Blog

35.

Jakarta, 11:10 am

Mengapa ada begitu banyak orang yang senang mendefinisikan dirinya sendiri, secara sadar atau tidak? Tak sedikit pula yang aku kenal. Ini selalu membuatku berpikir terus tentang esensi kerendahhatian dan aktivisme itu, Suitcase Kid.

Malam tadi kau berkata bahwa sesuatu menyerang perutmu hingga menjadi mual. Sesuatu itu adalah teks tentang isi kepala dari orang yang ditakuti oleh semua orang. Kepribadian orang macam itu telah difilemkan oleh Hitchcock. Aku merasa bersalah karena faktanya, tanpa sengaja dan tanpa ada pikiran jahat apa pun, justru akulah yang mengirimkan teks itu kepadamu sekitar satu atau dua minggu sebelum ledakan berita tentang kasusmu terjadi. Padahal, saat itu, aku hanya terpikir bahwa literatur tersebut mungkin berguna bagimu untuk memahami beragam konteks, agar kau tak mengawang-awang, supaya kau mengerti hal-hal tentang ketubuhan dan pola pikir—yang kata beberapa orang, harus dipahami baik secara sosiologis maupun antropologis.

Aku jadi mengingat-ingat lagi beberapa kejadian dan percakapan kita, untuk menemukan jawaban, apa gerangan yang mendorongmu membuka berkas yang aku berikan? Ah, ya! Aku sepertinya bisa menebak. Kau semalam tengah berniat menyaksikan The Wind Will Carry Us, ya? Hm… mungkin juga bukan. Tapi memang, filem itu (yang aku kira tak ada di dalam berkas yang aku berikan padamu) memang pas untuk mengimbangi ide-ide yang sedang kau coba bangun dalam rangka mendapatkan penjelasan alternatif mengenai fenomena orang-orang yang—secara bablas mendefinisikan dirinya sendiri—pada akhirnya menyerah terhadap dunia (atau justru mengharapkan lembaran baru di lapisan dunia lain). Dan kita sama-sama menyaksikan bahwa kejadian-kejadian semacam itu masih terus bergentayangan di sehari-hari kita. Kau menangkap maksudku? Ya, fenomena yang telah diangkat oleh Durkheim dalam kajiannya yang terbit tahun 1897.

Aku pun masih geli (walaupun sudah bisa kusangka), orang semacam UTM pun mengamati video yang menghebohkan publik media sosial beberapa hari lalu itu, dengan sesuntuk yang khas sebagaimana biasanya.

“Kau melewatkan ultima media sosial, kalau begitu,” katanya, saat aku mengaku tak kuat melihat video yang telah dihapus oleh Facebook itu.

Mengapa orang-orang tak pernah jengah mendefinisikan dirinya sendiri, Suitcase Kid…?

Aku sering mengira bahwa ini adalah persoalan laten yang diselimuti ego masyarakat industri yang telah melupakan kearifan-kearifan kolektif yang semestinya kita junjung. Padahal, bangsa kita adalah masyarakat industri yang prematur. Kau mungkin tak setuju, begitu juga beberapa orang yang lain, seperti perempuan yang menarik hatiku beberapa waktu lalu, perempuan yang suka sekali pulang-pergi Jakarta-Bandung. Akan tetapi, apa pun yang akan kau katakan, aku justru tidak bisa untuk tidak setuju dengan kolektivitas, dan karenanya aku menolak pandangan perempuan Bandung itu ketika ia mengkritik beberapa perkembangan di daerah Jakarta Selatan.

Tadi malam juga, aku mengamati Maria. Walau berbeda masalahnya, keberadaanku di sampingnya difaktori oleh hal yang sama: pertemanan, dan kepedulian. Belakangan ia tampak mulai bisa menikmati kegembiraan dalam bentuk yang lain, yang berbeda dengan apa yang pernah ditawarkan oleh paguyuban kampus yang memuakkan itu. Tapi, aku sekarang malah menjadi kebingungan untuk menjawab hal-hal yang terlihat jelas sekarang. Apalagi kalau memperhatikan mereka (Asti, Rayhan, Anggra, Pingkan, dan… Melisa…[?] dan… Tyas. Ah, ya… Tyas. Ada lagi: Rambo, Padang, Hanif…, ya, Hanif… dan mungkin juga Ragil).

