Markets and The Media, mengeksplorasi bentuk komoditas ponsel Kristen dan penggunaan politis spesifiknya, di India dan Amerika. Penelitian itu menyelidiki cara-cara kelompok keagamaan Pantekosta dan Neo-Pantekosta dalam menggunakan produk multi-media dan program-program penginjilan. Hasilnya, “dalam konteks ekspansi global dan ekspor Kristen fundamentalisme, hubungan yang semakin erat antara Kristenyang terpengaruh media dan bentuk-bentuk komoditas memfasilitasi perluasan dari bentuk-bentuk khusus, konservatif, nilai-nilai berbasis kapitalisme”.

Dalam dunia postmodern tentang consuming passion, hal ini menjadi perhatian disiplin kultural kriminologi. Ia  dilihat, pertama, sebagai proses komodifikasi kehidupan sehari-hari (everyday life), termasuk kejahatan dan kekerasan. Kedua, adanya kebutuhan mutlak untuk konsumsi legal maupun ilegal atas komoditas untuk reproduksi dari sistem ekonomi dan sosial (Williamson, 1988). Hal ini menjadi aneh: situasi berlimpahnya kehalusan metafisis dan sopan santun teologis (Marx, 1977: 435).

Kejahatan, dalam bentuk komoditas, memungkinkan kita untuk mengkonsumsi tanpa biaya sebagaimana kita menikmati kegembiraan, emosi kebencian, kemarahan dan cinta. Contohnya, Presdee bercerita tentang sekelompok orang yang terkesima melihat sajian reality show polisi mengejar pelaku kejahatan, lengkap dengan adegan drama nyata pergulatan polisi dan pelaku serta kehadiran korban. Penonton terkesima, menganggapnya sebagai sesuatu yang hebat. Namun Presdee justru sangsi: not least of which is how the police could possibly become involved in the production and creation of crime and excitement as a commodity to be sold and consumed through the entertainment market (Mike Presdee, Cultural Criminology and The Carnival of Crime, 2000: 57-58).

Ilustrasi Presdee itu relevan dengan soal agama yang dialihfungsikan menjadi mesin penipu publik. Masyarakat jadi korban sistem bisnis yang menyulap agama menjadi barang. Presdee, merujuk pada argumen Slater (1997: 27), melihat pembangunan atas masyarakat dan individu yang gila konsumsi, didorong oleh emosi, beriringan dengan pengembangan komodifikasi aspek yang lebih dan lebih lagi dari kehidupan kita. Pendidikan, kesehatan, cinta dan agama telah menjadi komoditas.

Seharusnya, kita perlu memaknai agama dengan mengembalikan arti yang sesungguhnya: hubungan suci antara Sang Khalik dan manusia. Kepasrahan kepada Yang Mahakuasa bukan berarti menjadikan diri kita robot yang gampang terbuai oleh objek-objek pendukung kekhusyukan, yang justru menyasarkan kita pada kesalahpahaman tentang agama itu sendiri.

_______________________________________________________

Tulisan ini dibuat oleh Manshur Zikri, Muhammad Ridha Intifadha & Andreas Meiki Sulistyanto, dan telah dimuat di Buletin wepreventcrime, Edisi IV,terbitan Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM), Divisi Buletin WPC. Tulisan ini kembali saya hadirkan di blog ini untuk misi penyebaran dan berbagi pengetahuan/informasi untuk kepentingan pendidikan. Pembaca dapat mengakses Buletin wepreventcrime di sini .

pendapatku setelah 1,5 tahun

Saya masih ingat wajahnya, wajah yang memperlihatkan ekspresi yang baraduk-aduk: kesinisan, kekecewaan, kelegaan, dan kemengertian. Tapi dia mengucapkan kalimat itu dengan senyum: “Lu tau artinya tahi, gak?

Saya pun hanya bisa tertawa menghela napas.

Dia lantas beranjak dari posisi awal kemudian pergi. Saya segera berdiri dari lantai tangga yang dingin itu, mengambil tas, dan mengikutinya dari belakang. Ada sekitar beberapa menit saya menunggunya karena dia harus menjawab sebuah panggilan melalui ponsel.

“Lu mau gue traktir kopi, gak?” tanya saya.

