maheib, all I want is nothing more…

Katanya, kita bisa menemukan jiwa terbijak di lara kehidupan, di momen paling menyakitkan. Tapi, di dalam momen itu, juga ada hasrat kebencian yang berusaha menggoda kita untuk memilihnya. Kita hanya bisa memilih salah satu.

Saya tak bisa menentukan pilihan: “jiwa terbijak” atau “hasrat kebencian”. Yang jelas, kini saya hanya bisa merasakan sakit tak terkira dan keputusasaan tiada tara karena momen itu.

Hhh…! Kau biarkan Zikarumu terluka dan hancur, Heib! 😥
Ingatlah bahwa lukanya tak akan pernah sembuh dan dirinya yang seutuhnya tak akan pernah pulih.

All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
‘Cause if I could see your face once more
I could die as a happy man I’m sure
When you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side

But If you loved me
Why did you leave me?
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I’ll find somebody

Like you, oh…

‘Cause you brought out the best of me
A part of me I’d never seen
You took my soul wiped it clean
Our love was made for movie screens

But If you loved me
Why did you leave me?
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I’ll find somebody

Like you, oh…

Advertisements

62.

London, 00:11 am.

Sekitar dua puluh menit setibanya saya di homestay yang beralamat di Hornsey Lane Gardens ini, usai menghadiri penayangan film terakhir di hari Minggu di acara BFI London Film Festival 2017, saya baru ingat bahwa saya belum mencatat apa pun untuk Marginal tentang keberadaan saya di London. Hahaha!

Hampir tak ada waktu menulis… berangkat ke acara festival pagi-pagi sekali, pulang sudah larut malam. Jaringan internet pun susah (NYARI COLOKAN LAPTOP JUGA SUSAH KARENA LUBANG COLOKANNYA BEDA!!!). Nomor UK yang saya beli, kuota datanya sudah habis, sedangkan uang persediaan di kantong tak memungkinkan membeli kuota baru yang harganya bisa untuk makan tiga hari itu.

Yang lebih bodohnya, saya juga baru sadar saya tak mempunyai stok foto yang baik untuk Marginal. Hampir semua kabar keberadaan saya di kota ini terunggah di Instagram Stories dan hilang begitu saja (karena saya tidak mengaktifkan fitur unduh otomatis pada akun Instagram saya).

Ya, tapi setidaknya ada dua foto di bawah ini:

Kiri ke kanan: Shai Heredia (Direktur festival film EXPERIMENTA, India), Benjamin Cook (Direktur LUX, Inggris), Trần Duy Hưng (penulis dan kurator, Vietnam), May Adadol Ingawanij (penulis, kurator, dan akademisi, dan ko-direktur Centre for Research and Education in Arts and Media (CREAM), Universitas Westminster), dan saya.

Foto di atas diambil beberapa saat setelah simposium Experimenta BFI LFF 2017 (kami semua menjadi pembicara di satu panel yang sama) usai, dan kami melepas lelah sambil merokok di luar gedung Box Office British Film Institute.

Lalu ada foto ini juga:

Di pinggir salah satu jalan menuju Tate Britain.

Foto di atas saya ambil tanpa ancang-ancang dan tanpa niat untuk mengambil foto. Hahaha.

Dua foto di atas adalah yang terbaik dari apa yang ada seadanya di galeri ponsel saya. Tidak representatif, memang! Bwahahahahaha…!!!

Ngantuk, Om…! Good night~~~

61.

Jakarta, 00:26 am.

Sudah, ya! Nilai fisika saya tidak baik. Saya akui pula saya memang tidak piawai soal rumus-rumusan. Sekarang, saya cukup menjalani jalur yang lurus-lurus saja. 

11 Oktober nanti, lembar catatan harus baru sama sekali, dengan berisikan hal-hal yang patut diprediksi.

Catatan yang disengaja untuk diketahui ini sebijaknya saya akhiri. Saya harus lepas dari keterpenjaraan yang saya permainkan. Tujuh belas catatan sudah cukup sebagai pengalaman untuk merasakan kerelaan dipantau. Kesimpulannya: justru kenyataan bahwa kita tak dipantau itulah yang menjadi kontrol yang sesungguhnya atas diri yang mengamini disiplin yang diterima secara “sukarela”.