Aduuuh, Suitcase Kid!

Bukan terang yang kudapat, malah keruwetan tentang bagaimana orang-orang bersikap, berperilaku, dan memandang dirinya sendiri.

Mengapa begitu banyak orang yang suka sekali, sadar atau tidak, mendefinisikan dirinya sendiri…?

34.

Pekanbaru, 1:20 am.

Aku tertegun membaca artikel yang kau bagikan di kolom chat kita beberapa menit lalu. Mungkin sekali orang-orang eksklusif akan mengira bahwa itu adalah sebuah tulisan berisi penghakiman tanpa pengetahuan. Mereka menilainya dari sudut pandang ego mereka sebagai orang yang sehari-harinya terus bertindak atau berpikir di bidang ini. Tapi, idealnya kita tak bisa menyalahkan si penulis, apalagi merendahkannya dengan mengatakan bahwa ia tak mengerti seni. Sebab, sebagai bagian dari publik yang kebebasan suaranya dijamin oleh konstitusi, si penulis memiliki hak istimewa untuk memberikan penilaian, meskipun kita bisa saja mendebat bahwa isinya cuma tudingan-tudingan yang tak sedikit mengandung kekeliruan, pengetahuan yang cukup asal, dan menyalah-nyalahkanmu. Namun, dalam hal ini (dan hal-hal lain, di konteks apa pun), aku tidak akan sudi menyalahkannya karena kita, pegiat seni, bukanlah (dan tidak akan pernah tidak bukan) kelompok manusia yang lebih tahu dari yang lain. Kita semua sama bodohnya, sama pintarnya. Akan menjadi salahlah kita jika (bahkan walaupun sedikit saja) berpikir bahwa si penulis itu tidak mengerti seni.

Tidak, Suitcase Kid! Aku tak akan menyalahkannya. Dan memang itulah situasi yang perlu kita hadapi dengan kebesaran hati. Apakah aku harus berkata pula: “Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti…” … ? Apakah harus begitu? Tentu saja tidak! Karena, toh, ini adalah sebuah monolog untuk menampar pikiranku sendiri ketimbang suatu tawaran untuk menggugahmu. Karena memang bukan itulah tujuanku membuka komunikasi khayali ini, dengan sedikit berharap akan menjadi agenda “masa depan bersifat spekulatif”. Tujuanku sederhana saja: kita perlu berpikir ulang, tentang apa yang tengah berlalu, untuk menakar kebijakan-kebijakan pada diri kita sendiri untuk menghadapi saat-saat yang dalam waktu dekat akan segera tiba.

Dan semalaman ini, kita berbincang tentang cukup banyak trivia, tentang si anu dan si anu yang lain. Kau yang lebih banyak bercerita, sedangkan aku mendengarkan dengan tulus dan penuh minat. Saat kau bertanya tentangku, tak banyak yang bisa kuceritakan karena aku bukan pengungkai cerita menarik di saat niatku justru diselimuti ketulusan. Kalau harus membual dengan tujuan tertentu, aku adalah salah satu jagonya. Tapi bukan itu yang sedang kulakukan padamu, Suitcase Kid.

***

Masih ingatkah kalian bahwa di malam toko itu tutup, saya berbincang dengan seorang musisi elektronik (yaaa, begitulah saya menyebutnya sementara ini…) yang penampilannya ternyata kalah menarik dengan ajakan berbincang dari seorang peneliti…? Belakangan saya tahu, pemuda itu adalah teman dari perempuan yang sudah lebih dari sebulan hinggap di kepala saya ini.

