Babak enambelas

Saat itu adalah Bulan Desember, tahun 2009.

Sampu mendecak lidah saat duduk dan menenggak minuman yang dibilang haram oleh kaum-kaum radikal besorban hanya karena minuman itu produksi orang-orang Barat. Sambil menikmati kentang impor dan saus tomat standar, dia mulai membaca buku Koentjara mengenai pemahaman konsep suku-bangsa. Apakah dia akan berdosa menikmati makanan yang akan memberikan sumbangan bantuan perang kaum Yahudi? Atau dia akan kualat dan tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Taryanto minggu depan karena, kata anak-anak tarbiyah, tempat yang dia duduki sekarang adalah suatu tempat yang penuh dengan kekeliuran? Yang ada dalam kepalanya hanyalah bagaimana caranya bisa mendapatkan tempat yang tenang, karena orang-orang Barat mengakui privasi dan menjunjung pengetahuan, menghargai buku dan pembaca, serta juga menghargai ketenangan. Jauh dari hiruk-pikuk mahasiswa yang masih sibuk di minggu-minggu penentuan nilai A semester awal mengorasikan keadilan hukum di negeri ini.

Bangunan merah-merah tempat dia membuka halaman buku Koentjara, tidak ada televisi dengan gambar bersemut yang selalu menayangkan sinetron. Juga tidak ada televisi yang menayangkan berita mengenai perkembangan kasus Bank Century. Dan terakhir, kesimpulannya, adalah di tempat itu tidak ada televisi. Yang ada hanyalah berbagai produk dan slogan-slogan promosi iklan yang memang sudah menjadi kebutuhan orang-orang Barat, yaitu budaya pop dan konsumsi tingkat tinggi. Orang-orang kaya mencari penyakit di tempat ini, karena itu Sampu hanya memilih sekotak kentang goreng impor dan saus tomat yang kurang meyakinkan keasliannya.

Beberapa hari yang lalu, dia berbincang-bincang dengan Maria, mengenai mafia hukum di negeri ini. Fokusnya melayang dari buku ke percakapan waktu itu.

Gue yakin, sebentar lagi kita akan mengalami suatu peristiwa penting dan bersejarah,” ujar Maria geleng-geleng kepala.

”Apa?”

”Revolusi, Men! Revolusi!”

”Tapi bukankah sudah terlihat jelas bahwa kasus Bibit-Chandra dihentikan. Tinggal menunggu waktu saja sampai selesainya kasus Century.”

Ck, ah! Kita sudah jengah melihat berita-berita di televisi. Mendingan ikut aksi dan lakukan perubahan!”

”Ikut aksi atau eksis di televisi?”

”Sekalian, dong!”

Lu udah denger kalau pidato SBY mengatakan bahwa ada gerakan-gerakan politik terselubung yang memprakarsai aksi 9 Desember yang akan datang?”

Udah! Apakah itu hanya ketakutan belaka?”

”Kita bisa lihat nanti saat angka keramat itu tiba!”

Gue salut buat dia yang mempunyai otak jenius sehingga bisa mengadu-domba para petinggi di gedung pejabat sana! Jenius, deh!”

”Siapa lagi yang mempunyai kemampuan bak intelijen itu?”

”SBY seakan merana menghadapi musuh politiknya!”[1]

Sejumlah barisan para pemuda mulai memenuhi jalan, membuat Sampu tersadar dari ingatannya. Dia melirik telepon genggam dan terkejut bahwa hari itu adalah hari keramat yang dinanti-nantikan. Kemudian secara tiba-tiba terdengar bunyi yang keras dari belakang. Patung-patung yang memegang ayam goreng di timpa batu besar. Kaca-kaca mulai retak. Sesaat kemudian hujan batu dari lemparan para mahasiswa yang marah menimbulkan kericuhan di tempat yang semula nyaman untuk membaca.

”Bangsat! Kenapa aksi mahasiwa selalu dibumbui dengan aksi para pecundang yang mau dibodoh-bodohi para provokator?” gerutu Sampu sambil berlari keluar dari waralaba dan pergi mencari tempat aman.


[1] Mereka terlalu melebih-lebihkan.

———————–

Kembali ke Bab 15

Lanjut ke Bab 17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s