Babak terakhir

Semut hitam berjalan di sebelah kotak putih

Ya, saya bergetar ketika melihat foto itu, ukiran ke kanan ke kiri yang biasanya selalu dianggap sebagai sedekah paling mudah di dalam kitab-kitab

Tapi katanya terkadang ukiran itu juga bisa menipu. Seperti saya sekarang ini yang merasa tertipu dalam barisan tonggak yang bisa kita baca.

Benar juga kata si Jaka, orang yang cantik pasti memiliki anjing penjaga di Nusantara ini. Berbeda dengan orang-orang kulit putih yang jauh terlihat elegan di layar tv, namun sesungguhnya mereka berada di dalam dunia ketakutan dan lebih sampah dari orang tertindas.

Bukankah dari kemarin paman dan bibi kita memerintahkan untuk membolak-balik halaman arus balik?

Cerita saudara saya dari air terjun Niagara juga menegaskan kata itu. Ditambah lagi saya menyaksikan adegan yang paling saya suka di filem-filem orang Barat, ciuman dalam keadaan badan basah kuyup.

Ah, jeda sekitar sepuluh menit tadi, sekali lagi saya di bentak oleh mereka. Dan baru saja saya mendapat kabar bahwa memang bukan saatnya saya masih mengeluh di catatan sambil membuat senyum sedih dengan titik dua dan tanda kurung.

Satu-satunya kunci penyelesaian adalah saya harus segera berdiri dari tempat tidur yang pengap ini, karena sedari tadi semut-semut mulai menjalari kotak rokok saya.

Hoi, tebing yang ingin kau panjat masih menunggu, ayo kembali ke rencana semula!

(Manshur Zikri, 8 September 2010)

—————————–

Kembali ke Bab 32

Kembali ke Prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s