Babak duapuluhtiga

Tanpa dia sadari, Diandra akhirnya membaca tulisan itu juga. Sebuah tulisan yang (sepertinya) ditulis oleh seorang mahasiswa[1]. Lembar-lembar tulisan pertama:

Mimpi aneh

Bangun pagi pukul Sembilan, aku langsung minum segelas air putih, lalu kemudian  ke WC buang air kecil. Setelah itu aku memesan  semangkuk bubur kacang ijo dan sehelai roti tawar ke warung sebelah. Ini menjadi santapan sarapan wajibku semenjak keluar dari rumah sakit.

Kakakku sudah berangkat kerja ketika aku bangun tadi. Pada detik-detik akan bangun itu, aku merasa tenggorokanku sangat perih, panas, dan sakit, persis seperti gejala demam. Aku begitu khawatir penyakitku kumat lagi. Namun ketika mata terbuka dan aku tersadar dari tidur, sakit tenggorokan itu hilang. Yang tidak mengenakkan adalah aku bermimpi dalam tidur itu. Mimpi yang aneh, dan menurutku sesungguhnya semua mimpi itu adalah aneh, tentang kejadian-kejadian masa lampau dan harapan-harapan ke depan.

Tidak begitu jelas, tetapi bisa aku katakan bahwa pada saat itu kami berada di dalam sebuah gedung olah raga. Kemudian salah seorang senior dari jurusanku melihat ke arahku. Dan anehnya, aku bisa mengerti maksud dari tatapan itu, yaitu bahwa aku adalah orang yang hanya bisa berbicara saja, tetapi omonganku itu tidak terealisasi dalam kehidupan. Jikalau diingat-ingat, kejadian di dalam mimpi itu mungkin berkaitan dengan debat yang aku ikuti dengan senior tersebut pada hari Kamis, 14 Oktober, 2010, beberapa hari yang lalu. Dia bertanya kepadaku tentang bangsa, suatu hal yang sangat jauh dari perhatianku (kalau aku boleh jujur).

Dia bertanya kepadaku bahwa kalau aku memang cinta bangsa dan negara, apa yang akan aku lakukan? Aku hanya menjawab bahwa aku akan berbuat dan membuat sesuatu yang membawa manfaat dan kebaikan bagi semuanya. Kemudian, suatu hari, dia mempermasalahkan sikapku yang tidak ikut menonton acara pertandingan sepak bola di kampus. “Kau bilang akan berbuat dan membuat. Kepedulianmu dari hal-hal yang kecil saja sangat kurang sekali. Tidak ikut menyaksikan pertandingan, di mana kepedulianmu terhadap jurusan? Rokok saja yang selalu kau hisap. Bagaimana kau bisa menjadi seorang pemimpin, yang membawa gerakan revolusi, untuk bangsa ini? Dasar banyak omong!” keluhnya.

Aku hanya tertawa seraya mengacungi jempol atas omelannya. Bagaimana mungkin, karena pertandingan itu dilaksanakan pada waktu kuliah berjalan, yaitu pukul dua siang. Aku lebih memilih untuk masuk ke kelas. Akan tetapi aku akhirnya tidak masuk kelas juga hari itu, tetapi tetap tidak menonton pertandingan bola. Hal itu disebabkan oleh tugas kuliah yang belum selesai aku kerjakan. Aku tidak mendapatkan bahan materi yang harus direview. Kawanku yang sudah selesai mengerjakannya mengatakan bahwa dia mendapatkan bahan dari Yogi, sedangkan Yogi mencari bahan itu di internet. Aku tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan tugas itu karena kelas akan dimulai 5 menit lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kelas, dan tidak mengerjakan tugas. Lagipula, dosen pada hari itu kurang mengasyikkan. Aku tidak mau ambil puisng meskipun nilai-nilai mata kuliahku yang sedang terancam karena ketertinggalanku waktu sakit tempo hari. Namun begitu, aku tidak mau waktu 2 jam itu berlalu begitu saja. Akhirnya aku pergi ke perpustakaan untuk membaca, misalnya membaca Koran. Aku membaca Koran sampai kuliah selesai. Aku berpikir, setidaknya ada sesuatu yang masuk ke dalam kepalaku hari itu. Dengan membaca koran adalah salah satu caranya. Seperti misalnya, berita tentang perkembangan nasib 33 orang penambang Cile yang berhasil diselamatkan dari bawah tanah. Mereka semua selamat dan bisa bertemu keluarga, sanak-saudara, setelah lebih dari dua bulan terjebak di bawah tanah sejauh hampir 700 meter kedalaman. Mereka kini menjadi “artis”. Piñera, Presiden Cile, menjadi megabintang karena aksi heroiknya yang memberikan keputusan untuk menyelamatkan ke 33 penambang itu.

