Blog

44.

Jakarta, 07:58 am.

Haihaaai…, Suitcase Kid! Semalam kita bertemu lagi. Bukan di toko ketakutan, tapi di pasar suci, dan di sana pula semalam aku mengikuti percakapan-percakapan dengan beberapa teman, tentang harapan-harapan. Beberapa harapan itu mereka perjualbelikan (dan kau sempat pula membelinya beberapa, yang kau bayar dengan sebuah pisang. Aku tahu dengan jelas, tak ada alasan lain selain untuk kebutuhan risetmu mengenai tarot); beberapa yang lain hanya meletakkan harapan itu di meja perundingan.

Aku tak habis pikir, di pasar suci tadi malam ternyata masih ada saja seniman-seniman yang mengeluhkan “komunikasi” yang membuat karyanya sulit memasuki celah-celah penerimaan yang dimiliki sejumlah kurator dan “penyandang panggung dan karir”. Padahal, kita sama-sama tahu kalau inti sari seni adalah komunikasi itu sendiri. Dengan merujuk kepada konteks itu, seniman ataupun kurator yang mengalami “krisis komunikasi” itu berarti mengalami kerugian waktu dan tenaga di banyak lapisan kekaryaan. Hal yang sungguh sangat merugi! Sedangkan @mmndn13, kulihat juga bahwa ternyata tadi malam pun ia hadir di gudang yang sama dengan kita, walau berbeda waktu beberapa menit saja. Tapi bukan untuk membeli harapan, agaknya; ia dan temannya sedang mengisi waktu luang, hedon, atanya.

Aku? Kau tahu sendiri, Suitcase Kid, bahwa kerjaku ialah menciptakan waktu luang untuk orang lain. Benar, bukan?

Tapi aku senang, Suitcase Kid! Tampaknya kau sekarang sudah semakin bersemangat; sudah bisa “mengabaikan” kasus itu walau belum ada kepastian akan kata “SELESAI”. Masalah ini bagaikan ombak… yang datang tiba-tiba menghantam tepi pantai, lalu surut dengan cepat… tapi kita tahu ia pasti akan datang lagi, segera datang. Bedanya, tak seperti ombak di lautan, ultima media sosial adalah modulasi-modulasi yang tak kasatmata. Tapi setidaknya sekarang kau sudah punya papan selancar, Suitcase Kid; dan aku gembira mendengar kabar kau tengah berselancar pelan-pelan, mulai menyapa lagi ikan-ikan di laut: kita semua.

Lebih dari gembira itu, ialah salut untukmu! Semoga lancar proyekmu nanti di Jepang! Kita masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum kau menyeberang lintas negara, sedangkan aku kali ini cukup melintasi batas pulau dalam negeri saja. Di Pekanbaru nanti, kuharap aku akan menerima kabar-kabar menarik darimu tentang negara yang (menurut analisa Ayos) sedang mengalami ketakutan setengah tanah-air itu. Hahaha!

Oh, iya! Bukankah kau semalam bertanya, “Kapan lu main…?”

Jika tak ada halangan, mungkin tiga hari lagi… sehari sebelum kau terbang ke Jepang. Kita perlu berbincang soal yang lain pula: melompat ke kemungkinan yang bukan semata baru belaka, tetapi yang juga bisa menawarkan celah-celah mikroskopis yang dapat menghindarkan kita dari “krisis komunikasi” yang menjangkiti pergaulan mudi-muda. 

Yaaah, atau satu bulan kemudian, sepulangmu dari sana (Ah, itu mungkin di tengah-tengah kesibukanku mengurus simposium sinema!): mungkin menarik juga jika aku bisa meninjau tulisanmu secara lebih saksama. #asyek

Enter title here

43.

Jakarta, 06:29 am.

Beberapa hari belakangan, nama kota dan angka jam berujung “am/pm” (seperti yang tertulis di atas kalimat ini) aku bubuhkan berkali-kali di website yang sedang kugarap bersama teman-teman sesama pegiat “seni media”. Ya, Suitcase Kid, ini tentunya nanti berkaitan juga dengan rencanaku yang akan mengunjungi tempatmu kalau kau sudah di Jakarta lagi: aku akan mengambil beberapa data di sana sembari berbincang tentang banyak hal denganmu. Tapi pagi ini—dengan mata yang belum terlelap sejak kemarin—aku mengalihkan layar ke halaman blog ini. Lagi-lagi, berhadapan dengan teks.

Beberapa rekan mulai jengah dengan sikapku yang sudah tampak seperti robot, kehilangan “ranah sosial”. “Bahkan menoleh pun, tidak, ketika dipanggil!” celetuk salah satu di antara mereka. Aku tak bisa membantah karena kenyataannya memang seperti itu. Tapi keadaan inilah yang memang tak akan pernah berhenti dinegosiasikan, bukan? Entah dengan apa caranya nanti, sesuntuk terhadap pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung menjedakan waktu luang ini, bagaimana pun, tak boleh mengubah sikap seseorang menjadi sesuatu yang bisa mengiritasi penglihatan orang lain. Aku tak boleh menjadi robot, memang, dan karenanya aku menerima celetukan-celetukan mereka. Itu semacam teguran. Setidaknya, sebagai peringatan agar aku tak “hilang”. Yang mereka keluhkan, dengan kata lain, bukanlah kualitas pekerjaan, tetapi bagaimana sikapku dalam menanggapi tenggat waktu proyek dan situasi padat acara yang—juga telah diakui oleh beberapa orang lainnya—cukup membuat semuanya stres, bukan hanya diriku sendiri.

Ada beberapa hal yang ingin aku utarakan ke dalam teks-teks percakapan khayali ini, tapi urung karena pertimbangan-pertimbangan etis dan gengsi. Di samping itu, aku justru malah bertanya-tanya, bagaimana kabarmu di Yogyakarta sekarang, Suitcase Kid? Kau, walau masih di tengah masalah yang belum selesai, tetap bermobilisasi dengan derajat keseringan yang cukup tinggi. Saat aku di Surabaya, kau di Lombok dan Bali. Sebelumnya, kau sempat main ke Yogyakarta pula, kalau aku tak salah ingat—sebentar… memang benar, kan waktu si bos “Trash Squad” mengadakan diskusi kecil-kecilan tentang desain itu, yang sempat kutonton live lewat Instagram, kau tengah berada di area Mangkuyudan…?!—dan beberapa minggu lalu, kita pun bertemu di kota itu, sehari sebelum aku kembali ke Jakarta. Aku masih teringat-ingat Rugun—nama yang aneh—si dukun tarot yang manis itu, Suitcase Kid. Keriangan yang tergambarkan di wajahnya, agaknya, lebih membius dan menawarkan rasa kesal yang diakibatkan oleh penyesalan karena tak berani menegur-sapa dirinya saa itu—justru kau yang aktif bergosip dengannya karena rupanya kalian satu almamater. (Dan ketika tiba di Jakarta subuh hari, kami para laki-laki masih saja menggunjingkannya. Dua di antara kami, sebenarnya tertarik dengan gadis itu). Meskipun sebenarnya, kemampuannya dalam membaca tarot itu (yang bagiku, hal itu masih saja meragukan) yang justru membuatku tertarik untuk tetap memikirkan sosoknya.

