Babak duapuluhsatu

Terkadang sulit menghindari suatu situasi dan kondisi yang rawan menjebak kita. Jebakan ini bisa membuat suatu ketenangan manusia tersesat dalam suatu arah yang keliru. Biasanya, bagi orang-orang pintar, situasi seperti ini bisa dimanfaatkan. Bahkan, jiwa-jiwa pemuda besertaan dengan semangatnya, bisa menjadi senjata bagi-bagi tokoh-tokoh publik untuk menyukseskan visi, misi dan strategi mereka. Tak bisa dipungkiri, terkadang mahasiswa pun buta dalam menyikapi situasi dan kondisi seperti ini.

Sebenarnya kembali kepada hati nurani, Saudara! Karena hati nurani tidak akan membiarkan kita terjebak dalam situasi dan kondisi yang, kalau boleh saya katakan, sebagai situasi dan kondisi yang seharusnya tidak perlu ada. Coba bayangkan, mereka turun ke jalan untuk mengorasikan sesuatu tanpa dasar dan falsafah! Ya, saya tahu bahwa tidak semuanya seperti itu. Akan tetapi bukankah kita mempermasalahkan mereka-mereka yang tidak sadar akan situasi dan kondisi itu? Mereka mau menerima begitu saja tipu muslihat orang-orang pintar untuk melakukan gerakan yang tidak seharusnya dilakukan. Kau mengerti maksudku, bukan? Ya, partai-partai memanfaatkan jiwa-jiwa muda, karena apa? Karena pemuda-pemuda itu punya kekuatan. Kekuatan-kekutan ini lah yang kemudian ditransformasikan menjadi kekuatan partai, demi kejayaan partai. Karena itu, dasar dam falsafah bangsa menjadi tertutupi dan gerakan yang dilakukan lebih mementingkan mandat dari partai. Makanya, saya sendiri kasihan melihat pemuda-pemuda yang mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang ‘cerdas’ ini.

Itu baru satu contoh, Saudara. Pengarahan ke jalan yang penuh keliru ini, ke situasi dan kondisi yang tidak layak ada ini, banyak dimanfaatkan oleh siapapun. Hal ini terdorong oleh adanya kepentingan-kepentingan. Misalnya, media juga memanfaatkan situasi dan kondisi ini, memanfaatkan ketidaksadaran masyarakat dan ketiadaan jiwa kritis dari masyarakat itu. Untuk apa? Untuk kepentingan yang dimiliki oleh lembaga-lembaga yang bergerak dengan media ini, atau demi kepentingan media itu sendiri. Yang sangat disayangkan adalah, umumnya kepentingan itu tidak pernah jauh dari uang. Uang, Saudara! Asalkan kau tahu, karena uang, orang merelakan dirinya terjebak dalam situasi dan kondisi itu, yang keliru ini. Jadi masalahnya memang timbal balik. Orang memanfaatkan jiwa semangat dan ketidaksadaran orang lain demi uang, dan orang yang terjebak itu membiarkan dirinya tetap terjebak juga karena uang. Namun uang bukan satu-satunya penyebab, masih banyak penyebab-penyebab lain mengapa orang mau terjebak dan menjebak. Kalau saya dipaksa untuk menyebutkan contoh penyebab lain, saya akan mengatakan eksistensi. Mereka yang mau menjebak atau dijebak ini menginginkan pengakuan dari lingkungannya. Kau bisa langsung menerawang contoh ini? Ya, banyak dari anak-anak muda, yang memiliki obsesi untuk diakui, meninggalkan kewajibannya yang semestinya demi eksistensi ini. Salah satu orang yang baik pernah berkata, dengan kau menjadi seorang mahasiswa yang baik, itu berarti telah memenuhi 50% tuntutan kewajiban sebagai mahasiswa. Sedangkan 50% yang lain, harus kau dapatkan dari memahami masyarakat, kemudian buatlah sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat itu. 50% yang lain ini merupakan pemikiran dari diri saya sendiri. Nah, yang harus kita perhatikan adalah, bahwa akan lebih baik jika kita menuntaskan 50% yang pertama. Sama halnya dengan sebuah gelas dengan ketinggian 10 cm, apabila akan diisi penuh, pasti yang lebih dulu disentuh oleh air adalah 5 cm yang ada di bagian bawah (karena tidak mungkin air bisa melayang. Dan meskipun bisa melayang, itu adalah suatu hal yang berbeda lagi pembahasannya). Setelah itu, baru  air akan memenuhi gelas dengan menyentuh 5 cm gelas bagian atas. Begitu pula dengan 50% kewajiban yang lebih dulu harus dituntaskan oleh mahasiswa ini, 50% itu berada di bagian bawah gelas. Apa itu, 50% yang menjadi tuntutan wajib seorang mahasiswa? Ya, bolehlah saya katakan 50% kewajiban itu adalah menuntaskan kewajiban akademisnya dengan baik. Dengan baik, Saudara, baik dalam proses dan hasilnya. Sekarang, katakan kepada saya, apakah membolos pertemuan dengan seorang dosen, atau membolos menghadapi ketidakasikan mata kuliah di kelas, dan lebih memilih bertandang ke ruang sekretarian organisasi untuk merancang suatu kegiatan ekstra adalah tingkah laku yang baik dalam menuntaskan kewajiban 50% pertama? Tentu saja tidak. Yang baik adalah mahasiswa tersebut harus masuk kelas, hadapi dosen dan pelajaran, lalu melanjutkan kegitannya setelah kelas selesai. Nah, mengapa situasi dan kondisi seperti ini bisa terjadi? Ya, karena tuntutan eksistensi yang mengobsesi tadi. Kau tahu, ada pemuda-pemuda, yang demi memenuhi ego eksistensinya itu, mengambil semua peran dalam semua kegiatan dan aktivitas yang ada. Ini sebenarnya dia terjebak dalam menyikapi permintaan atau godaan, dan dia tidak sadar bahwa kredibilitas yang sedang dia pertaruhkan. Bayangkan saja, karena terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan, menjabat dan mengemban tanggung jawab sebagai panitia dari banyak kepanitiaan, dari kegiatan ini hingga kegiatan itu, waktunya habis dengan penuh kegiatan ekstra dan terpaksa menelantarkan kewajiban akademisnya. Karena apa? Karena dia ingin eksis dan ingin “aktif”, tetapi tidak menggunakan hati nurani sehingga dia dimanfaatkan oleh suatu kekuasaan yang tidak terlihat. Dia diperbudak oleh ego, dijebak oleh situasi dan kondisi yang keliru itu, yang seharusnya tidak perlu ada itu.

