Blog

Visual Vernakular dan Bahasa Seni Media Kini

Makalah ini dipresentasikan pada SIMPOSIUM NASIONAL SENI MEDIA INDONESIA, “Seni Media Sebagai Media Perubahan Sosial”, Pekanbaru, 10 – 11 Juli 2017, di UPTD Museum Taman Budaya Provinsi Riau.

SAYA AKAN MEMULAI makalah ini dengan terlebih dahulu meninjau kembali pameran FOLLOWING yang diadakan bulan Februari lalu di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran ini adalah bagian dari rangkaian acara OK. Video Festival 2017. Menurut pengamatan saya, pameran tersebut agaknya meniatkan dirinya sebagai suatu lanskap yang secara spesifik menyoroti perkembangan terkini dari gejala-gejala kesenian, dan praktik-praktik kesenian, yang berhubungan dengan teknologi media, khususnya gejala dan praktik pasca tahun 2000.

Dalam sebuah esai yang saya tulis untuk Jurnal Footage pada bulan yang sama, saya berargumen bahwa, secara umum, seniman-seniman yang dikurasi ke dalam pameran itu, rata-rata, adalah pelaku-pelaku yang menjadi penting seiring dengan upaya-upaya pembangunan diskursus yang dilakukan OK. Video sejak tahun 2003. Menjadi penting yang saya maksud, adalah dalam artian bahwa, mereka diperbincangkan pada dialog-dialog di medan seni rupa kita. Highlight yang dilakukan FOLLOWING agaknya menegaskan pembacaan itu. Tapi perlu diketahui pula bahwa perihal kuratorial dari pameran itu sendiri ternyata juga cukup mengundang semacam sinisme dari lingkungan teman-teman pegiat seni yang saya kenal, yakni tentang tidak adanya seniman perempuan yang terlibat di dalam pameran FOLLOWING—tapi sayangnya, sinisme itu hanya kencang di tataran gosip, dan sejauh penelusuran saya, belum ada pengamat seni yang menuliskan hal itu secara komprehensif dan objektif.

Bagi saya pribadi, yang menarik dari pameran itu justru bukanlah soal kehadiran atau keterlibatan para seniman-senimannya, juga bukan soal proporsi antara seniman perempuan dan laki-laki. Tapi, jauh keluar dari konteks itu, ialah soal cara pameran FOLLOWING dalam menggaungkan konsep dan imajinasinya mengenai perubahan perilaku publik seni pada masa sekarang, yakni semakin maraknya pengunjung pameran yang melibatkan media sosial (yang dioperasikan lewat gawai pintar, terutama) ketika berinteraksi dengan karya-karya yang ada. Pada konteks tertentu, tampaknya pameran FOLLOWING melihat gejala sosial semacam itu sebagai hal yang tak kalah penting dibandingkan karya-karya seni yang sedang dipamerkan. Menanggapi fenomena itu, pameran tersebut bahkan membuat semacam aturan, meskipun dalam penerapannya aturan itu tidak pula menjadi benar-benar wajib, bahwa “pengunjung yang datang diwajibkan mengunggah konten berupa gambar bergerak (video), foto, bunyi, teks, dan pertunjukan langsung di Instagram dengan menuliskan hashtag #followingexhibition.” Perhatikan di situ, bahwa pameran FOLLOWING, dengan tegas dan jelas, meminta pengunjung mengunggahnya ke Instagram.

Tentu, ide dari pameran FOLLOWING itu mengindikasikan bahwa, perilaku publik yang tidak melepaskan dirinya dari media sosial ketika mengunjungi pameran, adalah sebuah fenomena mutakhir yang perlu ditafsir, atau setidaknya direkam terlebih dahulu, di-database-kan, untuk diolah di kemudian hari. Dapat diduga, alasan memilih Instagram sebagai satu-satunya sasaran pameran FOLLOWING, ialah karena inovasi menggairahkan yang dimiliki layanan jaringan sosial tersebut: Instagram stories, live streaming video, multiple images, dan hashstag, yang agaknya bisa membuka peluang untuk kita dalam mencari kemungkinan-kemungkinan bahasa artistik baru dari praktik-praktik yang berkaitan dengan audiovisual.

Di satu sisi, aturan yang diterapkan pameran FOLLOWING itu bisa saja kita sebut sebagai pengulangan tirani media sosial terkait “demokrasi”, karena menghadirkan suatu regulasi sekunder—publik didikte sampai ke persoalan apakah harus mengambil foto atau tidak—dan yang perlu digarisbawahi, dikte itu diumumkan oleh pameran FOLLOWING secara gamblang.

Di sisi yang lain, aturan semacam itu dapat pula kita maklumi sebagai bentuk dari kegelisahan yang dimiliki diskursus seni, khususnya seni media, yakni urgensi untuk merumuskan bagaimana sesungguhnya posisi perilaku-perilaku pubik seni semacam itu, atau perilaku-perilaku netizen ini, dalam dinamika perkembangan seni media kita. Misalnya, sepenting apa dan setidakpenting apa sebuah citra narsis seseorang yang tengah berdiri di depan atau di samping karya dalam sebuah pameran, yang ada pada sebuah akun Instagram milik entah siapa, yang tanpa sengaja kita temukan di timeline Instagram kita sehari-hari? Apakah keberadaan postingan-postingan itu, serta peristiwa berfoto-foto narsis orang-orang yang kita jumpai pada berbagai acara kesenian, merupakan aspek yang bisa berkontribusi mengubah cara pandang dan pemahaman kita mengenai seni? Atau jangan-jangan gejala yang datang dari publik, atau yang sedang terjadi pada publik ini, layak pula kita lihat sebagai suatu entitas seni tersendiri yang bukan semata berposisi sebagai reaksi terhadap karya dan peristiwa seni belaka? Cukup radikal juga, tapi bukan berarti tidak mungkin, jikalau misalnya kita dengan berani menyebut bahwa citra-citra yang diunggah ke media sosial itu adalah suatu bahasa baru di dalam seni, sebuah bahasa dari karya seni tanpa otoritas kepengarangan seorang seniman, barangkali? Pada konteks itu, kita patut berterima kasih kepada kegelisahan yang ditularkan oleh pameran FOLLOWING.

Yang menjadi lebih rumit dan kompleks kemudian, ialah gejala ini tidak terjadi di ranah seni saja, tetapi juga di ranah-ranah yang lain. Dan bagi saya, gejala publik media yang saya singgung itu, yang pada kenyataannya secara umum memang sedang terjadi di semua ranah kehidupan manusia zaman sekarang, mau tidak mau menjadi tanggung jawab disiplin seni media untuk menafsirkannya, jikalau kita ingin seni media kita menjadi seni media yang tidak berpikiran sempit.

Berhubungan pula dengan soal perilaku bermedia masyarakat yang tidak bisa lepas dari media sosial itu, Peter Snowdon, sutradara film asal Inggris yang membuat film berjudul The Uprising (2013), sebuah dokumenter yang membingkai isu Arab Spring dengan merespon footage-footage peristiwa revolusi yang diunggah netizen Youtube, pernah menawarkan istilah ‘video vernakular‘. Baginya, warga yang mengunggah rekaman-rekaman video peristiwa revolusi di Arab itu bukan saja para revolusioner sosiopolitik, tetapi juga revolusioner bahasa media. Dalam konteks teoritisasi yang ia tawarkan, ‘video vernakular’ bukan saja mengacu tentang rekaman-rekaman video yang diproduksi oleh warga biasa, tetapi juga menegaskan kebaruan estetika dalam visual gambar bergerak. Menurut Snowdon, bentuk visual gambar bergerak dari rekaman-rekaman Youtube ini memiliki attitude tersendiri, yang berbeda dari attitude visual-visual elite—atau yang biasa diartikan sebagai visual yang diproduksi oleh kalangan profesional. Bentuk visual yang serupa, mirip, dapat pula kita lihat pada karya-karya Jonas Mekas, sebagai salah satu contoh. Akan tetapi, tentu saja Jonas Mekas bukan pelaku ‘video vernakular’ karena konteks kesadarannya dalam merekam jauh berbeda dengan warga revolusi Arab yang merekam konflik masyarakatnya. Jikalau Mekas memiliki motif dan modus seni, atau memiliki kerangka tentang kebenaran filmis, warga revolusi Arab memiliki motif dan modus dokumentasi. Jikalau narasi pengalaman yang disajikan Mekas berdasarkan pada keterampilan mata, warga revolusi Arab menyerahkan diri kepada performa tubuh mereka yang menggenggam ke mana-mana kamera sembari berlari-lari menghindari serbuan peluru. Akan tetapi, motif dan modus dokumentasi ini secara luar biasa mengubah mekanisme produksi, distribusi, serta fundasi artistik bahasa visualnya.