Dan dari cerita Suitcase Kid tentang pemuda itu, saya sekali lagi merasa dapat memahami bahwa betapa dunia yang saya jalani ini tak akan pernah lepas dari segi-segi yang selalu membuat perut saya mual: persaingan, eksistensi, dan hal kekanak-kanakan lainnya. Seolah-olah seni telah terlupakan begitu saja sebagai ruang untuk menciptakan keberpihakan pada kebenaran. Apa sebab? Karena pada akhirnya orang-orang seperti ini (mungkin juga saya termasuk di dalammya) hanya akan tampil dalam kepalsuan yang haus pengakuan. Generasi yang demikian jauh dari cita-cita aktivisme yang telah dipancangkan pijakan-pijakan awalnya oleh orang-orang terdahulu.

***

“Apa guna kau menggumam seperti ini?!” kau mungkin akan bertanya, membantah dengan hardikan.

Aku punya hati kecil yang terdiri dari dua kamar, satu sama lain saling melontarkan bunyi-bunyi yang berseberangan. (Bukankah seperti itu kiranya Meliala pernah mengajarkan aku dan beberapa kawan tentang mesin konflik batin yang akan membuahkan moral demi mengimbangi pikiran-pikiran rasional…? Sebentar…! Aku juga ingat bahwa Fauzan juga pernah mengucapkan hal serupa. Dia menggunakan ikan dan roh gentayangan sebagai poros retorikanya). Di kamar yang satu, ada sebuah kursi goyang kecil yang bersedia untuk kau duduki, di sebelahnya ada pula meja kecil dengan sebuah catatan yang juga kecil untuk siap kau baca dengan saksama: catatan ini (dan beberapa lainnya yang sudah ter-post-kan). Tapi, kamar yang lainnya justru terkunci rapat dan di pintunya tertulis: DILARANG MASUK. Oh, ayolah! Apakah kau tak paham bahwa tulisan ini pun juga tak netral dari kegalauan-kegalauan yang persis sama dengan latar curhatan yang kau utarakan padaku dua, tiga, empat, lima hari belakangan? Jadi, aku rasa sebijaknya kau tidak usah gusar dan mengeluh dan menyesalkan catatan ini. Sebagaimana yang telah kukatakan padamu: “Hidup tidak akan indah jika semuanya bisa dijelaskan.”

Aku masih ingat kau hanya merespon kalimat itu dengan ” Aduh 😦 ”

Apa makna reaksi itu? Aku juga tak mengerti jelas…, tapi tak perlu pula dijelaskan, toh…?!

***

33.

Pekanbaru, 4:39 am.

Hampir setiap hari aku bertanya kabar, jawabanmu tak menunjukkan tanda-tanda baik. Meskipun agak mereda, hal-hal yang kau lakukan untuk menegaskan suasana baik itu justru menjadi cermin yang bisa membuatku melihat bahwa semuanya belum baik-baik saja. Sedangkan beberapa menit lalu, dengan gamblang kau menjawab, “Tidak aman.”

Ada dua hal yang membuatku gundah. Pertama, situasi yang kau hadapi, yang nyatanya memang semakin rumit (ditambah hal-hal baru yang bukan saja mengejutkanmu, tetapi bahkan aku). Kedua, rasa khawatirku (yang agaknya) tak masuk perhitungan sebagai hal yang perlu kau pikirkan (Oke! Aku akui alasan kedua ini memang bukan masalah penting dan memang tak perlu kau pikirkan, karena ini hanya masalah perasaan sentimentil belaka; padahal masalah nyata yang sedang kau hadapi jauh, jauh lebih penting, Suitcase Kid).

