Babak empatbelas

“Aku membaca tulisanmu tentang novel-novel remaja di facebook! Kau terlalu sibuk mempermasalahkan hal-hal seperti itu, ya?”

“Ya, iseng saja. Kalau boleh marah, ya, saya akan marah seperti itu. Kalau orang lain marah, ya, silakan marah dengan membuat tulisan pula. Paling tidak, tindakan konyol yang aku lakukan memancing orang untuk menulis pendapatnya. Tidak ada salahnya, bukan?”

Mereka duduk di salah satu meja restoran mi aceh, yang terletak di pinggir Jalan Margonda, Kota Depok[1].

“Tapi, apa argumen-argumenmu dalam tulisan itu bisa kau pertanggungjawabkan? Bagaimana kalau pakar-pakar sastra datang dan mengklaim bahwa tulisanmu itu tidak berdasar, atau mungkin seperti kasus Gurita Cikeas, yang kontroversial sebab banyak pihak yang meragukan kebenarannya[2]. Hati-hati kalau menulis, bisa-bisa membawa malapetaka dan mencemarkan nama baik!”

“Yah, mau bagaimana lagi? Aku sudah terkontaminasi dengan dunia internet. Jadi kalau ingin mendapatkan referensi, tinggal membuka google saja. Dan aku memang sengaja memilih blog-blog orang sebagai bahan referensi, karena menurutku bahan tulisan dari blog lebih banyak mengandung unsur interpretasi daripada tulisan akademis. Interpretasi yang tinggi bisa memperkuat kearogansian dalam tulisan. Aku, kan, ingin marah. Boleh-boleh saja menggunakan sudut pandang yang sangat subjektif!”

“Ya, tapi tidak akademis!”

“Biar saja, lagipula apakah ada yang mau membaca tulisan itu?”

“Tapi kau ingin tulisan itu dibaca, kan?

“Iya, aku, kan, penggemar Max Havelaar!”

“Ya, makanya kau harus menulis dengan benar, jangan asal tulis!”

“Sudah terlanjur, Diandra. Biarlah kita tunggu sampai ada orang yang memprotes, setelah itu akan aku jelaskan. Yang terpenting, gagasannya adalah, alasan mengapa aku tidak suka dengan novel teenlit.”

“Tapi kau juga membaca buku-buku seperti itu, kan?”

“Jelas! Kalau tidak dibaca, bagaimana aku bisa menentukan sikap tidak menyukai buku itu?”

“Ah, kau orang idealis yang gagal!”

“Itu bukan masalah. Karena, untuk saat ini, yang penting adalah berani dulu untuk menulis[3]. Protes tidak diprotes, itu merupakan gejala-gejala yang datang kemudian, yang bisa memberikan gambaran tentang kebenaran dan pembenaran.”


[1] Aku suka mi aceh, tentunya mi rebus adalah pilihanku.
[2] Aku juga melihat berita itu di televisi.
[3] Akan tetapi tidak seberani seorang gadis yang suka menulis surat kepada teman penanya di negera Barat. Aku ingin tertawa dan muntah-muntah atas pernyataan ini!

————————–

Kembali ke Bab 13

Lanjut ke Bab 15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s