Babak tigapuluhsatu

“Hm, mengapa kelopak belum juga tertutup?” asap mengepul juga dari sana. “Sudah dua kali bintang berekor melintasi lingkupan terawang di atas sana!” [1]

“Saya juga tidak tahu, Saudara!”

“Bergegaslah!”

“Untuk apa kita bergegas? Saya sedang menikmati romantisme sunyi ini. Jarang sekali kita bisa mendapatkan kenikmatan di dalam sepi.”

“Kau tidak ingat dengan tugas-tugas yang pernah kita bahas tempo hari? Tidak ada waktu untuk menuggu, kalau tidak sekarang, semuanya akan tamat!”

“Tenang, tugas-tugas itu bisa saya selesaikan dalam waktu secepat kereta melintas di jalur penyeberangan yang ada gedung-gedung mewah di Kota ini.”

“Tapi kita sudah melihatnya tadi sore, begitu ceria, seolah dunia ini tidak bisa kita tempati lagi. Padahal, kita juga memiliki kontrak dengan bumi pertiwi, bukan? Darah kita telah menjadi tanda tangan!”

 “Hal itu tidak perlu kita khawatirkan. Itu biasa, Saudara!”

“Biasa bagaimana? Jelas-jelas tindakan seperti itu sama saja dengan melangkahi kepala kita. Lain masalahnya kalau bintang berekor tadi yang melintas di atas kepala kita. Mereka memiliki dunia sendiri, jauh di atas, tempat kekuasaan warna dongker meraja.”

“Ah, lagi-lagi kau mengatakannya dengan dongker. Sudah saya bilang, kan, kalau langit itu hitam?!”

“Kan kita mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. Paradigma interaksionis sudah kau pahami, bukan?”

 “Kita semua mengakui adanya pelbagai ragam kelompok-kelompok dalam masyarakat, seperti yang kita pahami juga bahwa mereka itu dinamis, yang memiliki pelbagai ragam kepentingan dan nilai-nilai.”

“Sekarang saya percaya kau bisa menyelesaikan semuanya secepat kereta melintas, Saudara!”[2]

“Tapi mereka dinamis, kan? Selalu berubah, jadi tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi cek-cok yang akan membuat semua hal-hal yang berkaitan itu bergerak, berubah. Apalagi ada suatu unsur paksaan antara yang satu dengan yang lainnya!”

“Ya, kalau tidak begitu tidak akan ada pepatah roda terus berputar. Kan seperti yang saya maksud, Saudara, ada banyak sudut pandang yang berbeda. Diandra sendiri tidak akan memiliki pemahaman yang sama dengan mereka,” asap mengepul lagi.

“Saya tidak menyangka kau juga melakukannya!?”

“Terkadang sedikit perbedaan itu juga perlu.”

“Kau bilang Diandra tida akan sama dengan mereka. Tapi, menurutku, seperti yang kau bilang, ada sudut pandang yang berbeda, bahwa sama saja. Ingatkah kau ketika sorak-sorai kemenangan anak-anak pembangun rumah menggemparkan wadah perdebatan? Melirik saja tidak, apalagi melambaikan tangan untuk menegur sapa?”

“Mungkin kau masih berkutat dengan asap, seperti puisi yang kau tulis beberapa hari yang lalu. Tidak semua seperti itu, Saudara! Kembali lagi kepada yang saya katakan tadi, ada suatu saat kita berbeda-beda, ada sesuatu yang berbeda, sudut pandang yang berbeda.”

“Ah, saya hanya mencoba mengejewantahkan pemikiran lama, orang yang berkerut kening mengeluhkan lingkungan biasanya akan mengeluarkan asap dari mana saja! Lagipula, itu hanya bermain-main, semua orang bisa langsung menyadarinya ketika pertama kali membaca,” kemudian sebatang rokok terpaksa mengorbankan nyawa untuk nafsu tak tertahan. “Tapi, ya, itu tadi, menegur sapa saja tidak dilakukan. Kau tahu, terkadang rangkaian kata-kata itu baru ada setelah melewati berbagai stimulasi yang sulit. Ide bukan datang begitu saja, tidak ditunggu, tetapi dengan adanya stimulasi, nah, itu yang sulit. Terkadang ego dalam diri kita bisa membisikkan suatu muslihat jahat, kau sering mengatakan bahwa ini ulah setan, yang membuat kita merasa tidak senang dengan harapan hasil yang tak kunjung datang.”

