Babak duapuluhlima

Catatan pertama:

Dua Kota Paku Payung mengingatkan saya. Ya, benar. Ujungnya yang tajam seperti menggelitik saya untuk kembali meninjau ke arah yang berlawanan dari sejurus pandang personal. Padahal sudah dinyatakan bahwa apa yang dikenal sebagai bahagia itu adalah sesuatu yang secara nyata dirasakan apabila berbagi. Percuma saja melawan arus karena itu sungguh mustahil, dan topi berwarna jeruk itu tidak akan bisa kembali kita raih.

Sudah banyak tanda-tanda yang saya lemparkan kepada orang-orang yang tidak bisa tidur di tengah malam, karena saya yakin mata mereka diterangi oleh cahaya yang terbatas kaca, bahwa memang substansi dalam diri individu itu selalu berubah sehingga akan banyak pula terjadi perubahan pada lingkungan otoritasnya. Bolehlah saya beberkan ucapan maaf karena meninggalkan halaman ini untuk sementara waktu karena suatu hal yang memang harus mendapatkan fokus perhataian dari kami semua. Dan tidak ada salahnya pula yang lain berkata bahwa kita semua satu bagian, sudah satu peran, dan memiliki tanggung jawab yang sama. Namun bukankah suat hal yang benar bahwa sedikit perubahan itu adalah suatu hal yang menjanjikan apabila bisa dinikmati sedikit saja. Ayolah, jangan sampai saya, oh, bukan, kami, atau lebih baik saya sebut kita saja, kembali menuliskan gaya bertutur bahasa lama yang begitu membosankan. Bukan, bukan karena saya ingin menarik perhatian di sini, menarik perhatian itu kembali kepada kodrat individu sebagai bagian dari society, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan di sini.

Bukankah saya hanya bertanya tentang cerita-cerita menarik dengan gaya berbahasa yang sopan kepada ibu-ibu, saya menyebutnya sebagai ibu-ibu karena dia, sama seperti saya, sudah mengalami sedikit perubahan, dan mengatakannya ibu-ibu merupakan suatu langkah menikmati dari diri saya sendiri, dan saya berharap bahwa emosi-emosi yang bisa tersampaikan dengan dua tanda baca saja dapat saya lihat dan saya nikmati pula sehingga komunikasi kita menjadi lancar. Ya, kembali lagi kepada kodrat itu tadi, kita butuh apa yang dinamakan berbagi.

Catatan kedua:

Kalau memang sudah dihinggapi penyakit, seluruh kemampuan yang dimiliki tidak akan berguna. Akan tetapi ada satu masalah yang lebih parah dari penyakit, yaitu mencari-cari penyakit. Seperti yang dilakukan oleh seorang sarjana cumlaude di tahun 1990-an, dimana dia adalah seorang anak yang memiliki segalanya, malah mencari-cari penyakit dengan membakar uang, kartu identitas, dan memilih untuk berjalan kaki ke Alaska. Lambat laun, penyakit yang sebenarnya datang tanpa disadari, kalaupun memang sudah disadari, hal itu adalah sesuatu yang terlambat. Karena kentang liar memiliki racun yang mematikan.