Kakiku baru saja menapak di Pekanbaru dan kepalaku berpikir rumah kelahiran memanglah surga. Pada senja dua hari yang lalu, aku juga melihat surga dalam bentuk yang lain di pinggir Danau Kembar, tatkala matahari terbenam perlahan dan melukiskan perubahan demi perubahan garis-garis di langit. Beruntunglah mereka yang mengetahui impresionisme, tapi aku tak berdaya untuk mengangkat kamera. Aku terpana, sembari memikirkanmu. Aku rasa, visual yang seperti itulah yang sepertinya mungkin benar-benar bisa mengenyahkan beban pikiranmu selama beberapa menit. (Ah! Sayang sekali aku tak tahu judul lagu yang diputar Gelar waktu itu. Lagunya menarik dan mengentalkan suasana, walau tak sejenius Sun Ra. Akan kutanya nanti padanya, dan akan kuberitahu padamu setelahnya, berharap kau akan menyukainya walau mendengar tanpa sinema impresionistik di depan mata).

Dan semangat-semangatku kini, Suitcase Kid, sungguh sangat ambigu. Kita tahu, HB Jassin telah berucap kepada pengadilan (dan juga kepada kita) bahwa seni seharusnya diadili oleh seni itu sendiri. Kau tentu sudah membaca tulisan Jurnal Karbon beberapa hari lalu, kan? Kita tahu akan hal ini dari tulisan yang cukup bijak itu. Tapi publik adalah pemegang suara segala. Dan celakanya, suara publik adalah momentum yang tak pernah tidak dijadikan peluang bagi mereka yang berkepentingan. Dalam situasi ini, kau yang dituduh telah melukai perasaan orang-orang, justru mengalami luka yang nyata dan tak dipedulikan orang-orang itu. Bukan hanya kau, aku pun menangis tersedu-sedu setiap mendengar kegelisahan-kegelisahanmu. Atau mungkin kau tak pernah menangis, tapi itu bukan berarti pula membuatku malu mengakui bahwa aku menangis sedih mengetahui sedikit semi sedikit kemungkinan arah masalahmu ini.

Suitcase Kid, apa yang bisa kulakukan detik ini selain berkhayal(?): jika aku ada di sampingmu, ku ‘kan letakkan telapak tangan kananku di atas kepalamu seraya berbisik, “Seni selalu berpihak kepada kebenaran, kepada yang tertindas. Percayalah!”

Kita masih harus melihat (atau aku masih harus menunggu), akan bagaimanakah kiranya persoalan ini mencapai bentuk akhirnya? Akan kemanakah kemudian arah angin-angin yang menyelimutinya…?

Karenanya, kita memang perlu meluaskan ketabahan hingga tak terhingga, Suitcase Kid…

32.

Solok, 6:36 pm

Berbincang denganmu, membuat kepalaku terus berpikir, Suitcase Kid… bahwa medan senirupa kita nyatanya memang menuju titik penghancuran tembok, yang akan membuka gagasan-gagasan baru. Sayangnya, saat ini kita baru hanya bisa berkata: “Semoga saja!”

Kini, orang-orang berjalan di jalur setapak arbitrer. Entah bagaimana nanti…(?)

31.

Solok, 2:13 am

Ah… Suitcase Kid… 😦

Aku bahkan belum berhasil melihat dengan jelas (lantas mengartikulasikannya dengan bijak) persoalan-persoalan urgent dari apa yang sudah kau lakukan, namun publik telah lebih dulu menunjukkan malapetakanya. Ya, apa namanya kalau bukan malapetaka yang tengah menimpamu kini?

Aku terlambat, gerak gelombang opini massa lebih cepat, lugas, dan tanpa tedeng aling-aling meletakkan kesalahan padamu dengan sangat berat. Dan tak ada yang lebih membuat hatiku sedih menyadari bahwa aku hanya bisa berucap: “Tetap semangat…!” Dukungan yang sangat klise, basi, dan mungkin pula memuakkan di matamu. Tapi aku memang bagian dari publik itu, yang, setelah dipikir-pikir lagi, memang menolak apa yang sudah kau lakukan.

Seandainya saja aku menemukan kejanggalan ini lebih awal… tak akan kubiarkan ini terjadi.

