Babak duapuluhdelapan

Suatu sore, Diandra baru saja kembali dari Mangga Dua, turun dari kereta di Satsiun UI. Ketika dia hendak menunggu bis kuning, dia melihat Bidong sedang duduk di halte: membaca.

“Hei, sedang baca apa?” sapanya.

“Hei, dari mana?” kata Bidong seraya memperbaiki letak kacamatanya.

“Baru saja dari Mangga Dua. Aku harus ke kampus sekarang, teman yang lain menunggu. Kau sedang baca apa?”

“Oh, ini cerita yang sedang dibuat oleh kawanku. Dia memintaku untuk membacanya, mungkin ada saran atau kritik.”

“Oh, ya? Bagaimana ceritanya, boleh aku baca?”

“Boleh saja. Nih!”

“Ah, tapi aku harus ke kampus. Boleh aku bawa? Nanti sore aku kembalikan.”

“Bawa saja. Lagipula aku punya copy-annya di kosan!” kata Bidong tersenyum.

“Baiklah, aku bawa, ya!?” kata Diandra, kemudian pergi dengan tergesa-gesa.

***

Di kampus teknik, ketika Diandra telah selesai urusannya dengan teman-teman yang lain, dia duduk di kantin dan muai membaca lembaran yang didapatnya dari Bidong.

Teka-teki Sastra

“Aku boleh duduk di sini?” tanya Zini, sebisa mungkin dengan kalimat yang terdengar akrab.

“Ya, silakan!” kata anak laki-laki itu.

Zini duduk di seberang meja, membuka halaman buku yang dia bawa secara asal, dan membentangkannya di atas meja. Akan tetapi matanya masih tertuju ke arah anak laki-laki itu. Si anak laki-laki kelihatnnya menyadari tingkah Zini sehingga dia mengerling matanya ke arah Zini. Gadis itu jadi salah tingkah dan berusaha mengarahkan pandangannya ke buku yang dia baca (tetapi dia tidak membaca)

“Kau suka sastra juga?” tanya si anak laki-laki.

“Eh? Oh, ya…! Tidak terlalu, hanya untuk dibaca-baca saja!” jawab Zini.

“Bagus, terkadang kita tanpa sengaja (tanpa kita sadari) menerapkan apa yang telah kita baca!” si anak laki-laki mebalikkan halaman buku yang dia baca ke halaman baru. “Aku belum pernah melihatmu,  siswi baru ya?”

“Ya,” jawab Zini. “Namaku Zini, Zini Xaviera!”

“Wow, sebuah nama yang familiar di telingaku!” ujar anak laki-laki itu.

“Oh ya? Ada apa dengan nama itu” Zini tertarik. “Kau punya kenalan yang bernama Zini?”

“Tidak, tapi aku pernah mendengar cerita dari seorang teman yang sangat istimewa. Dia bercerita tentang negeri yang penuh dengan perang dan dewa-dewi. Dan kalau aku tidak salah ingat, Xaviera adalah nama salah seorang ratu perang dari negeri itu.”

“Hahaha, aku suka dengan perang!” canda Zini.

“Kau tidak punya teman, ya?”

“Ha?” Zini bingung dengan pertanyaan anak laki-laki itu. “Maksud…?”

“Gaya kau berbicara sangat terkesan ingin mengakrabkan diri. Gadis-gadis cantik dan manis sepertimu dalam sejarah sekolah ini tidak pernah bermain ke daerah yang diberi nama perpustakaan. Kau masih baru di sini (kalau aku tidak salah, siswa-siswi baru yang masuk tahun ini masih dalam masa materikulasi, atau sudah selesai?). Tentu kau tidak punya teman, atau belum punya teman, bukan?”

Zini diam. Tidak ada kata yang terpikirkan olehnya untuk dikatakan. Selalu saja seperti itu, semua kata yang ingin dia katakan selalu hilang di saat kata-kata itu harus dikatakan. Dan betul kata anak laki-lak itu, dia belum (semoga saja “belum”) mempunyai teman.

“Tenanglah, aku bersedia menjadi temanmu!” kata anak laki-laki itu.