Ah, karena hambatan-hambatan, salah satunya adalah penyakit-penyakit, beberapa hal yang bisa kita lihat dengan sempurna segera, terpaksa tertunda. Padahal, kau akan berdecak kagum ketika melihat semuanya selesai, dan saya akan berada dalam daftar nama orang paling intelektual sejagat karena bentuk-bentuk hasil dari keterbatasan pengetahuan. Ya, lagi-lagi ini karena permasalahan paham. Seperti diskusi yang kita ikuti beberapa hari yang lalu, seminggu yang lalu, tepatnya. Kita semua sepakat bahwa yang menjadi pelaku utama adalah pasar, bahkan anak-anak kiri yang berada dilingkungan kanan (istilah mereka, di mana pemahaman mereka sendiri saja sudah salah sama sekali), kau tahu maksudku, yaitu anak-anak yang mengaku marxis di tengah ranah Adam Smith (pernyataan ini sedikit lebih mendekati kenyataan), bahwa mereka ikut tertawa karena mendengar guyonan calon sastrawan yang membahas cerita-cerita kejahatan yang menjadi kajian anak-anak sosial. Ya, kembali lagi pahamnya itu, yang berbeda, yang tadi saya katakan, yang bahkan oleh anak filsafat pun sangat sulit untuk menjelaskannya, karena pada dasarnya, seorang anak filsafat yang saya kenal itu membenci apa yang namanya struktur. Ya, hal itu masih bisa kita maklumi, daripada mengoar-koarkan sebuah pergerakan dengan kata hati, namun padahal apa yang sedang dilakukan adalah sesuatu yang terlalu pragmatis. Ya, kembali lagi kepada yang tadi, pelakunya adalah pasar. Seperti yang saya katakan, padahal pengetahuan begitu terbatas, namun karena ulah pelaku, saya bisa terkenal dan dikenal seluruh dunia. Sesungguhnya ada satu pelaku lagi yang mempunyai peran begitu penting di sini.

Teman pelaku itu sempat kami ejawantahkan dalam suatu tindakan, yang bagi sebagian orang adalah suatu tindakan yang dianggap sebagai suatu kegiatan menarik perhatian, atau bagi yang lain hal itu adalah tindakan yang gila, dan bagi yang lain, tindakan itu adalah sesuatu yang basi. Akan tetapi ada juga yang memuji-muji tindakan itu, orang-orang yang mengerti bahwa revolusi masa kini itu bukan lah lagi suatu romantisme revolusi lama. Karena sudah dijelaskan bahwa dalam kitab-kitab, bahkan dari kitab yang dibuat oleh seseorang yang terjebak dalam lingkungan lama, yang sangat mengagungkan pertentangan dan logika dalam masalah berdasarkan benda, dikatakan bahwa sesuatu itu akan terus bergerak, dan karenanya kita harus dapat menyesuaikan dengan lingkungan yang ada, baik situasi, kondisi, dan waktu. Kalau saya sendiri lebih memilih untuk mengistilahkannya dengan sebutan strategi. Semuanya tidak dapat dilihat dengan kacamatakuda, bukankah seperti itu yang dikatakan oleh para visioner? Yang dituntut sekarang adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan rotan dan kayu yang tumbuh dilingkungan sekitar kita, demi mencapai cita-cita yang baik itu, dan pada dasarnya lingkungan otoritas, sekali lagi saya tegaskan bahwa lingkungan otoritas, adalah suatu hal yang berbeda dari lingkungan sekitar kita yang sedang kalian pikirkan, bahwa lingkungan otoritas tersebut haruslah dikemas dengan baik terlebih dahulu, baru setelah itu kita mulai melangkah keluar, dengan memanfaatkan apa yang ada itu, lebih tepatnya memberdayakan. Salah satu yang bisa kita perdaya adalah teman pelaku tersebut.

Nah, yang menjadi fokus perhataian untuk saat ini adalah bagaimana mendapatkan strategi untuk mengatasi penyakit-penyakit ini. Sepertinya hidup kami sangat pas dengan tokoh yang dikenal seluruh Asia itu, dalam pelariannya yang terus menerus diincar oleh agen-agen Inggris, harus diiringi dengan penyakitnya yang hanya bisa disembuhkan oleh racikan rahasia tabib Tiongkok. Akan tetapi terdapat juga banyak perbedaan dalam banyak hal, antara kami dengan dirinya. Yang sama hanyalah kami dan dirinya benar-benar terjebak dalam penyakit ini.