Nyatanya, bukan ketakutan-ketakutan yang selama ini kita dugalah yang semestinya kau gali, melainkan ketakutan akan konsekuensi teknologis yang benar-benar di luar prediksi. Juga, yang lebih utama, ketakutan tentang kegegabahan manusia yang tak dewasa lantas lalai dan dengan ceroboh malah menerabas etika, yang pada akhirnya berujung pada penghakiman publik yang menusuk dengan kejam karakter si terhujat tanpa belas kasih dan pengertian atas duduk perkara. Aku adalah penentangmu, tetapi sekaligus orang yang begitu khawatir tentang keadaanmu kini. Berat rasanya untuk bertanya: Bagaimana keadaanmu kini? Mungkin tak ada yang lebih khawatir daripada aku sekarang ini.

Aku adalah orang yang paling tak ingin melihatmu kemudian jatuh dan menyerah hanya karena masalah ini. Kau memang salah (di mataku, dan di mata publik lainnya), tapi bukan berarti kau lantas dihilangkan. Bagiku, ini merupakan kesalahan yang terjadi karena ketidakpahaman, bukan kesalahan karena nafsu kejahatan. Tapi, masyarakat bukanlah pemegang keadilan sehingga pengadilannya terkadang menimbulkan kepahitan. Sepahit itulah tenggorokanku kini, detik demi detik melihat alur media yang secara otomatis menjalankan perannya untuk melanggengkan polemik ini.

Aku ingin tetap melihatmu, Suitcase Kid. Aku ingin kau tetap ada.

Dan pandanganku secara pribadi sebagai temanmu, sebagai orang yang peduli terhadapmu, tak akan berubah sama sekali meskipun kali ini kau melakukan kesalahan fatal. Aku ingin kau tetap berkarya.

Kesedihanku sungguh sama dengan kegundahanmu. Tak bisa lagi kupingkiri bahwa aku sepertinya memang telah mencintaimu sampai ke titik ini.

Tatkala mimpi dan ramalan membutuhkan tafsir, di saat itulah kaki akan melangkah. Ke mana? Agaknya, kita perlu sejenak melangkah pulang ke rumah, memeriksa kembali rak demi rak estetika yang tak akan pernah lepas dari etika.

Suitcase Kid, aku akan tetap menjadi temanmu, dan akan terus mendukungmu.

Setidaknya, masalah ini telah dan akan menjadi pelajaran berharga buatmu, buatku, buat mereka, buat kita yang juga adalah bagian dari masyarakat yang sedang terluka.

Tetap semangat dan tegar, Suitcase Kid!

30.

Jakarta, 2:20 am

Dipikir-pikir lagi, lagu yang saya sematkan pada post sebelumnya memang tak terlalu memuaskan. Tapi perlu diakui bahwa visualnya membius saya.

Beberapa hari ini, kepala saya belum juga lepas dari memikirkan Suitcase Kid. Sesuntuk yang sedikit demi sedikit membisikkan duga-duga: agaknya arah jalan saya memang bukan ke sana. Sedangkan ketertarikan saya pada karyanya, itu lain soal. Tokonya sudah tutup. Perbincangan tentang ide “membaca buku di berbagai tempat” (sebuah tawaran praktik performatif lainnya yang tak kalah menarik) dengan seorang peneliti yang kebetulan hadir malam tadi, menyita perhatian saya daripada penampilan musik elektronik dari orang yang beberapa menit sebelumnya saya ajak berbincang.

Ketakutan memang tak perlu dicari. Dia ada di benak setiap orang. Pertanyaannya, barangkali, bukan bagaimana memicu takut, tetapi bagaimana meletakkan konteks ketakutan itu. Sementara ini, dalam catatan saya, Suitcase Kid tidak gagal mengartikulasikan ketakutan (sesuai dengan studinya selama ini—argumen tersebut berdasarkan dari apa yang saya amati dari beragam image di media sosialnya, serta dari diskusi-diskusi yang berlangsung sangat singkat), tetapi tampaknya ia gagal menemukan definisi yang tepat yang dibutuhkan oleh orang-orang yang ia libatkan. Tapi, toh, itu tak perlu dipikirkan lebih jauh karena keluhan itu pun hanya mampir ke telinga saya dari dua, tiga orang saja. Karenanya, argumen ini masih belum kuat untuk mendedahnya lebih jauh.