Zini melihatnya dengan keheranan dan semangat, dan juga dengan sedikit ketertarikan.

“Tapi dengan syarat!” kata anak laki-laki itu lagi.

“Syarat?” Zini mengernyit. “Apa?”

“Buku yang kau pegang itu, yang berjudul Suratan Takdir adalah sebuah novel sastra yang dikarang oleh Voltaire, sastrawan Perancis yang ternama pada masanya. Aku yakin kau pasti suka dengan sastra.”

Kata yang terlintas dalam pikiran Zini hanya lah kata, “Ya!”

“Aku punya teka-teki sastra, yang pastinya kau bisa menjawabnya dengan mudah. Setelah kau berhasil menjawabnya dengan benar, kita menjadi teman. Deal?”

Deal!” kata Zini mengangkat bahu. Ini konyol menurutnya, tetapi biarlah, untuk seorang teman!?

“Apakah di antara yang ada di dunia ini yang paling panjang namun sekaligus juga paling pendek, paling cepat namun paling lambat, paling terbagi-bagi namun paling luas, paling disepelekan namun paling disesalkan. Tanpa hal tersebut tak suatu pun dapat dilakukan, dia melahap segala sesuatu yang kecil dan  mengabadikan yang besar?”

Dan yang terlintas dalam pikiran Zini seketika adalah kata “Waktu!” (“ini teka-teki konyol!” katanya dalam hati)

Si anak laki-laki terpana mendengar jawaban Zini. Masih tidak mau menyerah, dia memberikan teka-teki yang ke dua “Apakah yang diterima orang tanpa mengetahui bagaimana caranya, yang diberikan kepada yang lain tanpa menyadarinya, dan yang hilang di luar kekuasaannya?” tanya si anak lelaki dengan teka-teki yang kedua.

“Teka-teki mu sangatlah mudah,” kata Zini. “Tentu saja jawabannya adalah hidup!”

Sekali lagi si anak laki-laki terpana. Dan ekspresi yang diperlihatkannya: gadis yang ada di depannya itu ‘beda’!

“Namaku Vaafta, Hatta Vaafta! Aku lebih suka kau memanggilku dengan nama Vaafta! Kita berteman!” kata anak laki-laki itu tersenyum seraya bangkit saat bel masuk berbunyi.

Zini juga tersenyum melihat anak laki-laki itu terpana.

“Oh iya, aku yakin jawaban mu itu asal-asalan,” kata Vaafta. “Meskipun begitu kau sudah menjawab dengan benar. Kalau kau mau jawaban yang lebih akurat beserta alasannya, kau bisa melihat di buku Suratan Takdir karangan Voltaire yang kau pegang itu, lihat di halaman 132 dan 133. Aku sudah membacanya berkali-kali. Cerita yang sangat bagus!”

“Sebenarnya aku tidak suka sastra!” kata Zini tersenyum.

“Ah, itu biasa. Kau punya bakat sastra. Temanku, Hilarious, selalu berkata, ‘Kebanyakan manusia tidak menyadari bakat yang terpendam dalam dirinya, padahal bakat itu sangat penting untuk dirinya!”

“Oh ya?!” Zini takjub. “Mmm, aku rasa..!”

“Kau punya bakat sastra!” tegas Vaafta. “sampai jumpa lagi, Zini!” Sesaat kemudian Vaafta hilang di balik rak-rak buku yang tinggi.

Zini senang mendapat seorang teman hari ini. Dia melirik novel sastra yang dipegangnya. Dia sendiri heran kenapa mengambil buku itu tadi. Dia memikirkan lagi apa-apa hal yang dia sukai di dunia ini, dan tidak ada kata sastra dalam pikirannya. “Aku memang tidak suka sastra, setahuku sejauh ini!” katanya dalam hati.

Saat kembali ke kelas, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Sesuatu, yang sangat sulit untuk diraih… sesuatu yang menjadi pertanyaan besar… tapi apa sesuatu itu?

Bersambung

“Sepertinya ini bukan cerita pendek…” kata Diandra dalam hati.

—————————

Kembali ke Bab 27

Lanjut ke Bab 29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s