Untuk konteks Indonesia, sejauh yang saya tahu, yang telah mencoba menerapkan konsep ‘video vernakular’ ini ialah Gelar Soemantri lewat proyek kolaboratif bersama warga di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, dengan nama proyek “Montase Air”. Pada Panel 2, Simposium Nasional Seni Media Indonesia (2017), kemarin, Otty Widasari menyinggung karya ini, yakni inisiatif Gelar yang menyerahkan kamera video kepada bocah-bocah lokal di kecamatan tersebut ketika mereka akan berenang dan mandi ke pantai Bangsal. Gerak tubuh bocah-bocah itu, yang merekam tanpa tendensi konstruktif dalam menentukan arah sudut ambilan gambar, pada kenyataannya menghasilkan suatu visual gambar bergerak yang menunjukkan derajat vernakularitas tertentu, yang layak ditafsir sebagai suatu counter yang dihasilkan secara organik terhadap dominasi visual pariwisata yang selama ini mengontaminasi kearifan lokal di Lombok. Karya Montase Air milik Gelar, adalah sebuah karya seni oleh si seniman, tetapi footage-footage hasil rekaman bocah-bocah tersebut pada dasarnya telah menjadi suatu produk yang lepas dari belenggu otoritas kepengarangan (atau dengan kata lain, steril dari visi individu pengarang). Sebagai karya yang puitik, ia dapat berdiri sendiri, seperti halnya rekaman-rekaman revoulsi Arab Spring yang ada di YouTube, yang juga dapat berdiri sendiri sebagai visual yang puitik terlepas apakah footage itu berada di dalam konstruksi film The Uprising atau tidak.

Pembahasan mengenai konsep ‘vernakular’ dalam makalah ini, dengan kata lain, saya ajukan sebagai salah satu pintu untuk mencoba mendapatkan formulasi yang paling mungkin agar kita bisa mengakui signifikansi dari citraan-citraan yang bersirkulasi di media sosial yang telah saya singgung di awal, juga termasuk peristiwa-peristiwa dari aksi merekamnya itu. Apakah bisa kita melihat gejala itu sebagai sebuah bahasa pula? Agaknya, OK. Video hendak menjawabnya, bisa. Kalau memang demikian, apakah rumusan Seni Media yang kita perbincangkan sekarang ini juga bisa, atau berani, untuk melihatnya demikian?

Kerancuan yang barangkali dapat muncul kemudian, ialah arti harfiah dari vernacular itu dalam bahasa Indonesia. Sederhananya, vernacular konon diartikan sebagai ‘bahasa daerah’. Bisa jadi hal ini akan dikaitkan pula dengan “bahasa lokal”. Tapi, apakah “lokal” yang dimaksud searti dengan “vernacular” yang kita singgung di sini? Saya pribadi menawarkan pemikiran bahwa “vernacular” mengacu pada bahasa dari medium, yakni bahasa sosio-estetik dari teknologi yang bisa dibilang adalah bahan dasar seni media. Konsep ‘vernakular’ di sini bisa saja menerabas batas teritori karena dalam banyak konteks, ia bisa menjadi bahasa global. Konsep yang saya utarakan memang berkaitan erat dengan soal sikap dan bentuk perlakuan kita terhadap teknologi media itu sendiri, terhadap medium, dan bagaimana medium itu sebenarnya juga memengaruhi perilaku kita dalam menanggapinya. Hashtag Instagram, misalnya, tidak menutup kemungkinan adanya konektivitas dari seluruh pengguna media sosial di seluruh dunia, sejauh si mesin mampu menggenerasi algoritma yang memungkinkan hal itu. Sedangkan “lokal”, ia mempertimbangkan konteks teritori dan waktu, bahkan kelas dan status sosial. Dengan kata lain, “lokal” lebih menitikberatkan isu.

Saya ingin mencoba memberikan satu contoh lain, yang saya rasa mungkin dapat dikatakan mendekati upaya elaborasi mengenai bahasa ‘video vernakular’ ini dalam suatu rangkaian praktik berkelanjutan. Sebuah komunitas di Solok, bernama Komunitas Gubuak Kopi, dalam beberapa bulan terakhir giat menggalakkan program Vlog Kampuang. Komunitas ini dengan cukup percaya diri meninggalkan tuntutan-tuntutan perfeksionis yang sering kali muncul ketika membuat karya video, terutama dalam kaitannya dengan alat produksi, cara produksi, dan bentuk sajian visual. Secara cukup radikal, komunitas ini menggali potensi dari kebiasaan merekam sehari-hari sebagai sebuah bahasa baru untuk karya video. Menariknya, walaupun mereka menggunakan istilah Vlog, karya-karya mereka tak tampil sebagaimana karya-karya para amatir YouTuber yang sadar atau tidak masih berorientasi untuk mencapai kesempurnaan bahasa visual yang elite, yang serupa dengan hasil-hasil profesional. Akan tetapi, karena latar belakang mereka sebagai pegiat seni dan juga memiliki latar belakang pendidikan mahasiswa seni, produk video yang mereka hasilkan tentunya tidak sederajat dengan video-video warga revolusi Arab atau video-video rekaman bocah-bocah Pemenang. Terlebih lagi, produksi ini diniatkan sebagai sebuah platform, dalam kerangka studi, yang dengan sendirinya menempatkannya pada posisi elite juga, dengan kata lain, motif dan modus produksi yang mereka lakukan tetap berada di bawah otoritas kepengarangan. Namun, ia tetap menjadi penting karena memposisikan hal ini sebagai eksperimen bahasa.

Sampai di sini, saya berpikir bahwa pembahasan seni media kita yang belum tuntas justru bukan lagi terletak pada soal-soal representasi dan presentasi, sebagaimana yang dulu diperdebatkan dalam pameran Influx tujuh tahun yang lalu. Alih-alih, persoalan yang mesti kita perhatikan lebih jauh ialah bahasa, bahasa seni, lebih spesifik: bahasa seni media. Meskipun sebenarnya, perihal presentasi dan representasi itu pun juga erat terkait dengan, atau menjadi bagian dari, bahasa sebuah karya atau peristiwa seni, terutama jika kita berbicara tentang bagaimana menyajikan sebuah karya seni atau proyek seni kepada publik. Namun, dalam level yang lebih kompleks, yang tidak semata berhenti pada masalah tentang keberadaan sebuah karya di dalam ruang pamer atau bukan di ruang pamer, langsung atau tidak langsung, konseptual atau tidak konseptual, pemahaman terhadap bahasa seni media akan menunjukkan kualitas keakraban kita terhadap bahan pokok dari seni media, yakni teknologi media itu sendiri.

Saya pribadi berpendapat bahwa bahasa seni media seharusnya bahasa yang bersifat aksi dalam rangka memproduksi konteks. Konteks adalah tujuan dari bahasa audiovisualnya, sekaligus bahasa aksinya. Inilah yang agaknya akan memberikan napas baru bagi seniman, dan menjelaskan kembali posisinya di tengah-tengah situasi global terkini ketika kecanggihan dan kemudahan akses dari teknologi telah membuat semua orang menjadi sangat mungkin dan bisa memproduksi audiovisual yang tak kalah indah dan jenialnya. Sederhananya, jika kita setuju bahwa persoalan bahasalah yang harus kita tuntaskan, barangkali menarik juga untuk mengatakan bahwa, sekarang ini yang layak disebut sebagai seniman bukan semata mereka yang memproduksi karya audiovisual, tetapi yang juga dengan sadar memproduksi konteks. Seni adalah memproduksi konteks.