Pernah seorang teman kita berkata bahwa kalau kau ingin menjadi seorang orator unggul, yang bisa menggerakkan massa dalam sebuah aksi menuju pusat kota, kau tidak boleh galau. Ya, tentu saja semua pikiran kita akan tertuju dengan apa yang dinamakan… ah, sudahlah, enggan rasanya tulisan ini dinodai oleh sesuatu yang tida perlu kita sebut. Namun, sesuatu itu adalah penting. Meskipun dalam pemikiran yang digagas oleh Che Guevara Asia, yang mengatakan bahwa “sesuatu yang tidak bisa disebutkan” itu (karena pertimbangan pandangan yang tidak mengenakkan) adalah sesuatu yang harus disisihkan terlebih dahulu karena akan menghambat dan menambah beban (karena itu saya, sesungguhnya, ingin mengatakan bahwa “sesuatu yang tidak bisa disebutkan” itu membuat gerakan yang hebat itu berhenti). Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya, seringan-ringannya? Ia tak boleh diberatkan oleh benda yang lahir, seperti buku ataupun pakaian. Hatinya terutama tak boleh diikat oleh anak isteri, keluarga serta handai tolan. Dia haruslah bersikap dan bertindak sebagai “marsuse’’ (angkatan militer siap gempur – catatan editor) yang setiap detik siap sedia buat berangkat, meninggalkan apa yang bisa mengikat dirinya lahir dan batin. (Tan Malaka, 1943). Baiklah kita jangan terpaku pada pelarian politik, dan mungkin akan terasa lebih menyenangkan apabila kita mengistilahkannya sebagai orang yang bergerak.

Ya, “sesuatu yang tidak bisa disebutkan” itu seperti menjadi momok bagi keberlangsungan jiwa-bergerak. Dan mungkin itu juga yang menyebabkan si sarjana cumlaude itu memutuskan untuk pergi, meninggalkan society sendiri di belakangnya. Bahkan ketika seorang tua berniat untuk mengangkatnya menjadi cucu, ego dalam diri untuk sendiri itu malah akhirnya membunuh cita-cita yang pada dasarnya adalah suatu yang kritis. Kau tahu, bapak yang tua itu berkata dengan tenang, namun dengan seketika kata-katanya itu menampar kami sehingga kami harus kembali membuka buku tentang esensi hubungan antara individu dengan society. However we are stuck in a problem because of something we hate, God is still and always there. When you forgive, you are to “something that can not be mentioned”. When you are to “something that can not be mentioned”, then God will provide light in your heart. Nah, jelas sudah, ternyata, meskipun mungkin akan memperburuk halaman ini karena suasana yang begitu sentimentil dan berkaitan dengan sesuatu yang tidak bisa memposisikan kita dengan peran penggerak, di tambah lagi kalimat yang baru saja terlontarkan itu adalah karangan dengan pengaruh jiplakan sedikit saja, sesuatu yang tidak bisa disebutkan itu tetap menjadi penting. Karena dia berasal dari hati. Seperti yang kita tahu bahwa senjata paling mutakhir di dunia ini adalah otak (pikiran), dan satu-satunya yang bisa mengontrol senjata itu adalah hati (perasaan). Ingat, paragraf ini bukan bagian dari romantisme karena telah melihat video atau foto-foto yang begitu mempesona dan kemudian kami iri tidak bisa melakukan hal sedemikian rupa. Tidak, tidak, sesuatu yang kami mengerti lebih mendalam dari pada yang dipikirkan oleh mereka-mereka yang memegang kembang api di tangan kanan dan BB di tangan kiri. Kami melihat, kita melihat lebih luas dari mereka yang menyandang jacket almamater, menyanyikan Totalitas Perjuangan, mencoret lantai dan dinding, menghujat-hujat para pejabat. Kami lebih luas dan lebih dalam. Ya, maksud saya adalah kita.