Kembali ke mimpiku tadi. Setelah tatapan dari senit itu berlalu, kemudian ada suara perempuan yang memanggil. Namanya adalah Gaby, aku kenal dia, temanku waktu di SD dulu. Entah mengapa, dalam mimpi itu aku tidak mau menemuinya sehingga aku berlari untuk bersembunyi darinya. Aku membuka sebuah pintu kaca hitam, dan masuk ke dalam ruangan itu. Dalam ruangan, aku bertemu dengan seorang bapak yang penuh wibawa, yang mana dalam mimpi itu aku mengenalnya sebagai Pak Gubernur. Dia tersenyum.

“Maaf, Pak!” kataku dengan napas tersengal. “Saya menumpang sebentar untuk bersembunyi!”

Si Pak Gubernur hanya mengangguk.

Setelah Gaby dan satu orang temannya—yang aku tidak tahu siapa itu, tetapi di dalam mimpi itu aku mengenalnya—setelah mereka pergi jauh dari pintu, barulah aku keluar. Sebenarnya, mereka pergi karena aku member kode kepada teman Gaby itu melalui celah pintu untuk mengajak Gaby pergi menjauhi ruangan agar tidak menemukan aku. Makanya tadi aku mengatakan bahwa dalam mimpi itu aku mengenalnya, teman Gaby itu.

“Terimakasih, Pak!” Maaf mengganggu!” kataku kepada Pak Gubernur ketika akan keluar.

“Ya, tidak apa-apa!” jawab Pak Gubernur. “Lain kali, ketuk dulu pintunya sebelum masuk!”

Keluar dari ruangan, tiba-tiba aku menyadari seniorku tadi dan Gaby masih mengejar diriku. Kemudian aku merasakan sensasi berlari. Ada tembok tinggi, aku melompat dengan menggunakan teknik seorang acrobat handal, kemudian aku berjalan pelan mengendap-endap menuju penjual minuman. Pada saat itulah aku mulai merasakan tenggorakan yang sakit. Setelah membeli minuman dan meminumnya, aku seketika terbangun dari mimpi, dengan kepala pusing dan bingung. Hari menunjukkan pukul sembilan pagi.

Berbicara mengenai debat antara aku dan senior itu, aku sendiri juga bingung mengapa dia mengajak aku untuk berdebat, sedangkan aku tidak suka debat (atau bisa dibilang sedang belajar menjauhi debat, apalagi debat kusir). Dia bertanya kepadaku, Apa yang kurang dari pemimpin bangsa ini?” Aku tidak bisa menjawab. Kemudian dia memberikan penjelasan tentang moral subjektif dan tatanan etika objektif, dengan penjelasan tambahan variable x dan variable y. Aku semakin pusing dengan penjelasan ini. Aku merasa ini bukan debat, melainkan aku mendapatkan pelajaran atau ‘ceramah’ dari senior itu.

Kalau boleh jujur, aku sendiri kurang mengerti apa yang sedang kami perdebatkan dengan begitu semangat itu.

“Sejarah itu penting untuk kemajuan bangsa!” katanya.

“Saya setuju, dan saya suka sejarah!” aku menjawab.

Akan tetapi pernyataanku itu dikritik lagi olehnya dengan kata ‘tahik kucik’ karena jawabanku atas pertanyaan berikutnya.

“Kapan hari kebangkitan nasional?”

“Ng? 1 Mei!” jawabku asal. Karena, jujur saja, aku memang tidak tahu. Dan memang aku tidak tahu kapan.

