Babak ketiga

Tadi siang, Bidong mendengarkan dongeng dari si bapak tua jangkung, yang kepalanya hampir botak, sedikit rambutnya yang masih tersisa hampir seluruhnya berwarna putih menjadi uban. Lamek Jangkung adalah nama bapak itu. Dongeng ini bahkan sempat membuat temannya kebingungan karena tidak mengerti, tetapi Bidong menikmatinya.

“Dia gila,” Pak Jangkung menyeru sambil mengusap hidungnya, wajahnya memperlihatkan paras bingung dan keningnya berkerut.

Semua orang yang mendengar  Pak Jangkung saat itu tertawa sementara Bidong hanya tersenyum saja. Sedangkan temannya, mengernyitkan mata dan memiringkan kepalanya.

“Saya juga bingung, hampir rata-rata orang-orang seperti Comte ini harus gila dulu, baru bisa jadi pintar. Jadi, kalau Anda-anda semua ingin pintar, ya, harus gila dulu!”

Tertawa lagi.

Pak Jangkung bercerita tentang Comte.

Bidong tidak tahu tentang Comte. Dan dia baru pertama kalinya melihat nama itu terpampang di depan kelas. Ada gambar Comte di sana, wajahnya garang, dan sepertinya dia adalah orang yang pemarah saat hidup dulu. Akan tetapi Pak Jangkung bilang, “Comte orang yang pintar sehingga disebut sebagai Bapak dari The Queen of Science.”

Mendengar dongeng tentang Comte, Bidong menjadi ingat kata-kata bijak yang pernah diiklankan di televisi: talk less, do more. Semua gagasan tidak akan berguna apabila tidak dilakukan. Oleh karena itu, pemuda harus bisa berbuat sesuatu, sesuatu yang baru. Harus memiliki jiwa yang kreatif, dan semangat yang inovatif. Intinya, pemuda harus punya inisiatif.

Banyak orang yang selalu muak dengan pribadi yang tong kosong nyaring bunyinya. Kalau boleh, kita sebut saja pribadi Mr. Wacana. Banyak memiliki ide dan gagasan, banyak argumentasi dan opini, banyak bicara, vocal, semangat orasi yang tinggi dan menggebu-gebu, tetapi ketika Mr. Wacana dituntut untuk membuat semua idenya menjadi nyata, dituntut untuk melakukan aksi yang riil akan orasinya yang menggebu-gebu itu, Mr. Wacana akan berkilah dengan banyak alasan. Misalnya, dia akan berkata dengan bertegak pinggang, “Gue, sih, bisa aja, berani-berani aja gue. Tapi, ya, biar dia dulu aja deh. Gue bantu dari belakang aja.” atau “Ya, nggak segampang itu juga, sih. Semua itu harus ada prosedurnya!”

Maka si penuntut yang menantang Mr. Wacana yang sering ‘menuntut’ itu akan berkata dengan kesal, “Terus, kapan? Lu banyak omongnya doang!”

Dan Bidong menjadi ingat lagi suatu kenangan lain tentang seorang Mr. Wacana yang berteriak menggebu-gebu di kantin Fakultas Teknik. Ketika itu, diadakan sebuah forum terbuka yang membahas permasalahan uang kuliah yang begitu mahal. Si Mr. Wacana itu berkata, berorasi dan menuding bahwa peserta forum yang sedari tadi berbicara sebelum dia, tidak solutif. Dan dia dengan berani menawarkan diri untuk maju, melakukan perubahan, agar masalah uang kuliah dapat teratasi. Dia menegaskan, “Kalau suara mahasiswa tidak didengar oleh rektor, kita akan turun ke jalan dan kuasai gedung rektorat universitas!”

Semua bertepuk tangan.

“Dua minggu dari sekarang lakukan negosiasi, jika mereka tetap tidak peduli, kita akan turun ke jalan agar mereka mendengar suara kita!” Begitulah seruannya.

Namun, dua minggu setelah forum itu berlangsung, Bidong tidak mendengar kabar tentang aksi turun ke jalan. Apakah suara atau negosiasi mereka didengar rektor atau tidak, Bidong pun tidak tahu. Akan tetapi, uang kuliah tetap saja mahal, apalagi bagi mahasiswa baru yang baru masuk ke universitas. Nah, berarti si Mr. Wacana itu memang Mr. Wacana. Begitu juga dengan ketua forum yang mendukung orasi si Mr. Wacana itu, berarti dia Mr. Wacana kedua pada forum tersebut. Orang-orang yang bertepuk tangan, apakah bisa dikatakan mister-mister wacana juga? Kalau iya, berarti dirinya sendiri juga Mr. Wacana, karena Bidong juga ikut bertepuk tangan.