Mba Tami tengah mencuci piring sekarang. Aku harus tidur, karena nanti sore harus ke gudang untuk bertemu Ari, mendiskusikan perkembangan website yang tengah kami kerjakan. Seharusnya! Malam harinya harus bertemu Ade—bukan Ade yang kutemui di Yogyakarta, melainkan Ade yang sering kita gosipkan—untuk melakukan semacam wawancara mendalam. Masih dalam rangka proyek yang sama. (Padahal, ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harus segera dikerjakan pula. Ah… betapa padatnya bulan-bulan ini!)

***

Terlepas dari hal-hal yang kusinggung pada paragraf-paragraf di atas, alasan mengapa kali ini aku tidak mengetik percakapan khayali untuk blog ini melalui layar smartphone, adalah karena rasa penasaran terhadap beberapa akun wordpress yang entah mengapa senang membubuhkan “like” di terbitan-terbitan tak berjudul (yang kumasukkan ke dalam kategori “Marginal”) ini. Aku menduga bahwa mereka mungkin juga suka membuka dashboard blog mereka masing-masing, atau menyimak linimasa di kolom reader di wordpress mereka, melalui smartphone pribadi; dan aku bertanya-tanya juga, apakah mereka selalu membaca terlebih dahulu postingan orang lain sebelum menekan tombol “like” itu…? Ah, ya…! Ngomong-ngomong soal dashboard, ternyata Ari tak terbiasa dengan istilah ini. Bahasa-bahasa drupal ternyata berbeda sama sekali—sempat terjadi miskomunikasi, bahkan, antara aku dan Ari, sehingga beberapa postingan di proyek website yang kami kerjakan itu hilang (walau tak seutuhnya). Sarana pengembang website semacam itu memang benar-benar membingungkan. Aku bahkan menghabiskan waktu satu setengah hari hanya untuk menjawab rasa penasaran tentang di mana letak “node-node” yang sudah kubuat sebelumnya. Aku tak menemukan hasil, selain jawaban bahwa “node-node” itu hanya bisa diakses lewat halaman “super-admin” (aku tak tahu istilah yang lebih tepat dalam bahasa yang dikenal Ari), yakni area si brain-ware yang mengerti code dan sebangsanya, yaitu si Ari yang namanya sudah beberapa kali kusebut/tulis di artikel ini.

Dan tentang akun-akun wordpress itu, menarik kiranya untuk menyapa mereka dengan cara melibatkan “kehadiran” mereka di catatan “Marginal” ini. Beberapa blogger sering kali menggunakan cara ini untuk saling terhubung, selain aktif berkunjung ke halaman blogger lain dan bertegur sapa sesama mereka. Aku juga sering melakukan hal ini—maksudku, berkunjung ke halaman blogger lain—saat baru pertama kali mengelola blog pribadiku. Tapi, cara itu ternyata berbahaya, karena akan menyita banyak waktu dan menyebabkan tugas-tugas kuliahku terbengkalai—hal yang sama juga terjadi saat orang dulu mulai marak menggunakan Facebook, di masa-masa ketika istilah “kepo” belum kita kenal akrab seperti sekarang.

Mungkin, menyisipkan hyperlink yang seakan menjadi jendela untuk menyapa mereka tak akan berefek apa-apa—tapi aku yakin, setidaknya sebuah “ping-balik” akan sampai di notification blog mereka (kecuali jika mereka menutup akses “ping-balik” itu sebelum menerbitkan postingan yang mereka inginkan). Responnya? Paling-paling catatan ini hanya mendapat klik-an “like” lagi, atau komentar sepintas lewat saja.

Hingga kini, aku takjub, bagaimana caranya ada blog yang bisa memuat ratusan komentar dan si blogger pun demikian aktif menjawab setiap komentar yang diterimanya…? Seandainya saja bulan-bulan ini tak sepadat kenyataannya, perhatianku terhadap keaktifan blog ini mungkin bisa meningkat tajam; aku akan lebih aktif berselancar dan menyapa mereka, para akun-akun wordpress itu, satu per satu—oh, tapi belum tentu, karena biasanya aku akan nongkrong seharian di GSE atau membaca komik sebanyak mungkin untuk mengisi waktu luang, dan dengan kata lain, blog ini pun tetap hanya akan tersentuh sekali-sekali saja.

***

Mengetik di layar komputer besar dengan keyboard yang lebar, membuat jari di kedua tanganku lebih leluasa, lebih bergerak cepat, sehingga bisa mengetik lebih banyak. Menggunakan computer mouse juga sangat mempermudah operasi ini. Contohnya, menghadirkan Umi Sholikhah ke dalam kalimat ini lewat pengaturan hyperlink menjadi lebih mudah ketimbang di layar smartphone. Bukankah begitu, Umi? Aku lebih senang memanggilmu “Umi” karena “Ika” (tanpa huruf “h”) adalah panggilan untuk seorang temanku di organisasi—ia juga seorang blogger. Aku berharap bisa membaca lanjutan cerita tentang Pak Lek Jan itu, tentu saja.

Kau juga mungkin perlu membacanya, Suitcase Kid! Memang tulisannya tak seperti tulisanmu, yang selalu abstrak dan rumit itu—aku sering frustrasi membacanya. Oleh karenanya, tulisan bersifat sharing experience itu adalah terapi yang baik untuk menghalau beban-beban akibat “ultima media sosial” yang menghantuimu belakangan ini. Ibarat kata Oomleo, tulisan semacam itu adalah “sombong yang halal”, atau “narsis yang layak diterima” karena yang ditawarkannya ke publik adalah teks (walau tak seunggul karya sastra) yang mengandung naratif tertentu, bukan citra yang rentan manipulasi oleh perangkat-perangkat teknologis dan sudut ambilan kamera.