Maka dengan kerangka berpikir seperti itulah barangkali kita kemudian bisa mengartikulasikan dan menafsirkan gejala publik seni pada masa sekarang, publik yang bermedia sepanjang hari itu. ***

44.

Jakarta, 07:58 am.

Haihaaai…, Suitcase Kid! Semalam kita bertemu lagi. Bukan di toko ketakutan, tapi di pasar suci, dan di sana pula semalam aku mengikuti percakapan-percakapan dengan beberapa teman, tentang harapan-harapan. Beberapa harapan itu mereka perjualbelikan (dan kau sempat pula membelinya beberapa, yang kau bayar dengan sebuah pisang. Aku tahu dengan jelas, tak ada alasan lain selain untuk kebutuhan risetmu mengenai tarot); beberapa yang lain hanya meletakkan harapan itu di meja perundingan.

Aku tak habis pikir, di pasar suci tadi malam ternyata masih ada saja seniman-seniman yang mengeluhkan “komunikasi” yang membuat karyanya sulit memasuki celah-celah penerimaan yang dimiliki sejumlah kurator dan “penyandang panggung dan karir”. Padahal, kita sama-sama tahu kalau inti sari seni adalah komunikasi itu sendiri. Dengan merujuk kepada konteks itu, seniman ataupun kurator yang mengalami “krisis komunikasi” itu berarti mengalami kerugian waktu dan tenaga di banyak lapisan kekaryaan. Hal yang sungguh sangat merugi! Sedangkan @mmndn13, kulihat juga bahwa ternyata tadi malam pun ia hadir di gudang yang sama dengan kita, walau berbeda waktu beberapa menit saja. Tapi bukan untuk membeli harapan, agaknya; ia dan temannya sedang mengisi waktu luang, hedon, atanya.

Aku? Kau tahu sendiri, Suitcase Kid, bahwa kerjaku ialah menciptakan waktu luang untuk orang lain. Benar, bukan?

Tapi aku senang, Suitcase Kid! Tampaknya kau sekarang sudah semakin bersemangat; sudah bisa “mengabaikan” kasus itu walau belum ada kepastian akan kata “SELESAI”. Masalah ini bagaikan ombak… yang datang tiba-tiba menghantam tepi pantai, lalu surut dengan cepat… tapi kita tahu ia pasti akan datang lagi, segera datang. Bedanya, tak seperti ombak di lautan, ultima media sosial adalah modulasi-modulasi yang tak kasatmata. Tapi setidaknya sekarang kau sudah punya papan selancar, Suitcase Kid; dan aku gembira mendengar kabar kau tengah berselancar pelan-pelan, mulai menyapa lagi ikan-ikan di laut: kita semua.

Lebih dari gembira itu, ialah salut untukmu! Semoga lancar proyekmu nanti di Jepang! Kita masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum kau menyeberang lintas negara, sedangkan aku kali ini cukup melintasi batas pulau dalam negeri saja. Di Pekanbaru nanti, kuharap aku akan menerima kabar-kabar menarik darimu tentang negara yang (menurut analisa Ayos) sedang mengalami ketakutan setengah tanah-air itu. Hahaha!

Oh, iya! Bukankah kau semalam bertanya, “Kapan lu main…?”

Jika tak ada halangan, mungkin tiga hari lagi… sehari sebelum kau terbang ke Jepang. Kita perlu berbincang soal yang lain pula: melompat ke kemungkinan yang bukan semata baru belaka, tetapi yang juga bisa menawarkan celah-celah mikroskopis yang dapat menghindarkan kita dari “krisis komunikasi” yang menjangkiti pergaulan mudi-muda. 

Yaaah, atau satu bulan kemudian, sepulangmu dari sana (Ah, itu mungkin di tengah-tengah kesibukanku mengurus simposium sinema!): mungkin menarik juga jika aku bisa meninjau tulisanmu secara lebih saksama. #asyek

Enter title here

43.

Jakarta, 06:29 am.

Beberapa hari belakangan, nama kota dan angka jam berujung “am/pm” (seperti yang tertulis di atas kalimat ini) aku bubuhkan berkali-kali di website yang sedang kugarap bersama teman-teman sesama pegiat “seni media”. Ya, Suitcase Kid, ini tentunya nanti berkaitan juga dengan rencanaku yang akan mengunjungi tempatmu kalau kau sudah di Jakarta lagi: aku akan mengambil beberapa data di sana sembari berbincang tentang banyak hal denganmu. Tapi pagi ini—dengan mata yang belum terlelap sejak kemarin—aku mengalihkan layar ke halaman blog ini. Lagi-lagi, berhadapan dengan teks.

Beberapa rekan mulai jengah dengan sikapku yang sudah tampak seperti robot, kehilangan “ranah sosial”. “Bahkan menoleh pun, tidak, ketika dipanggil!” celetuk salah satu di antara mereka. Aku tak bisa membantah karena kenyataannya memang seperti itu. Tapi keadaan inilah yang memang tak akan pernah berhenti dinegosiasikan, bukan? Entah dengan apa caranya nanti, sesuntuk terhadap pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung menjedakan waktu luang ini, bagaimana pun, tak boleh mengubah sikap seseorang menjadi sesuatu yang bisa mengiritasi penglihatan orang lain. Aku tak boleh menjadi robot, memang, dan karenanya aku menerima celetukan-celetukan mereka. Itu semacam teguran. Setidaknya, sebagai peringatan agar aku tak “hilang”. Yang mereka keluhkan, dengan kata lain, bukanlah kualitas pekerjaan, tetapi bagaimana sikapku dalam menanggapi tenggat waktu proyek dan situasi padat acara yang—juga telah diakui oleh beberapa orang lainnya—cukup membuat semuanya stres, bukan hanya diriku sendiri.

Ada beberapa hal yang ingin aku utarakan ke dalam teks-teks percakapan khayali ini, tapi urung karena pertimbangan-pertimbangan etis dan gengsi. Di samping itu, aku justru malah bertanya-tanya, bagaimana kabarmu di Yogyakarta sekarang, Suitcase Kid? Kau, walau masih di tengah masalah yang belum selesai, tetap bermobilisasi dengan derajat keseringan yang cukup tinggi. Saat aku di Surabaya, kau di Lombok dan Bali. Sebelumnya, kau sempat main ke Yogyakarta pula, kalau aku tak salah ingat—sebentar… memang benar, kan waktu si bos “Trash Squad” mengadakan diskusi kecil-kecilan tentang desain itu, yang sempat kutonton live lewat Instagram, kau tengah berada di area Mangkuyudan…?!—dan beberapa minggu lalu, kita pun bertemu di kota itu, sehari sebelum aku kembali ke Jakarta. Aku masih teringat-ingat Rugun—nama yang aneh—si dukun tarot yang manis itu, Suitcase Kid. Keriangan yang tergambarkan di wajahnya, agaknya, lebih membius dan menawarkan rasa kesal yang diakibatkan oleh penyesalan karena tak berani menegur-sapa dirinya saa itu—justru kau yang aktif bergosip dengannya karena rupanya kalian satu almamater. (Dan ketika tiba di Jakarta subuh hari, kami para laki-laki masih saja menggunjingkannya. Dua di antara kami, sebenarnya tertarik dengan gadis itu). Meskipun sebenarnya, kemampuannya dalam membaca tarot itu (yang bagiku, hal itu masih saja meragukan) yang justru membuatku tertarik untuk tetap memikirkan sosoknya.