Hello, it’s me, it’s me, Baby
I thought about us for a long, long time
Maybe I think too much but something’s wrong
Something that said it doesn’t last too long, too long
Maybe I shouldn’t think of you as mine, mine, mine, mine, mine
But I can’t help it, Baby

– Erykah Badu –

Mungkin ini hanya gejala candu bulu kuduk merinding belaka. Semakin merasa terpuruk, semakin merasa ada. Saya mungkin sedang dibodohi oleh ilusi dan romantisisme “berada di titik paling terbawah” yang begitu-begitu. Dan sikap seperti ini pada kenyataannya sungguh sangat tidak penting!

Tidak ada tolok ukur harus bagaimana, seperti apa dan siapa, sebenarnya. Ini semua tak lebih dari cara belajar saya sendiri untuk jujur. Minimal, jujur ke diri sendiri.

(Saya sempat berpikir-pikir akan membuat password khusus untuk catatan tentang spascalita yang terakhir ini. Tapi, ya, sudahlah, itu tidak perlu! Bodo amat! Hidup saya toh tak sepenting itu sampai mengira bahwa orang akan rela mencari-cari dan mengulik-ulik atau kepo-kepo demi membaca catatan-catatan semacam ini!)

Oke, Heib! Jendela saya tutup. Soal jendela sebelah sana, terserah dia saja. Lagipula, kalau dilihat dari sini, kayaknya memang tak pernah dibuka sama sekali sama si empunya.

“Eba”, agaknya, nama yang lucu untuk catatan baru berikutnya.

Seriously, I’m a baduist. ***

[Tamat]

60.

Jakarta, 10:06 pm.

😓😢😂

59.

Jakarta, 01:55 am.

Ketika bibi bersabda dan legenda terkini menduga, di saat itulah saya berpikir kembali tentang selera. Tapi, anjuran-anjuran mutakhir meyakinkan saya bahwa yang termasygul pun sesungguhnya bukanlah masalah. 

Lantas saya berpikir, adakah baik jika kata-kata itu dilepaskan sebelum kaki menginjak eropa—Oh, ya! Visa saya tembus dan sudah dapat dipastikan saya akan ke London tanggal tiga—atau dibiarkan begitu saja…? Arah si pemegang pena, atau gagasan sahabat terdekat saya?

Ya…, paling tidak, catatan ini masih akan terus berlanjut. Kita lihat Minggu nanti, Goethe akan membuka jendela yang mana.

Yang paling saya harapkan ialah, semoga tiga bulan ini akan berlanjut terus dengan tiga bulan berikutnya, lalu tiga bulan berikutnya lagi, tiga bulan lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga kita urung mengurangi jumlah hari-hari yang bisa dilalui dengan menari.

Bukankah yang seperti itu lebih menarik…, Cal? Haha.

Ini hari ketika sejarah dipermainkan dan kemudian mewujud menjadi arena lanjutan bagi penyimpangsiuran darah-darah tradisi antara kau dan aku… 2 September lalu, kita berbincang lewat halaman-halaman narasi yang lain, memang; tapi itu mewakili kegelisahan semesta tentang kezaliman rezim 32 tahun itu.

58.

Jakarta, 07:07 pm.

Diskusi dengan Shai Heredia (India) dan May Adadol Ingawanij (Thailand, tapi kini berbasis di UK) berjalan dengan baik. Saya ternyata tak perlu menulis paper panjang, cukup memberikan teks singkat saja terkait rencana presentasi di sana. Yang menjadi PR ialah saya justru harus memikirkan masak-masak dan memilih film apa yang tepat dan layak untuk diperbincangkan di simposium itu.

Perbincangan via WhatsApp dengan Siba pun memberikan energi baru. Inisiatif yang mereka rencanakan untuk dua-tiga bulan ke depan—yaitu, berkenalan dengan para tetangga, khususnya kaum ibu—mewakili gagasan paling esensial dari gerakan perempuan (dan pemberdayaan perempuan) dalam bentuk apa pun. Tak ada yang lebih bijak dan berwibawa daripada niat untuk berkenalan secara mendalam, sedangkan gerak perlawanan yang menggebu-gebu dan banal (yang bahkan sering kali pula memicu terciptanya diskriminasi sekunder terhadap perempuan) tak masuk dalam kamus komplotan dari Kecamatan Pemenang ini.