“Tahik kucing!” serunya dengan keras. “Katanya suka sejarah, tapi hari kebangkitan nasional saja tidak tahu. Dasar banyak omong! Kau tidak punya kompetensi!”

“Lantas ada apa dengan hari kebangkitan nasional?” aku balik bertanya.

“Apa yang selama ini tercatat itu keliru. Aku bisa buktikan bahwa itu keliru. Terletaknya dasar akal budi sebagai pencetus suatu kebangkitan itu, adalah kebangkitan pribumi!”

Ajakan debat seperti ini mungkin suatu bentuk kaderisasi. Karena seperti yang aku dengar dari kesimpangsiuran, senior itu sedang membangun suatu kelompok, sebuah kelompok studi, untuk membuat perubahan. Yah, seperti gerakan-gerakan mahasiswa pada umumnya. Mendobrak dengan debat. Itu pernyataan yang ia katakana kepadaku ketika aku bertanya kepadanya, “Kenapa harus debat?”

Karena itu lah, aku harus mengatakan aku tidak mau (jangan sampai dikaderisasi). Karena gerakan-gerakan yang suka berdebat, aku kurang setuju (dan suatu hari aku mengutarakan hal ini kepada seniorku itu, dan baginya itu tidak masalah. “Ini tergantung prinsip masing-masing!” katanya). Tan Malaka sendiri adalah orang yang tidak suka berdebat (menurut interpretasi ku setelah membaca 3 jilid buku karangannya). Dia berdebat apabila harga diri dirinya atau harga diri bangsa dan negara tanah airnya dilecehkan. Dan itu tidak selalu. Tidak selalu. Pertanyaanya yang menusuk kepada Ir. Soekarno di Bajah saja, menurutku, itu bukanlah suatu bentuk perdebatan (meskipun hampir semua orang menganggap itu adalah debat, tetapi aku tidak). Itu hanya sebuah pertanyaan untuk mengingatkan, bahwa semangat perjuangan rakyat Indonesia tidak akan pernah luntur (saat itu). Bukankah lebih baik merebut kemerdekaan dengan keringat sendiri daripada diberi oleh Jepang? Begitu kata Tan Malaka. Itu bukanlah debat, tetapi pertanyaan yang mengingatkan.

Lagipula, debat-debat yang sering aku temui di kalangan mahasiswa sekarang hanya berujung kepada siapa menang. Aku tidak setuju itu. Bukankah yang kita butuhkan adalah sebuah solusi? Aku lebih senang menggunakan istilah diskusi. Aku punya alasan dan pemahaman sendiri. Debat, lebih banyak memiliki unsur kearogansian dalam masing-masing diri individu, dan tujuannya adalah menang. Sementara diskusi, lebih banyak memiliki unsur saling pengertian demi tercapainya solusi yang dicita-citakan. Yah, tapi memang yang namanya debat tidak akan pernah bisa dihilangkan dalam kehidupan ini. Ada kalanya kita tidak bisa menghindari debat, demi melakukan perubahan.

Aku menyadari hal itu karena aku pernah terlibat debat kusir dengan seorang kawan, yang sepertinya memiliki idealism sendiri. Debat kami waktu itu adalah tentang ideologi. Debat yang benar-benar memalukan, sampai-sampai aku harus berlalri ke rumah pamanku bercerita tentang debat itu, lalu menanyakan kepadanya argumen mana yang lebih benar, aku atau lawan debatku. Pamanku mengatakan, secara logikanya, argumenku bisa dikatakan benar dan lebih tepat. Akan tetapi dia mengatakan aku bodoh karena mau terlarut dalam debat seperti itu. Hidup ini tidak perlu debat. Sementara itu, bibiku berkata bahwa dalam kehidupan mahasiswa, hal itu adalah biasa. Banyak mahasiswa yang bersikap sok-sok idealis, di sini aku bukan menyalahkan kelompok atau pribadi tertentu, yang mencoba memiliki pemahaman sendiri, lalu suka berkoar dan hobi berdebat. Yang terpenting adalah kita jangan sampai terjebak dalam lingkaran yang tidak jelas, dalam lingkaran suatu situasi dan kondisi yang tidak seharusnya ada. Kalau memang memiliki ide atau pendapat, gunakan saja jalan yang lebih baik, dalam artian jalan itu memiliki esensi sebagai bentuk realisasi. Salah satu cara yang paling gampang adalah dengan menulis atau membentuk kelompok diskusi. Diskusi.

