Babak keenam

Dari masa kanak-kanak hingga menjadi seorang dewasa, tugas orang yang menempuh pendidikan hanya dua, yaitu belajar dan mengamalkan hasil belajarnya itu.[1] Dasar-dasar yang menuntun setiap orang di dalam suatu bangsa untuk mengamalkan hasil belajar itu juga berbeda-beda. Dalam bahasan yang lebih khusus, cara setiap orang juga berbeda-beda.

Setiap bangsa dan negara memiliki ideologi sendiri, yang dikonsep oleh bapak-bapak bangsa dan negarawan-negarawan mereka.

Pancasila adalah sebuah ideologi yang dianut bangsa Indonesia. Ideologi itu kemudian menjadi dasar dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara. Semua yang akan dilakukan, harus sesuai dengan hakikat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu tujuan Negara Indonesia, sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pendidikan adalah sesuatu yang penting.

Namun, dalam beberapa babak, suatu kekeliruan telah terjadi. Pada rumusan tentang pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa itu, telah terjadi suatu penyimpangan pemahaman. Terjadi suatu ‘diskriminasi’ ilmu pengetahuan. Dalam selang waktu tertentu, ilmu pengetahuan tertentu dianggap lebih penting dari ilmu pengetahuan lainnya. Penanaman paham seperti itu terus hidup turun-temurun, hingga sekarang, masih ada beberapa orang tua yang menganggap ‘ilmu ini’ lebih baik dari ‘ilmu itu’. Karena pengaruh paham tersebut, cara-cara dalam mendidik yang dilakukan juga mengalami kekeliruan. Sedari kecil, anak disalaharahkan. Pemberian gambaran tentang cita-cita juga menjadi keliru. “Mau jadi dokter, ya?” atau “Kalau sudah besar nanti, jadi polisi, ya!”. Kalaupun ada orang tua yang menyuruh anaknya menjadi penyanyi, saat ini, itu hanya karena pengaruh reality show di televisi yang penuh dengan dramatisasi yang membohongi masyarakat.[2] Selain itu, banyak juga saya temui bahwa orang-orang pada masuk sekolah karena ingin mendapatkan modal untuk pekerjaan ketika sudah besar nanti. Mencari pekerjaan, PEKERJAAN. Kau tahu maksudku tentang kata pekerjaan itu? Bahkan generasi saya masih terkena kontaminasi dari kekeliruan di babak-babak terdahulu yang aneh itu.[3]

Pernah suatu kali saya berbincang dengan teman saya ketika pusing memilih jurusan waktu kuliah nanti.

“Kau mau masuk apa?”

“Kedokteran lah, itu yang pasti. Masa depan terjamin.”

“Kau bagaimana?”

“Aku mengincar STAN, tamat dari sana kita langsung mendapat pekerjaan.”

“Kalau kau, pasti mau masuk IKJ, kan? Aku tahu pikiranmu. Kau, kan, hobi dengan seni.”

“Tentu saja. Seni adalah hidup.”[4]

“Bidong, kalau mengambil seni, nanti hidup kita tidak jelas. Untung-untung kalau bisa eksis di TV, kalau tidak? Menghabiskan biaya, eh, setelah besar nanti, cuma berlabel seniman. Sekarang ini adalah jaman globalisasi, kita harus berpikir cepat untuk bisa hidup.”

“Itu hanya masalah pilihan, bukan? Aku bisa menikmatinya.”

“Kau mungkin bisa berpikir seperti itu karena kau adalah laki-laki. Sementara kami adalah perempuan, masa depan harus segera dipikirkan dari sekarang.”

Namun akhirnya, saya tidak masuk ke IKJ, Saudara! Saya malah terjun ke ilmu sosial, padahal di waktu SMA saya duduk di kelas IPA.[5]

Pernah juga suatu ketika salah seorang teman saya berusaha mendapatkan rekomendasi dari sekolah untuk masuk ke Universitas Indonesia di Jakarta. Dia ditanya oleh guru pembimbing konseling, “Kamu mau pilih jurusan apa?”