Mba Tami tengah mencuci piring sekarang. Aku harus tidur, karena nanti sore harus ke gudang untuk bertemu Ari, mendiskusikan perkembangan website yang tengah kami kerjakan. Seharusnya! Malam harinya harus bertemu Ade—bukan Ade yang kutemui di Yogyakarta, melainkan Ade yang sering kita gosipkan—untuk melakukan semacam wawancara mendalam. Masih dalam rangka proyek yang sama. (Padahal, ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harus segera dikerjakan pula. Ah… betapa padatnya bulan-bulan ini!)

***

Terlepas dari hal-hal yang kusinggung pada paragraf-paragraf di atas, alasan mengapa kali ini aku tidak mengetik percakapan khayali untuk blog ini melalui layar smartphone, adalah karena rasa penasaran terhadap beberapa akun wordpress yang entah mengapa senang membubuhkan “like” di terbitan-terbitan tak berjudul (yang kumasukkan ke dalam kategori “Marginal”) ini. Aku menduga bahwa mereka mungkin juga suka membuka dashboard blog mereka masing-masing, atau menyimak linimasa di kolom reader di wordpress mereka, melalui smartphone pribadi; dan aku bertanya-tanya juga, apakah mereka selalu membaca terlebih dahulu postingan orang lain sebelum menekan tombol “like” itu…? Ah, ya…! Ngomong-ngomong soal dashboard, ternyata Ari tak terbiasa dengan istilah ini. Bahasa-bahasa drupal ternyata berbeda sama sekali—sempat terjadi miskomunikasi, bahkan, antara aku dan Ari, sehingga beberapa postingan di proyek website yang kami kerjakan itu hilang (walau tak seutuhnya). Sarana pengembang website semacam itu memang benar-benar membingungkan. Aku bahkan menghabiskan waktu satu setengah hari hanya untuk menjawab rasa penasaran tentang di mana letak “node-node” yang sudah kubuat sebelumnya. Aku tak menemukan hasil, selain jawaban bahwa “node-node” itu hanya bisa diakses lewat halaman “super-admin” (aku tak tahu istilah yang lebih tepat dalam bahasa yang dikenal Ari), yakni area si brain-ware yang mengerti code dan sebangsanya, yaitu si Ari yang namanya sudah beberapa kali kusebut/tulis di artikel ini.

Dan tentang akun-akun wordpress itu, menarik kiranya untuk menyapa mereka dengan cara melibatkan “kehadiran” mereka di catatan “Marginal” ini. Beberapa blogger sering kali menggunakan cara ini untuk saling terhubung, selain aktif berkunjung ke halaman blogger lain dan bertegur sapa sesama mereka. Aku juga sering melakukan hal ini—maksudku, berkunjung ke halaman blogger lain—saat baru pertama kali mengelola blog pribadiku. Tapi, cara itu ternyata berbahaya, karena akan menyita banyak waktu dan menyebabkan tugas-tugas kuliahku terbengkalai—hal yang sama juga terjadi saat orang dulu mulai marak menggunakan Facebook, di masa-masa ketika istilah “kepo” belum kita kenal akrab seperti sekarang.

Mungkin, menyisipkan hyperlink yang seakan menjadi jendela untuk menyapa mereka tak akan berefek apa-apa—tapi aku yakin, setidaknya sebuah “ping-balik” akan sampai di notification blog mereka (kecuali jika mereka menutup akses “ping-balik” itu sebelum menerbitkan postingan yang mereka inginkan). Responnya? Paling-paling catatan ini hanya mendapat klik-an “like” lagi, atau komentar sepintas lewat saja.

Hingga kini, aku takjub, bagaimana caranya ada blog yang bisa memuat ratusan komentar dan si blogger pun demikian aktif menjawab setiap komentar yang diterimanya…? Seandainya saja bulan-bulan ini tak sepadat kenyataannya, perhatianku terhadap keaktifan blog ini mungkin bisa meningkat tajam; aku akan lebih aktif berselancar dan menyapa mereka, para akun-akun wordpress itu, satu per satu—oh, tapi belum tentu, karena biasanya aku akan nongkrong seharian di GSE atau membaca komik sebanyak mungkin untuk mengisi waktu luang, dan dengan kata lain, blog ini pun tetap hanya akan tersentuh sekali-sekali saja.

***

Mengetik di layar komputer besar dengan keyboard yang lebar, membuat jari di kedua tanganku lebih leluasa, lebih bergerak cepat, sehingga bisa mengetik lebih banyak. Menggunakan computer mouse juga sangat mempermudah operasi ini. Contohnya, menghadirkan Umi Sholikhah ke dalam kalimat ini lewat pengaturan hyperlink menjadi lebih mudah ketimbang di layar smartphone. Bukankah begitu, Umi? Aku lebih senang memanggilmu “Umi” karena “Ika” (tanpa huruf “h”) adalah panggilan untuk seorang temanku di organisasi—ia juga seorang blogger. Aku berharap bisa membaca lanjutan cerita tentang Pak Lek Jan itu, tentu saja.

Kau juga mungkin perlu membacanya, Suitcase Kid! Memang tulisannya tak seperti tulisanmu, yang selalu abstrak dan rumit itu—aku sering frustrasi membacanya. Oleh karenanya, tulisan bersifat sharing experience itu adalah terapi yang baik untuk menghalau beban-beban akibat “ultima media sosial” yang menghantuimu belakangan ini. Ibarat kata Oomleo, tulisan semacam itu adalah “sombong yang halal”, atau “narsis yang layak diterima” karena yang ditawarkannya ke publik adalah teks (walau tak seunggul karya sastra) yang mengandung naratif tertentu, bukan citra yang rentan manipulasi oleh perangkat-perangkat teknologis dan sudut ambilan kamera.

Dalam praktik-praktik literasi media yang aku lakukan bersama teman-teman di beberapa komunitas, tulisan semacam itu (tulisannya Umi) sangat diamini sebagai cara untuk menjelaskan posisi kita di tengah-tengah suatu masyarakat secara lebih berwibawa. Tapi, bukan berarti aku hendak bermaksud untuk mengatakan bahwa produksi gambar perlu dihindari sama sekali. Karena untuk konteks “visual”, ternyata video-video yang diproduksi teman-teman kita di Solok, tak kalah menariknya. Bentuknya berbeda dengan vlog-vlog yang dibuat selebriti YouTube yang menekankan kemasan menarik tak ubahnya reality show televisi. Vlog Kampuang mengutamakan “bahasa [visual] awam” (atau, untuk istilah kasarnya: “bahasa pasar”, sedangkan istilah kerennya: “bahasa vernacular“) dalam memanfaatkan fitur kamera yang ada pada mobile phone. Mereka bahkan, pada beberapa video, dengan terang-terangan menjadikan gerak tubuh spontan si pemegang kamera sebagai bagian dari estetika video mereka. Aku pernah menulis topik ini di sebuah artikel kuratorial untuk sebuah program film, mengenai vernacular video itu. Makanya, Suitcase Kid, ketika di Jogja tempo hari, kusarankan kau untuk mencoba hal-hal “dokumentari”. Mungkin saja di ranah itu kau akan menemukan jawab, yang bisa saja lebih meriah sifatnya, untuk memetakan proyek tarot-mu itu.

Di catatan ini juga aku hadirkan Ziza. Walaupun ia menyebut bahwa tulisan-tulisan random di blognya adalah “ocehan yang terabaikan”, kehadirannya tentu tak bisa diabaikan untuk konteks catatan “Marginal” bernomor 43 ini, karena ia adalah salah satu akun wordpress yang juga pernah meng-klik “like” untuk postinganku. Selain itu, tulisannya tentang Red Day juga tak boleh kita abaikan, Suitcase Kid. Aku pun baru mengetahui adanya istilah “red day” untuk menyebut masa menstruasi perempuan dari artikel yang ditulis Ziza.

Kalau kau, bagaimana, Suitcase Kid? Apakah kau juga menggunakan istilah yang sama untuk menyebut hari datang bulanmu?

