Babak kedelapan

Warna adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini. Jika tidak ada warna, hidup akan menjadi hampa. Buktinya, orang-orang pintar berusaha menemukan cara agar tercipta layar TV berwarna. Karena dengan warna, sesuatu akan terlihat lebih indah.

Dalam teori dan pemahaman-pemahaman yang umum, juga sering dimasukkan dalam lirik-lirik lagu atau puisi, dikenal tujuh warna, yang apabila disatukan (diputar di suatu gasing berwarna) akan menjadi warna putih. Tujuh warna itu adalah tujuh warna pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Namun ada juga yang mengatakan bahwa warna-warna dasar adalah merah, hijau, dan biru. Warna-warna yang lain terbentuk dari kombinasi tiga warna tersebut.

Warna muncul dari cahaya. Apabila tidak ada cahaya, tidak akan ada warna. Namun, warna juga dipengaruhi oleh lingkungan. Benda-benda tertentu dapat menguraikan cahaya sehingga memunculkan warna-warna tertentu. Keberadaan warna juga dipengaruhi oleh otak. Semua manusia mengenal warna karena otak mereka mengidentifikasi uraian cahaya itu sebagai warna tertentu.

Cobalah kau tutup matamu beberapa saat dan kosongkan pikiran, kau akan melihat hitam. Kemudian cobalah berpikir sedikit tentang bunga mawar, resapi dan rasakan dalam jiwamu indahnya warna mawar. Sesaat kemudian dalam gelapmu kau akan melihat merah. Karena itu, kehadiran warna juga bisa dikatakan dipengaruhi oleh jiwa dan pikiran.

Pada dasarnya, hitam dan putih bukanlah warna, melainkan identitas dari kehadiaran dan ketidakhadiran warna. Kehadiran seluruh warna akan memunculkan putih, atau dikenal sebagai putih. Sedangkan ketidakhadiran warna akan memunculkan hitam, atau dikenal sebagai hitam.

Warna-warna juga dapat dikenal berbeda-beda oleh lingkungan sosial yang berbeda pula. Misalnya yang kita kenal sebagai warna putih, dianggap sebagai warna yang suci bagi lingkungan yang menyanjung kebersihan sebagai bagian dari iman. Atau dikenal sebagai simbol dingin di dunia Barat karena pengaruh interpretasi mereka terhadap salju. Ada juga yang menganggap putih sebagai hal yang menakutkan, seperti kematian. Sebagian besar negara-negara di Timur meyakini hal itu, karena pengaruh mereka terhadap kain kafan.[1]

Karena proses pencampuran-pencampuran, warna menjadi tidak terbatas. Semakin banyak percampuran, akan semakin banyak memunculkan warna baru. Bagi manusia tertentu, diantara sekian banyak warna itu, ada warna-warna yang mereka sukai.

Ada laki-laki yang menyenangi warna merah karena terkesan berani. Wanita menyukai warna merah jambu karena dianggap lembut. Atau ada juga yang menyukai warna biru karena dianggap keren. Yang menyukai warna hijau, biasanya mereka yang mencintai lingkungan.

Ada satu warna yang disukai olehnya. Warna itu adalah dongker. Dia sendiri tidak mengetahui apa esensi warna dongker bagi kehidupannya. Mungkin kalau ditanya, dia hanya menjawab bahwa nama dongker itu terdengar bagus.[2] Akhirnya dia menanamkan keyakinan sendiri bahwa perpaduan antara warna biru dan dongker adalah warna pendidikan.

“Warna apa yang kau suka, Saudara?”

“Aku lebih menyenangi warna hitam. Dia adalah warna yang kuat.”

“Mengapa kau menganggapnya demikian?”

“Aku pernah menuangkan tinta di atas gambar berwarna, seketika semuanya menjadi hitam. Dari sana aku mengambil kesimpulan tidak ada warna yang bisa mengalahkan warna hitam.”

“Bagaimana dengan warna putih? Bukankah dia bisa mengalahkan warna hitam?”

“Tidak. Itu hanya permasalahan warna mana yang kau taruh di atas kertas terlebih dahulu. Sekarang begini saja, coba kau ambil pensil berwarna, pensil kayu. Apabila kau isi kertas dengan warna hitam, kemudian kau taruh warna lain diatasnya, warna putih sekalipun, dia akan tetap hitam. Berbeda apabila kau taruh warna putih terlebih dahulu, kemudian ditimpa warna lain, dia akan berubah menjadi warna yang lain itu. Semua warna yang ada dari pensil kayu, apabila ditimpa hitam dengan pensil kayu warna itu, akan menjadi hitam. Jadi aku benar, hitam adalah warna yang kuat.”

“Ya, itu terserah padamu. Bagi saya, warna biru dongker lebih bagus.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Biru, warna yang begitu luas di langit dan lautan. Luas. Kita perlu kecerdasan untuk menjelajahi semuanya. Dongker, warna yang begitu luas di malam hari yang ditaburi bintang. Kita juga butuh kecerdasan untuk dapat mengetahui langit dan bintang. Untuk cerdas, kita butuh pendidikan. Karena itu saya sangat menyenangi warna biru dongker.”

“Aha, malam hari itu langit berwarna hitam, kan? Bukannya dongker?”

“Saya melihatnya berwarna dongker.”

“Ah, itu hanya berdasarkan sudut pandangmu saja. Langit di malam hari terkadang berwarna merah, jingga, tetapi lebih sering hitam. Karena tidak ada warna di situ, tidak ada warna di malam hari. Bukankah sesungguhnya hitam dan putih bukanlah warna?”

“Karena itu lah, saya lebih senang menganggap warna langit yang ada bintang itu adalah dongker, tidak hitam yang sesungguhnya bukan warna! Namun begitu, dalam hidup ini, setidaknya kita harus memiliki warna. Hidup harus berwarna.”

Kemudian dia merebahkan diri di atas bangku seraya melihat ke langit malam sambil tersenyum senang.[3]


[1] Aku pernah membaca hal ini di wikipedia, media ensiklopedia online yang banyak memberi informasi secara cepat, tetapi tidak pernah dipercaya oleh kaum-kaum akademisi. Akan tetapi, buktinya, aku bisa membual panjang lebar karena membaca wikipedia. Jadi, kalau ingin bertanding tahu-tahuan lebih banyak, browsing itu juga berguna, sangat berguna, mungkin.
[2] Menurutku alasan itu terlalu subjektif.
[3] Sedangkan aku menyulut sebatang rokok sambil memperhatikan dirinya. Menghisap sebatang rokok ini terkadang memberikan kesan yang begitu mendalam. Inspirasi-inspirasi terbaik pun bisa datang dari kegiatan ini.
———————-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s