Babak kedua

Sudah berkali-kali saya katakan bahwa kita ini adalah setan, Saudara! Hidup di lingkungan yang serba ada dan serba gampang. Kalau pun setan-setan ini nantinya menjadi pintar, pintarnya bukanlah karena jasa kalbu manusia, tetapi oleh barang-barang temuan dari para pemikir gila, yang mengubah dunia, yang tanpa sepengetahuan mereka, dunia itu menjadi dunia setan. Kita adalah kaum yang bergerak di bumi manusia, pencari kejayaan dengan menjelajahi dunia lain, dunia para setan, yang abstrak, yang tidak dapat dijelaskan oleh manusia-manusia penulis dan pembaca buku jaman dulu. Mereka hanya bisa mengkhayalkan. Padahal, dunia kita ini dapat tercipta karena perjuangan manusia-manusia itu untuk kesejahteraan anak cucunya. Akan tetapi kita lah yang menikmati itu semua, dan dengan meletakkan kaki di atas meja kau mengurus persoalan keuangan dengan seorang akuntan yang berada ratusan kilometer jauhnya dari kursi yang kau duduki. Setan bisa berubah-ubah, setan bisa ada di mana-mana, dan setan tahu segala gunjingan dan obrolan hangat. Dan kita pun bisa melakukannya, karena kita mempunyai kendaraan dan belasan senjata yang hebat. Kita adalah setan.[1]

Pribadi setan sangat menyenangi gaya. Karena gaya adalah sumber dari eksistensi untuk mendapatkan decak kagum dan tepuk tangan. Dengan gaya, setan bisa dipandang. Karena itu pula setan senang mengubah-ubah penampilannya sesuai dengan yang ia suka. Bukankah kau dan kawan-kawanmu juga melakukan itu? Setiap hari? Oh, ya! Tentu saja aku juga melakukannya, karena aku adalah kawanmu yang paling baik.[2]

Ada beberapa setan yang senang bergaya dengan sedikit cara yang berbeda. Cara yang sedikit intelektual, katanya. Ya, mereka bergaya dengan beberapa ciptaan, biasanya oleh manusia disebut sebagai karya. Mereka menarik perhatian dengan kalimat-kalimat dan kata-kata bijak yang dapat dibaca, tetapi hanya bisa dibaca di dunia kita. Mereka menggubah syair dan nada untuk memukau semua mata dan telinga, yang dapat didengar dan dinikmati bahkan disaat kau sedang mandi, makan, atau mengerjakan tugas yang menumpuk sekalipun. Akan tetapi sekali lagi saya tegaskan, nada dan syair itu hanya bisa dinikmati di dunia kita, bukan dari sebuah pemutar musik klasik, seperti piringan hitam, dan lantunan melodinya bukan keluar dari alat musik gitar atau harpa yang begitu indah. Bukan. Nada dan syair yang diciptakan oleh setan ini sudah terkontaminasi dengan dunia kita. Ada juga setan-setan yang membuat gambar-gambar yang bisa dinikmati semua mata di seluruh dunia, tetapi tetap hanya bisa dilihat di dunia kita.

Saya ingatkan lagi, dunia kita adalah dunia setan. Kita adalah setan.

Setan juga senang berbuat onar, melakukan kejahatan. Kejahatan yang begitu kreatif, dan bahkan sekarang-sekarang ini lebih inovatif. Setan bisa mencuri uang tanpa diketahui sehingga malaikat-malaikat keadilan kewalahan untuk memberantas mereka. Setan senang menghasut anak-anak untuk diajak ‘main-main’. Setan bisa menebar fitnah dan aib dengan leluasa sehingga bisa mengambinghitamkan pihak lain, dan mereka kabur menyelamatkan diri sambil tertawa. Mereka juga senang menebar virus, kalau bisa dikatakan sebagai virus penyakit, kemudian menciptakan obat yang sangat dibutuhkan siapapun, yang nantinya menyebabkan semuanya menjadi candu. Begitulah seterusnya, siklus yang tidak pernah berhenti sampai sekarang sejak dunia setan ini tercipta. Dibuat sebuah masalah dengan virus-virus, lalu ada obat pembasmi virus, lalu virus lagi, obat lagi, terus dan terus menerus.[3]

Mereka itu adalah kita. Kita adalah setan.

Masih banyak lagi kehebatan yang kita punya, kehebatan dan kekuasaan yang dimiliki setan. Yang saya jabarkan ini, yang saya ingatkan kepadamu ini, hanyalah sebagian dari semua kehebatan itu. Kau ingin tahu semuanya? Gampang. Tinggal kau lihat di dunia kita. Dunia setan.

Oh, iya! Ada sedikit hal lagi yang ingin saya ceritakan. Ingatkah kau bahwa paman kita pernah bercerita tentang seorang penyair yang suka membuat puisi di lembaran-lembaran usang, di kertas-kertas bekas, dan di kertas bungkus rokok yang sudah lusuh? Dia penyair yang dengan berani mengajak seorang negarawan untuk berjabat tangan. Dia penyair yang dengan arogansinya mengatakan dirinya tidak ingin diratapi ketika mati, bahkan oleh kau sekalipun yang terlalu cengeng. Dia ingin hidup selama seribu tahun, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi, bukan? Karena dia bukanlah seorang Nabi Nuh. Dia ingin memberontak kepada bangsa-bangsa Barat, bangsa yang hebat. Sebuah bangsa, yang dengan kegigihannya, mereka telah membuat dunia kita begitu nikmat dan serba gampang. Dia, si penyair ini, orang yang tertindas dan terbuang, yang telah begitu muak sehingga rasa sakit akan peluru dari senjata perang tidak terasa lagi. Katanya, dia berlari untuk mengejar keinginannya, hidup selama seribu tahun.[4]

Nah, apa yang bisa kau katakan sekarang, Saudara? Ya, tentu saja kita bisa melakukan apa yang diimpikan si penyair itu. Kita bisa hidup selama seribu tahun. Kau mengerti maksudku, bukan? Dunia kita ini memang hebat, kita juga hebat, setan-setan memang hebat. Di dunia setan ini, kita hidup sangat lama. Bahkan setan bisa mengubah-ubah umurnya, karena hal itu sangatlah gampang seperti membalikkan telapak tangan. Aku saja pernah mencobanya, dan itu sungguh mengasyikkan.

Akan tetapi ada yang tidak bisa kita lakukan,  sesuatu yang bisa dilakukan oleh si penyair. Kita tidak bisa melakukannya; setan tidak bisa melakukannya, bukan karena tidak bisa, tetapi karena enggan. Sesuatu itu adalah menulis puisi di kertas bungkus rokok yang telah usang itu.


[1] Tatapannya seperti menyalahkan diriku.
[2] Dia tidak berbohong sama sekali
[3] Aku senang membahas masalah virus-virus ini dengan saudara sulungku.
[4] Terlintas sebuah nama di benak penuh cahaya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s