“Karena saya suka mengambar manga, saya ingin pilih jurusan Sastra Jepang, Bu,” jawab teman saya itu.

“Mau jadi apa kamu kalau memilih Sastra Jepang. Pilih yang pasti-pasti saja, kenapa tidak pilih ekonomi atau akuntansi saja. Atau perbankan, pajak, administrasi?”

Teman saya keluar dari ruangan konseling dengan wajah yang murung.

Guru bimbingan konseling pun ikut terkontaminasi dengan pendiskiriminasian ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, ada beberapa orang yang berkata, sistem pendidikan di negeri ini cacat. Kita semua juga tahu itu.

Saya ingin menceritakan hal ini kepadamu, Saudara. Ayo disimak dengan baik, semoga membawa manfaat bagi kita berdua!

Saya masih ingat ketika ibu saya bercerita tentang nasihat yang diterimanya dari ayahnya, yaitu kakek saya. Dia mengatakan bahwa semua ilmu pengetahuan itu baik dan pasti akan membawa manfaat, tetapi dengan satu syarat: kau harus benar-benar menguasai ilmu pengetahuan tersebut, jangan setengah-setengah.

Ada juga yang perlu kita ingat tentang ilmu pengetahuan ini, yaitu kita harus benar-benar memiliki jiwa dari ilmu tersebut, setidaknya bercumbu dengan hakikat ilmu pengetahuan itu.  Beberapa hari yang lalu, Pak Jangkung berkata bahwa sebagai seorang peneliti, kita harus memiliki state-of-the-art. Kita seorang ahli yang seperti apa dan bagaimana.

“Seorang ahli kenakalan anak, jangan dipaksa ngomong tentang teroris!” kata Pak Jangkung. “Ya, meskipun dia tahu, tetapi esensi pemahaman teorinya tentu berbeda. Nah, di Indonesia, pemahaman yang seperti ini yang sangat kurang. Media hanya tahu si ‘itu’ ahli tentang kriminologi, tapi tidak tahu kriminologi yang seperti apa. Dan yang paling bodohnya, si ‘itu’ (ilmuwan) ini, karena ingin terkenal, eksis di televisi, mengiyakan saja apa yang diyakini media, dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang ngarol kidul. Karena apa? Karena dia bukan ahli di bidang itu.

“Seharusnya, media memahami tentang pembagian ahli-ahli ini. Begitu juga dengan ilmuwannya, juga memahmi ­state-of-the-art dalam dirinya. Dia orang yang seperti apa dan bagaimana. Kalau misalnya ada wartawan yang ingin bertanya tentang kejahatan kerah putih, ‘Oh, itu bukan bidang saya. Silakan hubungi Profesor Mustofa. Bidang saya adalah tentang kenakalan remaja!’ Contohnya bisa seperti itu. Memahami state-of-the-art yang kita punya. Terkadang, karena mau ambil andil akan semuanya, masyarakat tanpa sengaja telah dibohongi.”

Nah, seperti itu lah, Saudara. Yang saya pahami adalah kalau kau benar-benar menguasai ilmu pengetahuan itu dan memiliki state-of-the-art itu, kau akan menjadi orang. Jadi, kesimpulannya adalah tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak berguna, semuanya memiliki guna. Tergantung dari keyakinan diri kita masing-masing akan hakikat ilmu pengetahuan itu, apakah cocok dengan kita atau tidak. Kita memiliki kebebasan untuk memilih ilmu pengetahuan yang kita senangi. Dan, memberikan selingan ilmu pengetahuan yang lain, sebagai tambahan modal, adalah nilai plus yang juga perlu dipertimbangkan.

Semua ilmu pengetahuan itu ada gunanya.

Itu yang ditegaskan oleh kakek saya, Saudara. Dan itu yang disampaikan oleh ibu saya. Akan tetapi, tetap saja, secara tak langsung, ibu saya mengarahkan saya kepada suatu pemahaman yang telah terkontaminasi oleh kekeliruan-kekeliruan yang saya katakan tadi. Mengapa? Ya, karena ibu saya juga merupakan korban dari sistem yang cacat itu.