Dalam praktik-praktik literasi media yang aku lakukan bersama teman-teman di beberapa komunitas, tulisan semacam itu (tulisannya Umi) sangat diamini sebagai cara untuk menjelaskan posisi kita di tengah-tengah suatu masyarakat secara lebih berwibawa. Tapi, bukan berarti aku hendak bermaksud untuk mengatakan bahwa produksi gambar perlu dihindari sama sekali. Karena untuk konteks “visual”, ternyata video-video yang diproduksi teman-teman kita di Solok, tak kalah menariknya. Bentuknya berbeda dengan vlog-vlog yang dibuat selebriti YouTube yang menekankan kemasan menarik tak ubahnya reality show televisi. Vlog Kampuang mengutamakan “bahasa [visual] awam” (atau, untuk istilah kasarnya: “bahasa pasar”, sedangkan istilah kerennya: “bahasa vernacular“) dalam memanfaatkan fitur kamera yang ada pada mobile phone. Mereka bahkan, pada beberapa video, dengan terang-terangan menjadikan gerak tubuh spontan si pemegang kamera sebagai bagian dari estetika video mereka. Aku pernah menulis topik ini di sebuah artikel kuratorial untuk sebuah program film, mengenai vernacular video itu. Makanya, Suitcase Kid, ketika di Jogja tempo hari, kusarankan kau untuk mencoba hal-hal “dokumentari”. Mungkin saja di ranah itu kau akan menemukan jawab, yang bisa saja lebih meriah sifatnya, untuk memetakan proyek tarot-mu itu.

Di catatan ini juga aku hadirkan Ziza. Walaupun ia menyebut bahwa tulisan-tulisan random di blognya adalah “ocehan yang terabaikan”, kehadirannya tentu tak bisa diabaikan untuk konteks catatan “Marginal” bernomor 43 ini, karena ia adalah salah satu akun wordpress yang juga pernah meng-klik “like” untuk postinganku. Selain itu, tulisannya tentang Red Day juga tak boleh kita abaikan, Suitcase Kid. Aku pun baru mengetahui adanya istilah “red day” untuk menyebut masa menstruasi perempuan dari artikel yang ditulis Ziza.

Kalau kau, bagaimana, Suitcase Kid? Apakah kau juga menggunakan istilah yang sama untuk menyebut hari datang bulanmu?

Apa pun itu, yang jelas kita harus sama-sama sepakat bahwa tentu saja menjadi sebuah kewajiban bagi kami, para laki-laki, untuk memahami posisi perempuan. Pemberian hak secara proporsional dan perlakuan secara setara itu tidak hanya pada konteks bagaimana seorang pria memahami perempuan, tetapi bagaimana kita sama-sama bisa menciptakan lingkungan sosial yang mendukung gagasan-gagasan kesetaraan itu. Orang-orang sering salah mengartikan “kesetaraan” sebagai “persamaan”, padahal apa yang diperjuangkan kaum feminis tentang “tuntutan akan kesetaraan” sebenarnya adalah usaha untuk mendapatkan perlakuan-perlakuan yang adil dan layak sesuai kebutuhan bagi kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) dalam berbagai hal, baik aspek biologis, fisiologis, psikologis, sosial, maupun kultural.

Aku pribadi mendukung jika ada pemberlakuan hari libur kerja bagi perempuan yang sedang menjalani masa datang bulan (jikalau ketentuan itu memang mungkin diterapkan); itu bukan dalam rangka merendahkan derajatnya atau memanjakannya atau membeda-bedakannya, tetapi adalah upaya untuk mendukung gagasan kesetaraan hak (sebagaimana kita juga mendukung hari libur bagi ibu hamil dan menyusui). Dan tak benar jika ada laki-laki menuntut “hal yang sama” dengan dalih yang dicari-cari persamaannya, atau mengeluhkan hal itu. Karena yang kita perjuangkan bukanlah “persamaan” antara perempuan dan laki-laki, melainkan “kesetaraan” hak dan kewajiban sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Rissaid barangkali akan tertarik membuat puisi tentang topik ini: perempuan dan laki-laki, tentang keterhubungan antara keduanya, atau apa pun. Entah mengapa, untaian kalimatnya tentang perpisahan itu mengusik mataku: “rindu” yang bisa jadi akan terus tumbuh “dewasa” oleh ruang dan waktu, dan tatkala pertumbuhan itu tak menemukan titik jenuhnya, di situlah kita baru menyadari adanya perpisahan. Aku pribadi tak ingin mengaitkan puisi itu dengan “cinta-cinta-an”, Suitcase Kid. Alih-alih, aku justru teringat bagaimana alam hadir dengan manusiawi di dalam Hujan di Bulan Juni-nya Sapardi; alam benar-benar bertindak sebagai “manusia” itu: Hujan bulan Juni adalah yang terbijak. Menarik kiranya jika kini kita justru berbicara tentang “kebendamatian” yang berubah menjadi “kemakhlukhidupan”. Puisi, atau “teknologi puitik”, memungkinkan hal itu.

***

Tampaknya, catatan ini perlu kujeda, Suitcase Kid. Karena kelopak mataku sungguh tak kuat menahan kantuk…

Pengetikan catatan ini kuhentikan sementara pada pukul 09:01 am. (Oh, c’mon! I still have a lot of works! Ck….!)

***

Dan detik ini adalah pukul 02:42 am, hari berikutnya. Paragraf-paragraf di atas kutulis hari kemarin. Perbincangan kita sampai pada perkenalan dengan Audhina Novia Silfi, perempuan yang mengaku sangat menyenangi warna biru. Mengunjungi blognya, aku justru penasaran, apakah Audhina sekarang sedang lelah? Hahaha…! [Bercanda, Dhin!] Karena itulah kalimat yang tertangkap oleh mataku pertama kali di blognya—kalimat yang aku maksud itu adalah postingan terbaru di blognya. Isinya juga puisi, sama seperti Rissaid. Oh, sepertinya bukan…, puisi itu bukan tentang dirinya yang kelelahan. Setelah kubaca puisinya, Audhina bercerita tentang seseorang sebatang kara, yang ia umpamakan seperti bunga tulip, yang tengah dirundung kesedihan.

