Babak kelima

“Hidup ini terbagi ke dalam banyak babak, Diandra!” kata Bidong di suatu sore di pinggir salah satu danau alam Universitas Indonesia, Depok. “Memang sengaja dibagi-bagi seperti itu oleh Penguasa Alam Semesta. Untuk apa?”

“Pertama, agar kita bisa melaluinya dengan baik, dan ada peningkatan yang lebih baik pula dalam setiap babaknya,” lanjut Bidong. “Kedua adalah untuk dapat dipahami oleh kita, manusia, sehingga kita bisa memilah dan mengkajinya dengan berangsur-angsur, dan tidak memberatkan kepala kita. Ketiga adalah, setidaknya menurut pemhamanku sendiri, sebagai pengingat kita semua bahwa ada hari awal dan ada hari akhir. Ada babak pertama, ada babak terakhir, yang menandakan semua kehidupan telah berakhir. Kemudian dalam periode yang baru, akan dimulai babak pertama yang baru pula.

“Aku pernah mendengar dari seorang guru fisika, waktu masih di SMA dulu, seorang guru yang berjanggut dan bercelana gantung, seperti jemaah-jemaah yang mendasari kata ‘jihad’ dan ‘syahid’ dalam menjalani hidup di dunia ini.[1] Akan tetapi aku hanya mengatakan penampilannya seperti itu, bukan kepribadiannya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana isi hatinya yang sebenarnya, dan aku tidak suka menilai orang, karena itu perbuatan yang kurang baik. Kalaupun harus, itu akan kulakukan sebagai catatan dalam pikiranku sendiri, sebagai bahan pertimbangan dalam menjalin hubungan persaudaraan.

“Nah, kata guru fisika itu, sebelum kita semua ada, pernah ada kehidupan di bumi ini. Apakah itu manusia atau tidak, sayang sekali aku lupa menanyakannya.[2] Itulah yang aku maksud sebagai periode tadi. Ketika babak terakhir dari kehidupan yang ada sebelum kita (manusia) itu, tanda-tanda kiamat bagi mereka telah terlihat. Ketika babak terakhir itu selesai, selesai pula kehidupan mereka. Bumi kosong. Kemudian Sang Penguasa Alam Semesta membuat periode baru, menciptakan babak pertama yang baru, dengan diturunkannya Adam dan Hawa ke dunia ini, ke Bumi.

“Jangan terlalu mempermasalahkan apakah ini benar atau tidak. Karena ini hanyalah keterangan panjang lebar agar kau mengerti maksudku tentang babak-babak itu, tentang pembagian-pembagian itu.

“Ya, hidup ini penuh dengan babak-babak yang harus kita lalui.

“Misalnya saja, babak pertama ketika berada di dalam kandungan. Babak kedua ketika berada di dunia, dan babak ketiga, babak yang abadi, yaitu kehidupan di akhirat.

“Contoh lainnya, adalah dalam pelajaran sosiologi. Ini mungkin bisa kau jadikan sebagai bahan pengetahuan saja, karena aku tidak tahu apakah ini diajarkan di Fakultas Teknik  atau tidak. Ini adalah pemikiran dari George Herbert Mead tentang tahap pengembangan diri manusia. Babak pertama adalah play stage, ketika seorang manusia mulai belajar mengambil peran orang yang berada di sekitarnya. Babak kedua adalah game stage, ketika manusia telah mulai mengetahui peran yang harus dijalankan, dan mengetahui pula peran orang lain dalam hal berinteraksi. Contohnya, ketika kau bermain sepak bola, kau tahu apa yang diharapkan dari dirimu yang bertugas menjaga gawang, dan tahu pula apa yang diharapkan dari temanmu yang bertugas sebagai penyerang, dan kau juga tahu apa yang diharapkan-mengharapkan dari lawanmu. Babak ketiga adalah generalized other, yaitu babak yang lebih tinggi dari sebelumnya, yang cakupannya lebih luas, yaitu masyarakat. Ketika seorang manusia mampu menjadi pribadi tertentu dan menjalankan perannya, serta memahami peran orang lain, untuk berinteraksi dan membaur di dalam masyarakat.[3]

“Negara kita juga memiliki babak, kau pasti tahu itu. Babak kerajaan-kerajaan, babak penjajahan, babak pergerakan, dan babak pembangunan dan perkembangan. Semoga saja kita dapat mencapai babak kemajuan.

“Pembagian babak ini tidak terbatas. Maksudku adalah pembagian babak dalam hidup kita, kita lah yang menentukan. Kau sendiri yang dapat memahami babak dalam hidupmu. Dan terkadang pembagian babak ini tidak terikat oleh waktu. Waktu-waktu bisa diabaikan.

“Dan bisa saja, perkenalan diriku dengan dirimu adalah babak tersendiri dalam hidup ini, Diandra.”

“Hm, kau mulai menggodaku, ya?” tanya Diandra tersenyum.[4]

“Hahaha, siapa bilang?” Bidong memukul pahanya sendiri.

“Teorimu yang panjang lebar itu sedikit rusak karena gombalanmu itu,” kata Diandra. “lagipula, kau terlalu banyak teori, menurutku.”

“Ya, tidak apa-apa. Yang penting aku, paling tidak diriku ini, memahami teori-teori yang aku utarakan. Masalah pengaplikasiannya dalam hidup, itu lain lagi!”

“Bukankah itu merupakah suatu hal yang satu kesatuan, teori dan pengaplikasiannya?” kening Diandra berkerut.

“Bukankah aku tadi mengatakan hidup ini terbagi dalam babak-babak?” Bidong balik bertanya dengan mata kemenangan. “Saat ini adalah babak berteori, dan nanti akan ada babak aplikasi. Berbicaralah menurut konteks yang sedang kita bahas, Diandra!”

“Ah, susah ngomongdengan orang sepertimu!” Diandra mengibaskan tangan.


[1] Perdebatan pernah terjadi antara Bidong dengan guru fisika itu tentang sejarah Islam. Aneh, semua yang ia utarakan jauh berbeda dengan apa yang aku dapatkan ketika ikut sekolah ngaji waktu masih SD dulu. Namun, perjalinan guru dan murid antara aku dengan beliau cukup baik. Apalagi setiap ujian aku mendapatkan nilai yang baik pula. Sepertinya, siapa yang mau ikut les tambahan sepulang sekolah dengan beliau, selalu mendapat nilai yang bagus. Situasi seperti ini bisa dimanfaatkan, bukan? Apalagi aku tergolong murid yang memiliki banyak cara untuk ‘berjaya’ di sekolah.
[2] Semua yang mendengarkan terlalu terpana dengan dongeng dari guru fisika tersebut sehingga mereka lupa bertanya tentang hal-hal yang seharusnya ditanya lebih lanjut.
[3] Kau akan menemui kalimat-kalimat paragraph ini di buku Kamanto Sunarto, halaman 21 dan 22.
[4] Tetapi wajah Diandra merah merona. Tidak ada wanita di dunia ini yang tidak senang digombali. Setidaknya prinsip itu aku dapatkan dari saudara sulungku.

————————

Kembali ke Bab 4

Lanjut ke Bab 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s