Pengalamn di Kerujuk semakin meyakinkan saya bahwa menari adalah terapi paling jitu untuk mengobati hal-hal lainnya yang mengusik.

.

.

.

…dan rindu pada Kerujuk (dan orang-orang yang terlibat di pertemuan itu) adalah rindu yang lebih bijak daripada rindu-rindu yang lain. #asyek

57.

Lombok Utara, 02:28 pm.

Sebentar lagi saya tiba di bandara, dan pukul empat terbang menuju Jakarta. (Tapi kini saya dipaksa berhenti di sebuah warung yang hidangannya nikmat sekali, karena hujan begitu derasnya).

Saya sungguh sangat ingin sekali bisa bertatap muka dengan “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”. Sungguh!

56.

Lombok Utara, 04:53 pm.

Semakin saya menimbang-nimbang untuk menyudahi narasinya, makin kuat pula daya magnetis itu menjerat, bukan saja rasa penasaran, tapi juga perasaan saya sendiri—terjerat nyaris utuh; perasaan yang dengan sangat sadar dan rendah diri, saya akui, tidak pula penting dituliskan untuk kau baca. Tapi bukankah nyatanya memang cerita ini yang membangun rasa itu, Zikri…? Atau sebaliknya, rasa inilah yang jangan-jangan malah menjadi energi paling dominan bagi kemunculan catatan-catatan baru(?).

Saya bahkan merapalkan kembali kata-kata itu dua hari lalu: “Embarasa! Embarasa!”

*

Detik ini, bersama Gozali dan Pak Zul, saya berbincang tentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak ideal mengapresiasi bidang kesenian untuk masyarakat. Kami berbincang di atas berugaq kecil di bawah gerimis yang cukup berisik menerpa atap bambu yang berjarak 30 cm di atas kepala kami. Perbincangan itu menarik dan lucu, sebenarnya; tapi saya sedang terganggu oleh perasaan gundah yang samar-samar karena pikiran saya otomatis selalu mencuri-curi ingat “tos tinju” yang saya dapatkan darinya, dua puluh satu hari yang lalu, serta pesan-pesan yang bergulir dengan kurang lancar.

Saya tak bisa berbohong lagi (atau tak bisa mencari ujaran lain untuk mengalih-alihkan perhatian kita). Saya tengah jatuh hati, Kawan, pada ia yang sudah kita sepakati sejak beberapa minggu lalu menjadi subjek baru bagi catatan-catatan ini. Pada akhirnya, ini bukan hanya catatanku, tapi juga catatan untukmu. Mantra “embarasa” konon mengajarkan, walau ada kemungkinan gagal menjadi nyata, rasa harus (tetap) dikelola.

Ini semua adalah fragmen-fragmen kecil yang bisa kau gunakan sekadar untuk menerka-nerka.

Oh, iya! Paman saya bilang, selera dan gaya berujar saya masih sekelas “sinetron”. Catatan-catatan yang kau baca sejauh ini pun bisa jadi juga begitu.

Apa pun itu, udara Kerujuk (yang dingin dan berangin kencang di malam hari, tapi begitu terik pada pagi menjelang sore), ternyata berhasil memaksa saya untuk berhenti berkilah lagi. Saya lantas tak bisa tidak menerima tawaran untuk berendam di kali di balik taman-taman warga yang mengupayakan kebijakan duniawi. Di ujung sana, ibu-ibu dan gadis-gadis masih belum berhenti merendam diri. Kami harus menunggu giliran; saya pun menunggu pula diiringi kegelisahan di hati.

Handphone saya hampir saja terjatuh.

06.30 pm. Kini, di Lombok hingga tiga hari mendatang. Lalu, beberapa hari kemudian setelah tiba di Jakarta nanti, jika permohonan visa dikabulkan, perjalanan dilanjutkan ke Inggris selama seminggu.

Adakah mungkin kami akan sempat berbincang tentang Cerita Kulkas di sela-selanya…?

Sedangkan pesan-pesan via WhatsApp itu, hanya dibalasnya singkat-singkat saja.