Sebenarnya, kenangan Bidong itu terkesan dikait-kaitkan dengan materi kuliah saat itu, kalau saja kita tahu. Kenangan itu terpicu saat Pak Jangkung mengatakan bahwa Comte memiliki suatu paham yang baru, yaitu sebuah pemikiran baru, baru bisa didapatkan apabila kita ‘keluar’ dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan sebuah keputusan: objektif.

Kita tidak usah berkutat dengan ide-ide dan banyak-banyak gagasan. Yang terpenting adalah turun ke lapangan, melakukan observasi, penelitian empiris, yang berupa kenyataan alias fakta. Kenyataan yang harus berbicara.

Ilmu yang marak diagung-agungkan sebelum ada sosiologi adalah filsafat. Sebuah ilmu pengetahuan yang berkutat dalam ide dan abstraksi. Comte dengan pemahaman barunya, memberikan gebrakan baru terhadap ilmu pengetahuan sosial. Dia mengatakan bahwa ilmu sosial juga bisa menerapkan dasar-dasar ilmu sains, yaitu penelitian dengan metode ilmiah. Atas dasar itulah, kajian yang dilakukan oleh Comte, kemudian, dapat diperoleh melalui dua hal. Yang pertama mengklotoki hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Yang kedua adalah mengklotoki bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang dan menjalani perkembangan sepanjang massa. Hal itu tidak tertulis di depan kelas, tetapi Bidong dapatkan ketika setelahnya dia mencoba mencari-cari artikel di internet. Yang dia dapatkan hanyalah artikel-artikel ‘kurang terpercaya’ yang ditulis oleh akun-akun di blog.[1]

“Sosoiologi Comte sering disebut sebagai sosiologi pendidikan,” Pak Jangkung menjelaskan, sekarang tangan kanannya masuk ke dalam saku celana sementara tangan kirinya menggenggam sebotol air mineral. “Karena dia adalah pendobrak dan penantang suatu struktur yang telah ada. Comte berpendapat bahwa struktur dan fungsi-fungsi yang telah ada jauh sebelum dia lahir itu tidak stabil. Makanya, untuk melawan itu, individualitas harus disokong, agar masyarakat bergerak ke arah kemajuan. Akan tetapi Comte juga seorang pakar yang mengkritik keras paham individialisme pencerahan. Individu dan personal itu penting, tetapi tidak boleh berlebihan sehingga menimbulkan keegoisan dan tindakan ‘merusak’. Tujuan utama Comte dengan pemahamannya bukanlah kebebasan individu, tetapi bagaimana merubah sesuatu menjadi lebih baik. Untuk berubah ke sisi yang lebih baik itu, kita harus pintar, karena itu kita butuh pendidikan.

“Pada dasarnya struktur sosial itu adalah statis, dalam artian tidak berubah. Namun mengapa Comte menganggapnya tidak stabil? Hal itu disebabkan substansi di dalam struktur itu yang selalu dinamis. Struktur itu adalah wadah yang stabil, namun karena kedinamisan isi di dalamnya itu, membuatnya menjadi tidak stabil.

“Comte menyadari adanya ketimpangan di dalam masyarakat yang disebabkan oleh bualan-bualan Adam Smith. Karena bualan ahli ekonomi dunia itu, setiap orang berusaha menjadi yang kuat dan terkuat sekuat-kuatnya. Individualisme yang tinggi. Siapa yang bisa menguasai pasar, akan berjaya. Hal ini menimbulkan kaya dan miskin, golongan atas dan bawah. Situasi ini sering dikenal sebagai tradisi kebebasan, yang mendatangkan situasi kondusif untuk ‘yang kuat menindas yang lemah’. Nah, Comte berpendapat ketimpangan itu harus dihilangkan, kalaupun tidak bisa, setidaknya harus dikurangi, dibuat menjadi seimbang dan sama rata. Akan tetapi, misalnya antara orang kaya dan miskin, adalah suatu hal yang tidak mungkin apabila si orang kaya diturunkan derajatnya untuk mengimbangi orang miskin. Mana ada orang kaya yang mau disuruh menjadi miskin? Maka mau tidak mau, satu-satunya langkah adalah bagaimana caranya menaikkan derajat orang miskin agar bisa mengimbangi orang kaya. Bagaimana caranya? Comte yakin hal itu bisa berhasil apabila semua masyarakat cerdas dan berpendidikan, dengan sendirinya derajat, harkat dan martabat seseorang akan naik. Bagi Comte, pendidikan adalah segala-galanya.