Yah, kalau saja kita hidup dalam lingkungan yang memang harus menuntut kepopuleran, tentunya tidak akan sesulit ini. Karena meskipun sesuatu yang nyata terlihat oleh mata adalah populer menduduki bangku teratas, sesungguhnya yang dituntut adalah kesadaran. Apa yang kita lakukan, meskipun kecil, akan menjadi sesuatu yang begitu berarti ketika apa yang kita lakukan itu terjadi secara masif, karena dia akan berubah menjadi suatu pergerakan. Ingat, pergerakan di sini  bukan berarti harus menjatuhkan atap gedung dewan rakyat. Kembali saja kepada esensi kata dasarnya, yaitu tidak diam. Dan jadikan tujuan dan keinginan semua orang sebagai dasar, yaitu kesejahteraan. Itu yang kita istilahkan sebagai pergerakan.

Diselimuti penyakit, terpaksa membuka bahan bacaan dalam keadaan badan menggigil dan ditakuti bayang-bayang seperti yang dialami oleh sarjana cumlaude itu. Keracunan ditengah hutan, sendirian. Sehingga mengakui juga, akhirnya, bahwa bahagia itu akan terasa nyata ketika berbagi.

Catatan ketiga:

kami mohon dengarlah dan resapilah

maka tidak akan ada pertanyaan mengapa

kami melakukan ini karena ada lumpur di bawah semak

maka kepala akan mengangguk dengan setuju

kami mohon simaklah

jangan muak dengan tingkah laku kami

yang begitu mengganggu

yang begitu mengganggu

yang begitu mengganggu

***

Catatan keempat

Enam puluh dua menit lagi saya akan berangkat ke Sukabumi, terpaksa harus menguat-kuatkan diri meskipun meriang di badan masih terasa, dengan harapan akan mendapatkan pengalaman baru dan menemukan bahan-bahan untuk tulisan. Ada, satu hal,  yang sedikit membuat saya berpikir adalah, saya merindukan gadis pujaan saya. Semoga saja dia sehat selalu dan semangat di tiap jamnya dan semakin nyaman di kampusnya. Sukses buat sayangku tercinta.

Biasanya saya akan merangkaikan kata-kata dalam berbagai eksperimen permainan kata, seperti sajak atau puisi. Akan tetapi kali ini saya lebih memilih dengan menulis peragraf karena di dalam kepala saya terngiang-ngiang suara-suara seorang yang sangat karismatik dan menyampaikan ceritanya dengan pentuturan panjang lebar namun memesona. Panjang lebar, karena itu saya memilih tulisan yang panjang lebar pula.

Saya sering bermelan-kolis tanpa disadari, dan biasanya saya baru akan menyadarinya setelah sesuatu yang saya buat itu berlalu beberapa menit setelahnya, ketika saya kembali sadar dalam pikiran orang lain pada umumnya, seketika pula saya berkata dalam hati, “Baru saja tadi saya bermelan-kolis tanpa disadari!” Dan mungkin saja, ketika saya sedang menulis ini, saya sedang bermelan-kolis atau meromantisme keadaan, melakukan suatu aktivitas “The Dramatization of Evil”–nya Tannenbaum. Itu terserah kepada saudara-saudara untuk menilainya; menurut hemat saya, tidak ada unsur romantisme atau melan-kolis di sini, karena lima puluh tiga menit lagi saya akan ke Sukabumi untuk mencari bahan tulisan.

Saya sering mengumpati orang-orang yang suka bermelan-kolis, membuat lagu atau puisi-puisi yang mencerminkan perasaan dan pikiran mereka serta jati diri. Hal ini saya lakukan karena saya merasa mereka telah melakukan yang paling tidak saya senangi, yaitu “dramatisasi durjana”, yang akhirnya dapat membawa kita ke suatu pengertian yang keliru dalam berkegiatan, seperti seni, humaniora, atau disiplin ilmu lainnya, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sangat ironis sekali, bahwa saya sendiri terkadang memang sering pula bermelan-kolis. Dan ini pun menjadi penegasan dari sebuah pepatah “tak ada gading yang tak retak” serta menegaskan pula kalimat “kita ini manusia”. Namun, setidaknya saya tahu dan “melek” bahwa apa yang saya lakukan dalam ketentuan tertentu adalah keliru.