Dan yang menjadi suatu hal yang sangat aneh bagiku adalah, mengapa hal itu tidak aku temukan di dalam keseharianku kini? Ah, memang suatu hal yang sangat menyebalkan bagiku. Aku ingin sekali diskusi. Tidak perlu terlibat kelompok ini atau kelompok itu, terikat dengan komunitas ini komunitas itu. Cukup aku terikat saja sebagai seseorang yang memiliki status mahasiswa, terikat oleh peran yang memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan masyarakat, terikat oleh tanggung jawab dari keadaan aku seakarang. Kepentingan yang paling utama adalah kepentingan masyarakat, yang juga menjadi kepentingan karir mahasiswa. Bukan karir dalam arti gambling, tetapi karir yang sejati, karir seorang mahasiswa yang sebenarnya, karir di mana dia telah berhasil menjadi seorang pemuda yang membawa manfaat bagi semuanya, bagi masyarakat. Cukuplah aku terikat oleh kepentingan itu saja. Karena itu, aku kurang paham dengan debat—meskipun aku sering terjebak dalam debat-debat kusir—dan lebih memilih untuk diskusi, yang terkadang selalau diselingi dengan canda tawa, banyolan, dan romantisme yang tidak berujung kepada kekecewaan.

Ayolah, kita semua lebih baik berdiskusi saja. Hentikan semua bentuk perdebatan yang dapat memicu pertengkaran dan perpecahan.

 

Carmawan

 

 

Dan berikut ini adalah lembar-lembar tulisan kedua[2], yang sepertinya ditulis oleh orang yang sama, tetapi dalam waktu yang berbeda:

 

Sore hari

Ah, sakit! Sakit sekali kepalaku karena terus berpikir tentang ide-ide dan gagasan-gagasan, yang sudah lama menumpuk, terus menumpuk sehingga memenuhi ruangan kepalaku yang semakin sempit. Ide dan gagasan, yang menurutku merupakan ide dan gagasan yang baik, memiliki niat yang baik, tujuan yang baik. Mengertikah kau, wahai kertas, tentang perasaan dan kegelisahan yang aku rasakan sekarang? Bisakah kau mengerti dan memahaminya dengan merasakan getaran tanganku yang menggoreskan tinta ini di tubuhmu, bisakah kau menilainya dari kuat dan tidaknya tinta yang tertorehkan, bisakah kau mendengar suara hati yang sedari dulu, sejak aku pertama kali memijakkan kaki di gedung institusi ini, berseru dengan semangat akan bayangan-bayangan yang menarik karena ide-ide dan gagasan-gagasan ini. Aku tak menyangka bahwa ide itu sekarang ini malah membuatku merasakan sakit kepala. Sebuah ide yang begitu sederhana, hanya ide yang menginginkan terbentuknya kelompok, sebuah kelompok diskusi. Tak perlu kuantitas, yang terpenting hanya intensitas dan loyalitas. Ingin rasanya aku meneriakkan keluhan ini kelangit dan bumi, agar semua yang ada di sekitarku tahu apa yang ku inginkan, yang paling aku inginkan saat ini.

Ya, benar, memang, bahwa sebenarnya ide itu bukanlah ide dari isi kepalaku, melainkan dianjurkan oleh pamanku. Akan tetapi bukankah itu telah menjadi suatu perangsang bagi otakku untuk mewujudkannya? Sehingga aku telah memastikan sikap bahwa anjuran itu sendiri sekarang sudah menjadi milikku, bagian dari diriku, sehingga muncullah gagasan-gagasan untuk merealisasikannya.