“Pada dasarnya, dalam suatu tradisi ketertiban, secara kontrak sosial, manusia itu hanya mempunyai ‘tugas’ dan tidak memiliki hak. Men had duties, not right. Namun kenyataan yang ada adalah banyak manusia yang sering menuntut haknya, padahal kewajiban-kewajiban yang mereka emban belum dilaksanakan. Hal ini juga menyebabkan masyarakat itu menjadi tidak baik. Tradisi ketertiban yang tidak berjalan semestinya. Comte percaya, manusia itu akan menjadi lebih baik apabila dia berada di dalam masyarakat. Comte ingin sekali mengubah situasi yang tidak baik itu.

“Akan tetapi, sungguh sulit untuk melaksanakan cita-cita Comte secara instan. Pendidikan itu adalah suatu perencanaan jangka panjang, tetapi kebutuhannya sangat mendesak. Oleh karena itu, Comte  percaya, keluarga adalah agen pertama dan utama dalam pembentukan karakter seseorang. Apabila sedari kecil seorang manusia telah disuguhi pendidikan yang baik, yang hanya bisa dilakukan oleh keluarga, maka dia akan tumbuh menjadi insan yang baik. Bayangkan, apabila semua manusia memiliki keluarga yang baik, akan terbentuk masyarakat yang baik, bangsa yang baik, dan umat manusia yang baik.

“Ternyata orang gila hebat juga, ya?” kata Pak Jangkung setelah memberikan penjelasan seraya garuk-garuk kepala.

Tertawa lagi.

“Aku juga sudah jadi gila,” gerutu pelan seorang teman yang duduk di sebelah Bidong. “Aku pusing dengan penjelasan si Jangkung, ngantuk!”

Sekarang Bidong sendiri yang tertawa.

Kemudian seorang mahasiswa S3 mengangkat tangan, bertanya, “Profesor, bisakah Anda ceritakan tentang mengapa Comte bisa menjadi gila, padahal dia begitu pintar?”

“Waduh, jangan panggil saya denga sebutan ‘profesor’, saya belum jadi professor, belum nyampe!” kata Pak Jangkung.

Semua orang yang mendengar tertawa lagi.

“Oh, maaf, Pak!” kata mahasiswa S3 tersebut.

“Tidak apa-apa,” Pak Jangkung tersenyum. “Tapi perlu diingat, S3 tidak boleh sombong, apalagi menganggap rendah S1. Ingat, kalian itu seharusnya bersedih. Setelah tamat dari S3, kalian tidak bisa lagi melanjutkan kuliah karena tidak ada S4.”

Semua orang tertawa sementara Bidong merasa hal itu tidak lucu.

“Ya, mengapa Comte bisa menjadi gila? Hal itu disebabkan oleh kearogansian yang dimilikinya. Dia seorang yang memiliki pemikiran brilian, tetapi situasi pada saat itu tidak bisa menerima pemikiran-pemikirannya. Bahkan ketika dia ingin menerbitkan sebuah buku, pekerjaannya itu tersendat-sendat, dan dia harus hidup dengan kemiskinan. Karena pemikirannya yang menentang sturktur yang dianggapnya tidak stabil, dan ketika orang-orang tidak dapat menerima pemikirannya, dia menjadi frustasi. Dia seolah-olah hidup di lingkungan yang tidak bisa diterima oleh kepalanya sendiri. Perlu diingat, hidup dilingkungan seperti itu bisa membuat Anda gila. Saya menjadi ingat sebuah kisah tentang seorang asisten ilmuwan yang menjadi gila.”


[1] Penjelasan tentang klotok-menglotoki-nya si Comte ini sengaja diambil dari sebuah tulisan (artikel) yang ditulis oleh seseorang di blog. Ingat, untuk menghindari praktek plagiarisme, kami mengatakan bahwa kalimat itu diambil dari internet, tetapi dengan alasan tertentu, tidak dapat pula kami sampaikan siapa penulis yang dimaksud (atau jujur saja bahwa kami lupa siapa penulisnya). Namun begitu, rangkaian kalimat telah dimodifikasi dengan suatu interpretasi yang telah dipengaruhi oleh pelajaran di dalam kelas. Kami bukan melakukan plagiarisme, hanya menyebarkan informasi. Jadi, dua kalimat itu bukan kalimat kami.

——————

Kembali ke Bab 2

Lanjut ke Bab 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s