Pukul 07:00 pm, di sisi barat daya dari lokasi bocah-bocah yang sedang menonton YouTube di tengah hamparan sawah kering, beberapa menit sebelum teman-teman Kopdar dari Gorontalo tampil ke hadapan warga Kerujuk, sambil menahan terpaan angin dingin senja, saya hanya baru bisa mengharapkan kemungkinan terjadinya pertemuan itu, pertemuan Cerita Kulkas (dan dunia-dunia utopia di bawah satu atap) sembari membayangkan senyumnya, juga mengingat bunyi nada medok Surabayanya.

Begitu merindunyakah saya…?!

10:02 pm. Pantomim di depan saya liris sekali… tentang mitos lokal. Tapi kegembiraan dan mood saya hanya berhasil terpicu menjadi baik (sedikit) oleh pertunjukan sebelumnya, yakni saat Three O Amphibi menyenandungkan kisah kepergian seseorang yang penting ke Cina sehingga membuat hati gerakan-gerakan yang sedang berlangsung di negeri siq siq o bungkuk ini sempat gundah, walau tak segulana saya. ***

55.

Jakarta, 04:14 am.

*fuuuh … adem..

Bayangkan jikalau tiupan itu adalah benar udara sungguhan yang dihembuskan dari mulut yang jujur, penuh ketulusan, dan dapat disentuh…, bukan himpunan piksel yang ditransfer lewat jaringan simulasi tak teraba, tak beremosi, dan artifisial…(!?)

Bayangkan jika dahi yang mengernyit hingga larut malam—ng…, saya kira memang begitu(?)—itulah yang menyambut apa yang dapat ditangkapnya sebagai tenteram (lantas bersama senyum ia terpejam)…,

…bukan ditangkap oleh mata yang sayup-sayup dan enggan bertahan—kali ae ‘mang begitu, ye, kaaan…? Bisa jaddeeeiii…(?!)—menyuntuki kelam saat menghadapi layar supra dan artifisialnya yang tergenggam (lantas menuju mimpi beriring gumam)…(!?)

Bayangkan seandainya tiupan itu memang benar berpindah sungguhan dari ruang lingkup keterbatasannya, secara fisik dan non-fisik…, dan bukan dalam cirinya yang terkini sebagai citra mental belaka yang begitu mengusik…(!?)

Bayangkan bagaimana itu nyata, bukan maya…

Bayangkan cara sinema menghadirkannya, bukan opera sabun televisi yang mengindahkannya…

Selamat datang di belantara kuratorial, … [Ah, saya tak perlu menyebut nama…] !

*

Teks di atas baru saya selesaikan pukul 11:29 am di bawah terik di Kelapadua. Eh, sudahkah Pascal tahu kalau kepala saya sekarang seperti IkkyÅ«-san…?

*

Teks ini baru saya terbitkan pukul 06:14 pm, di tengah proses membuat garis, garis, dan garis lagi…

Menuju gudang untuk meredam usikan itu, atau mendengarkan lewat jaringan tanpa gelombang…, jawabannya dikembalikan kepada kebebasan yang malah mengaburkan hasrat.

“Nashar melakukan itu dua tahun, setiap hari!” seru UTM, melihat garis-garis di lembaran kertas saya. “Bisa ngga lu mengalahkannya, lebih lima hari saja…? Kalau bisa begitu, baru….”

“Tapi dia melakukannya tanpa melihat-lihat HP,” ujar UTM lagi, sambil berlalu. ***

54.

Jakarta, 17:38 am.

Sesaat setelah saya membalas pesan itu via email—ya, semoga saja saya tidak ngegembel di London—Dhuha yang duduk di sebelah saya memutar lagu “Sombody That I Used To Know”-nya Gotye di YouTube. Saya dulu pertama kali mendengar lagu ini (dan memutarnya berkali-kali) justru karena melihat versi covernya di YouTube—saya tahu versi cover itu dari Harris. Di Papua, saya dan Gelar juga memutar video cover lagu itu berkali-kali di kala rehat dari kegiatan workshop.

“Now and then I think of when we were together; Like when you said you felt so happy you could die; Told myself that you were right for me.” Begitu lirik awalnya. Saya sedikit mengira Dhuha sedang merefleksi isi lagu ini. Tapi saya ingat bagaimana para lelaki di kosan saya yang dulu berseru dengan takjub ketika si perempuan di video di bawah ini mulai bernyanyi.