Sesungguhnya aku tidak ingin memaksakan harus ada atau harus terbentuknya sebuah kelompok. Yang aku inginkan sesungguhnya hanyalah sebuah lingkungan yang memang mencerminkan lingkungan yang terpelajar, bukan hanya sekedar lebel lingkungan akademis. Yang aku inginkan hanyalah diskusi: semua mahasiswa berdiskusi. Akan tetapi, bukan sebuah diskusi tentang sesuatu yang basi dan monoton, sesuatu yang tidak visioner, sesuatu yang mengkungkung pola pikir. Misalnya seperti, “Apakah kita ada tugas kuliah untuk hari ini?” atau “Kau mendapat bahan materi dari jurnal yang mana?” atau “Ajarkan saya tentang kalkulus!” atau “Ajarkan saya tentang statistik, kalau tidak aku bisa mendapat nilai C!” atau “Bagaimana dengan surat undangan ke stasiun televisi ini, stasiun televisi itu?”. Memang benar kalau misalnya ada yang mengatakan bahwa diskusi seperti itu juga membawa manfaat. Tapi, ya, kembali lagi kepada permasalahan diriku yang merasa basi. Aku akui memang ini adalah suatu keburukan, memiliki sifat egois ini. Kalau misalnya sewaktu lahir dulu aku secara sadar berdialog dengan Tuhan, maka aku akan memilih untuk menjadi orang yang tidak sadar, maksudnya tidak perlu memiliki kesadaran yang terlalu tinggi. Dengan begitu, mungkin aku tidak perlu merasakan sakit seperti ini karena menemukan suatu lingkungan yang tidak sesuai dengan apa yang aku cita-citakan. Bukan, bukan diskusi yang seperti itu yang aku inginkan (aku memang orang yang terlalu perfeksionis dan meromantisme keinginan). Aku ingin diskusi yang visioner.

Pernah suatu ketika aku mendapati kawan-kawan membawa-bawa Koran dengan berita utama tentang kasus KPK atau calon kepala Polri. Perbincangan mereka tetap saja hambar karena hanya sepintas lalu. Obrolan seperti itu tidak visioner. Tidak “bergerak”. Sementara aku berkeyakinan bahwa bila kita tidak “bergerak” berarti kita mati. Kalaupun ada sesuatu yang “bergerak” itu, palingan hanya karena ada suatu pemahaman bersama bahwa “kita perlu aksi” atau turun ke jalan (yang bagiku sendiri, untuk saat ini, adalah suatu tindakan yang tidak penting. Aksi protes tidak harus turun ke jalan). “Bergerak” yang aku maksud adalah memang suatu “aksi”, tetapi aksi yang mempunyai makna untuk mengantarkan kita kepada kemajuan peradaban, bukan sekedar turun ke jalan dan ambil-ambil gambar untuk dipajang di profile pribadi facebook.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah orasi dari BEM. (atau aku yang salah mengira itu adalah organisasi BEM, tetapi tampang-tampang mahasiswa yang membawa spanduk dan toa itu adalah orang-orang yang sering berada di sekretariat mahasiswa. Dan ternyata aku salah. Orasi itu bukan dari BEM, melainkan dari sekelompok mahasiswa yang merasa disrugikan oleh suatu kejadian di kampus: perkelahian). Sebuah orasi yang berupa penolakan terhadap tindak kekerasan, dan ajakan untuk membubuhkan tanda-tangan di atas spanduk yang mereka bawa. Aku hanya berlalu saja di depan aksi spanduk itu, tidak memperhatikan seberapa banyak dan seberapa hebat antusias orang-orang (warga kampus). Aku sendiri tidak merasa tertarik, karena bukan “bergerak” seperti itu yang aku inginkan.

Aku selalu berangan-angan (seperti yang selalu dikalukan oleh Dosteyevski di sudut urangannya yang paling busuk, di tempat gelap di bawah tanah bersama tikus-tikus yang bahkan menjadi serangga pun tak sanggup), aku berangan-angan dan mengkhayalkan bahwa ada sekelompok mahasiswa duduk bersama, tanpa ada laptop atau komputer di dekat mereka (mereka tidak sedang mengerjakan tugas). Meja mereka penuh dengan abu rokok dan udara di sekitar mereka adalah asap rokok. Aku akan senang mendengar percakapan mereka yang seperti ini:

“Tadi pagi gue baca Koran SINDO, katanya otonomi BHMN mulai terkungkung karena peraturan pemerintah Nomor 66 tahun 2010!”