Apa pun itu, yang jelas kita harus sama-sama sepakat bahwa tentu saja menjadi sebuah kewajiban bagi kami, para laki-laki, untuk memahami posisi perempuan. Pemberian hak secara proporsional dan perlakuan secara setara itu tidak hanya pada konteks bagaimana seorang pria memahami perempuan, tetapi bagaimana kita sama-sama bisa menciptakan lingkungan sosial yang mendukung gagasan-gagasan kesetaraan itu. Orang-orang sering salah mengartikan “kesetaraan” sebagai “persamaan”, padahal apa yang diperjuangkan kaum feminis tentang “tuntutan akan kesetaraan” sebenarnya adalah usaha untuk mendapatkan perlakuan-perlakuan yang adil dan layak sesuai kebutuhan bagi kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) dalam berbagai hal, baik aspek biologis, fisiologis, psikologis, sosial, maupun kultural.

Aku pribadi mendukung jika ada pemberlakuan hari libur kerja bagi perempuan yang sedang menjalani masa datang bulan (jikalau ketentuan itu memang mungkin diterapkan); itu bukan dalam rangka merendahkan derajatnya atau memanjakannya atau membeda-bedakannya, tetapi adalah upaya untuk mendukung gagasan kesetaraan hak (sebagaimana kita juga mendukung hari libur bagi ibu hamil dan menyusui). Dan tak benar jika ada laki-laki menuntut “hal yang sama” dengan dalih yang dicari-cari persamaannya, atau mengeluhkan hal itu. Karena yang kita perjuangkan bukanlah “persamaan” antara perempuan dan laki-laki, melainkan “kesetaraan” hak dan kewajiban sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Rissaid barangkali akan tertarik membuat puisi tentang topik ini: perempuan dan laki-laki, tentang keterhubungan antara keduanya, atau apa pun. Entah mengapa, untaian kalimatnya tentang perpisahan itu mengusik mataku: “rindu” yang bisa jadi akan terus tumbuh “dewasa” oleh ruang dan waktu, dan tatkala pertumbuhan itu tak menemukan titik jenuhnya, di situlah kita baru menyadari adanya perpisahan. Aku pribadi tak ingin mengaitkan puisi itu dengan “cinta-cinta-an”, Suitcase Kid. Alih-alih, aku justru teringat bagaimana alam hadir dengan manusiawi di dalam Hujan di Bulan Juni-nya Sapardi; alam benar-benar bertindak sebagai “manusia” itu: Hujan bulan Juni adalah yang terbijak. Menarik kiranya jika kini kita justru berbicara tentang “kebendamatian” yang berubah menjadi “kemakhlukhidupan”. Puisi, atau “teknologi puitik”, memungkinkan hal itu.

***

Tampaknya, catatan ini perlu kujeda, Suitcase Kid. Karena kelopak mataku sungguh tak kuat menahan kantuk…

Pengetikan catatan ini kuhentikan sementara pada pukul 09:01 am. (Oh, c’mon! I still have a lot of works! Ck….!)

***

Dan detik ini adalah pukul 02:42 am, hari berikutnya. Paragraf-paragraf di atas kutulis hari kemarin. Perbincangan kita sampai pada perkenalan dengan Audhina Novia Silfi, perempuan yang mengaku sangat menyenangi warna biru. Mengunjungi blognya, aku justru penasaran, apakah Audhina sekarang sedang lelah? Hahaha…! [Bercanda, Dhin!] Karena itulah kalimat yang tertangkap oleh mataku pertama kali di blognya—kalimat yang aku maksud itu adalah postingan terbaru di blognya. Isinya juga puisi, sama seperti Rissaid. Oh, sepertinya bukan…, puisi itu bukan tentang dirinya yang kelelahan. Setelah kubaca puisinya, Audhina bercerita tentang seseorang sebatang kara, yang ia umpamakan seperti bunga tulip, yang tengah dirundung kesedihan.

Terkadang benar juga, bahwa mengucap “aku lelah” adalah cara paling sederhana untuk mengungkapkan intisari dari kerisauan atas masalah-masalah yang sulit diurai lewat kata-kata. Semua orang pasti mengalami itu. Apakah puisi itu berangkat dari peristiwa yang diamati oleh Audhina? Atau barangkali itu adalah ungkapan lain dari si penyairnya sendiri tentang pengalaman personalnya. Terkait hal itu, puisi memang tidak mengandaikan suatu eksplanasi, oleh karenanya ia mengamini deklamasi: pesan yang diabstraksikan menjadi sebuah permainan bahasa. Apa pun bentuknya, puisi selalu punya daya tarik untuk dianekatafsirkan.

Ngomong-ngomong soal kata “lelah” itu, yang menarik juga untuk kita perbincangkan ialah, selelah apa pun manusia, manusia itu tak akan pernah lelah untuk mendefinisikan atau didefinisikan oleh pikiran-pikiran. Bukankah aku juga pernah bertanya-tanya padamu tentang hal ini pada sebuah catatan (bernomor 35), Suitcase Kid? Ada empat akun wordpress yang membubuhkan “like” untuk postingan itu. Selain Ziza dan Umi, ada Toro dan Bang Ical.

Toro sepertinya tak memiliki alamat blog pribadi. Sedangkan Bang Ical, dia bukan siapa-siapa…

Sebentar… … … tapi setelah kubaca-baca, orang bernama asli A. A. Rosyid ini ternyata pernah belajar wingchun (ya, aku yakin dia memang benar-benar ahli wingchun). Itu, sih, jelas kalau dia adalah siapa-siapa, Suitcase Kid. Iya, kan? Bukti lainnya, tulisan-tulisan Bang Ical menarik, memiliki daya dan etos tertentu dalam usahanya berbagi pandangan. Tulisan terbarunya di waktu aku mengunjungi blognya beberapa menit lalu adalah tentang pentingnya literasi.

Aku pribadi setuju, bahwa “literasi atas segala hal”-lah yang menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu yang membuntukan setapak pertanyaan kita, supaya kita bisa memasuki ruang baru, demi menemukan jawaban. Ketika pertama kali aku menyapamu lewat catatan “Marginal” ini, aku mengira barangkali ketakutan yang kau perdagangkan di “toko ketakutan”-mu itu bisa menjadi kunci untuk krisis tertentu—baru saja kemarin malam aku bercerita kepada Dhuha, tentang krisis apa yang kumaksud: krisis “generasi ngambek” (ini adalah persoalan lain yang tak kalah renyah untuk kita perbincangkan lain waktu). Tapi ternyata asumsiku meleset. Untuk memahami barang-barang yang kau jual waktu itu, kita rupanya masih membutuhkan kunci yang lain. Agaknya (tapi kini aku yakin), kunci yang sebenarnya untuk membuka tokomu adalah literasi. Lebih tepatnya, “literasi media”. Seandainya saja kau menemukan kunci ini lebih awal, atau aku yang menemukannya lebih awal, atau teman-teman kita yang menemukannya lebih awal, kita dan semua orang pasti tak akan sebegitu kagetnya saat terciprat getah dari ultima media sosial itu.

Ah… ultima media sosial! UTM sialan! Dia selalu saja menemukan istilah yang tepat untuk merangkum fenomena terkontemporer dan terkontekstual. Lain kasusmu, lain kasus rekaman bunuh diri di Facebook, dan lain pula kasus-kasus persekusi yang diperbincangkan orang-orang belakangan ini. Terlepas dari perbedaan keyakinan, ideologi, dan pilihan politik yang memang exist di masyarakat kontemporer, kini kita bisa sama-sama menarik kesimpulan sementara—kusematkan kata “sementara” di sini karena bisa jadi simpulan ini akan meleset pula nantinya—bahwa pangkal dari persoalan-persoalan yang berunutan terjadi dan kita saksikan belakangan ini (beberapa bahkan sudah dialami olehku dan kau juga) adalah krisis literasi media.

