Babak tigapuluh

“Tulisan-tulisan si idealis yang pergi ke Sukabumi itu begitu menjijikkan!” begitu kau berseru kepada kami selepas kita berdiskusi dan bercengkrama dengan teman-teman yang lain. Seperti yang sudah saya jelaskan kepadamu setiap hari, bahwa kita harus membuka pikiran, Saudara! Jangan lihat keburukannya, tetapi lihatlah dari niatnya!

“Namun caranya menyampaikan ide itu begitu menjijikkan!” kau tetap berseru seperti itu. Saya semakin mendapatkan kesan kau sama saja dengan si golput tolol yang diistilahkan oleh teman kita, Guy Fawkes. Tidak, tidak. Saya tidak bisa setuju denganmu kali ini.

“Dia hanya berbicara berdasarkan pendapat pribadi yang diromantisasi. Subjektivitas yang begitu kuat, dan dasar-dasarnya berbicara juga tidak kuat, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kepandaiannya hanya untuk mengkritik orang lain, padahal pribadinya sangat dapat sekali dinilai dari tulisan-tulisan sampahnya itu. Dengan kekuatan menulisnya yang piawai itu, dia menghanyutkan orang-orang, dan itu pun sesungguhnya hanya kesan yang dia dapatkan (dia ciptakan) sendiri. Dia terjebak dalam kepuasan diri sendiri dan tidak menyadari bahwa semua orang telah mengatai dirinya sebagai orang yang sok. Sok dalam segala hal. Dia sok mengkritik, padahal diri sendiri belum bisa ia kritik. Tulisannya itu, tidak memberikan representasi dirinya telah dikritik oleh pemikirannya sendiri. Tulisannya itu, ditujukan kepada kami, kepada kita, yang hanya berusaha hidup nyaman dalam sebuah kenyataan, yang tidak mau mencari masalah. Sementara dia, dengan tulisan-tulisan memuakkannya itu, malah mencari-cari masalah dan menyalahkan kami, kita!”

Ya, saya tertegun dengan alasanmu yang cukup panjang lebar itu, Saudara. Memang benar, begitulah nasib-nasib orang yang menulis sesuatu hal yang akan memicu protes-protes. Banyak contohnya, kita bisa melihatnya di televisi-televisi atau di buku-buku sejarah. Akan tetapi, menurut saya pribiadi, Saudara, setidaknya dia telah melakukan sesuatu hal yang begitu bernilai dibandingkan kita. Dia telah melakukan suatu langkah yang lebih terdepan, yaitu menumpahkan buah pikiran dan kritik dalam bahasa tulisan, bahasa yang begitu menawan.

Oh, saya bisa menilainya secara tepat dari kerlingan matamu yang begitu emosi, Saudara. Kau sepertinya juga menyalahi diriku yang suka menulis. Ya, ya, ya. Saya mengerti kau juga akan mengatakan bahwa tulisan-tulisanku sama memuakkannya dengan tulisan si orang yang idealis itu. Saya memahami itu, memahami itu.

“Bisakah kalian menulis sesuatu yang membangun kami, yang memuaskan kami? Bukan hanya sebuah tulisan yang terus dan terus mengkritik. Kami sudah merasa cukup di kritik. Ketenangan kantin dan kenyamanan selasar gedung-gedung dengan fasilitas segala rupa ini sudah begitu memuakkan. Kami ingin melepaskan penat. Ditambah lagi tulisan-tulisan kalian yang begitu memuakkan itu. Kami tidak dapat sedikit saja menghirup napas lega, karena buku-buku di perpustakaan dan di dalam kelas sudah begitu menyesakkan. Lagipula, kalian terlalu sombong, terlalu percaya diri, mempublikasikan tulisan-tulisan dengan para penerbit, atau secara bergerilya, seolah-olah pemikiran kalian memang hebat. Hei, seorang nabi yang paling agung saja tidak pernah menulis. Karena keagungan mereka lah, pemikiran-pemikiran mereka dituliskan. Bahkan seorang sufi sejati tidak dengan begitu sombongnya menulis syair-syair gaib mereka, tetapi dituliskan oleh orang yang telah mengakui mereka. Kalian? Belum saja menempuh suatu puncak tangga kehidupan, sudah dengan begitu percaya diri memamerkan pemikiran yang bahkan tidak ada dasar. Secara tidak langsung kalian menjatuhkan harga diri kami, yang entah mengapa kalian persalahakan, karena tidak memiliki minat untuk menulis. Kalian terlalu angkuh dengan tulisan kalian!”

Saudara, saya semakin frustasi dengan keluhan-keluhan yang kau berikan. Bagaimana caranya saya memberi pemahaman kepadamu yang sudah begitu emosi ini? Sekarang saya harus bertanya, bagaimana jika tidak ada tulisan? Bagaimana ilmu pengetahuan itu bisa tertularkan kepada orang lain dengan baik jika hanya mengandalkan vokal? Bagaimana nasib catatan sejarah hidupmu jika kau tidak menulis walau sedikit saja? Kapan suatu era di mana semua manusia menulis dan saling bertukar pikiran dalam dunia aksara akan terjadi jika tidak dimulai dari diri kita sendiri? Baiklah kalau misalnya kau mempermasalahkan tulisan kami yang begitu angkuh ini, yang begitu menjatuhkan harga dirimu. Oke, saya terima itu. Saya dengan segala kerendahan hati akan meminta maaf. Akan tetapi dengan segala keangkuhan yang saya punya ini, saya akan berbalik bertanya, mengapa kau tidak menulis? Mengapa kau begitu senang berteriak? Mengapa kau begitu senang mengeluh di mulut? Mengapa kau begitu kukuh untuk selalu statis dengan segala koar-koarmu? Mengapa kau begitu arogan dalam kata-kata yang kau dengungkan? Mengapa kau begitu terganggu dengan tulisan kami yang bahkan tidak dipaksa untuk kau lirik, sementara vokal-vokal yang kau lontarkan itu padahal secara tidak langsung memaksa lingkunganmu untuk mendengarnya, meskipun kau berbicara dengan begitu pelan dan berbisik-bisik? Mengapa kau begitu tenang dengan vokal-vokal mu yang bahkan bisa menyebabkan timbulnya suatu gunjingan yang bahkan lebih tidak bisa dipertanggungjawabkan karena kesimpangsiurannya? Mengapa kau begitu bertahan kepada suatu pemikiran dan pendapat yang tidak disakralkan? Mengapa kau begitu merasa aman dan tentram dengan vokal-vokalmu yang tidak bisa menjadi bukti bahwa kau, sebagai manusia, begitu banyak memiliki kesalahan?

Saya, dengan kearogansian yang saya miliki ini, dengan bangga mengatakan bahwa dengan tulisan yang kami buat, kami berusaha menjadi suatu hal yang dinamis, kami bisa memiliki tanggung jawab untuk mempertahankannya, memiliki rasa aman karena tidak perlu bersembunyi dan mengingkari apa yang pernah kami nyatakan, memiliki suatu cara agar sesuatu hal tidak lagi menjadi simpang siur, memiliki bukti kepada siapapun bahwa kami, sebagai manusia, pernah melakukan kesalahan. Dengan segala alasan itu, kami berusaha untuk menjadi manusia yang memiliki kesempurnaan dari manusia.

——————————–

Kembali ke Bab 29

Lanjut ke Bab 31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s