Terkadang benar juga, bahwa mengucap “aku lelah” adalah cara paling sederhana untuk mengungkapkan intisari dari kerisauan atas masalah-masalah yang sulit diurai lewat kata-kata. Semua orang pasti mengalami itu. Apakah puisi itu berangkat dari peristiwa yang diamati oleh Audhina? Atau barangkali itu adalah ungkapan lain dari si penyairnya sendiri tentang pengalaman personalnya. Terkait hal itu, puisi memang tidak mengandaikan suatu eksplanasi, oleh karenanya ia mengamini deklamasi: pesan yang diabstraksikan menjadi sebuah permainan bahasa. Apa pun bentuknya, puisi selalu punya daya tarik untuk dianekatafsirkan.

Ngomong-ngomong soal kata “lelah” itu, yang menarik juga untuk kita perbincangkan ialah, selelah apa pun manusia, manusia itu tak akan pernah lelah untuk mendefinisikan atau didefinisikan oleh pikiran-pikiran. Bukankah aku juga pernah bertanya-tanya padamu tentang hal ini pada sebuah catatan (bernomor 35), Suitcase Kid? Ada empat akun wordpress yang membubuhkan “like” untuk postingan itu. Selain Ziza dan Umi, ada Toro dan Bang Ical.

Toro sepertinya tak memiliki alamat blog pribadi. Sedangkan Bang Ical, dia bukan siapa-siapa…

Sebentar… … … tapi setelah kubaca-baca, orang bernama asli A. A. Rosyid ini ternyata pernah belajar wingchun (ya, aku yakin dia memang benar-benar ahli wingchun). Itu, sih, jelas kalau dia adalah siapa-siapa, Suitcase Kid. Iya, kan? Bukti lainnya, tulisan-tulisan Bang Ical menarik, memiliki daya dan etos tertentu dalam usahanya berbagi pandangan. Tulisan terbarunya di waktu aku mengunjungi blognya beberapa menit lalu adalah tentang pentingnya literasi.

Aku pribadi setuju, bahwa “literasi atas segala hal”-lah yang menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu yang membuntukan setapak pertanyaan kita, supaya kita bisa memasuki ruang baru, demi menemukan jawaban. Ketika pertama kali aku menyapamu lewat catatan “Marginal” ini, aku mengira barangkali ketakutan yang kau perdagangkan di “toko ketakutan”-mu itu bisa menjadi kunci untuk krisis tertentu—baru saja kemarin malam aku bercerita kepada Dhuha, tentang krisis apa yang kumaksud: krisis “generasi ngambek” (ini adalah persoalan lain yang tak kalah renyah untuk kita perbincangkan lain waktu). Tapi ternyata asumsiku meleset. Untuk memahami barang-barang yang kau jual waktu itu, kita rupanya masih membutuhkan kunci yang lain. Agaknya (tapi kini aku yakin), kunci yang sebenarnya untuk membuka tokomu adalah literasi. Lebih tepatnya, “literasi media”. Seandainya saja kau menemukan kunci ini lebih awal, atau aku yang menemukannya lebih awal, atau teman-teman kita yang menemukannya lebih awal, kita dan semua orang pasti tak akan sebegitu kagetnya saat terciprat getah dari ultima media sosial itu.

Ah… ultima media sosial! UTM sialan! Dia selalu saja menemukan istilah yang tepat untuk merangkum fenomena terkontemporer dan terkontekstual. Lain kasusmu, lain kasus rekaman bunuh diri di Facebook, dan lain pula kasus-kasus persekusi yang diperbincangkan orang-orang belakangan ini. Terlepas dari perbedaan keyakinan, ideologi, dan pilihan politik yang memang exist di masyarakat kontemporer, kini kita bisa sama-sama menarik kesimpulan sementara—kusematkan kata “sementara” di sini karena bisa jadi simpulan ini akan meleset pula nantinya—bahwa pangkal dari persoalan-persoalan yang berunutan terjadi dan kita saksikan belakangan ini (beberapa bahkan sudah dialami olehku dan kau juga) adalah krisis literasi media.

Perihal tentang literasi media ini, sebagaimana yang sudah kusebut juga beberapa kali di beberapa artikel di blogku ini, bahwa sejak 2009, aku giat berkecimpung dalam inisiatif-inisiatif akar rumput yang mewacanakan gagasan itu. Tak lain adalah untuk mendapatkan pengertian yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat di mana aku tinggal.

Seperti sekarang, misalnya, dalam “proyek senimedia” yang sedang kukerjakan, aku menyadari bahwa literasi media tak hanya terbatas pada persoalan bagaimana kita bisa secara dewasa memanfaatkan teknologi media, tetapi juga pada pemahaman paling fundamental mengenai “logika-logika” bermedia itu sendiri. Bayangkan saja, bahkan dalam berkata-kata di kehidupan sehari-hari pun, sekarang ini, semua orang sadar tak sadar telah mengubah gaya bahasanya. Aku bahkan juga tak bisa menghindari penyebutan beberapa istilah per-blog-an dalam catatan ini; juga tergoda untuk menerapkan beberapa praktik yang dua puluh tahun lalu telah diteorikan oleh Lev Manovich, meng-hyperlink-kan beberapa halaman baru demi menciptakan kehadiran sebuah konten, yakni kehadiran akun-akun wordpress yang sudah kita ajak kenalan lewat catatan ini.

Mungkin bagi para blogger masa sekarang, praktik ini sudah sangat biasa dan terasa tak istimewa. Tapi, jika membayangkan bagaimana orang-orang [sejak tahun] 1960-an sudah mampu mengimajinasikan tentang suatu form baru dari sebuah medium (atau media) yang sungguh-sungguh sangat berbeda dari sifat buku bacaan (cetak) konvensional—tak tanggung-tanggung, ditegaskan juga lewat beragam manifesto, salah satunya ialah kritik keras terhadap multi-mediocrity yang muncul kemudian sebagai buntut dari lompatan dan percepatan perkembangan “media baru”—temuan ini menurutku sangat luar biasa. Dan tentu saja kosakata-kosakata semacam ini perlu kita sadari, bukan hanya dihafalkan, tetapi juga dipahami aspek historis serta dampak ekososbudpol-nya.

Teman-teman dalam catatan ini, yang aku libatkan kehadirannya sebagai “tokoh-tokoh baru” yang kukenalkan kepadamu, Suitcase Kid, tentu saja bukan sebagai kelinci percobaan. Sebab, mereka memang benar-benar exist, dan memiliki otoritasnya sendiri: mereka sangat mungkin memberikan tanggapan balik (bahkan tak menutup kemungkinan memberikan kritik). Atau justru mereka akan mengabaikannya begitu saja? Apa pun kemungkinannya, catatan ini mengamini ide tentang cultural interface itu, karena memang itulah salah satu titik utama jika kita ingin berbicara soal literasi media. (Aku juga jadi berpikir sekarang, sepertinya melibatkan lebih banyak blogger ke dalam catatan “Marginal” ini akan menjadi sebuah studi yang menarik pula).

