Babak kesembilan

Di suatu Hari Minggu, Bidong dan Diandra duduk di halaman Balairung Universitas Indonesia. Mereka beristirahat setelah berlari-lari kecil mengelilingi danau UI agar menjaga kesehatan tubuh.[1] Waktu itu jam menunjukkan pukul setengah sembilan.

“Sudah yang keberapa kalinya kau mengajakku lari pagi?” tanya Bidong kepada Diandra.

“Ini yang keenam kali sejak perkenalan kita,” jawab Diandra seraya melipat handuk kecilnya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian mengambil dua botol air dari dalam tas itu. “Ini!”

Bidong meneguk air dengan antusias.

“Selalu delapan, ya?”

“Apanya?”

“Kau sepertinya suka dengan angka delapan,” ujar Diandra. “Kau tadi juga meneguk air sebanyak delapan kali.”[2]

“Perhatian sekali kau, Diandra. Sampai-sampai kebiasaanku kau amati sebegitu detailnya.”

“Karakter orang sepertimu memang menarik.”

“Kalau kau, suka angka berapa?”

Diandra mengangkat kedua bahunya sambil berkata, “Tidak tahu. Semua angka sama saja.”

“Angka delapan itu adalah angka yang tidak putus, dan tidak memiliki ujung. Makanya aku suka, dia berbeda dengan angka yang lainnya.”

“Mungkin, kalau harus memilih, aku suka dengan angka sembilan. Orang-orang bilang angka itu adalah angka keberuntungan.”

“Kau suka dengan takhayul, ya?”

“Tidak, kenapa kau bisa mengira aku suka dengan takhayul?” Diandra tersenyum geli. “Jaman secanggih ini masih percaya dengan takhayul? Yang benar saja! Bukankah semua fenomena itu bisa dijelaskan dengan akal logika, alasan yang rasional? Semua orang juga tahu itu.”

“Pendidikanku cukup baik untuk tidak jadi orang penuh takhayul, tapi sungguhpun begitu aku percaya takhayul!”[3]

“Kau percaya?!” mata Diandra menunjukkan kekagetan.[4]

“Tidak, aku tidak percaya. Aku mengulangi kata-kata orang,” jawab Bidong datar. “Menurutku, secanggih apa pun dunia berkembang, pasti ada gejala-gejala yang menyebabkan anggota masyarakatnya percaya akan suatu hal, yang kemudian disebut sebagai kepercayaan atau keyakinan, meskipun tidak semua anggota masyarakat. Masyarakat itu tidak kaku, bukan?”

“Bahkan yang berbau mistis?”

“Kalau menurut pendapatku, keyakinan itu bukan sesuatu yang harus dikaitkan dengan mistis atau sejenisnya. Akan tetapi sesuatu yang abstrak, yang muncul dari kalbu atau pemahaman manusia tentang hidup dan lingkungan disekitarnya. Seperti misalnya, keyakinan orang dengan angka sembilan sebagai angka keberuntungan, pasti kepercayaan itu muncul karena suatu hal sehingga orang-orang mempercayainya, suatu hal yang terjadi berkenaan dengan hidup seseorang yang mempunyai relasi dengan lingkungannya. Lalu kemudian keyakinan itu secara lambat laun meluas. Nah, aku yakin pasti sesuatu yang abstrak itu tidak akan pernah luput, karena manusia hidup dengan kepercayaan-kepercayaan atau keyakinan-keyakinan.”

“Kau dapat dari mana teori itu?”

“Cuma pendapat pribadi saja, aku suka menulis, dan sering memikirkan hal-hal yang seperti itu.”

“Kau bercita-cita ingin menjadi ahli filsafat, ya?” Diandra tertawa. “Hati-hati, nanti kau jadi orang gila!”

“Ah, tidak. Aku hanya senang memikirkan sesuatu dengan kemampuan logika yang aku punya. Hidup itu tidak harus mengikuti sesuatu yang sudah ada, bukan? Misalnya, untuk mengatur bangsa kita, tidak boleh selalu berkiblat kepada bangsa-bangsa Barat. Karena pada dasarnya, bangsa kita, diri kita, memiliki kemampuan sendiri, sejarah sendiri, dan cara sendiri yang sesuai dengan paham diri atau bangsa itu. Kau mengerti, kan, maksud ku?”

“Ya, ya, aku mengerti!” Diandra mengangguk, kemudian menenggak botol airnya.

Beberapa saat mereka diam, yang terdengar hanyalah desiran udara yang diberikan sang bayu kepada setiap insan, di mana udara itu menyentuh alam pikiran-pikiran sehingga mereka terbuai dalam fantasi, atau bahkan dalam alam yang kosong[5].

“Aku rasa, aku mulai mengerti maksudmu tentang sesuatu yang abstrak itu,” ujar Diandra memecah hening.

“Kau memikirkannya?” Bidong tersenyum.

“Aku mencoba mencari pemahaman dari diriku sendiri, kemampuan logika yang aku punya, bukan begitu?” Tanya Diandra, juga tersenyum.

“Haha, kau mengambil kata-kataku!” kata Bidong sambil melempar handuknya ke arah Diandra, tetapi Diandra menghindar dengan gesit sambil tertawa. “Apa kalau begitu?” Tanya Bidong.

“Aku jelaskan saja dengan contoh,” kata Diandra seraya mengatur poninya, lalu mengambil handuk yang dilempar Bidong dan berbalik melempar ke arah temannya itu. Seketika Bidong menangkap handuk dengan cepat. “Sesuatu yang abstrak, yang bisa menjadi suatu kepercayaan di jaman yang serba canggih ini, yang bahkan dipercaya oleh setiap manusia. Sesuatu itu, menurutku, adalah cinta. Bagaimana menurutmu?”[6]

“Wah, kau menyebutkan sesuatu yang tinggi dan agung sekali!” seru Bidong sambil memukul pahanya. “Cinta, ya? Hm…, ya boleh lah! Ternyata, otakmu encer juga!”

“Tentu saja, aku tidak merasa bodoh, kok!” kata Diandra bertolak pinggang.

“Hahaha!”


[1] Jauh berbeda dengan diriku yang masih tertidur sambil garuk-garuk pantat. Dan tahu kah kau, ketika bangun nanti, setelah buang air kecil, yang pertama aku cari adalah sebatang rokok?
[2] Waktu kecil aku suka sekali dengan angka satu. Bahkan ketika masih kelas satu SD, aku bermimpi menjadi juara yang pertama di kelas, ranking satu. Namun, malangnya, sepuluh besar pun aku tidak dapat.
[3] Aha!
[4] Oh, Diandra, kau masih kurang banyak membaca buku.
[5] Boleh, dong, kita mulai berpuitis ria di sini?
[6] Sesuai dengan tebakanku! Sudah pasti, kalau menanyakan hal ini kepada setiap wanita, mereka pasti menyebutkan cinta. Dan tahukah kau, bahwa hal ini pernah menjadi bahan pembicaraanku dengan Bidong pada suatu malam, yang aku lupa kapan tepatnya. Wanita itu sama dengan cinta.

———————–

Kembali ke Bab 8

Lanjut ke Bab 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s