“Iya, semua ilmu itu baik, kalau kita mau serius mempelajarinya,” kata Ibu saya, ketika saya masih duduk di bangku SMA, dan bingung memilih antara jurusan IPA dan IPS. “tapi, kalau kita masuk ke IPA, kita akan dilatih untuk berpikir kritis dan logis. Selain itu, untuk cakupan bidang di kuliah nanti, atau pekerjaannnya, IPA itu lebih luas. Berbeda dengan IPS yang hanya terbatas pada jurusan-jurusan tertentu saja. Anak IPA mampu masuk ke ilmu sosial sementara anak IPS akan mengalami kesulitan untuk masuk ke ilmu alam dan eksak.” Itu kata ibu saya, yang ternyata terkontaminasi pula oleh budaya mendiskriminasikan ilmu pengetahuan. IPA dianggap lebih unggul dari IPS.

Bodohnya, saya percaya saja dengan nasihat itu. Akan tetapi menurut pemahaman saya sekarang ini adalah nasihat itu tidak sepenuhnya benar. Penyelesaiannya hanyalah kembali pada kata-kata kakek saya, semua ilmu itu berguna. Terserah kau mau belajar dari mana, mau dari IPS dan IPS seterusnya hingga mati, atau IPA dan IPA seterusnya hingga mati, atau berganti-ganti hingga kau menemukan ilmu pengetahuan yang tepat dengan minat dan bakatmu. Tidak ada diskriminasi.

Ya, seperti itu kekeliruan yang saya maksud. Di Indonesia, demi mengejar ketertinggalan, dalam selang beberapa babak, ilmu sosial dan seni dianaktirikan sementara ilmu eksak dan ilmu alam diutamakan, agar negara ini dapat menjadi maju menyaingi Negara-Negara Barat. Kau mau bukti? Lihat saja mata pelajaranmu, ilmu hitung lebih banyak daripada ilmu ‘baca’, dan pelajaran menggambar hanya satu, dua, tiga jam dalam seminggu. Musik? Paling hanya sekali dalam seminggu. Sekolah-sekolah negeri, semuanya, seperti itu, atau seperti itulah yang saya alami ketika masih duduk di bangku SD dan SMP dulu, SMA juga.

Jadi, tidak ada salahnya saya mengumpat-umpat terhadap sistem pendidikan di Bumi kita ini, di mana saya berpijak kaki saat ini.

Kau tidak perlu ikut mengumpat, Saudara![6]


[1] Selepas acara pengajian di Benteng Surosowan, Banten Lama, sekitar dua bulan yang lalu ketika ada penelitian di sana, aku mendengar nasehat dari si empu pengajian. Kalimatnya hampir serupa, “Tugas pemimpin itu cuma dua, yaitu berjanji, dan laksanakan janjinya itu!”
[2] Awalnya, ketika aku masih SMP, aku sempat terjerumus dan jatuh cinta kepada acara TV sejenis ini. Bahkan aku memiliki idola. Ya, ampun! Akan tetapi, semakin lama acara-acara tersebut terasa semakin basi karena diulang-ulang. Akhirnya aku menemukan kenyataan bahwa banyak dari stasiun televisi sengaja membuat skrip dengan maksud mendramatisasi adegan agar mengharukan, tetapi tetap dengan embel-embel reality show. Jadi, benarlah kalau aku mengatakan bahwa hal seperti ini adalah tindak pembohongan terhadap masyarakat. Anehnya, seorang temanku terpaksa bertengkar mulut dengan ibunya, mempermasalahkan apakah acara di televisi itu adalah adegan rekayasa atau adegan yang sebenarnya (real ). Aneh!
[3] Nasiiiib… nasiiiib…!
[4] Aku setuju. Seni membuat kita menjadi ‘hidup’. Kau mengerti maksudku, bukan?
[5] Nasib yang sama terjadi padaku.
[6] Aku mengerti maksudnya, dan aku tidak akan ikut mengumpat. Lebih baik kau juga mengikuti, jangan mengumpat, turuti saja apa maunya!

==============

Kembali ke Bab 5

Lanjut ke Bab 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s