Barangkali juga mereka akan bertanya, siapa sebenarnya kau, Suitcase Kid? Untuk sementara ini, aku cukup menjawab pertanyaan semacam itu dengan jawaban: kau bukan tokoh khayalan meskipun percakapan ini adalah karangan belaka.

Dan karena tampaknya catatan bernomor 43 ini cukup panjang dan ditulis dengan cukup spesial, tak ada salahnya kuberi judul, kan? Bagaimana, Suitcase Kid? Hm… dengan tetap mengacu pada tujuannya ditulis, yakni tentang eksperimen ultima media sosial—adakah orang yang membantah bahwa wordpress sebenarnya juga media sosial?—maka tulisan ini kuberi judul “Enter title here”. #asyek

Mereka yang mencintai dunia per-blog-an, mungkin akan tertawa geli membaca kalimat nomor dua terakhir itu.***

 

42.

Yogyakarta, 00:16 pm.

Hari terakhir di Jogja. Hari pertama puasa. Pukul dua siang nanti, kereta akan berangkat dari Lempuyangan menuju Jatinegara.

Tadi malam kita akhirnya bertemu lagi, Suitcase Kid. Kau terlihat lebih kecil daripada sebelumnya, sedikit berbeda dengan saat pertama kali kita bertemu. Tapi kau menganggapku terlihat lebih muda. “Kalau begini, kan enak. Kita jadi seumuran…” katamu (padahal, umurmu dua tahun lebih tua dariku). Yang kutangkap, kau belum juga terlihat lepas secara utuh dari ketakutan-ketakutanmu. (Ketakutan semacam itu juga terjadi pada semua orang, tentu saja).

Tadi malam kita bertemu Rugun—sebentar… apakah namanya memang begitu?—si dukun tarot (begitu saja aku menyebutnya, ya). Dan dari caranya melayanimu, yakni memberikan jasa untuk membaca persoalan-persoalanmu, aku menarik kesimpulan bahwa, dalam transaksi “terawangan masa depan” itu, terjadi suatu mekanisme kontrol; relasi antara yang dominan (si pembaca ketakutan, lalu mengkomodifikasinya menjadi bahan-bahan psikologis yang lantas bisa diuangkan, misalnya) dan yang inferior (pemilik ketakutan, yang membarter ketakutannya untuk sekadar mendapat “ketenangan” atau “jawaban”). Transaksi ketakutan (termasuk di dalamnya: kekhawatiran, ekspektasi, harapan, dan cita-cita) adalah wujud lain dari kontrol itu sendiri.

Lalu percakapan kita berlanjut ke ide-ide yang barangkali bisa divisualkan untuk karyamu, tetapi aku lebih cenderung setuju jika kau membuat dokumentari—(Perhatikan! Menggunakan huruf “r”; ini bukan typo)—tentang tetangga… atau tentang kamarmu, misalnya. Aku memaparkan itu sembari terus mengamati si dukun tarot yang—bukan hanya aku yang berpendapat seperti ini, tapi hampir semua laki-laki di pasar itu tadi malam, kukira—terlihat sangat manis dan cute. Kepalanya menghentak-hentak ketika musik terdengar gembira, dan senyumnya masih tergambarkan di ingatanku sekarang ini. Pemandangan ekstatif seperti itu baru berakhir tatkala Rambo mengambil alih kemudi gelombang.

Lambat laun sepi, seorang demi seorang kembali ke rumah masing-masing, bersiap-siap sahur.

Lalu siang ini, beberapa kawan masih berbincang tentang makanan yang bisa ditinggalkan untuk Kunci, sebelum kami semua (yang sudah jauh hari tampaknya, dilabeli “warlok” oleh warga lokal di sini) kembali ke Jakarta. Sayang sekali, aku lebih banyak menghabiskan waktu di daerah Mangkuyudan ketimbang di markas Lifepatch… padahal perbincangan dengan Ade beberapa hari yang lalu, adalah sesuatu yang juga aku cari-cari. Sedangkan Sita, dia sibuk dengan pacarnya sehingga niatan untuk berbincang mengenai ketakutanku akan krisis kita bersama ini, yang pernah juga aku paparkan padamu, belum juga bisa terlaksana.

Yah, begitulah, Suitcase Kid! Haha!

41.

Jakarta, 01:05 pm

Aku sering bertanya-tanya, Suitcase Kid, apakah kegusaran yang sering melanda kita itu disebabkan oleh kedengkian, atau semata keinginan untuk membuat orang lain mengerti? Yang mana pun jawabannya, di kala sadar aku akan mafhum bahwa tak ada kebaikan yang terkandung di kedua jawaban itu. Sebab, yang meraja adalah ego. Gautama pernah berujar bahwa tatkala orang mengkritik ucapanmu, jika sedikit saja terbersit di dalam hatimu kemarahan atau kejengkelanmu terhadap orang yang mengkritik, itu menandakan kau tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau ucapkan kepada si pengkritik itu. Pemikir yang bijak tak pernah gusar, dengan kata lain.

Tapi aku bukanlah manusia yang begitu. Aku masih memiliki kedengkian, keirihatian, hasrat kebintangan, ria, dan aku masih terbilang sebagai manusia egois. Aku benci dengan kenyataan itu, tapi tak sanggup pula jika harus menutup-nutupinya. Apalah arti kata-kata atau tulisan-tulisan bijak jika aku masih belum berani mengakui segala keburukan yang ada dalam diriku ini?

Dan yang menjengkelkan sekarang ini adalah aku sedang gusar karena jengkel dengan orang lain, sedetik setelah terbangun dari tidur semalam dan mataku menatap layar kaca supra-antropologis yang ada di tanganku ini. Aku marah, dan karenanya aku juga membenci diriku sendiri.