“Hayo dah!” katanya, lagi, menghela napas lagi. Kemudian kami pergi ke salah satu gedung yang digunjingkan sebagai sesuatu yang ada karena pelanggaran terhadap etika dan moralitas manusia. Ya, disanalah kami bercakap-cakap mengambil kesimpulan dari apa-apa yang telah kami lakukan dan kami coba pahami. Paling tidak, usaha kami selama ini membuahkan sedikit hikmah untuk patut dimengerti dalam meniti kedewasaan berpikir. “Masing-masing dari kita punya perspektif!” begitu katanya.

Oke! Mungkin, sebagaimana dia yang berusaha untuk menyelesaikan tanggung jawab (dan saya tahu dan paham benar usaha-usaha yang telah dan sedang dia lakukan hingga detik ini, yang membuat saya tidak akan bisa melepaskan rasa hormat padanya), saya juga harus mengujarkan satu kesimpulan setelah menghadapi carut-marut ini selama satu setengah tahun.

Kalian tahu mengapa negeri ini belum juga maju-maju? Itu terjadi karena mereka yang tua tidak pernah mau percaya (atau memberikan kepercayaan) kepada yang muda. Tak mau kalah, yang muda pun begitu pongah dengan latar belakang pengetahuan yang masih seumuran jagung. Akhirnya, kita berada di titik benturan yang jauh sama sekali dari prinsip dialektis. Hal itu, terjadi di era saya mengharapkan cita-cita yang begitu ideal terhadap satu tatanan aktivitas; terjadi di lingkungan tempat saya berkegiatan hampir setiap hari. Betapa menyedihkan!

“Udah lah, Sob! Mendingan kita nyari cewe aja dah, gimane?” kataku mencoba mencairkan suasana.

Saya melihat wajahnya, dia hanya duduk bersandar, menyandarkan kepala ke pintu kaca, menghela napas, sedangkan kopi yang kami beli beberapa menit sebelumnya tak lagi dilriknya sama sekali.

OTOPSI

Sebagai Bagian dari Kerja Investigasi Kejahatan

Pendahuluan

Pada tanggal 4 April 2012, mahasiswa dari Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI), yang mengikuti kelas Intelijen dan Investigasi Kejahatan, mendapat kesempatan untuk mengunjungi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jalan Dipeonegoro, No. 71, Jakarta Pusat. Kunjungan tersebut dilakukan dengan maksud untuk melihat proses otopsi oleh Tim Forensik dari Departemen Forensi, Fakultas Kedokteran UI.

Pada mata kuliah Intelijen dan Investasi Kejahatan, investigasi menjadi kajian yang penting untuk diketahui oleh peserta didik. Investigasi kejahatan perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang tersembunyi dari satu permasalahan sehingga kita dapat memaparkannya secara terang dan terperinci.

Secara sederhana, investigasi kejahatan dapat diartikan sebagai tata laksana dalam melakukan proses pengeidentifikasian dan pengusutan satu masalah (kasus kejahatan) agar dapat dilihat secara jelas dan tidak kabur. Investigasi kejahatan secara mendalam dipelajari dalam disiplin ilmu kriminalistik, yakni sebuah mata profesi atau disiplin ilmu yang bertujuan untuk mengenal, identifikasi, individualisasi dan evaluasi bukti dan fisik dengan menerapkan ilmu alam dalam masalah hukum.

Dalam kasus kejahatan, identifikasi atau uji forensik dapat dilakukan pada pengenalan tanda badaniah, tafsir dari potret atau foto, mengeidentifikasi jejak jari (daktiloskopi) atau penjabaran tentang modus operandi akan kasus yang dimaksud. Terutama dalam kasus pembunuhan, identifikasi tanda badaniah dilakukan dalam satu proses yang dikenal dengan nama proses otopsi. Hal ini lah yang menjadi dasar bahwa kegiatan kunjungan mahasiswa ke RSCM di Jakarta Pusat menjadi penting, guna untuk melihat atau memahami secara langsung proses otopsi tersebut.

Secara umum, proses otopsi berguna untuk memeriksa atau mengetahui waktu kematian, penyebab kematian, termasuk di dalamnya adalah faktor-faktor atau kemungkinan lain yang dapat menyebabkan seseorang kehilangan nyawa, dan juga penemuan bukti melalui pemeriksaan darah, rambut, atau sperma. Proses ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk potongan daging (tubuh), keadaannya setelah mengalami kematian, yang dimaksudkan untuk pengungkapan apakah pelaku mengetahui anatomi korban dari potongan-potongan yang telah dilakukan oleh pelaku tersebut.

Berikut ini akan dipaparkan secara naratif bagaimana proses otopsi yang dilakukan oleh tim dokter di RSCM tersebut.