Ya, memang tidak semua mahasiswa atau pemuda seperti itu. Bukankah saya sedang memberikan contoh, Saudara?

Mengenai contoh tadi, sebenarnya kita sedang membicarakan suatu hal yang berkaitan dengan state-of-the-art. Seorang pemuda yang apa dan bagaimana diri kita?

Contoh lain? Kau begitu banyak meminta contoh, Saudara. Ya, misalnya seperti kasus seorang guru besar yang melakukan plagiarisme dan terpaksa meninggalkan gelar guru besarnya itu. Dia tidak memperhitungkan kredibilitas, atau dengan kata lain, dia terjebak karena tuntutan-tuntutan itu sehingga dia mengambil jalan pintas dengan melakukan suatu proses yang tidak baik. State-of-the-art­ tidak kawin dengan hati nurani dan jiwanya. Apakah ini masalah eksistensi dan ingin diakui sebagai orang yang hebat dalam menulis? Bisa jadi. Dan bisa jadi pula itu karena ego dalam diri yang tidak bisa dikontrol.

Contoh tuntutan eksistensi lain? Banyak. Misalnya media atau stasiun televisi, Saudara. Contoh kali ini adalah contoh pihak yang pintar dan memanfaatkan ketidaksadaran orang dengan rawannya situasi dan kondisi yang keliru itu. Ya, mereka memanfaatkan ketidaksadaran itu, biasanya dengan berita-berita atau acara-acara televisi yang menyebabkan masyarakat semakin larut dalam kekeliruan. Banyak tontonan-tontonan yang seharusnya tidak perlu, dibuat dengan dilebih-lebihkan. Mengapa mereka menyajikan itu? Karena mereka butuh pengakuan dari masyarakat bahwa mereka adalah stasiun televisi yang layak untuk ditonton, atau mereka ingin mendapatkan pengakuan dari para pakar bahwa mereka adalah stasiun televisi yang paling banyak diminati. Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan memastikan setiap acara televisi mereka ditonton oleh masyarakat, mendapatkan rating yang tinggi. Oleh karena itu banyak acara dari stasiun-stasiun televisi yang memanfaatkan situasi dan kondisi ketidaksadaran ini. Mereka menyajikan acara yang mengundang tangis, atau acara-acara yang dapat menggugah perasaan, yang terkadang kemasannya dilebih-lebihkan. Acara dengan label realita disajikan dengan sedikit skenario dan kebohongan. Acara cerita dibuat dengan tema yang monoton karena sesuai dengan selera masyarakat yang sudah terkontaminasi pikirannya dengan keadaan yang monoton itu. Ya, benar sekali, bisa juga hal seperti ini terjadi karena motif uang, bisa jadi stasiun televisi tersebut ingin kaya. Namun kalau ingin kaya, tentu mereka harus mendapat pengakuan terlebih dahulu sehingga banyak iklan yang mampir dan uang pun mengalir. Sungguh disayangkan, masyarakat larut dengan situasi dan kondisi yang keliru ini. Stasiun-stasiun televisi merupakan lembaga yang pintar, yang menyadari hal ini, kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan yang mereka miliki.

Begitulah, Saudara, bahwa kita sebenarnya terancam oleh situasi dan kondisi yang keliru ini, yang bisa-bisa menjebak kita dalam suatu ruang dan kejadian yang tidak seharusnya ada. Bisa jadi, Saudara, saya bercerita seperti ini karena terjebak dalam situasi seperti itu. Karena tuntutan ego yang ada di dalam diri, dengan menggebu-gebu saya berkoar hingga mulut basah. Atau bisa jadi pula, kau yang terjebak dalam situasi dan kondisi yang keliru itu. Karena ketidaksadaranmu, kau mau dibodoh-bodohi oleh omongan ini, oleh saya. Atau, mungkin — dan tingkat kemungkinannya juga cukup besar) — bahwa kita berdua sedang terjebak dalam situasi dan kondisi itu.

—————————-

Kembali ke Bab 20

Lanjut ke Bab 22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s