Sayang sekali saya tak berkesempatan untuk mengalami. Tapi, justru, di sinilah posisi minat saya: saya justru melihat bahwa apa yang dilakukan olehnya, perempuan yang kita bicarakan ini, sangat signifikan justru bukan karena pengelanaannya menapaki ketakutan. Ada hal lain… Ya, saya yakin ada hal lain, yang belum terang terlihat di depan mata saya. Tapi kesamarannya begitu mengusik. Benar-benar mengusik. (Perlu saya tegaskan, supaya tidak salah paham sebagaimana keluhan salah seorang dari “generasi ngambek”, bahwa ini bukan persoalan emosional, melainkan sangat rasional. Seharusnya memang begitu.)

Dengan kata lain, jalan ini memang tanpa batas. Tanpa batas. Dan saya yakin, di suatu sisi nanti akan ditemukan persimpangannya. Mungkin oleh saya, atau bisa jadi oleh orang lain. Yang jelas, arah jalannya memang sedang bercabang ke arah yang berbeda satu sama lain.

Sui Zhen, karyanya seolah menjadi asap yang semakin mengaburkan apa yang mengusik saya. Sialan!

Tapi, dari segi bunyi, lagu ini lebih unggul dari video musik yang saya lekatkan pada post sebelumnya. Secara visual…? Ampun! Saya mual~~~ (Ngga, ding! Ini juga tak kalah penting! #asyek).

29.

Jakarta, 2:46 am

Tatkala mimpi dan ramalan membutuhkan tafsir, itulah waktunya bagi kaki untuk melangkah menemukan jalan. Ke mana? Ke toko tempat dijualnya ketakutan sebagai suatu kunci untuk memahami krisis hari ini.

Mungkin suatu hari nanti, saat ia—yang sekarang ini tampaknya belum menyadari bahwa kunci jawaban untuk saya mungkin sedang tersembunyi di dalam kaus kakinya—menemukan catatan ini—yang bisa jadi merupakan kunci jawaban baginya—dengan sengaja atau tidak, saya sudah melewati titik exstasis yang entah bagaimana. Mungkin juga, ia justru tengah duduk di sebelah saya di hari (di masa depan itu) sambil tertawa, atau justru mencibir?

Apa pun yang akan terjadi nanti, ia akan tahu bahwa visual pada video musik inilah—abaikan saja liriknya (dan mungkin juga ia tak suka lagu-lagu semacam ini…? Saya hanya bisa menebak-nebak)—yang mengobati kegelisahan saya detik ini, di waktu dini hari ini, ketika saya tengah tersentuh oleh julukan “suitcase kid” yang ia sematkan sendiri sebagai sebuah penanda pada catatan pribadinya, tertanggal 15 Februari 2017.

Catatan itu penuh dengan kalimat-kalimat yang sulit untuk saya cerna, penuh dengan bagasi pengalaman yang demikian jauh dan tak bisa (atau semoga saja, masih “belum bisa”) saya gapai di minggu-minggu, bulan-bulan, atau tahun-tahun ini (atau mungkin justru tak akan pernah bisa?). Isinya penuh kemarahan dan keputusasaan, barangkali, tapi rasanya juga menuansakan optimisme untuk bangkit dari keterpurukan. Setidaknya, kebangkitan itulah yang terlihat setiap kali ia menyilangkan tangan, beraksi menyapa lingkungannya dengan kejenakaan seni. Ia sebenarnya jagoan.

Julukan itu, yang tak bisa saya duga apakah jangan-jangan memang ada hubungannya dengan kisah Jacqueline Wilson, dengan eloknya justru membuat saya mengerti apa kiranya yang sudah membuat saya tertarik pada perempuan ini. Jawabannya, tinggi tapi sederhana, sederhana tapi berarti: cita-cita.

28.