Proses Otopsi

Rombongan mahasiswa berangkat sendiri-sendiri dari kampus. Ada juga beberapa yang tergabung dalam rombongan menaiki KRL dari stasiun UI dan turun di stasiun Cikini. Sementara dosen, yaitu Prof. Adrianus Meliala dan Yogo Tri Hendarto, sudah berada di tempat uji otopsi lebih awal.

Saat di lokasi, tim forensik dari Departemen Forensik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, terlebih dahulu memberikan penjelasan kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang datang berkunjung terkait dengan otopsi yang akan dilakukan. Penjelasan ini berlangsung sekitar empat puluh lima menit, dimual pada pukul dua siang. Sedangkan proses otopsi dilakukan setelahnya, yang berlangsung lebih-kurang selama satu setengah jam.

Penjelasan yang diberikan oleh tim forensik, yang saat itu dipandu oleh dr. Ade Firmansyah Sugiharto Sp. F., ialahn tentang langkah-langkah yang akan dilakukan, dan etika-etika yang harus ditaati oleh para dokter yang melakukan proses otopsi.

 Uji forensik yang dilakukan di RSCM tempo hari merupakan proses visum terhadap mayat yang merupakan korban kecelakaan kereta api. Korban tertabrak kereta jalur Jakarta-Karawang, pada tanggal 29 Maret 2012, pukul 07:00 pagi. Mayat korban tiba di RSCM dari Polsek Jatinegara tanpa identitas jelas. Hal ini menyebabkan tim dokter harus menunggu selama 2 x 24 jam, untuk memastikan tidak ada yang keberatan dengan permintaan dari pihak kepolisian Jatinegara kepada tim visum untuk melaukan pemeriksaan luar-dalam terhadap mayat korban.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh dr. Ade Firmansyah Sugiharto Sp.F., syarat pertama yang harus dipenuhi untuk melakukan proses otopsi adalah adanya surat permintaan Visum et Repertum (VSP) dari polisi atau pihak RSCM. Pemenuhan surat ini harus melalui proses pemberian izin dari pihak keluarga. Bagi mayat yang identitasnya tidak diketahui, pihak rumah sakit harus memastikan terlebih dahulu bahwa memang tidak ada yang keberatan dengan permintaan dari pihak kepolisian, yakni menunggu selama dua hari.

Ada dua bentuk pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh dokter forensik, yakni pemeriksaan luar (external exam) dan pemeriksaan dalam (internal exam) tubuh korban. Ada ketentuan yang perlu diperhatikan terkait SPV ini. Surat pemeriksaan atau SPV dikeluarkan jika ada permintaan dari penyidik untuk dilakukan proses otopsi. Pernyataan dari penyidik, atau oleh tim dokter ahli forensik, ini menjadi penting untuk menentukan apakah mayat perlu diotopsi atau tidak. Pemeriksaaan terhadap mayat dalam proses otopsi harus dilakukan sepengetahuan keluarga korban, atau dapat pula dilakukan jika status si mayat telah kadaluarsa (2 x 24 jam, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya).

Dokter Ade menjelaskan bahwa Negara (melalui perangkat sistem peradilan pidana) memiliki hak untuk memutuskan apakah mayat korban dari kasus pembunuhan atau kecelakaan perlu diperiksa melalui proses otopsi atau tidak. Sementara itu, pihak kedokteran atau tim forensik memiliki tugas untuk pelayanan kesehatan dan juga penegakan hukum. Proses uji otopsi atau visum yang dilakukan oleh pihak kedokteran merupakan salah satu kerja konkret mereka dalam proses penegakan hukum. Proses ini memiki tujuan untuk mengidentifikasi korban, mencari adanya perlukaan, jeneis kekerasan terhadap korban, penyebab kematian dan mekanisme kematian (sesuai yang diterangkan dalam mata kuliah Intelijen dan Investigasi Kejahatan).

Uji forensik menjadi penting dalam usaha untuk mengungkap sebuah kematian yang tidak wajar, seperti kecelakaan, kekerasan, pembunuhan, homicide, atau pun suicide (bunuh diri), demi mencari alasan-alasan yang menguatkan dugaan tindak pidana. Dugaan tindak pidana selalu muncul pada mayat korban yang mengalami kematian secara tidak wajar. Misalnya, orang yang tidak mengalami sakit apa-apa, mati secara mendadak, atau ditemukan tanda-tanda kekerasan di bagian dalam dan luar tubuh mayat. Mati yang biasanya dianggap wajar adalah mati karena penyakit, atau orang yang mati berada dalam pengawasan dokter.