Kami—saya dan Dhuna—kembali geleng-geleng kepala (saya sambil berseru, “Nemu aja, nih, orang, lagu bagus!”) saat UTM meminta kami memutar lagu Kimbra, berjudul “Settle Down”. Sebelumnya saya sempat bilang ke Dhuha untuk memutar lagu “Bad Liar”-nya Selena Gomez. Bukan apa-apa, saya jadi mendengar lagu ini karena kebetulan beberapa hari lalu saya melihat video tari di bawah ini (beberapa teman saya ada yang selalu meledek dan mencemooh orang-orang yang mengidolakan K-Pop; tapi saya biasanya berujar kepada mereka, “C’mon, Bro! We’re talking about culture!”)

Pada video tari di atas, lihat gerakan kaki mereka pada detik 00:31-00:36 dan detik 00:43-00:45, lalu pada detik 00:52-00:54 gerakan badan mereka! Saya mengamati bagian-bagian itu berkali-kali. Keserempakan yang terasa sudah otomatis!

Di catatan yang terbit sebelumnya, saya mengatakan bahwa ada draf catatan yang awalnya diniatkan terbit lebih dulu, tapi urung saya terbitkan. Begitu juga dengan catatan ini, ada versi catatan yang semata saya tinggal sebagai draf dan batal untuk saya terbitkan (dan saya malah membuat versi yang sedang kau baca sekarang). Soalnya, saya sedang di tengah kondisi galau, apakah akan mengakhiri catatan-catatan macam ini (dengan kata lain, mengakhiri “Marginal”) atau tidak. Kau ingatkan, saya pernah mencatat bahwa seri si orang baru ini membuat kondisi saya menulis dalam posisi “diketahui”…(?) dan karenanya saya harus menimbang-nimbang akan menerbitkan catatan yang mana. Sudah ada dua draf yang batal terbit karena kesadaran saya akan risiko-risiko yang bisa muncul tanpa diduga di kemudian hari. [—Saya jadi teringat kejadian di Pekanbaru lalu, ketika salah seorang kawan, mau tak mau, terjebak di kondisi sulit karena cukup keliru mem-post sesuatu di Instagram stories-nya.]

Lagi pula, perlu saya akui bahwa saya memang tak jago “fisika” (bahkan, untuk memahami sinema pun, tulisan-tulisan Deleuze yang menggunakan logika fisika itu saja, belum tuntas saya baca karena saya justru “keblinger” dengan kalimat-kalimatnya.) Dan hukum [si] Pascal pun memang juga sulit saya mengerti.

Pasalnya, kerumitan di dalam kepala saya, setidaknya, tergambarkan di lirik lagu “Bad Liar” itu.

Tapi, setelah menyaksikan dan kemudian sedikit menelusuri secuil trivia “Settle Down”, saya tarik kata-kata saya yang menyatakan bahwa “Bad Liar” adalah representasi dari apa yang saya gelisahkan. Bwahahaha!

“Settle Down” barangkali adalah yang paling pas mewakili hasrat saya yang sebenarnya terhadap… [akan saya jelaskan lain waktu—jadi, catatan “Marginal” tak jadi pula saya tutup!]

Lihatlah gerakan tarian figur utama dalam video di bawah ini! [Masih mau membantah kalau berjoget itu tidak menyenangkan…?]

Bagas, teman saya di kampus dulu, sering menyampaikan kata-kata pamungkas ke junior-juniornya saat dia “bertingkah” memberi petuah. Di akhir petuahnya, dia selalu berkata: “Ngga semua yang lu denger itu bener!”. Apa yang akan kau pikirkan jika saya menulis rima yang sama: “Nggak semua yang lu baca itu bener!” [?]

Dan UTM pun sempat menyuruh kami mendengar lagu “The Tale” dari Meredith Monk. Dan lagi-lagi saya hanya bisa melongo menyimak referensi dari orang ini. [Kalau meminjam ekspresi Tyas, saya akan berseru, “Pakyu!”]

Sudah, Bor! Catatan kali ini cukup sampai di sini dulu, yes! Hahaha!***