Ini yang saya maksud sebagai “melek” mata. Di antara para pelaku-pelaku yang keliru itu, ada satu orang yang “melek” yang berusaha mengangkat isu tersebut, meskipun dia adalah salah satu orang yang melakukan kekeliuran tersebut. Namun, paling tidak dia sadar bahwa yang sedang dia lakukan sehari-hari atau apa yang sedang dilakukan oleh lingkungannya adalah keliru. Hal ini diharapkan dengan dia mengangkat isu tersebut, mulai untuk “melek” mata, akan terjadi suatu langkah perubahan menuju sisi yang lebih baik.

Nah, begitu lah yang saya lakukan dalam keseharian saya, setelah merasa muak melihat berbagai akun orang lain: status, menilai note-note yang mereka buat, foto-foto, dan sebagainya yang saya rasa terlalu mendramatisir. Contohnya, saya pernah melihat seseorang membuat puisi tentang kesedihan, penyesalan, dan kemarahan serta kekecewaan dalam belasan karya selama satu minggu. Tema tidak berubah, penggunaan bahasa juga monoton, serta bermakna gamblang dan disajikan dengan tidak cerdas. Mengapa saya berani berkata seperti itu, ya, karena saya tahu sebab saya telah belajar bagaimana cara menilai karya dari salah seorang seniman yang paling angkuh di dunia ini. Dan semua yang saya lihat, adalah hasil dari romantisme yang tak berarti dan tertipukan. Begitulah, dan tiga puluh delapan menit lagi saya akan berangkat ke stasiun UI menuju Sukabumi.

Sajak yang saya buat beberapa hari yang lalu, “Memang tak etis menghina suatu kreativitas, diukir dan dirancang dengan kerja keras, dan bersemayamlah di dalamnya nafas-nafas, pujian massa adalah bayaran impas” [Jangan Yang Biasa, Mei, 2010]

Tetapi semua orang butuh suatu karya yang baik dan berwarna baru, bukanlah suatu karya biasa yang tidak memberikan pencerahan serta penyampaian yang cerdas. Boleh saja di sana (dalam karya itu) menekankan moral, tetapi tolong sampaikan dengan cerdas dan sastrawi, bukan artifisial: jangan gamblang. Dalam hal ini saya benar-benar meminta tolong kepada pihak-pihak terkait. Karena mata saya sudah perih melihat tulisan-tulisan, foto-foto, dan sebagainya yang bahkan tidak membawa kepuasan bagi saya sendiri.

Sekali lagi saya tegaskan, tulisan ini bukanlah suatu bentuk dari romantisme atau dramatisasi durjana, seperti yang telah saya terangkan. Karena saya sadar sedang menulis apa, dan sadar apa yang sedang saya protes. Karena sebentar lagi, tiga puluh lima menit lagi saya akan ke Sukabumi.

Ini adalah pendapat dan opini pribadi, Saudara-saudara! Karena itu saya menggunakan sudut pandang total seratus persen secara subjektif. Apabila ada yang kurang berkenan, silakan tumbangkan dan hancurleburkan pendapat saya ini melalui tulisan. Karena kata para seniman hebat yang pernah saya lihat di tengah Ibukota, “Intelektualitas harus dilawan dengan intelektualitas; tulisan lawan dengan tulisan, bukan dengan peraturan dan celaan!”

Begitulah, tiga puluh dua menit lagi saya akan ke Sukabumi.

Bukankah semestinya Saudara sekalian sadari bahwa tulisan ini adalah bentuk dari ketidakpuasan diri dalam lingkungan kita ini. Sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi yang oleh kita sendiri tak dapat untuk dimengerti.

——————————–

Kembali ke Bab 24

Lanjut ke Bab 26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s