Babak delapanbelas

Setan (8 September, 2010)

 

Ah, di lembar-lembar berwarna cokelat itu saya membaca cerita tentang hierarki realitas

si penulis mengutipnya dari Rumi, si pujangga sufi yang sepi

ada juga kutipan cerita dari Dr. Seuss tentang sebuah desa kecil

dan Plato tentang alegori gua

Ah, saya ingat garis tipis di sisi lembaran itu ada bercak warna merah-merah,

dan kalau tidak salah ada gambar gigi lepas yang dijadikan tanda kutip

menegaskan, bahwa setan juga bisa curhat seperti kita

Ah, bukankah setan itu aku, kau juga, dia apalagi, dan mereka biangnya!?

Kita sesungguhnya setan yang terkutuk itu

 

Orang pintar yang sudah keliling dunia,

yang memberikan pencerahan kepada peradaban

itu setan, Kawan!

Karena orang-orang modern melihat realitas dengan segala sesuatu yang bisa diuji,

yang bisa diperhitungkan

yang bisa dipertanggungjawabkan

Hei, aku juga mendukung hal itu!

Segala sesuatu itu harus ada pertanggungjawabannya

yang abstrak bukan sekadar tertoreh begitu saja, kemudian kau bilang itu mahabenda.

kata orang-orang sekarang, simbol sudah mati!

Ya, kita setan!

mengagungkan logika, melupakan sesuatu yang berbeda

menjunjung tinggi kemajuan, tetapi melupakan sebuah kepercayaan

aku juga begitu, Kawan!

Kita setan!

 

Bisakah kau tebak, aku sekarang telanjang karena usai melakukan hubungan di ranjang?

Oh, jangan terkejut, Kawan, mengapa aku bisa berucap begitu lantang dan tak bernorma seperti ini.

Biasa saja lah, kau kan juga setan!

Aku juga bisa menebak sekarang, kau sedang berdiri di depan layar siarmu,

menyimak cerita-cerita vulgar yang manghanyutkan

orang-orang besar sudah tidak memperdulikan pesan Bapak Hamka.

kita kan calon orang-orang besar juga.

Kita setan!

Maju! Orang sekarang ini penuh dengan logika

dengan logika itu mereka bisa menciptakan dunia baru di balik layar

segala bentuk visualisasi dan pendengaran perusak perjanjian dengan Penguasa juga sudah merajalela

Kita menjadi setan massal, Kawan!

mereka itu, kau dan aku juga, sudah menganggap gila orang-orang yang percaya dengan hierarki realitas itu

bahkan, janin dalam kandungan pun bisa dikatakan gila

oleh orang-orang sekarang.

Kan begitu kata Pak Rumi

di lembar-lembar cokelat berdarah yang ada gigi taring itu, aku juga membacanya

kita setan.

Bahkan si penulis pun mengaku dirinya setan dengan mengatakan tulisannya sebagai curhat setan.

Benar yang aku utarakan, bukan? Kau, aku, dia, mereka, kita setan.

 

setan!!!!!!

————————-

Kembali ke Bab 17

Lanjut ke Bab 19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s