Babak duapuluhtujuh

“Dia begitu ingin memperlihatkan bagaimana kepedulian seorang mahasiswa, dan menguatkan diri untuk berangkat ke Sukabumi, menemui gadis itu,” ujar Sampu seraya meyulut rokok.

“Wah, dia mungkin ingin menemuinya hanya karena penasaran, bisa saja, kan?” ujar Bidong datar.

“Mana aku tahu, aku hanya mendengar cerita ini dari seorang kawan yang merupakan kawan dari kawanku. Jadi, aku sendiri tidak mengenal siapa dia.”

“Tapi, sepertinya sajak ini memiliki arti yang begitu dalam,” ujar Diandra ketika memperhatikan lembaran kertas yang diperlihatkan oleh Sampu itu sekali lagi. “Mungkin memiliki arti yang dalam untuk gadis itu.”[1]

“Itu Bahasa Sunda. Aku sudah meminta beberapa orang yang mengerti Bahasa Sunda untuk mengartikannya.”

“Apa isinya?” Tanya Bidong.[2]

“Ng, kalau tidak salah, singer itu memiliki arti mawas diri, atau bisa juga dikatakan sebagai pintar, atau cerdas. Yah, semacam itu. [3] Paduli, artinya peduli.”

“Aku tahu artinya,” ujar Diandra.

“Kau tahu?”

“Ya, begini-begini, aku mengerti juga sedikit Bahasa Sunda.”

“Artikan!”

“Sebentar, kalau aku tidak salah, dan kalau singer itu adalah mawas diri, mungkin arti dari sajak ini adalah: Introspective is aware, introspective has a meaning, not only know and understand, but there is something behind. Introspective has determination, willingness, and consciousness, there is sweat and belief. For us, the young man, we must have a power and courage. That is absolutely an introspective, academicians say it as brilliant. What we do is what society need. Therefore, we have to be aware… (or care?).” Diandra menjelaskan artinya.[4]

“Hm, tepat sekali memilih Inggris untuk mengartikannya.”

“Ya, mungkin dengan kata-kata Inggris, akan lebih tepat pengartiannya. Mungkin. Karena itu, aku mengatakan sajak ini memiliki makna yang dalam, teruntuk gadis itu, supaya gadis itu semangat belajar sehingga dia bisa masuk Universitas Indonesia.”

“Mungkin juga,” kata Sampu, kemudian mengepulkan asap rokok ke langit. “Dari cerita kawan dari kawanku itu, si orang idealis ini begitu terpesona ketika mendengar bahwa ada seorang anak SMK di Sukabumi yang ingin bertekad masuk UI. Menurutnya itu merupakan suatu hal yang jarang sekali ditemui. Karena kebanyakan pola pikir anak-anak SMK adalah setelah lulus sekolah akan kerja di mana? Jarang sekali ada anak yang ingin melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Dan kabarnya, si gadis itu meminta bantuan bukan hanya kepada satu orang, tetapi kepada banyak mahasiswa UI yang lain yang ia temui di facebook. Namun, banyak dari mereka yang membantu dengan enggan-enggan atau setengah-setangah. Kalaupun ada yang menawarkan, dengan si gadis harus mau jadi pacar si mahasiswa terlebih dahulu. Hal ini, menurut si orang idealis yang membuat sajak itu, bisa menyebabkan si gadis frustasi dan depresi sehingga menggagalkan niatnya untuk masuk universitas yang terbaik. Oleh karena itu, dia menawarkan diri untuk membantu dengan ikhlas, benar-benar membantu, seperti memberikan informasi atau bimbingan moral dan semangat. Akhirnya dia ke Sukabumi, menemui si gadis, kemudian memberikannya sebuah buku “Cara Cepat Mengerjakan Soal-soal Bahasa Inggris”. Meskipun tidak selamanya dia bisa membantu si gadis, karena ujian masuk universitas masih ada enam bulan lagi, dan tidak mungkin si mahasiswa tersebut tinggal lama di Sukabumi atau pulang pergi setiap minggu atau bulan, si mahasiswa itu beranggapan: setidaknya saya pernah membantu dengan ikhlas, datang langsung, meskipun itu hanya sedikit. Sebagai kenang-kenangan dari Sukabumi, si mahasiswa membut sebuah sajak, kemudian meminta si gadis untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Sunda. Sajak itu yang sekarang ada di tanganmu, Diandra!”

“Tulus sekali dia!” kata Diandra pelan.

“Yah, kalau memang dia ikhlas membantu, berarti dia mengerti apa itu mahasiswa!” kata Bidong tersenyum.

“Dan itu pula yang ia katakan kepada si gadis ketika gadis itu bertanya, ‘Mengapa kau mau membantu ku sampai sejauh ini?’ Mahasiswa itu menjawab, ‘Aku ingin menunjukkan bagaimana sebenarnya seorang mahasiswa itu.”

Semuanya tersenyum puas. Hening sesaat. Kemudian…

“Tapi tahukah kalian bahwa si mahasiswa itu memiliki seorang adik perempuan yang berumur sama dengan si gadis Sukabumi, memiliki harapan yang sama dengan si gadis Sukabumi, membutuhkan perhatian seorang kakak, tetapi si adik tidak mendapatkan perhatian yang dimaksud dari kakaknya, si mahasiswa yang membuat sajak itu!”[5]


[1] Memangnya ini cerita sinetron? Aku terbahak-bahak dalam hati mendengar kalimat dari si Diandra yang polos. Oh, dasar polos! Atau memang semua perempuan seperti itu? Hah!

[2] Dan dia bertanya dengan mata yang penuh semangat. Kalau menurutku, kalaupun kami tahu isi dari sajak itu, tidak akan membawa arti apa-apa bagi kami, palingan hanya sebuah nasehat dari seorang yang begitu idealis.

[3] Hei hei hei! Bukankah dalam Bahasa Inggris, singer  itu adalah penyanyi? Ck! Oh, maaf, karena sedari tadi aku sudah mengganggu kenikmatan pembaca yang budiman. Silakan lanjutkan!

[4] Dia sedikit pamer di sini. Padahal, Bahasa Inggrisnya amburadul, meskipun tidak seamburadul kemampuan Bahasa Inggrisku.

[5] Kali ini aku yang angkat bicara. Sama seperti Sampu, aku tahu bagaimana cerita detil tentang si mahasiswa yang membuat sajak itu. Setelah aku berkata, semuanya kembali berpangku tangan (mungkin berpikir), bertanya lagi (dalam hati mungkin kepada diri sendiri): sebenarnya seperti apa mahasiswa yang baik itu?

——————————

Kembali ke Bab 26

Lanjut ke Bab 28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s