Kudengar kabar bahwa kau kini sedang di Bali dan akan segera menyeberang menuju Nusa Ceningan. Sempatkanlah waktu mampir ke Pemenang di Pulau Lombok! Kau akan lihat bagaimana teman-temanku di sana bisa mengubah kejengkelan kita menjadi kebaikanmeskipun bagaimanapun juga mereka sama seperti kita, tak lepas dari sifat-sifat buruk itu (toh, kita semua manusia biasa, kan?). Tapi mereka, agaknya, memang berada di luar kategori yang pernah dituding Kartini sebagai “orang-orang yang berdosa karena mengatasnamakan agama”. Mereka punya siq-siq o bungkuk yang pernah kuceritakan kepadamu beberapa waktu lalu. Itu mungkin baik untuk melenyapkan kejengkelanmu pula akibat kasus itu. Pelajarilah siq-siq o bungkuk itu dengan saksama!

Tapi, ya, apa pun lah!

Yang jelas, aku memang sedang jengkel sekarang ini, dan itu tak bisa kubendung!

Lekaslah pulang, Suitcase Kid! Biar kualihkan kekesalan ini dengan berbincang tentang hal-hal lain bersamamu.

40.

Surabaya, 03:16 am

Aku di Surabaya. Kemarin malam aku sempat duduk di salah satu meja di Aiola Eatery bersama Juve dan Anggra. Kata Benny, pujasera itu selalu ramai dan menjadi salah satu tempat berkumpulnya anak muda di Surabaya karena beragam event yang acap kali diadakan oleh pegiat-pegiat seni di kota ini. Benny banyak bercerita tentang Aiola karena dia adalah salah satu saksi inti berdirinya pusat pertemuan kawula muda Surabaya tersebut.

Lain kali akan kutulis tentang itu (jikalau aku ingat).

Ini adalah dini hari terakhir. Sejak Rabu minggu lalu, di Surabaya aku melakukan riset tentang perkembangan seni media. Sedangkan kau, terlihat di media sosial, sedang berada di Yogyakarta dengan keambiguan-keambiguan yang semakin mengeringkan ekspresi.

Timbul rasa penasaranku tentang isi kepalamu beberapa hari belakangan ini, Suitcase Kid…

Nanti malam, aku sudah akan berada di kereta, kembali menuju Jakarta. Sedang mataku, kuat terpicing beberapa kali tanpa terlepas kesadaran dan gagal melelap, karena kalah oleh kerinduan akan dekapan yang biasa ia lakukan dari balik punggungku. “Sialan!” seruku kesal, menyadari bahwa kerinduan ini adalah sesuatu yang keliru.

39.

Jakarta,  00:38 am

Radang tenggorokan belum hilang sementara denyut urat kepala belakang, tepatnya di atas leher sisi belakang, tak sedikit pun berhenti sejak semalam, seolah nyinyir memberitahukan bahwa aku masih sakit. Sedangkan Sheila, ah…, sudahlah! Aku sudah beberapa hari ini tak bisa mengetik barang separagraf pun isi kuratorial tentang film-film pangan (sebenarnya, menentukam film yang mana yang semestinya akan ditayangkan nanti, proses itu juga belum kulakukan) gara-gara demam pascaliburan ke Lombok ini. Pikiran-pikiran tambahan yang membuat hati gusar akan memperparah sakit, sepertinya.

Otty sering mengkritikku: “Lu jadi orang, santai dikit, napa sih…?!!!” Menurutnya, sakit radangku ini selalu menyerang karena aku selalu mumet dan penuh dengan kekesalan.

Kujawab: “Iya, sih…”

Hanya itu. Mungkin dia ada benarnya juga… tapi aku sendiri juga bingung: harus sesantai bagaimana lagi? Hahaha!

Intinya: sakit beberapa hari ini membuat aktivitasku menciut hingga sedemikian sedikit ukurannya sampai ke “hanya menatap dan mengetik layar smartphone saja”. Melanjutkan tulisan? Gagal total! Faaak! Mencoba diskusi di Kebun Pancoran? Akibatnya, malam ini: kepalaku serasa benar-benar akan meledak dengan tanpa sugab mendublar-dublar.

Jadi, jika untuk mengharap kabar-kabar baru dari perempuan jelita (Ingat! Sheila, panggilannya,) itu saja rasanya sudah semakin membuat kepalaku serasa akan pecah dengan, lagi-lagi, tanpa mendublar-dublar, apalagi harus membahas hal-hal yang sebenarnya masih jauh dari kesanggupan untuk kurealisasikan: hidup sebagai vegetarian. (Meskipun, barang kali, itu justru jawaban untuk mengalahkan musuh bebuyutanku ini, si radang tenggorokan kampret!)

***

Saya mencoba meninjau dengan saksama beberapa blogger yang sudah “menyukai” beberapa post yang saya terbitkan dengan label kategori “Marjinal” di blog pribadi ini. Sematan tag #cinta adalah yang menonjol pada terbitan-terbitan terbaru di blog pribadi mereka masing-masing.

Ah, ya, emang! Topik cinta memang yang paling mudah, menyenangkan, menarik, dan laku, populer untuk diceritakan (minimal, akan jadi bahan gosipan, selain topik seks dan kejahatan…), bahkan mungkin jauh, jauh sebelum teknologi teks ditemukan.

Hm…, saya berniat ingin menulis apa tadinya? Tiba-tiba saja ide tulisan itu bersembunyi entah ke mana… Ck!

***

Mataku sekarang lambat laun menjadi semakin perih, Suitcase Kid… dan kiranya baik jika kita melanjutkan percakapan khayali ini lain waktu. Semoga saja di saat itu, aku sudah sembuh.

(Oh, tapi aku senang, karena hari ini kau terlihat sangat enerjik dan membahana, melanjutkan proyek “konspirasi”-mu yang terbaru itu. Kau tetap saja menarik. Bukankah, begitu…?)

38.

Jakarta, 02:40 am

Tahukah kau, Suitcase Kid, bahwa musuhku yang paling mengesalkan (walau bukan yang tersulit) adalah radang tenggorokan?!

Mereka sudah sering menyuruhku berhenti merokok. Tapi, cobalah kau bertanya kepada siapa pun yang masih menjadi perokok hari ini, ‘kan kau peroleh jawaban bahwa mengubah kebiasaan yang buruk ini memang susah sekali.

Yang sangat tidak mengenakkan adalah, musuhku itu selalu mengganggu setiap kali tubuhku berpindah kota. Dan hingga detik ini, di tengah demam dan batuk berdahak yang tak kunjung berhenti, dan di saat bersenandungnya Tatsuro Yamashita (kupilih secara asal dari Youtube sekadar untuk meyakinkan diri bahwa ruangan ini memang tak berhantu), mataku belum juga terlelap.

Cih!

37.

