Babak keempat

Ahli-ahli ilmu jiwa ada yang mengatakan bahwa kalau seseorang itu gila, lebih baik jangan disembuhkan. Karena seseorang itu berada di dalam alam pikiran yang mereka ‘inginkan’, sesungguhnya mereka berbahagia dengan kegilaan mereka.

Seorang asisten ilmuwan terkenal, yang tak perlu disebutkan namanya di sini, memiliki beribu pertanyaan tentang apa saja hal-hal yang menyebabkan orang tidak gila. Pertanyaan ini muncul karena maraknya kasus orang menjadi gila pada masa hidupnya. Dan sesuai pengetahuannya, pertanyaan yang harus dijawab adalah mengapa orang tidak gila, bukan mengapa orang bisa gila. Sama halnya ketika kau mencoba memecahkan suatu permasalahan tentang perilaku penyimpangan. Dalam metode tertentu, pertanyaan yang harus dijawab pertama sekali adalah mengapa ada orang yang tidak melakukan penyimpangan. Dari pertanyaan ini, kita akan diarahkan kepada ruang-ruang yang memberikan kita penerangan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab, dan secara berangsur kita akan menjawab semua pertanyaan yang ada.[1]

Lama berselang, waktu yang telah dilalui oleh si asisten ilmuwan, tibalah dia pada keputusan untuk terjun ke lapangan, memperhatikan orang-orang gila demi menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitiannya, agar dapat menjawab masalah yang ada:  banyak orang menjadi gila. Dari tekad ini, akhirnya dia bersedia untuk pura-pura menjadi orang gila, dan masuk ke dalam rumah sakit jiwa (tentunya dengan persetujuan pihak rumah sakit), membaur dengan ratusan orang yang telah dinyatakan oleh dokter jiwa sebagai orang gila. Harapannya, dengan meneliti tingkah laku, kata-kata, dan kebiasaan orang gila, dia bisa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya selama ini.

Tidak semua harapan dalam hidup ini bisa menjadi kenyataan. Selama di dalam rumah sakit, berpura-pura menjadi orang gila, si asisten ilmuwan begitu sulit untuk menemukan jawabannya. Memperhatikan tingkah laku, menyimak kata-kata, dan memahami kebiasaan orang gila tidak memberikan jawaban yang pasti. Yang terpikirkan oleh si asisten ilmuwan adalah orang gila tertawa karena ada sesuatu yang lucu sehingga merangsang otaknya untuk menyuruhnya tertawa. Akan tetapi si asisten ilmuwan tidak bisa mengetahui apa yang dianggap lucu oleh orang gila itu, begitu juga dengan waktu-waktu ketika orang gila menangis, marah, dan sebagainya. Melihat kebiasaan orang gila yang suka minum air WC, berarti (mungkin) si orang gila menganggap air WC adalah air yang bersih. Akan tetapi apa yang menyebabkan dia berpikir begitu? Sama halnya dengan kita, mengapa kita minum air yang telah dimasak, kita dengan yakin mengatakan air itu bersih? Tentunya air itu bersih dalam sudut pandang kita sebagai orang yang waras. Kita dikatakan waras juga dalam sudut pandang kita. Bisa saja orang yang kita sebut gila malah berpikir kita lah yang gila dan merekalah yang waras. Permasalahan sudut pandang ini juga membuat penelitian si asisten mengalami kebuntuan.

Karena orang-orang tidak menyimpanglah, beberapa orang yang berbeda dari kebiasaan dikatakan menyimpang. Akan tetapi, pihak mana yang sesungguhnya benar? Pihak kita yang berpikir seperti ini, atau pihak mereka yang berbeda dari kita. Jangan-jangan mereka juga mempunyai perkiraan yang sama dengan kita. Bisa saja, menurut mereka, kita lah yang menyimpang.

Sebenarnya, mengapa orang tidak gila? (Mungkin) karena ada orang tidak gila lah, beberapa orang yang berbeda dari kebiasaan dikatakan gila.