Warsaw, 6:24 pm

Saya masih ada banyak utang artikel Polandia, padahal besok adalah hari terakhir saya di negara ini. Tapi, ada hal lain yang harus saya lakukan sebelum melunasi utang-utang itu, yakni mengunggah foto ini, untuk tujuan rahasia. Hahaha!

13731128_1184509498278015_970077632_n1

27.

Wrocław, 01:24 am

Tempat pertama yang saya kunjungi setibanya di Wrocław (untuk yang kedua kalinya) adalah ini:

Foto di atas adalah penampakan salah satu sisi di studio milik Paweł Romańczuk yang berlokasi di Kontury Kultury, Jagiellończyka 2, Wrocław. Paweł adalah salah seorang musisi dan seniman (sound artist) yang tinggal di kota itu. Di dalam foto, sosok perempuan berbaju hitam yang duduk di kursi, membalikkan badannya, adalah salah satu teman dekat kami, seniman yang tak kalah oke, bernama Iza Rutkowska. Karyanya yang sering bermain di ranah publik (tak jarang melibatkan orang-orang awam) memiliki kesamaan visi, dalam beberapa hal, dengan proyek-proyek Paweł yang juga sering melakukan lokakarya tentang bunyi (sound) bersama aneka komunitas. Mereka berdua sempat berkolaborasi (dan akan melakukan kolaborasi baru di lain waktu di masa depan, sepertinya).

Paweł mengembangkan sebuah band, bernama Małe Instrumenty (atau Small Instruments dalam bahasa Inggris), sejak tahun 2006. Band ini mengeksplorasi bunyi-bunyian dari beragam instrumen-instrumen sederhana dan kecil. Di dalam foto, terlihat ada puluhan piano kecil (sebenarnya, Paweł mengoleksi ratusan macam objek piano kecil seperti itu) yang ia kumpulkan sejak lama, sejak berkecimpung di bidang ini.

Satu pemandangan yang cukup masif di mata saya, dan membuat saya ternganga. Tapi itu pula yang rasanya mendorong saya lebih tertarik memajang foto itu ketimbang potret si musisi yang berambut panjang, brewokan, dan tampak selalu bersikap ogah-ogahan itu (adahal, tidak begitu tentunya jika kita melihat koleksi semenakjubkan ini).

26.

Warsaw, 11:50 pm

Seharusnya saya sudah harus memejamkan mata. Besok, pagi-pagi sekali sudah harus berada di stasiun kereta Warszawa Centralna. Kami—saya dan Siba—akan berkunjung untuk yang kedua kalinya ke Wrocław. Empat hari kemudian, kami melanjutkan riset ke Poznan.

20161019_144142
Sepintas orat-oret di selembar kertas.

Ada beberapa hal yang luput saya unggah ke blog ini karena keasikan duduk tertawa—tak jarang juga dengan kebingungan karena bahasa Inggris yang pas-pasan—hampir setiap malam, menjamu sebanyak-banyaknya kawan—saya lebih suka untuk mengatakan “Make friends, not art“—yang kami temui di sini. Lalu, beberapa pertemuan, presentasi, dan keharusan untuk duduk di depan layar laptop untuk mentranskrip rekaman audio wawancara yang kami lakukan dengan beberapa pegiat seni di sini.

Karenanya, semua hari yang saya lalui itu cukup dirangkum saja dengan beberapa foto berikut ini. Hahahaha!

20161017_121126
Presentasi… setiap senin, sarapannya adalah dengan presentasi (sejauh si seniman yang bersangkutan ada di tempat: A-I-R Laboratory)

20161017_154704

20161017_183500
Sup khas Rusia yang rasanya seperti gulai baga khas Pariaman.
20161017_184158
Mustard yang pedasnya tingkat BANGKE! Hahaha!

20161017_191513

20161017_200346
Meet our nice company!
20161018_001243
art is in the kitchen!
20161018_003355
A kind of…
20161018_213240
“MAKE FRIENDS, NOT ART!” (salah satu slogan yang dipopulerkan oleh ruangrupa, dan saya sangat setuju!).