Lombok Utara, 00:43 am

Suitcase Kid, beberapa menit yang lalu kau menjawab pertanyaanku bahwa semangatmu telah kembali dan kini kau sudah bisa bekerja seperti hari-hari biasa (aku berharap, semoga memang sebaik keadaan sebelum ledakan media sosial itu). Aku bukan orang yang berjasa atas keadaan yang membaik ini karena aku yakin, ada pihak-pihak lain yang benar-benar membantumu, baik langsung maupun tidak. Aku justru membangun dialog dengan diri sendiri, selain jadi orang yang sibuk bertanya ini dan itu untuk memenuhi rasa ingin tahuku.

Meskipun mereka dan dirimu sendiri belum bisa menghela napas dan berujar kata “selesai” untuk masalah ini, setidaknya harapan itu ada. Sedangkan diriku, untuk berharap bisa berkata bahwa masalah ini “akan selesai”-pun, kesempatan itu sepertinya tak akan pernah datang kepadaku. Bukan karena aku menantang gagasanmu, tapi karena jarak di antara kita tampaknya memang enggan untuk menyempit, dan jalan tanpa batas yang disenandungkan oleh Sui Zhen itu memang bercabang ke arah yang berlawanan sama sekali.

Belakangan, aku kembali teringat Warsaw dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai. Untung saja mereka tak menagih apa-apa. Siba tengah disibukkan oleh hal-hal tambahan pasca pesta rakyatnya beberapa hari lalu; ia harus menyelesaikan tetek bengek administratif sebelum kembali fokus kepada artikel-artikel Bernas-nya. Rasanya tak mungkin mendesakkan pekerjaan rumah dari Warsaw itu kepadanya sekarang ini.

Sementara itu, pada cerita yang lain, Sheila tak kunjung membalas pesanku, Suitcase Kid. Apakah mungkin karena ia tengah mendaki gunung di Taman Nasional sehingga enggan membalas pesan tentang kabar mahasiswa-mahasiswa Indonesia, rekan-rekan kita, di Polandia itu? Atau justru ia memang tak tertarik untuk membahasnya sama sekali? Ah, ya, sudahlah! Aktivisme mereka tampaknya memang demikian layu; sama saja seperti aktivisme kelas teri di kampus-kampus Depok yang dikelola oleh mahasiswa tingkat S1. Padahal, setahuku, mereka yang sempat kami temui di Warsaw itu, termasuk Sheila sendiri, adalah mahasiswa yang menempuh tingkat Master. Ini turut mengingatkanku pada keluhan Bening tentang mandeknya gerakan atau inisiatif mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Inggris (sebelumnya, aku sempat menduga bahwa mungkin saja karena Bening kurang aktif sehingga gagal menemui lingkaran-lingkaran intelektual yang menggairahkan di sana). Sebaliknya, pesan dari Zimu Zhang, seorang kenalanku dari Cina, yang menanyakan kabar festival film di Jakarta, terasa lebih melegakan dahaga. Menarik kiranya jika bisa bertemu dengannya sekali lagi di tahun ini. Wajar saja, kemarin Hafiz menegaskan kepada Oka, Dhoom, Gozali, Hamdani, dan Siba, bahwa terdapat kebutuhan mendesak bagi kita untuk meluaskan cakrawala berpikir demi membuka jaringan internationale, semangat global, lintas kawasan. Aku kira, Siba dan Gozali lebih mengerti esensi semacam ini daripada yang lain karena mereka memiliki ketulusan dalam bertindak. Mereka sugab mendublar-dublar dalam artian yang nyata, wujud konkret dari apa yang tengah mereka wacanakan: siq siq o bungkuk. Tak ada selain rasa hormat yang dapat kuberikan kepada mereka. Aku bangga mengenal mereka dengan sangat dekat.

Ah, sialan! Aku baru ingat bahwa ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan; sepulang dari Lombok Utara ini, kota Jakarta akan terasa begitu berat karena aku akan kembali ke kebiasaan semula: tidak menatap gunung, sawah, sungai, dan laut…, juga tetangga. Sebab, layar-layar supra tentunya lebih kuat memaksa gesture diriku untuk kembali menjadi workaholic yang menyebalkan! (Atau, sebagaimana kritik Otty, justru akulah yang terlalu lemah untuk berpaling dari ultima teknologis ini, tenggelam dalam keindividualan yang memuakkan.)

Lalu, masih ada teks kuratorial, editorial, dan perihal-perihal database lainnya. Sialan, oh, sialan!

Tapi, kenyataannya memang begitu, Suitcase Kid. Bagaimana pun, kita memang harus kembali “bekerja”. Syafiatudina pernah berujar, pekerjaan kita adalah memproduksi hal-hal untuk menciptakan (atau untuk mengisi) waktu luang orang lain. Terkesan ironis, tapi faktanya kita tetap saja berada di bidang ini.

Pesta rakyat di Pemenang tahun ini selesai, tapi dalam beberapa bulan ke depan, di Jakarta, aku dan beberapa teman masih mengharapkan perayaan-perayaan tentang diorama, seni media, dan sinema. Keadaan ini sering menyebalkan karena waktu yang tersedia terasa sangat padat, tapi ia terus menjadi candu dalam bentuk yang lain karena melalui upaya-upaya semacam inilah kegemilangan-kegemilangan sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Pemenang itu, bisa kita wujudkan. Atau setidaknya, situasi ini bisa menciptakan komunikasi yang lebih berarti, tidak layu sama sekali.

Bukankah begitu, sebagaimana yang mereka juga tahu, betapa menariknya percakapan-percakapan awalku denganmu, Sheila…? Denganmu, Bening…? Dan… tentu saja kau juga, Suitcase Kid?

36.

Lombok Utara, 05:29 am

Kini aku di Kecamatan Pemenang. Beberapa hari lewat tanpa ada pecakapan denganmu, Suitcase Kid. Ternyata tak selamanya kepalaku akan suntuk berpikir mengenaimu. Kalau orang bilang aku sedang jatuh cinta (aku juga mengatakannya demikian), kiranya tepat kalau kita sekarang berujar: jatuh hati pun ada batas kebertahanannya. Bukankah begitu? Mungkin kau tidak setuju, tapi beberapa kali dalam chat panjang kita, sadar atau tidak, kau juga menunjukkan keterbatasanmu untuk bertahan terhadap perasaan senangmu dengan seseorang yang lain. Sering kali, sebagaimana orang-orang juga biasa mengalaminya, keterbatasan itu membeku menjadi jeruji (pada beberapa waktu) dan berubah menjadi tuas (di lain kesempatan) sehingga membuat gairah kita mendekam atau melompat ke titik ekstasi yang melampaui perasaan semata-mata senang; faktor umumnya ialah kekecewaan atas hal-hal kecil atau ketakjuban pada gejala-gejala besar di luar ketubuhan manusia.