Perihal tentang literasi media ini, sebagaimana yang sudah kusebut juga beberapa kali di beberapa artikel di blogku ini, bahwa sejak 2009, aku giat berkecimpung dalam inisiatif-inisiatif akar rumput yang mewacanakan gagasan itu. Tak lain adalah untuk mendapatkan pengertian yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat di mana aku tinggal.

Seperti sekarang, misalnya, dalam “proyek senimedia” yang sedang kukerjakan, aku menyadari bahwa literasi media tak hanya terbatas pada persoalan bagaimana kita bisa secara dewasa memanfaatkan teknologi media, tetapi juga pada pemahaman paling fundamental mengenai “logika-logika” bermedia itu sendiri. Bayangkan saja, bahkan dalam berkata-kata di kehidupan sehari-hari pun, sekarang ini, semua orang sadar tak sadar telah mengubah gaya bahasanya. Aku bahkan juga tak bisa menghindari penyebutan beberapa istilah per-blog-an dalam catatan ini; juga tergoda untuk menerapkan beberapa praktik yang dua puluh tahun lalu telah diteorikan oleh Lev Manovich, meng-hyperlink-kan beberapa halaman baru demi menciptakan kehadiran sebuah konten, yakni kehadiran akun-akun wordpress yang sudah kita ajak kenalan lewat catatan ini.

Mungkin bagi para blogger masa sekarang, praktik ini sudah sangat biasa dan terasa tak istimewa. Tapi, jika membayangkan bagaimana orang-orang [sejak tahun] 1960-an sudah mampu mengimajinasikan tentang suatu form baru dari sebuah medium (atau media) yang sungguh-sungguh sangat berbeda dari sifat buku bacaan (cetak) konvensional—tak tanggung-tanggung, ditegaskan juga lewat beragam manifesto, salah satunya ialah kritik keras terhadap multi-mediocrity yang muncul kemudian sebagai buntut dari lompatan dan percepatan perkembangan “media baru”—temuan ini menurutku sangat luar biasa. Dan tentu saja kosakata-kosakata semacam ini perlu kita sadari, bukan hanya dihafalkan, tetapi juga dipahami aspek historis serta dampak ekososbudpol-nya.

Teman-teman dalam catatan ini, yang aku libatkan kehadirannya sebagai “tokoh-tokoh baru” yang kukenalkan kepadamu, Suitcase Kid, tentu saja bukan sebagai kelinci percobaan. Sebab, mereka memang benar-benar exist, dan memiliki otoritasnya sendiri: mereka sangat mungkin memberikan tanggapan balik (bahkan tak menutup kemungkinan memberikan kritik). Atau justru mereka akan mengabaikannya begitu saja? Apa pun kemungkinannya, catatan ini mengamini ide tentang cultural interface itu, karena memang itulah salah satu titik utama jika kita ingin berbicara soal literasi media. (Aku juga jadi berpikir sekarang, sepertinya melibatkan lebih banyak blogger ke dalam catatan “Marginal” ini akan menjadi sebuah studi yang menarik pula).

Barangkali juga mereka akan bertanya, siapa sebenarnya kau, Suitcase Kid? Untuk sementara ini, aku cukup menjawab pertanyaan semacam itu dengan jawaban: kau bukan tokoh khayalan meskipun percakapan ini adalah karangan belaka.

Dan karena tampaknya catatan bernomor 43 ini cukup panjang dan ditulis dengan cukup spesial, tak ada salahnya kuberi judul, kan? Bagaimana, Suitcase Kid? Hm… dengan tetap mengacu pada tujuannya ditulis, yakni tentang eksperimen ultima media sosial—adakah orang yang membantah bahwa wordpress sebenarnya juga media sosial?—maka tulisan ini kuberi judul “Enter title here”. #asyek

Mereka yang mencintai dunia per-blog-an, mungkin akan tertawa geli membaca kalimat nomor dua terakhir itu.***

 

42.

Yogyakarta, 00:16 pm.

Hari terakhir di Jogja. Hari pertama puasa. Pukul dua siang nanti, kereta akan berangkat dari Lempuyangan menuju Jatinegara.

Tadi malam kita akhirnya bertemu lagi, Suitcase Kid. Kau terlihat lebih kecil daripada sebelumnya, sedikit berbeda dengan saat pertama kali kita bertemu. Tapi kau menganggapku terlihat lebih muda. “Kalau begini, kan enak. Kita jadi seumuran…” katamu (padahal, umurmu dua tahun lebih tua dariku). Yang kutangkap, kau belum juga terlihat lepas secara utuh dari ketakutan-ketakutanmu. (Ketakutan semacam itu juga terjadi pada semua orang, tentu saja).

Tadi malam kita bertemu Rugun—sebentar… apakah namanya memang begitu?—si dukun tarot (begitu saja aku menyebutnya, ya). Dan dari caranya melayanimu, yakni memberikan jasa untuk membaca persoalan-persoalanmu, aku menarik kesimpulan bahwa, dalam transaksi “terawangan masa depan” itu, terjadi suatu mekanisme kontrol; relasi antara yang dominan (si pembaca ketakutan, lalu mengkomodifikasinya menjadi bahan-bahan psikologis yang lantas bisa diuangkan, misalnya) dan yang inferior (pemilik ketakutan, yang membarter ketakutannya untuk sekadar mendapat “ketenangan” atau “jawaban”). Transaksi ketakutan (termasuk di dalamnya: kekhawatiran, ekspektasi, harapan, dan cita-cita) adalah wujud lain dari kontrol itu sendiri.

Lalu percakapan kita berlanjut ke ide-ide yang barangkali bisa divisualkan untuk karyamu, tetapi aku lebih cenderung setuju jika kau membuat dokumentari—(Perhatikan! Menggunakan huruf “r”; ini bukan typo)—tentang tetangga… atau tentang kamarmu, misalnya. Aku memaparkan itu sembari terus mengamati si dukun tarot yang—bukan hanya aku yang berpendapat seperti ini, tapi hampir semua laki-laki di pasar itu tadi malam, kukira—terlihat sangat manis dan cute. Kepalanya menghentak-hentak ketika musik terdengar gembira, dan senyumnya masih tergambarkan di ingatanku sekarang ini. Pemandangan ekstatif seperti itu baru berakhir tatkala Rambo mengambil alih kemudi gelombang.

Lambat laun sepi, seorang demi seorang kembali ke rumah masing-masing, bersiap-siap sahur.

Lalu siang ini, beberapa kawan masih berbincang tentang makanan yang bisa ditinggalkan untuk Kunci, sebelum kami semua (yang sudah jauh hari tampaknya, dilabeli “warlok” oleh warga lokal di sini) kembali ke Jakarta. Sayang sekali, aku lebih banyak menghabiskan waktu di daerah Mangkuyudan ketimbang di markas Lifepatch… padahal perbincangan dengan Ade beberapa hari yang lalu, adalah sesuatu yang juga aku cari-cari. Sedangkan Sita, dia sibuk dengan pacarnya sehingga niatan untuk berbincang mengenai ketakutanku akan krisis kita bersama ini, yang pernah juga aku paparkan padamu, belum juga bisa terlaksana.

Yah, begitulah, Suitcase Kid! Haha!

41.

Jakarta, 01:05 pm

Aku sering bertanya-tanya, Suitcase Kid, apakah kegusaran yang sering melanda kita itu disebabkan oleh kedengkian, atau semata keinginan untuk membuat orang lain mengerti? Yang mana pun jawabannya, di kala sadar aku akan mafhum bahwa tak ada kebaikan yang terkandung di kedua jawaban itu. Sebab, yang meraja adalah ego. Gautama pernah berujar bahwa tatkala orang mengkritik ucapanmu, jika sedikit saja terbersit di dalam hatimu kemarahan atau kejengkelanmu terhadap orang yang mengkritik, itu menandakan kau tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau ucapkan kepada si pengkritik itu. Pemikir yang bijak tak pernah gusar, dengan kata lain.

