Babak ketujuh

Di suatu siang, dua tahun yang lalu, dia dan Arif duduk di bangku penonton sementara di panggung terjadi perdebatan antara beberapa sekolah yang dibagi ke dalam empat regu. Hari itu, diadakan kompetisi debat antar SMA, tingkat porvinsi. Hadiah pemenangnya tidak tanggung-tanggung, yaitu mendapatkan uang tunai dan kesempatan bertemu langsung dengan Menteri Keuangan, yang saat itu dijabat oleh Sri Mulyani. Dia dan Arif adalah salah satu peserta yang belum mendapatkan giliran sehingga mereka masih duduk di bangku penonton. Tema debat bermacam-macam. Dan Arif benar-benar berharap saat pengundian tema nanti, kelompok mereka mendapatkan tema pendidikan.

“Memangnya kalau pendidikan, kau akan berargumen seperti apa?”

“Ya, kita harus menegaskan pendidikan itu gratis!”

“Bagaimana caranya, sedangkan sekarang saja harga uang sekolah terus naik!”

“Terlintas sebuah gagasan dalam kepalaku, yaitu subsidi BBM dihilangkan saja, lalu anggaran itu dialihkan sepenuhnya tanpa ada ‘main-main’ untuk pendidikan dan kesehatan. Kalaupun tidak semuanya, paling tidak untuk SD dan SMP bisa menjadi gratis.”

“Bagaimana mungkin subsidi dihilangkan? Bisa-bisa masyarakat berteriak karena harga BBM begitu tinggi.”

“Coba kau pikir, yang membutuhkan pendidikan di negeri ini begitu banyak. Masih banyak orang tua dari rakyat miskin yang harus menyekolahkan anaknya supaya pintar. Ingat, jumlah mereka begitu banyak! Kalau masalah BBM, yang membutuhkannya hanyalah orang-orang menengah ke atas. Sebagian besar, yang malah menerima manfaat dari subsidi adalah orang kaya, bukan rakyat miskin, kan?”

“Benar juga,” katanya pelan. “tapi bagaimana dengan angkutan umum? Tentunya nanti uang transportasi juga naik. Lalu harga sembako juga akan naik, karena biaya angkutan sayur, daging, dan beras membutuhkan mobil, dan mobil membutuhkan BBM yang harganya selangit.”

“Itu tidak masalah, bukan?” kata Arif. “Yang membuat rakyat berteriak adalah karena faktanya harga sembako sekarang ini juga tinggi. Uang sekolah dan biaya kesehatan juga begitu tinggi. Pemikiran mereka terbagi-bagi, antara mencari nafkah, uang makan, uang sekolah, dan takut-takut kalau misalnya ada yang sakit. Coba bayangkan kalau misalnya pendidikan dan kesehatan sudah pasti terjamin gratis tanpa ada permintaan uang sedikitpun. Maka pikiran orang tua kemudian hanya terfokus untuk mencari uang makan, pakaian, dan uang sewa tempat tinggal. Sementara itu, anak-anak mereka tetap bisa bersekolah dengan tenang, menjadi cerdas dan berpendidikan, masa depan keluarga akan jadi terjamin pula karena anak mereka sekolah, yang nantinya bisa merubah kehidupan keluarga. Cara ini memang ekstrim, tetapi untuk jangka panjang, sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang, pasti memberikan efek yang baik. Aku yakin itu.”

Setelah berdiskusi, dia dan Arif bertanya kepada guru pembimbing mereka tentang argumen tersebut.

“Sekarang ini pikiran seperti itu tidak bisa dipakai lagi, Nak!” kata Ibu yang membimbing mereka ke acara kompetisi debat itu. “Tidak mungkin Pemerintah dapat menghilangkan subsidi begitu saja. Ilmu itu mahal, ilmu itu harus di bayar, karena itu wajar saja pendidikan sekarang juga mahal!”[1]

“Ilmu mahal? Pendidikan mahal?” dia bertanya dalam hati. “Kalau begitu apa gunanya undang-undang yang mengatakan bahwa segala warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan? Kalau pendidikan harus dibayar, berarti hanya sebagian kecil yang berhak mendapatkan pendidikan, karena sebagian besar seluruh rakyat Indonesia yang butuh pendidikan adalah orang miskin, yang untuk mencari makan saja mereka harus membanting tulang begitu hebat.”

Pada babak kedua, yaitu giliran kelompok Arif, mereka tidak mendapatkan tema pendidikan. Mereka terpaksa harus memutar otak agar bisa berargumen tentang kebijakan umum.


[1] Pada saat berbicara ini, aroma mulut Ibu guru tersebut sungguh tidak sedap karena gorengan yang dia santap dengan lahap. Bahkan cabe merah masih menempel di giginya, dan beberapa noda di bibirnya masih terlihat dengan jelas.

————————-

Kembali ke Bab 6

Lanjut ke Bab 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s