Babak tujuhbelas

Saat itu adalah Bulan November, tahun 2009

Lelah sudah Sampu berjalan dari Fakultas Ilmu Budaya sampai ke Fakultas Teknik, yang memang jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Kampus rakyat tidak memberikan fasilitas bus kuning gratis apabila waktu sudah lewat dari pukul sepuluh malam. Langit kelam temaram, daun dari pohon yang tinggi berdesir pelan karena sentuhan sang bayu, udara yang menyengat tulang membuat giginya bergetar bergemeretak. Sesampainya di depan gerbang kampus teknik, Sampu menyeberang jalan yang sudah lengang oleh kendaraan. Dia menyusuri jalan sepi di atas aspal yang dingin karena diselimuti air bekas hujan sejam yang lalu. Mendekati gerbang keluar dari wilayah kampus, dia masih bisa mendengar suara tawa dari tukang ojek yang bersenda gurau di bawah pohon dalam gelap.

Tempat tinggal kos beberapa langkah lagi. Akan tetapi Sampu mampir dahulu di warteg untuk mengisi perutnya yang sedari tadi mendendangkan lagu kroncong yang mengganggu kenyamanan lambungnya. Warteg pun sudah sepi, hanya ada dua tiga orang yang sedang merokok di dekat pintu sambil menonton acara televisi yang isinya jauh dari nuansa mendidik. Kapan Pemerintah di negara ini sadar bahwa cerita bertemakan kekerasan dan cinta sudah tidak menarik lagi di mata kami para mahasiswa berjaket kuning? Ya, boleh saya katakan, Sampu yang katanya sangat idealisme ini, terlalu berpikir sangat memuakkan apabila harus berhadapan dengan ibu-ibu yang bersedia menunda pekerjaan menyeterika baju hanya untuk menonton cerita, yang mana dalam cerita itu Sampu hanya bisa melihat wajah dan suara yang selalu sama, meskipun tokoh yang berbicara adalah orang yang berbeda, dengan gambar yang diulang-ulang. Apa ini dampak dari kemajuan teknologi tanpa pengetahuan? Hei, memang Sampu tinggal di negara kapitalisme, lihat tuh, orang-orang yang bekerja di industri Berjaya! Apa mereka pikir kami masyarakat bisa dibodohi? Sampu sendiri malah tertawa melihat para superstar mulai membongkar ke-alay­-an mereka.

Selesai makan, meneguk habis teh hangat yang ada di depan matanya, Sampu membakar pilihan hidupnya dan bercumbu dengan asap-asap putih yang mulai melayang. Pikirannya terbang kepada ingatan sekitar tiga minggu yang lalu.

Purna selesai sudah membaca Ballada Para Nabi karya Asep Sambodja. Padahal dia ingat betul bahwa dia tidak pernah sholat atau mengaji. Tapi dia suka dengan nabi.

Di kota Bandung, duduk di trotoar depan restoran milik penjajah, tempat terjualnya donat-donat yang tidak lebih lezat dari kue bolu kukus buatan neneknya, asap dari sebatang rokok mulai mengepul dari mulut Purna.

Gue sayang ama elo!” gerutunya pelan melihat ujung rokok yang baru saja terbakar oleh koreknya sendiri. Asap itu melayang terbang terawang-awang menuju langit yang luas dan kelam temaram. ”Lo sadar nggak, sih, ama perasaan gue?”

Gue sayang, sayang banget ama elo, Cinta!” gerutunya sedikit lebih keras setelah hisapan berikutnya.

Gue sayaaang ama elo, anjing!!!” Sebatang rokok itu dihisap, dihisap, dihisap lagi sampai tingal setengahnya. ”Gue sayang ama elo, gue cinta ama elo! Brengsek, bangsat!!! Babi lo, Setan!”[1] Purna, yang kini kata-kata dari mulutnya semakin keras, lebih keras dari sekadar teriakan umpatan, tidak lagi menghisap rokoknya. Akan tetapi dia memandang rokok itu dengan sangat mesra, seakan-akan ada perasaan yang sangat intim antara dirinya dengar rokok itu. Cinta dalam hidupnya.[2] Saat rokok sudah mulai habis, sementara abunya yang panjang masih menggantung di ujung rokok, Purna tidak menghisapnya lagi. ”Gue sayang ama elo, Cinta! Sayaaaaaaaaaaaang, banget! Emang gue sayang. Anjing lo!” kemudian rokok yang hampir habis itu dibantingnya ke tanah. Sambil mendeklamasikan bait pertama ballada Asep Sambodja, Traktat Iblis, Purna melihat asap yang masih melayang tenang di atas kepalanya.

malaikat mempertanyakan

penciptaan adam, manusia pertama

karena manusia hanya akan

menimbulkan kerusakan di muka bumi

Pilihan hidup Sampu telah sampai pada nyawa terakhirnya. Seperti yang diceritakan, ia menghisapnya untuk yang terakhir kali, kemudian membanting batangan itu ke tanah dan mematikan apinya dengan sol sepatunya, bak melihat seekor semut yang mengganggu, puntungan itu diinjaknya dengan penuh semangat.

”Andai saja Purna menjadi pelakon di televisi, tentu aku akan mengubah idealisme yang menjemukan ini!” gumam Sampu pelan. ”Berapa nasinya, Mbak? Dengan es teh segelas.”


[1] Oke, aku akui gaya bahasa dan bertutur kata di sini agak terlalu berlebihan, dan bahkan bisa dibilang latah. Akan tetapi cerita ini benar adanya, aku mendengar dari seorang teman yang sekarang sedang menjalani pendidikan di UNPAR.

[2] Ah, masih terlalu berlebihan. Oh, tunggu, apakah aku yang sedari tadi menimpali berbicara seperti ini juga terlalu berlebihan!? Hm, mungkin aku juga terbawa untuk ikut-ikutan latah dengan merusak halaman ini dengan begitu banyak catatan kaki? Ya terserah kepada kau saja yang menilai. Yang penting ini adalah ruang lingkup otoritas diriku. Oh iya, mengenai lingkungan otoritas diri ini, akan aku ceritakan nanti.

————————

Kembali ke Bab 16

Lanjut ke Bab 18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s