“Ya, bagus. Jadi uang kuliah nggak mahal lagi!”

“20% kursi untuk mahasiswa miskin berprestasi, Gan! Oke juga, tuh!”

“Tapi gue kurang setuju, karena 60% jalur masuk harus dengan SNMPTN. Kalau begitu, ujian masuk khusus akan diambil alih bagiannya. Padahal, saringan dengan ujian masuk khusus itu lebih ketat dan terjamin, kan?”

“Emang ada apa dengan SNMPTN?”

“Ya, ntar jangan-jangan joki-joki ujian makin kaya, dong? Job-nya banyak!”

“Ya, itu bukan jadi soal lah, kalau menurut gue. Yang terpenting sekarang ini adalah skala prioritas. Pendidikan kebutuhan mendesak, Gan, pokoknya uang kuliah harus murah dulu!”

“Tapi gara-gara putusan Presiden itu, otonomi kampus jadi terbatas, Boy?”

“Emang target dari setiap universitas itu apa, sih?” Asap mengepul ke udara. “Palingan hanya mengincar peringkat di taraf internasional. Hoi, menurut versi Times Higher Education, indikator untuk menjadi universitas kelas dunia itu setidaknya harus memiliki kultural riset dan publikasi ilmiah yang diakui di dunia internasional. Nah, masalahnya adalah dengan BHMN atau tanpa BHMN, universitas tetap kesulitan mengadakan proyek-proyek riset secara mandiri karena keterbatasan anggaran. Biaya riset itu gede banget, lho!? Gue baca itu di Koran SINDO hari ini, Gan! Makanya tujuh universitas BHMN, kalau ini menurut pendapat gue, menaikkan uang kuliahnya setinggi langit supaya menjadi universitas yang kaya, dan punya biaya sendiri untuk melakukan riset. Oke, sih, tapi imbasnya ke pemuda-pemuda. Nama universitas boleh saja bisa mendapat tempat di rating dunia, tapi generasi mudanya tetap saja bodoh karena tidak bisa kuliah, atau tidak bisa mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas dari universitas yang ada di negerinya sendiri. Lagiupula, menurut Koran yang gue baca itu, usaha universitas untuk melakukan riset itu agar bisa naik peringkat, nggak terlalu kelihatan perkembangannya, hanya segitu-gitu aja. Nah, nggak guna, kan? Mendingan uang kuliah dibikin murah, kasih pendidikan ke pemuda, bangsa kita akan menjadi maju karena generasi mudanya pintar-pintar. Lu, kalau menjadi rektor, maunya yang mana, nama universitas lu terkenal secara internasional sementara anak-anak bangsa lu tetap aja bodoh, atau seluruh warga Negara lu maju dan bisa bersaing di dunia internasional dengan belajar di kampus rakyat yang aksesnya gampang untuk semua anak-anak bangsa? Balik ke hati nurani aja, sih, Gan!”

Percakapan terus berlanjut hingga mata kuliah berikutnya dimulai.

Bukankan seperti itu seharusnya pemuda? Apalagi mahasiswa? KRITIS! Namun, akan sangat disayangkan apabila diskusi seperti itu hanya sebatas diskusi. Tidak ada produksi atau dokumentasi. Tahukan kau, wahai kertas, mengapa kerja keras mahasiswa 98 tidak begitu terasa hingga masa sekarang (reformasi belum memberikan kenikmatannya)? Karena tidak ada dokumentasi. Dokumentasi momen 98 itu begitu sangat kurangnya. Itu yang aku dengar dari para ahli-ahli yang sangat idealis.

 Alangkah bagusnya diskusi yang aku contohkan itu menjadi kebiasaan (dan dibiasakan), dilakukan dengan tatanan yang baik, secara intens, dilengkapi dengan tenaga pencatat dan dokumentasi. Mahasiswa yang ikut berdiskusi harus menulis, kemudian menyebarkan opini untuk menularkan semangat kritis kepada seluruh warga kampus. Hal itu pun harus didokumentasikan, diarsipkan, karena suatu saat akan menjadi bagian dari sejarah. Diskusi untuk menemukan kesimpulan, opini yang baik, solusi, dan titik terang. Bukan untuk menjadi “oposisi” dalam tanda kutip.