Tapi aku bukanlah manusia yang begitu. Aku masih memiliki kedengkian, keirihatian, hasrat kebintangan, ria, dan aku masih terbilang sebagai manusia egois. Aku benci dengan kenyataan itu, tapi tak sanggup pula jika harus menutup-nutupinya. Apalah arti kata-kata atau tulisan-tulisan bijak jika aku masih belum berani mengakui segala keburukan yang ada dalam diriku ini?

Dan yang menjengkelkan sekarang ini adalah aku sedang gusar karena jengkel dengan orang lain, sedetik setelah terbangun dari tidur semalam dan mataku menatap layar kaca supra-antropologis yang ada di tanganku ini. Aku marah, dan karenanya aku juga membenci diriku sendiri.

Kudengar kabar bahwa kau kini sedang di Bali dan akan segera menyeberang menuju Nusa Ceningan. Sempatkanlah waktu mampir ke Pemenang di Pulau Lombok! Kau akan lihat bagaimana teman-temanku di sana bisa mengubah kejengkelan kita menjadi kebaikanmeskipun bagaimanapun juga mereka sama seperti kita, tak lepas dari sifat-sifat buruk itu (toh, kita semua manusia biasa, kan?). Tapi mereka, agaknya, memang berada di luar kategori yang pernah dituding Kartini sebagai “orang-orang yang berdosa karena mengatasnamakan agama”. Mereka punya siq-siq o bungkuk yang pernah kuceritakan kepadamu beberapa waktu lalu. Itu mungkin baik untuk melenyapkan kejengkelanmu pula akibat kasus itu. Pelajarilah siq-siq o bungkuk itu dengan saksama!

Tapi, ya, apa pun lah!

Yang jelas, aku memang sedang jengkel sekarang ini, dan itu tak bisa kubendung!

Lekaslah pulang, Suitcase Kid! Biar kualihkan kekesalan ini dengan berbincang tentang hal-hal lain bersamamu.

40.

Surabaya, 03:16 am

Aku di Surabaya. Kemarin malam aku sempat duduk di salah satu meja di Aiola Eatery bersama Juve dan Anggra. Kata Benny, pujasera itu selalu ramai dan menjadi salah satu tempat berkumpulnya anak muda di Surabaya karena beragam event yang acap kali diadakan oleh pegiat-pegiat seni di kota ini. Benny banyak bercerita tentang Aiola karena dia adalah salah satu saksi inti berdirinya pusat pertemuan kawula muda Surabaya tersebut.

Lain kali akan kutulis tentang itu (jikalau aku ingat).

Ini adalah dini hari terakhir. Sejak Rabu minggu lalu, di Surabaya aku melakukan riset tentang perkembangan seni media. Sedangkan kau, terlihat di media sosial, sedang berada di Yogyakarta dengan keambiguan-keambiguan yang semakin mengeringkan ekspresi.

Timbul rasa penasaranku tentang isi kepalamu beberapa hari belakangan ini, Suitcase Kid…

Nanti malam, aku sudah akan berada di kereta, kembali menuju Jakarta. Sedang mataku, kuat terpicing beberapa kali tanpa terlepas kesadaran dan gagal melelap, karena kalah oleh kerinduan akan dekapan yang biasa ia lakukan dari balik punggungku. “Sialan!” seruku kesal, menyadari bahwa kerinduan ini adalah sesuatu yang keliru.

39.

Jakarta,  00:38 am

Radang tenggorokan belum hilang sementara denyut urat kepala belakang, tepatnya di atas leher sisi belakang, tak sedikit pun berhenti sejak semalam, seolah nyinyir memberitahukan bahwa aku masih sakit. Sedangkan Sheila, ah…, sudahlah! Aku sudah beberapa hari ini tak bisa mengetik barang separagraf pun isi kuratorial tentang film-film pangan (sebenarnya, menentukam film yang mana yang semestinya akan ditayangkan nanti, proses itu juga belum kulakukan) gara-gara demam pascaliburan ke Lombok ini. Pikiran-pikiran tambahan yang membuat hati gusar akan memperparah sakit, sepertinya.

Otty sering mengkritikku: “Lu jadi orang, santai dikit, napa sih…?!!!” Menurutnya, sakit radangku ini selalu menyerang karena aku selalu mumet dan penuh dengan kekesalan.

Kujawab: “Iya, sih…”

Hanya itu. Mungkin dia ada benarnya juga… tapi aku sendiri juga bingung: harus sesantai bagaimana lagi? Hahaha!

Intinya: sakit beberapa hari ini membuat aktivitasku menciut hingga sedemikian sedikit ukurannya sampai ke “hanya menatap dan mengetik layar smartphone saja”. Melanjutkan tulisan? Gagal total! Faaak! Mencoba diskusi di Kebun Pancoran? Akibatnya, malam ini: kepalaku serasa benar-benar akan meledak dengan tanpa sugab mendublar-dublar.

Jadi, jika untuk mengharap kabar-kabar baru dari perempuan jelita (Ingat! Sheila, panggilannya,) itu saja rasanya sudah semakin membuat kepalaku serasa akan pecah dengan, lagi-lagi, tanpa mendublar-dublar, apalagi harus membahas hal-hal yang sebenarnya masih jauh dari kesanggupan untuk kurealisasikan: hidup sebagai vegetarian. (Meskipun, barang kali, itu justru jawaban untuk mengalahkan musuh bebuyutanku ini, si radang tenggorokan kampret!)

***

Saya mencoba meninjau dengan saksama beberapa blogger yang sudah “menyukai” beberapa post yang saya terbitkan dengan label kategori “Marjinal” di blog pribadi ini. Sematan tag #cinta adalah yang menonjol pada terbitan-terbitan terbaru di blog pribadi mereka masing-masing.

Ah, ya, emang! Topik cinta memang yang paling mudah, menyenangkan, menarik, dan laku, populer untuk diceritakan (minimal, akan jadi bahan gosipan, selain topik seks dan kejahatan…), bahkan mungkin jauh, jauh sebelum teknologi teks ditemukan.

Hm…, saya berniat ingin menulis apa tadinya? Tiba-tiba saja ide tulisan itu bersembunyi entah ke mana… Ck!

***

Mataku sekarang lambat laun menjadi semakin perih, Suitcase Kid… dan kiranya baik jika kita melanjutkan percakapan khayali ini lain waktu. Semoga saja di saat itu, aku sudah sembuh.

(Oh, tapi aku senang, karena hari ini kau terlihat sangat enerjik dan membahana, melanjutkan proyek “konspirasi”-mu yang terbaru itu. Kau tetap saja menarik. Bukankah, begitu…?)

38.

Jakarta, 02:40 am

Tahukah kau, Suitcase Kid, bahwa musuhku yang paling mengesalkan (walau bukan yang tersulit) adalah radang tenggorokan?!

Mereka sudah sering menyuruhku berhenti merokok. Tapi, cobalah kau bertanya kepada siapa pun yang masih menjadi perokok hari ini, ‘kan kau peroleh jawaban bahwa mengubah kebiasaan yang buruk ini memang susah sekali.

Yang sangat tidak mengenakkan adalah, musuhku itu selalu mengganggu setiap kali tubuhku berpindah kota. Dan hingga detik ini, di tengah demam dan batuk berdahak yang tak kunjung berhenti, dan di saat bersenandungnya Tatsuro Yamashita (kupilih secara asal dari Youtube sekadar untuk meyakinkan diri bahwa ruangan ini memang tak berhantu), mataku belum juga terlelap.

Cih!

37.

Lombok Utara, 00:43 am

Suitcase Kid, beberapa menit yang lalu kau menjawab pertanyaanku bahwa semangatmu telah kembali dan kini kau sudah bisa bekerja seperti hari-hari biasa (aku berharap, semoga memang sebaik keadaan sebelum ledakan media sosial itu). Aku bukan orang yang berjasa atas keadaan yang membaik ini karena aku yakin, ada pihak-pihak lain yang benar-benar membantumu, baik langsung maupun tidak. Aku justru membangun dialog dengan diri sendiri, selain jadi orang yang sibuk bertanya ini dan itu untuk memenuhi rasa ingin tahuku.

