Babak sebelas

Ah, sudahi saja lah kebiasaan itu. Bukankah apa-apa yang dimunculkannya merupakan suatu kerugian bagi semua pihak-pihak yang terkait? Coba kau pikirkan lagi, Saudara, mungkin akan terbuka titik terang di balik bundaran-bundaran kalbu yang pasif itu! Seharusnya kau mengerti seruan ini![1]

Tidak ada manfaatnya kita duduk berlama-lama di depan layar komputer memperhatikan setiap lekuk-lekuk tubuh wanita telanjang. Merusak pikiran saja. Apa kau tidak malu? Seorang wanita dipermainkan seperti itu, dianggap budak, diperlakukan tanpa peri kemanusiaan. Teknologi bisa membohongi semuanya, Saudara! Tangis bisa berubah menjadi tawa, rasa enggan dibiaskan dengan hasrat keinginan, kepedihan disulap menjadi kenikmatan, iman dilahap oleh nafsu! Sebagai seorang yang sudah berada di lingkungan yang selalu belajar, seharusnya kau bisa meninggalkan kebiasaan itu.

Ya, saya tidak akan menjadi laki-laki munafik, dan tidak pula berani menjadi laki-laki yang kuat iman. Mungkin indera penglihatan yang saya miliki ini akan terbuka lebih lebar dari indera penglihatanmu, dan hasrat ini akan lebih hebat getarnya dari hasratmu, jikalau saya melihat sesuatu yang sama. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah keinginan kita untuk melihat atau tidak melihat. Ingat, telanjang haram itu bisa merusak moral dan otak manusia! Kita ingin rusak atau tidak?


[1] Aku hanya bisa diam  dan berpangku tangan menerima kata-kata darinya.

————————

Kembali ke Bab 10

Lanjut ke Bab 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s