Karena itu aku begitu bernafsu membentuk kelompok diskusi, kelompok yang seperti itu, yang terus “bergerak” karena aksi mereka memiliki arti, visioner, dengan visi dan misi yang jelas, yang berkelanjutan dengan didukung oleh adanya arsip, dokumentasi, publikasi, dan produksi, dan berjalan di ranah edukasi.

Kegiatan-kegiatan seperti itu tidak perlu harus besar dan “wah”. Cukup kecil-kecil saja, tapi memiliki intensitas yang tinggi. Aku yakin, penggerak-penggerak kebudayaan, sastrawan, seniman, periset, dan aktivis-aktivis di lingkungan akademis non-akademis yang sudah lebih dahulu berjuang dari pemuda-pemuda saat ini, sedang menanti aksi-aksi pemuda-pemuda yang seperti ini: AKSI dan DISKUSI untuk mengkritisi dan mencari solusi dari masalah-masalah yang ada di masyarakat.

Buku-buku, tulisan-tulisan, atau majalah-majalah yang sekarang beredar di kampusku ini, aku rasa masih kurang. Belum cukup sama sekali. Kita butuh lebih banyak tulisan, bahan bacaan dari mahasiswa sendiri yang visioner itu. Kalau perlu, biar lebih gila dan lebih “bergerak” lagi, semua mahasiswa dan semua pemuda menulis, menulis di lembaran-lembaran kertas (tulisan tangan, tak perlu diketik). KRITIS! Menulis argumen mereka, menulis opini, pandangan, ide-ide dan gagasan-gagasan, lalu memberikan solusi, atau setidaknya membuka sedikit celah untuk menuju solusi, sebarkan kepada kawan-kawan, dosen-dosen, guru besar-guru besar (dan tegaskan bahwa kita pemuda juga bisa menulis dan berpendapat dengan baik), kepada ibu/bapak, adik-adik, pacar, dan kepada masyarakat seluruhnya. Tulisan-tulisan dari buah pemikiran kaum muda, yang muncul karena belajar di kampus, karena membaca, karena diskusi, karena memiliki kesadaran dan resistensi, karena semangat ingin “bergerak”, karena ingin menjadi sosok mahasiswa yang oke, yang jitu, agen perubahan yang dapat dipercaya.

Tidak perlu kita berdebat, Kawan! (aku ingin sekali mengatakan kalimat itu kepada siapa saja, Kertas!). Karena debat membuat jiwa dan pikiran kita mati. Karena debat penuh dengan keegoisan dan arogansi, dan obesesi yang terkadang tidak baik.

Berkaitan dengan harapanku ini, aku teringat 3M dari Aa Gym, yaitu (1) Mulai dari diri sendiri, (2) Mulai dari hal-hal yang kecil, (3) Mulai dari saat ini.

Aku sudah menulis, dan berdiskusi dengan kegelisahan hati. Aku butuh momentum untuk berdiskusi. Seandainya keinginan-keinginan ku ini dapat dibaca oleh semua orang. Seandainya!

Seandainya, kuulangi lagi, seandainya semuanya bisa menjadi kenyataan, hidupku akan menjadi senang dan penuh warna.

 

Carmawan


[1] Dan percayalah bahwa tulisan yang akan dibaca oleh Diandra ini cukup panjang!

[2] Aku yakin bahwa sampai sini kau sudah mulai bosan dengan tulisan yang memang aneh ini. Dan ketika kau membaca lembaran-lembaran berikutnya, kau mungkin akan tertawa karena keanehannya. Ya, aku sendiri tertawa, karena penulis tulisan di lembar-lembaran itu terlalu berharap dapat membuat situasi dan kondisi seperti drama filem GIE. Dasar bodoh!

————————–

Kembali ke Bab 22

Lanjut ke Bab 24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s