Meskipun mereka dan dirimu sendiri belum bisa menghela napas dan berujar kata “selesai” untuk masalah ini, setidaknya harapan itu ada. Sedangkan diriku, untuk berharap bisa berkata bahwa masalah ini “akan selesai”-pun, kesempatan itu sepertinya tak akan pernah datang kepadaku. Bukan karena aku menantang gagasanmu, tapi karena jarak di antara kita tampaknya memang enggan untuk menyempit, dan jalan tanpa batas yang disenandungkan oleh Sui Zhen itu memang bercabang ke arah yang berlawanan sama sekali.

Belakangan, aku kembali teringat Warsaw dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai. Untung saja mereka tak menagih apa-apa. Siba tengah disibukkan oleh hal-hal tambahan pasca pesta rakyatnya beberapa hari lalu; ia harus menyelesaikan tetek bengek administratif sebelum kembali fokus kepada artikel-artikel Bernas-nya. Rasanya tak mungkin mendesakkan pekerjaan rumah dari Warsaw itu kepadanya sekarang ini.

Sementara itu, pada cerita yang lain, Sheila tak kunjung membalas pesanku, Suitcase Kid. Apakah mungkin karena ia tengah mendaki gunung di Taman Nasional sehingga enggan membalas pesan tentang kabar mahasiswa-mahasiswa Indonesia, rekan-rekan kita, di Polandia itu? Atau justru ia memang tak tertarik untuk membahasnya sama sekali? Ah, ya, sudahlah! Aktivisme mereka tampaknya memang demikian layu; sama saja seperti aktivisme kelas teri di kampus-kampus Depok yang dikelola oleh mahasiswa tingkat S1. Padahal, setahuku, mereka yang sempat kami temui di Warsaw itu, termasuk Sheila sendiri, adalah mahasiswa yang menempuh tingkat Master. Ini turut mengingatkanku pada keluhan Bening tentang mandeknya gerakan atau inisiatif mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Inggris (sebelumnya, aku sempat menduga bahwa mungkin saja karena Bening kurang aktif sehingga gagal menemui lingkaran-lingkaran intelektual yang menggairahkan di sana). Sebaliknya, pesan dari Zimu Zhang, seorang kenalanku dari Cina, yang menanyakan kabar festival film di Jakarta, terasa lebih melegakan dahaga. Menarik kiranya jika bisa bertemu dengannya sekali lagi di tahun ini. Wajar saja, kemarin Hafiz menegaskan kepada Oka, Dhoom, Gozali, Hamdani, dan Siba, bahwa terdapat kebutuhan mendesak bagi kita untuk meluaskan cakrawala berpikir demi membuka jaringan internationale, semangat global, lintas kawasan. Aku kira, Siba dan Gozali lebih mengerti esensi semacam ini daripada yang lain karena mereka memiliki ketulusan dalam bertindak. Mereka sugab mendublar-dublar dalam artian yang nyata, wujud konkret dari apa yang tengah mereka wacanakan: siq siq o bungkuk. Tak ada selain rasa hormat yang dapat kuberikan kepada mereka. Aku bangga mengenal mereka dengan sangat dekat.

Ah, sialan! Aku baru ingat bahwa ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan; sepulang dari Lombok Utara ini, kota Jakarta akan terasa begitu berat karena aku akan kembali ke kebiasaan semula: tidak menatap gunung, sawah, sungai, dan laut…, juga tetangga. Sebab, layar-layar supra tentunya lebih kuat memaksa gesture diriku untuk kembali menjadi workaholic yang menyebalkan! (Atau, sebagaimana kritik Otty, justru akulah yang terlalu lemah untuk berpaling dari ultima teknologis ini, tenggelam dalam keindividualan yang memuakkan.)

Lalu, masih ada teks kuratorial, editorial, dan perihal-perihal database lainnya. Sialan, oh, sialan!

Tapi, kenyataannya memang begitu, Suitcase Kid. Bagaimana pun, kita memang harus kembali “bekerja”. Syafiatudina pernah berujar, pekerjaan kita adalah memproduksi hal-hal untuk menciptakan (atau untuk mengisi) waktu luang orang lain. Terkesan ironis, tapi faktanya kita tetap saja berada di bidang ini.

Pesta rakyat di Pemenang tahun ini selesai, tapi dalam beberapa bulan ke depan, di Jakarta, aku dan beberapa teman masih mengharapkan perayaan-perayaan tentang diorama, seni media, dan sinema. Keadaan ini sering menyebalkan karena waktu yang tersedia terasa sangat padat, tapi ia terus menjadi candu dalam bentuk yang lain karena melalui upaya-upaya semacam inilah kegemilangan-kegemilangan sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Pemenang itu, bisa kita wujudkan. Atau setidaknya, situasi ini bisa menciptakan komunikasi yang lebih berarti, tidak layu sama sekali.

Bukankah begitu, sebagaimana yang mereka juga tahu, betapa menariknya percakapan-percakapan awalku denganmu, Sheila…? Denganmu, Bening…? Dan… tentu saja kau juga, Suitcase Kid?

36.

Lombok Utara, 05:29 am

Kini aku di Kecamatan Pemenang. Beberapa hari lewat tanpa ada pecakapan denganmu, Suitcase Kid. Ternyata tak selamanya kepalaku akan suntuk berpikir mengenaimu. Kalau orang bilang aku sedang jatuh cinta (aku juga mengatakannya demikian), kiranya tepat kalau kita sekarang berujar: jatuh hati pun ada batas kebertahanannya. Bukankah begitu? Mungkin kau tidak setuju, tapi beberapa kali dalam chat panjang kita, sadar atau tidak, kau juga menunjukkan keterbatasanmu untuk bertahan terhadap perasaan senangmu dengan seseorang yang lain. Sering kali, sebagaimana orang-orang juga biasa mengalaminya, keterbatasan itu membeku menjadi jeruji (pada beberapa waktu) dan berubah menjadi tuas (di lain kesempatan) sehingga membuat gairah kita mendekam atau melompat ke titik ekstasi yang melampaui perasaan semata-mata senang; faktor umumnya ialah kekecewaan atas hal-hal kecil atau ketakjuban pada gejala-gejala besar di luar ketubuhan manusia.

Dan kini, aku menemui gejala besar yang lebih baru yang menyita perhatianku dari persoalanmu (meskipun beberapa teman masih saja menggunjingkanmu dan itu membuatku terus saja mengumpat). Aku bersyukur karena gejala besar itu justru peristiwa sosial yang demikian positif: pesta rakyat. Sayang sekali kau tak dibolehkan berangkat ke pulau ini.

Di sini, mereka tak pernah mendefinisikan diri sendiri (secara individual), tapi berusaha merumuskan keberadaan kolektif diri mereka. Mereka menjalankan aktivismenya dengan landasan keimanan tanpa berkoar takbir dan menyerbu toko miras. Mereka Islam, tapi bukan FPI. Merekalah yang menyerukan kekuatan dari kebhinnekaan suatu masyarakat yang terdiri dari tiga agama: Hindu dan Budha, dua agama lainnya. Fenomena di komunitas ini adalah pelajaran yang penting, setidaknya buat diriku sendiri: mereka tiada sibuk mendefinisikan dirinya sendiri. Moral mereka tidak mengarah ke dalam (ke tubuh individual diri mereka masing-masing), tetapi mengarah ke luar (ke orang lain, ke gunung, sawah, ladang, jalanan, sungai, laut, dan… ke tetangga mereka).

Penampakan dan pengalaman semacam inilah canduku yang sebenarnya kuinginkan, Suitcase Kid…

Dan kunci siq siq o bungkuk, seperti yang aku coba jelaskan kepada Maria dua malam lalu, adalah empati. Ya, memang empati..