Babak tigapuluhdua

Sudah terlalu panjang ketidakjelasan yang tertuliskan dalam catatan ini. Bisa-bisa, akan terkesan semakin angkuh saja pemikiran-pemikiran yang keluar dari kata-kata yang tersusun di dalam halaman-halaman ini. Oleh karena itu, lebih baik kita hentikan saja carut-marut ketidakjelasan catatan ini.

Para pemuda yang mengaku mahasiswa sering berorasi, berargumen, berdebat, dan mengkritik. Ada banyak yang mereka kritik, bahkan diri sendiri. Ada juga pihak-pihak yang tidak menyenangi kebiasaan mahasiswa yang suka mengkritik.

Akan tetapi cerita ini tidak berisikan dengan drama seperti angkatan 66 dan 98, yang penuh gejolak menantang pemerintah dan sistem di dalam sebuah negara. Ini hanyalah sebuah cerita yang ditujukan untuk mengkritik mahasiswa itu sendiri. Ada beberapa mahasiswa yang saling mengenal pola pikir rekan-rekannya, mereka terlibat suatu interaksi di dalam lingkungan mahasiswa, berkumpul dan bertanya kembali sebenarnya apa dan siapa serta bagaimana mahasiswa itu?

Cukuplah kita sedikit menerima pemikiran-pemikiran dari Bidong yang begitu sadar akan pentingnya pendidikan. Tak perlu pula kita berlama-lama mendengarkan umpatan-umpatan tak berarti dari orang yang selalu menyanggah percakapan-percakapan, yang tidak menyebutkan siapa dirinya secara jelas dalam catatan ini. Begitu pula dengan Sampu, yang mengeluh terhadap lingkungannya. Mengenai Diandra, biarlah dia menjadi sosok mahasiswi periang yang sekarang sibuk dengan mata kuliah-mata kuliah arsitekturnya. Tulisan-tulisan mengkritik dari Carmawan, si idealis, tidak perlu pula kita perdebatkan dengan panjang.

Percakapanku dengan mereka sudah begitu jauh dan tidak sanggup pula aku tuliskan di dalam catatan ini, kecuali apa yang telah kutuliskan. Dorongan ini begitu saja datang karena kenyataan-kenyataan yang aku temukan di lingkungan akademis tempatku memulai suatu kehidupan teori-teori. Salah seorang temanku, Beringin, berkata bahwa umur mudaku pada saat ini akan sangat begitu mudah dipengaruhi oleh para pemikir radikal. Dan hal itu harus menjadi warning bagi diriku sendiri, lebih tepatnya adalah kita semua, untuk jangan sampai terjebak dalam kondisi yang seharusnya tidak diinginkan. Seperti yang dikatakan oleh Billy, jangan sampai kita terjebak dalam prinsip kita sendiri sehingga kita menjadi robot yang tidak memiliki hati.

Aku begitu tertegun ketika seorang aktivis, yang kini telah berumur lebih dari empat puluh tahun, yang masih bertahan dengan prinsip dan jalan hidupnya, mengatakan bahwa tidak ada lagi yang namanya pemuda. Pernyataan ini kemudian didukung dengan kenyataan yang aku temui dalam beberapa tempo, di mana lingkungan yang aku diami sekarang, tempat yang seharusnya pemuda itu ada, tetapi tidak ada pemuda, seperti yang diutarakan oleh aktivis itu. Kehidupan pergaulan sudah begitu dilingkupi dengan segala macam atribut kesenangan dan pemikiran baru, yang dengan pemikiran baru itu, mereka dengan tegas berpendapat bahwa tinggalkan romantisme kepemudaan. Berhentilah menjadi sosok yang sok idealis.

Aku tidak mempermasalahkan mereka-mereka yang menghabiskan waktu dengan permainan kartu, mengadakan kegiatan, berkumpul ria dan tertawa gembira dengan keasyikan dan keseruan. Aku juga tidak mau terlalu memuji mereka-mereka yang sibuk dengan NGO-NGO yang mereka bentuk sendiri, mengutamakan kepentingan mereka, sehingga terkesan begitu mengeksklusifkan diri dengan orang-orang lain. Mencemooh mahasiswa-mahasiswa yang begitu kewalahan dengan berbagai macam tugas, juga tidak layak aku permasalahkan. Sibuk dengan organisasi-organisasi di dalam kampus, juga tidak menjadi bahan perdebatan yang gurih. Melirik pribadi-pribadi yang mengkultuskan sebuah teori atau seorang tokoh, juga menyebabkan leherku begitu sakit dan mulut akan begitu lelah dengan banyak diskusi dan perdebatan.

Bersenang-senanglah sebanyak-banyaknya, carilah keceriaan dengan menghabiskan waktu di kantin dan bermain kartu, tetapi jangan jadikan itu sebagai hal yang paling utama, karena itu akan menjadi masalah dan akan mengkhianati peran kita sebagai pemuda yang seharusnya memiliki kesadaran bahwa ada hal lain yang harus menjadi prioritas utama. Carilah pengalaman sebanyak-banyaknya dengan berorganisasi dan NGO-NGO-mu, tetapi jangan lupa bahwa kampus juga merupakan lingkungan yang mendapatkan perhatianmu. Keterpakuan kita terhadap tugas-tugas kuliah memang menjadi prioritas utama, tetapi bergembiralah sedikit dengan berbagai kegiatan ekstra, agar kita dapat memupuk sedikit kepedulian terhadap masyarakat, tempat kita bernaung hingga mati. Kesibukan organisasi di BEM dan BPM ataupun dalam sebuah Badan Otonon atau Himpunan Mahasiswa, bukanlah suatu pembenaran alasan untuk meninggalkan kewajiban kita sebagai orang yang harus menuntaskan tugas-tugas, yang masih harus duduk di dalam kelas, dan menyelesaikan tanggung jawab akademik secara baik. Terlalu banyak berteori dengan pengetahuan-pengetahuan ekstra yang kita dapat, jangan dijadikan sebagai lahan untuk memperangkuh diri sehingga kita melupakan orang lain, atau merendahkannya.

Yang aku temui di lingkunganku, adalah suatu substansi yang tidak bergerak. Suatu substansi yang mati suri, kehilangan sukma. Kehilangan jiwa. Kehilangan arah. Kehilangan semangat. Karena lingkungan itu kehilangan pemuda.

Aku tidak mau berbelit-belit seperti kecarut-marutan yang telah aku tuliskan sebelumnya, tentang Bidong, Diandra, Sampu dan yang lainnya. Aku ingin kejelasan di sini. Aku, dengan keterbatasan dan kelelahanku dalam menulis ini, dengan tegas ingin mengatakan kepada kita semua bahwa telah terjadi suatu kebiasaan yang memuakkan di lingkungan kampusku, di mana banyak para mahasiswa yang begitu asyik sendiri dengan permainan kartu dan tongkrongan, menjadikan organisasi sebagai lahan eksistensi, membanggakan diri dengan segala pengetahuan falsafi, merasa nyaman dalam pola mode selebrasi dan hedonisme, tersesat di dalam pikiran keliru, terkungkung di dalam ketidakberanian dan kerendahan hati (tidak mau mencari masalah dan memilih posisi aman), dan menjadi mahasiswa yang telah kehilangan pemahaman dan kesadaran tentang seorang pemuda. Kami tidak bergerak!

—————————-

Kembali ke Bab 31

Lanjut ke Bab terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s