Babak sembilanbelas

“Ah, yang benar saja?”

“Ya, tentu saja. Mana mungkin aku bohong? Bisa-bisa masalah itu bisa menjadi lebih besar.”

“Ya, tapi bisa saja kau salah mengerti dan salah mendengar, mungkin!?”

“Tidak, aku yakin sekali itu. Coba kau bayangkan, dia terbang ke arah pohon air terjun kemudian mengambil beberapa daun di sana.”

“Ya, ya, ya, aku tahu itu. Semuanya juga tahu, kita yang telah membuatnya bisa seperti itu. Kau tahu, aku bahkan terkena teguran dari bibinya tadi malam gara-gara tidak mengangkat telepon yang berdering.”

“Ah, masa?”

“Ya. Tapi, mengapa tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu, ya?”

“Apa?”

“Penari yang datang tadi malam tidak bisa dikatakan bagus.”

“Kurang anggun?”

“Begitulah…”

Suara gerombolan kerbau kemudian mengalihkan perhatian mereka berdua. Waktu untuk ke ladang sekarang.

“Bagaimana jadinya kalau warna biru dongker adalah warna orang bodoh?”

“Ya, pasti teman kita akan menangis sejadi-jadinya!”

“Aku jadi teringat sebuah dialog dari cerita yang aku saksikan di televisi, ‘Mengapa harus warna hijau?’ ‘Karena warna hijau itu surga!’ Dan kau tahu, orang yang mengatakan hijau itu surga adalah orang gila, atau bisa dibilang hampir gila.”

“Berarti warna orang pintar itu hijau, dong, bukan biru dongker!”

“Bisa jadi. Tapi dia yakin kalau warna kecerdasan itu adalah biru dongker. Dia yang mengatakannya kepadaku malam itu. Sayang kau tidak ada di sana waktu itu.”

“Bagaimana mungkin, aku harus mencuci piring karena ibuku sudah marah-marah. ‘Sampu, jangan keluyuran terus. Cuci piring sana!’ Kau tahu sendiri ibuku bagaimana orangnya, kan?”

“Marah ibumu seperti sinetron!”

“Tapi coba kau pikir, orang gila yang kau lihat di TV mengatakan bahwa hijau itu surga, dan surga adalah tempat yang layak bagi orang pintar (menurutku). Nah, bukankah lebih pantas kalau warna kecerdasan itu adalah warna hijau?”

“Yah, itu masalah keyakinan diri sendiri saja. Aku tetap yakin bahwa hitam adalah warna yang paling oke!”

“Aku lebih suka biru (bukan biru dongker). Oh iya, bagaimana dengan Diandra, dia suka warna apa?”

“Aku tidak tahu. Mungkin dia suka warna merah jambu, karena rata-rata perempuan suka warna itu.”

“Jadi, yang benar itu warna apa? Warna kecerdasan itu apa?”

“Yang penting bukan merah, karena merah lebih identik dengan setan dan neraka!”

“Bukannya setan itu berawarna hitam: kegelapan?”

“Aku rasa tidak. Setan adalah merah. Neraka adalah merah. Itu lebih cocok!”

“Berarti itu adalah keyakinanmu tentang warna merah, meskipun kau belum pernah mati dan melihat neraka?”

“Tidak tahu.”

“Jangan-jangan, biru dongker itu yang merupakan warna setan!?”

“Benar juga, dia terbang ke arah air terjun, kan?”

Suara kerbau sekali lagi mengalihkan perhatian mereka. Dalam pengalihan fokus itu, mereka berpikir: apa iya, biru dongker itu warna kecerdasan? Atau warna setan?

“Bagaimanapun, dia sudah terbang! Setan bisa terbang.”

“Hei, hei, jangan sampai orang lain yang menguping pembicaraan kita salah tangkap maksud dari terbang itu!”

“Dia memang terbang, kan?”

Mereka tertawa beriringan dengan suara-suara kerbau. Ayo ke ladang!

————————

Kembali ke Bab 18

Lanjut ke Bab 20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s