Blog

29.

Jakarta, 2:46 am

Tatkala mimpi dan ramalan membutuhkan tafsir, itulah waktunya bagi kaki untuk melangkah menemukan jalan. Ke mana? Ke toko tempat dijualnya ketakutan sebagai suatu kunci untuk memahami krisis hari ini.

Mungkin suatu hari nanti, saat ia—yang sekarang ini tampaknya belum menyadari bahwa kunci jawaban untuk saya mungkin sedang tersembunyi di dalam kaus kakinya—menemukan catatan ini—yang bisa jadi merupakan kunci jawaban baginya—dengan sengaja atau tidak, saya sudah melewati titik exstasis yang entah bagaimana. Mungkin juga, ia justru tengah duduk di sebelah saya di hari (di masa depan itu) sambil tertawa, atau justru mencibir?

Apa pun yang akan terjadi nanti, ia akan tahu bahwa visual pada video musik inilah—abaikan saja liriknya (dan mungkin juga ia tak suka lagu-lagu semacam ini…? Saya hanya bisa menebak-nebak)—yang mengobati kegelisahan saya detik ini, di waktu dini hari ini, ketika saya tengah tersentuh oleh julukan “suitcase kid” yang ia sematkan sendiri sebagai sebuah penanda pada catatan pribadinya, tertanggal 15 Februari 2017.

Catatan itu penuh dengan kalimat-kalimat yang sulit untuk saya cerna, penuh dengan bagasi pengalaman yang demikian jauh dan tak bisa (atau semoga saja, masih “belum bisa”) saya gapai di minggu-minggu, bulan-bulan, atau tahun-tahun ini (atau mungkin justru tak akan pernah bisa?). Isinya penuh kemarahan dan keputusasaan, barangkali, tapi rasanya juga menuansakan optimisme untuk bangkit dari keterpurukan. Setidaknya, kebangkitan itulah yang terlihat setiap kali ia menyilangkan tangan, beraksi menyapa lingkungannya dengan kejenakaan seni. Ia sebenarnya jagoan.

Julukan itu, yang tak bisa saya duga apakah jangan-jangan memang ada hubungannya dengan kisah Jacqueline Wilson, dengan eloknya justru membuat saya mengerti apa kiranya yang sudah membuat saya tertarik pada perempuan ini. Jawabannya, tinggi tapi sederhana, sederhana tapi berarti: cita-cita.

28.

Warsaw, 6:24 pm

Saya masih ada banyak utang artikel Polandia, padahal besok adalah hari terakhir saya di negara ini. Tapi, ada hal lain yang harus saya lakukan sebelum melunasi utang-utang itu, yakni mengunggah foto ini, untuk tujuan rahasia. Hahaha!

13731128_1184509498278015_970077632_n1

27.

Wrocław, 01:24 am

Tempat pertama yang saya kunjungi setibanya di Wrocław (untuk yang kedua kalinya) adalah ini:

Foto di atas adalah penampakan salah satu sisi di studio milik Paweł Romańczuk yang berlokasi di Kontury Kultury, Jagiellończyka 2, Wrocław. Paweł adalah salah seorang musisi dan seniman (sound artist) yang tinggal di kota itu. Di dalam foto, sosok perempuan berbaju hitam yang duduk di kursi, membalikkan badannya, adalah salah satu teman dekat kami, seniman yang tak kalah oke, bernama Iza Rutkowska. Karyanya yang sering bermain di ranah publik (tak jarang melibatkan orang-orang awam) memiliki kesamaan visi, dalam beberapa hal, dengan proyek-proyek Paweł yang juga sering melakukan lokakarya tentang bunyi (sound) bersama aneka komunitas. Mereka berdua sempat berkolaborasi (dan akan melakukan kolaborasi baru di lain waktu di masa depan, sepertinya).

Paweł mengembangkan sebuah band, bernama Małe Instrumenty (atau Small Instruments dalam bahasa Inggris), sejak tahun 2006. Band ini mengeksplorasi bunyi-bunyian dari beragam instrumen-instrumen sederhana dan kecil. Di dalam foto, terlihat ada puluhan piano kecil (sebenarnya, Paweł mengoleksi ratusan macam objek piano kecil seperti itu) yang ia kumpulkan sejak lama, sejak berkecimpung di bidang ini.

Satu pemandangan yang cukup masif di mata saya, dan membuat saya ternganga. Tapi itu pula yang rasanya mendorong saya lebih tertarik memajang foto itu ketimbang potret si musisi yang berambut panjang, brewokan, dan tampak selalu bersikap ogah-ogahan itu (adahal, tidak begitu tentunya jika kita melihat koleksi semenakjubkan ini).

26.