Perlakuan terhadap mayat tetap berada pada aturan etika yang jelas, seperti mengembalikan keadaan mayat seperti semula setelah melakukan otopsi, dan dikuburkan secara layak. Tidak ada satu pun dari dokter yang terlibat dalam proses otopsi diizinkan membawa pulang organ dari si mayat.

Dalam proses ini, biaya ditanggung oleh keluarga si mayat. Akan tetapi, jika identitas keluarga tidak diketahui, semua biaya ditanggung oleh Negara, sedangkan dokter yang menangani otopsi adalah sukarelawan (tidak dibayar). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa proses otopsi ini murni sebagai proses penegakan hukum dan pelayanan terhadap hukum itu.

Proses otopsi yang dilakukan pada hari itu oleh tim dokter terbagi dalam beberapa tahap. Dokter Ade menjelaskan bahwa ada tiga hal yang dilakukan. Pertama, membuka rongga dada, dan memastikan tanda-tanda yang mengarahkan pada kesimpulan penyebab kematian. Kedua, membongkar ronga perut dan memeriksa semua organ yang ada di dalamnya. Semua organ diukur volume dan ukuran luasnya, kemudian dicatat datanya dalam form laporan data forensik. Pada tahap ini, pemeriksaan juga dilakukan pada rambut, darah, DNA, bentuk rongga mulut dan gigi, dan karakteritik khas organ bagian dalam tubuh korban, serta cairan-cairan lainnya. Tahap ketiga, pembongkaran kepala, untuk mengetahui lebih lanjut penyebab-penyebab yang mengantarkan si korban pada kematian.

Berdasarkan pengamatan penulis, ketika mayat masih dalam keadaan utuh, tidak terlihat ada tanda-tanda luka luar. Hal itu baru terlihat jelas ketika tim otopsi melakukan pembedahan pada tengkorak mayat, dan terlihat gumpalan-gumpalan darah, yang oleh dr. Ade, disebut sebagai salah satu bukti yang menyebabkan kematian pada korban. Hal ini kemudian mengarahkan kesimpulan dari tim otopsi bahwa dugaan terjadinya kekerasan sangat mungkin dialami oleh korban.

Tim dokter, yang saat itu terdiri dari tujuh orang, secara bergantian melakukan pembedahan terhadap mayat. Ada satu dokter yang siap siaga mendokumentasikan proses kerja otopsi. Dokumentasi ini juga berfungsi untuk mengabadikan bentuk dari organ sebelum dilakukan pembelahan, untuk kepentingan arsip dan penganalisaan data oleh pihak kepolisian dan tim forensiknya sendiri. Hasil otopsi berupa data ini menjadi panduan bagi pihak kepolisian untuk melakukan langkah selanjutnya.

Otopsi dan Keterkaitannya dengan Kriminologi

Bagi disiplin ilmu pengetahuan kriminologi, hasil kerja dari tim forensik yang melakukan otopsi juga menjadi penting. Investigasi kejahatan tidak serta merta terbatas pada penelusuran kasus melalui kerja jurnalistik kriminologi, tetapi juga dapat difungsikan sebagai bahan data primer untuk menganalisa keterkaitan konteks dengan masalah penelitian.

Hal ini dapat kita lihat pada contoh yang dilakukan oleh Lombroso, yang menjadikan data-data organ dan bentuk tubuh untuk menggagas sebuah pemikiran tentang kejahatan yang diidentifikasi secara biologis. Namun dalam perkembangannya, fungsi data hasil uji otopsi tidak hanya berhenti di situ.

Kumpulan data dari berbagai jenis kasus, misalnya pembunuhan, yang memaparkan tentang bentuk kekerasan dan penyebab kematian juga bisa menjadi bahan bagi para kriminolog untuk memetakan karakteristik bentuk kejahatan. Pola-pola dari data ini menjadi acuan bagi para kriminolog untuk mendeskripsikan dan memaparkan persoalan kejahatan di masyarakat secara lebih jauh.

___________________________________

Artikel ini merupakan lembar tugas laporan hasil kunjungan ke RSCM untuk melihat proses otopsi, dan disusun sebagai lembar tugas Ujian Tengah Semester dalam Mata Kuliah Intelijen dan Investigasi Kejahatan.