“Kita setan!”[3]

“Ya, terserah lah. Yang penting itu maksud alasan saya tadi.”

“Ya, ada benarnya juga.”

“Dan karena itu kau lebih memilih mengimajinasikannya saja, bukan? Lebih nikmat memikirkan karakter-karakter yang bisa tunduk dengan pemikiran dan kesesuaian dalam diri kita.”

“Tumben sekali malam ini kau begitu cerdas, Saudara!”

“Salah sendiri, mengapa kau begitu banyak mengajari saudaramu ini, sekarang tibalah babak bagi saya untuk mengingatkanmu.”

“Ya, ya, ya! Babak, saya setuju dengan masalah babak-babak itu. Saya juga pernah membahas ini dengan Diandra.”

“Ya, dan saya melihat pipinya merona ketika kau menggombal.”

“Bukan, bukan, itu bukan gombalan. Kau tahu pasti itu bukan gombalan.”

“Ya, saya tahu. Tapi kembali lagi kepada imajinasi kesesuaian!”

“Hh, ya, benar!”

Ketika dua kepala mendongak ke atas, tidak ada lagi bintang berekor yang melintas secepat kereta. Bintang ditunggu, tak kunjung datang, seperti harapan hasil.

“Kau tahu, ketika saya melihat sungging kanan kiri, istilah yang disebutkan oleh Zikri dalam puisinya Semut hitam berjalan di sebelah kotak putih, saya sadar tidak ada gunanya kita protes. Itu gelora jiwa muda, Saudara!”

“Bukan sungging kanan kiri, tapi ukiran ke kanan ke kiri !”

“Ya, maksud saya itu. Karena itu saya jadi sadar, masalah kontrak, darah kelahiran, tidak mengarah ke hal-hal yang mengganggu pribadi insan. Kita tidak akan bisa membuka pintu ruang pribadi.”

Ya, saya bergetar ketika melihat foto itu, ukiran ke kanan ke kiri yang biasanya selalu dianggap sebagai sedekah paling mudah di dalam kitab-kitab.”

Tapi katanya terkadang ukiran itu juga bisa menipu. Seperti saya sekarang ini yang merasa tertipu dalam barisan tonggak yang bisa kita baca.”

“Tapi mau bagaimana lagi, seperti diskusi tadi siang, bisa jadi ruang publik itu tidak ada.”

“Sifatnya yang berkurang, bukan tidak ada. Jadi keluhan kita bukan ke arah mengusik romantisme jiwa muda. Akan tetapi mengarah kepada penyelesaian masalah, menuntaskan tugas-tugas!”

“Ya, seperti seruan Zikri dalam puisinya itu, bukan? Kalau begitu bergegaslah, kita tidak punya banyak waktu lagi. Ayo kita tinggalkan tempat ini. Obrolan tentang warna, babak, kita sudahi sekarang…”

“Tinggal sebatang. Manasik duren?”

“Tidak, kau saja! Saya sudah cukup. Ayolah, kita harus bergegas, meskipun semuanya bisa diselesaikan secepat kereta melintas. Lagipula, sepertinya bintang berekor yang ketiga tidak akan melintas.”

“Ya, saya mengerti seruan dalam puisi itu,” kemudian asap mengepul di batang terakhir.

“Satu-satunya kunci penyelesaian adalah saya harus segera berdiri dari tempat tidur yang pengap ini, karena sedari tadi semut-semut mulai menjalari kotak rokok saya.”

Hoi, tebing yang ingin kau panjat masih menunggu, ayo kembali ke rencana semula!

Mereka tertawa saat berlari, kemudian menuruni tangga.


[1] Kami sering memandangi langit di malam hari di atas atap. Dan ini sangat mengasyikkan.

[2] Seharusnya dari dulu!

[3] Selalu nada bentakan yang terdengar ketika dua kata itu diucapkan. Bukan apa-apa, aku di sini hanya mempertegas, mungkin bisa sedikit menjadi lelucon. Bagaiamana, setuju?

———————————-

Kembali ke Bab 30

Lanjut ke Bab 32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s