Warsaw, 11:50 pm

Seharusnya saya sudah harus memejamkan mata. Besok, pagi-pagi sekali sudah harus berada di stasiun kereta Warszawa Centralna. Kami—saya dan Siba—akan berkunjung untuk yang kedua kalinya ke Wrocław. Empat hari kemudian, kami melanjutkan riset ke Poznan.

20161019_144142
Sepintas orat-oret di selembar kertas.

Ada beberapa hal yang luput saya unggah ke blog ini karena keasikan duduk tertawa—tak jarang juga dengan kebingungan karena bahasa Inggris yang pas-pasan—hampir setiap malam, menjamu sebanyak-banyaknya kawan—saya lebih suka untuk mengatakan “Make friends, not art“—yang kami temui di sini. Lalu, beberapa pertemuan, presentasi, dan keharusan untuk duduk di depan layar laptop untuk mentranskrip rekaman audio wawancara yang kami lakukan dengan beberapa pegiat seni di sini.

Karenanya, semua hari yang saya lalui itu cukup dirangkum saja dengan beberapa foto berikut ini. Hahahaha!

20161017_121126
Presentasi… setiap senin, sarapannya adalah dengan presentasi (sejauh si seniman yang bersangkutan ada di tempat: A-I-R Laboratory)

20161017_154704

20161017_183500
Sup khas Rusia yang rasanya seperti gulai baga khas Pariaman.
20161017_184158
Mustard yang pedasnya tingkat BANGKE! Hahaha!

20161017_191513

20161017_200346
Meet our nice company!
20161018_001243
art is in the kitchen!
20161018_003355
A kind of…
20161018_213240
“MAKE FRIENDS, NOT ART!” (salah satu slogan yang dipopulerkan oleh ruangrupa, dan saya sangat setuju!).

25.

Warsaw, 11:00 pm

Kami tiba kembali di Warsaw dua hari yang lalu. Saya pikir, tampaknya kami harus pergi lagi ke Wrocław minggu depan karena masih banyak data yang belum saya dan Siba dapatkan.

Sementara itu, Jum’at malam, kemarin, adalah acara makan malam ala Norwegia. Chef-nya adalah Lauren Huret. #asyek

Semua menu ikan dan kentangnya enak luar biasa. Kris sungguh keliru saat mengatakan bahwa makanan Norwegia adalah makanan ‘paling menakutkan’. Hahaha!

24.

Wrocław, 10:00 am

Berkunjung ke “Backyard” (begitulah Iza sering menyebut lokasi yang satu ini). Nama lebih tepatnya: Ośrodek Kulturalnej Animacji Podwórkowej (atau Center for Courtyard Cultural Animation).

Jagoan-jagoan luar biasa. Mereka membuat sebagian besar warga yang tinggal di satu distrik itu menjadi ‘seniman’.

Salah satu mural buatan warga di daerah itu yang menarik perhatian saya.

23.

Wroclaw, 07:30 pm

Alun-alun Wrocław layaknya Kota Tua di Jakarta: begitu ramai oleh pelancong dan pedagang. Bedanya, di sini tampak lebih rapi dan eksotis (di mata saya sebagai turis dari Asia) meskipun tetap tak lepas dari kehadiran gelandangan dan pengemis.

Lokasi yang benar-benar instagramable atau landscapable gitu gitu daaah…! Zzz…!

22.

Wrocław, 06:00 pm

Sembari menunggu kedatangan Kris, mampir ke Museum Nasional Wrocław adalah pilihan paling tepat hari ini.

Tapi tadi siang kami benar-benar kekurangan waktu untuk menikmati semua karya yang ada di museum. Ck!

Foto di atas menampilkan karya Lech Majewski (2016), berjudul Ucta u Heroda podług Srobla (atau The Feast of Heroid after Strobel), salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Wrocławska Europa (kurator: Ewa Houszka) di Museum Nasional Wrocław. Pameran ini sendiri menyoroti karya-karya Bartholomaeus Strobel, pelukis yang hidup di Wrocław pada abad ketujuh belas, dan seniman-seniman sezaman lainnya.

21.

Wrocław, 04:00 pm

Setibanya di kota ini, kami mampir ke restoran yang cukup mewah. Mumpung per diem selama satu minggu yang lalu masih tersisa banyak, saya dan Siba tak segan memesan menu beef yang cukup mahal. Dari gambar di buku menu, sih, beef yang kami pesan terlihat lezat sekali.

Iza (Polandia, seniman, teman baik kami) dan Siba.

Tapi ternyata, ada kubis merah yang rasanya… aduh…! Lihat saja, Siba tak sanggup menghabiskan makanan kami sore itu. Yah…, begitulah…!

20.

Warsaw, 09:36 am

Di negeri-negeri empat musim, yang menarik adalah tetumbuhan dengan berbagai warna dalam satu lanskap. Yang tak menarik: DINGIN!

Sulit untuk memahani keadilan dari alam, memang. Sial…! Hahaha…!