Kita makan di meja makan, menggunakan sendok dan garpu. Mencuci tangan sebelum makan. Kita minum air yang bersih. Kita makan makanan yang sehat bergizi. Setiap hari Minggu, orang-orang pergi ke Gereja untuk beribadah. Setiap lima waktu dalam sehari, kaum muslimin melaksanakan sholat. Kita sekolah, kita bermain, kita mencari teman, kita mencari pasangan hidup. Kita berbuat baik dan kita saling membantu. Itu semua kita lakukan karena ada kesepakatan yang tak terlihat bahwa hal itu adalah benar, atau dianggap benar oleh semua orang yang sama dengan kita, yaitu waras dalam sudut pandang kita.[2]

Akan tetapi coba kalau begini: yang menjadi kebiasaan adalah makan di lantai, langsung menggunakan mulut seperti anjing, minum air WC, makan makanan yang tidak dimasak. Kita tidak perlu ibadah, tidak perlu sekolah, tidak perlu menikah, dan sebagainya. Ingat, anggap itu semua adalah kebiasaan. Tentu orang-orang gila itu tidak akan kita katakan gila, karena tidak berbeda dengan kita.

Lalu apa dan mana yang benar, apa sebutan untuk mereka seharusnya, atau sebutan untuk kita seharusnya? Apakah gila, atau waras, atau ‘gila’, atau ‘waras’?

Pertanyaan-pertanyaan yang membuat ragu ini semakin memperberat penelitian si asisten ilmuwan. Setelah hampir satu bulan di dalam rumah sakit jiwa, dia semakin frustasi. Dia merasa hidup di lingkungan yang bukan miliknya. Semua apa yang dilihatnya, dialaminya, bukanlah hidupnya. Jauh berbeda dari pemikirannya yang seharusnya. Semuanya bertentangan dengan pikiran warasnya (waras dalam sudut pandangnya).

Comte juga begitu. Dia melihat sebuah struktur masyarakat dan fungsi-fungsi di dalamnya tidak berjalan dengan baik. Itu semua bertentangan dengan pikiran warasnya (waras dalam susut pandang Comte) sehingga dia terlibat pertikaian dengan lingkungannya sendiri. Akhirnya dia memutuskan mengambil jalan sendiri, menggagas pemahaman sendiri yang jauh berbeda dari gagasan-gagasan yang membentuk sistem sebelumnya. Akhirnya, dia gila.

Orang tidak gila karena dia hidup di lingkungan yang dapat diterima oleh pikiran dan jiwanya. Artinya, kau akan menjadi frustasi dan gila karena lingkungan itu tidak sesuai dengan pikiran dan jiwamu.

Si asisten ilmuwan yang sudah berlama-lama di dalam rumah sakit, hidup di lingkungan yang tidak dapat ia pahami, yaitu di dalam rumah sakit jiwa yang semua isinya adalah orang gila (dalam sudut pandang si asisten ilmuwan). Lingkungan itu bertentangan dengan pikiran dan jiwanya. Akhirnya, ketika dia keluar dari rumah sakit jiwa itu, dia divonis oleh seorang dokter jiwa mengalami gangguan jiwa yang sebenarnya. Si asisten ilmuwan itu menjadi gila karena penelitian yang dilakukannya. Ya, ini sudah biasa. Banyak ilmuwan dan orang pintar menjadi gila karena tidak bisa menjawab pertanyan kritis yang muncul dari pemikirannya sendiri.

Sungguh sedih sekali, ketika niatnya yang baik ingin mencari jawaban, kemalangan malah menimpa dirinya yang begitu terjebak dalam sebuah obsesi.

Hati-hati, bisa saja kau juga akan menjadi gila!


[1] Teori-teori seperti ini akan kau temukan dalam kuliah metode penelitian sosial. Kalau tidak kau temukan, berarti sistem pengajaran dosen kita berbeda.
[2] Inilah yang aku istilahkan sebagai kebiasaan. Semua orang juga pasti setuju dengan istilahku ini, karena hal ini sudah umum.

————————-

Kembali ke Bab 3

Lanjut ke Bab 5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s