Dan kini, aku menemui gejala besar yang lebih baru yang menyita perhatianku dari persoalanmu (meskipun beberapa teman masih saja menggunjingkanmu dan itu membuatku terus saja mengumpat). Aku bersyukur karena gejala besar itu justru peristiwa sosial yang demikian positif: pesta rakyat. Sayang sekali kau tak dibolehkan berangkat ke pulau ini.

Di sini, mereka tak pernah mendefinisikan diri sendiri (secara individual), tapi berusaha merumuskan keberadaan kolektif diri mereka. Mereka menjalankan aktivismenya dengan landasan keimanan tanpa berkoar takbir dan menyerbu toko miras. Mereka Islam, tapi bukan FPI. Merekalah yang menyerukan kekuatan dari kebhinnekaan suatu masyarakat yang terdiri dari tiga agama: Hindu dan Budha, dua agama lainnya. Fenomena di komunitas ini adalah pelajaran yang penting, setidaknya buat diriku sendiri: mereka tiada sibuk mendefinisikan dirinya sendiri. Moral mereka tidak mengarah ke dalam (ke tubuh individual diri mereka masing-masing), tetapi mengarah ke luar (ke orang lain, ke gunung, sawah, ladang, jalanan, sungai, laut, dan… ke tetangga mereka).

Penampakan dan pengalaman semacam inilah canduku yang sebenarnya kuinginkan, Suitcase Kid…

Dan kunci siq siq o bungkuk, seperti yang aku coba jelaskan kepada Maria dua malam lalu, adalah empati. Ya, memang empati..

35.

Jakarta, 11:10 am

Mengapa ada begitu banyak orang yang senang mendefinisikan dirinya sendiri, secara sadar atau tidak? Tak sedikit pula yang aku kenal. Ini selalu membuatku berpikir terus tentang esensi kerendahhatian dan aktivisme itu, Suitcase Kid.

Malam tadi kau berkata bahwa sesuatu menyerang perutmu hingga menjadi mual. Sesuatu itu adalah teks tentang isi kepala dari orang yang ditakuti oleh semua orang. Kepribadian orang macam itu telah difilemkan oleh Hitchcock. Aku merasa bersalah karena faktanya, tanpa sengaja dan tanpa ada pikiran jahat apa pun, justru akulah yang mengirimkan teks itu kepadamu sekitar satu atau dua minggu sebelum ledakan berita tentang kasusmu terjadi. Padahal, saat itu, aku hanya terpikir bahwa literatur tersebut mungkin berguna bagimu untuk memahami beragam konteks, agar kau tak mengawang-awang, supaya kau mengerti hal-hal tentang ketubuhan dan pola pikir—yang kata beberapa orang, harus dipahami baik secara sosiologis maupun antropologis.

Aku jadi mengingat-ingat lagi beberapa kejadian dan percakapan kita, untuk menemukan jawaban, apa gerangan yang mendorongmu membuka berkas yang aku berikan? Ah, ya! Aku sepertinya bisa menebak. Kau semalam tengah berniat menyaksikan The Wind Will Carry Us, ya? Hm… mungkin juga bukan. Tapi memang, filem itu (yang aku kira tak ada di dalam berkas yang aku berikan padamu) memang pas untuk mengimbangi ide-ide yang sedang kau coba bangun dalam rangka mendapatkan penjelasan alternatif mengenai fenomena orang-orang yang—secara bablas mendefinisikan dirinya sendiri—pada akhirnya menyerah terhadap dunia (atau justru mengharapkan lembaran baru di lapisan dunia lain). Dan kita sama-sama menyaksikan bahwa kejadian-kejadian semacam itu masih terus bergentayangan di sehari-hari kita. Kau menangkap maksudku? Ya, fenomena yang telah diangkat oleh Durkheim dalam kajiannya yang terbit tahun 1897.

Aku pun masih geli (walaupun sudah bisa kusangka), orang semacam UTM pun mengamati video yang menghebohkan publik media sosial beberapa hari lalu itu, dengan sesuntuk yang khas sebagaimana biasanya.

“Kau melewatkan ultima media sosial, kalau begitu,” katanya, saat aku mengaku tak kuat melihat video yang telah dihapus oleh Facebook itu.

Mengapa orang-orang tak pernah jengah mendefinisikan dirinya sendiri, Suitcase Kid…?

Aku sering mengira bahwa ini adalah persoalan laten yang diselimuti ego masyarakat industri yang telah melupakan kearifan-kearifan kolektif yang semestinya kita junjung. Padahal, bangsa kita adalah masyarakat industri yang prematur. Kau mungkin tak setuju, begitu juga beberapa orang yang lain, seperti perempuan yang menarik hatiku beberapa waktu lalu, perempuan yang suka sekali pulang-pergi Jakarta-Bandung. Akan tetapi, apa pun yang akan kau katakan, aku justru tidak bisa untuk tidak setuju dengan kolektivitas, dan karenanya aku menolak pandangan perempuan Bandung itu ketika ia mengkritik beberapa perkembangan di daerah Jakarta Selatan.

Tadi malam juga, aku mengamati Maria. Walau berbeda masalahnya, keberadaanku di sampingnya difaktori oleh hal yang sama: pertemanan, dan kepedulian. Belakangan ia tampak mulai bisa menikmati kegembiraan dalam bentuk yang lain, yang berbeda dengan apa yang pernah ditawarkan oleh paguyuban kampus yang memuakkan itu. Tapi, aku sekarang malah menjadi kebingungan untuk menjawab hal-hal yang terlihat jelas sekarang. Apalagi kalau memperhatikan mereka (Asti, Rayhan, Anggra, Pingkan, dan… Melisa…[?] dan… Tyas. Ah, ya… Tyas. Ada lagi: Rambo, Padang, Hanif…, ya, Hanif… dan mungkin juga Ragil).

Aduuuh, Suitcase Kid!

Bukan terang yang kudapat, malah keruwetan tentang bagaimana orang-orang bersikap, berperilaku, dan memandang dirinya sendiri.

Mengapa begitu banyak orang yang suka sekali, sadar atau tidak, mendefinisikan dirinya sendiri…?