Blog

41.

Jakarta, 01:05 pm

Aku sering bertanya-tanya, Suitcase Kid, apakah kegusaran yang sering melanda kita itu disebabkan oleh kedengkian, atau semata keinginan untuk membuat orang lain mengerti? Yang mana pun jawabannya, dikala sadar aku akan mafhum bahwa tak ada kebaikan yang terkandung di kedua jawaban itu. Sebab, yang meraja adalah ego. Gautama pernah berujar bahwa tatkala orang mengkritik ucapanmu, jika sedikit saja terbersit di dalam hatimu kemarahan atau kejengkelanmu terhadap orang yang mengkritik, itu menandakan kau tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau ucapkan kepada si pengkritik itu. Pemikir yang bijak tak pernah gusar, dengan kata lain.

Tapi aku bukanlah manusia yang begitu. Aku masih memiliki kedengkian, keirihatian, hasrat kebintangan, ria, dan aku masih terbilang sebagai manusia egois. Aku benci dengan kenyataan itu, tapi tak sanggup pula jika harus menutup-nutupinya. Apalah arti kata-kata atau tulisan-tulisan bijak jika aku masih belum berani mengakui segala keburukan yang ada dalam diriku ini?

Dan yang menjengkelkan sekarang ini adalah aku sedang gusar karena jengkel dengan orang lain, sedetik setelah terbangun dari tidur semalam dan mataku menatap layar kaca supra-antropologis yang ada di tanganku ini. Aku marah, dan karenanya aku juga membenci diriku sendiri.

Kudengar kabar bahwa kau kini sedang di Bali dan akan segera menyeberang menuju Nusa Ceningan. Sempatkanlah waktu mampir ke Pemenang di Pulau Lombok! Kau akan lihat bagaimana teman-temanku di sana bisa mengubah kejengkelan kita menjadi kebaikan–meskipun bagaimanapun juga mereka sama seperti kita, tak lepas dari sifat-sifat buruk itu (toh, kita semua manusia biasa, kan?). Tapi mereka, agaknya, memang berada di luar kategori yang pernah dituding Kartini sebagai “orang-orang yang berdosa karena mengatasnamakan agama”. Mereka punya siq-siq o bungkuk yang pernah kuceritakan kepadamu beberapa waktu lalu. Itu mungkin baik untuk melenyapkan kejengkelanmu pula akibat kasus itu. Pelajarilah siq-siq o bungkuk itu dengan saksama!

Tapi, ya, apa pun lah!

Yang jelas, aku memang sedang jengkel sekarang ini, dan itu tak bisa kubendung!

Lekaslah pulang, Suitcase Kid! Biar kualihkan kekesalan ini dengan berbincang tentang hal-hal lain bersamamu.

40.

Surabaya, 03:16 am

Aku di Surabaya. Kemarin malam aku sempat duduk di salah satu meja di Aiola Eatery bersama Juve dan Anggra. Kata Benny, pujasera itu selalu ramai dan menjadi salah satu tempat berkumpulnya anak muda di Surabaya karena beragam event yang acap kali diadakan oleh pegiat-pegiat seni di kota ini. Benny banyak bercerita tentang Aiola karena dia adalah salah satu saksi inti berdirinya pusat pertemuan kawula muda Surabaya tersebut.

Lain kali akan kutulis tentang itu (jikalau aku ingat).

Ini adalah dini hari terakhir. Sejak Rabu minggu lalu, di Surabaya aku melakukan riset tentang perkembangan seni media. Sedangkan kau, terlihat di media sosial, sedang berada di Yogyakarta dengan keambiguan-keambiguan yang semakin mengeringkan ekspresi. 

Timbul rasa penasaranku tentang isi kepalamu beberapa hari belakangan ini, Suitcase Kid…

Nanti malam, aku sudah akan berada di kereta, kembali menuju Jakarta. Sedang mataku, kuat terpicing beberapa kali tanpa terlepas kesadaran dan gagal melelap, karena kalah oleh kerinduan akan dekapan yang biasa Ageung lakukan dari balik punggungku. “Sialan!” seruku kesal, menyadari bahwa kerinduan ini adalah sesuatu yang keliru.

39.

Jakarta,  00:38 am

Radang tenggorokan belum hilang sementara denyut urat kepala belakang, tepatnya di atas leher sisi belakang, tak sedikit pun berhenti sejak semalam, seolah nyinyir memberitahukan bahwa aku masih sakit. Sedangkan Sheila, ah…, sudahlah! Aku sudah beberapa hari ini tak bisa mengetik barang separagraf pun isi kuratorial tentang film-film pangan (sebenarnya, menentukam film yang mana yang semestinya akan ditayangkan nanti, proses itu juga belum kulakukan) gara-gara demam pascaliburan ke Lombok ini. Pikiran-pikiran tambahan yang membuat hati gusar akan memperparah sakit, sepertinya.

Otty sering mengkritikku: “Lu jadi orang, santai dikit, napa sih…?!!!” Menurutnya, sakit radangku ini selalu menyerang karena aku selalu mumet dan penuh dengan kekesalan.

Kujawab: “Iya, sih…”

Hanya itu. Mungkin dia ada benarnya juga… tapi aku sendiri juga bingung: harus sesantai bagaimana lagi? Hahaha!

Intinya: sakit beberapa hari ini membuat aktivitasku menciut hingga sedemikian sedikit ukurannya sampai ke “hanya menatap dan mengetik layar smartphone saja”. Melanjutkan tulisan? Gagal total! Faaak! Mencoba diskusi di Kebun Pancoran? Akibatnya, malam ini: kepalaku serasa benar-benar akan meledak dengan tanpa sugab mendublar-dublar.

Jadi, jika untuk mengharap kabar-kabar baru dari perempuan jelita (Ingat! Sheila, panggilannya,) itu saja rasanya sudah semakin membuat kepalaku serasa akan pecah dengan, lagi-lagi, tanpa mendublar-dublar, apalagi harus membahas hal-hal yang sebenarnya masih jauh dari kesanggupan untuk kurealisasikan: hidup sebagai vegetarian. (Meskipun, barang kali, itu justru jawaban untuk mengalahkan musuh bebuyutanku ini, si radang tenggorokan kampret!)

***

Saya mencoba meninjau dengan saksama beberapa blogger yang sudah “menyukai” beberapa post yang saya terbitkan dengan label kategori “Marjinal” di blog pribadi ini. Sematan tag #cinta adalah yang menonjol pada terbitan-terbitan terbaru di blog pribadi mereka masing-masing.

Ah, ya, emang! Topik cinta memang yang paling mudah, menyenangkan, menarik, dan laku, populer untuk diceritakan (minimal, akan jadi bahan gosipan, selain topik seks dan kejahatan…), bahkan mungkin jauh, jauh sebelum teknologi teks ditemukan.

Hm…, saya berniat ingin menulis apa tadinya? Tiba-tiba saja ide tulisan itu bersembunyi entah ke mana… Ck!

***

Mataku sekarang lambat laun menjadi semakin perih, Suitcase Kid… dan kiranya baik jika kita melanjutkan percakapan khayali ini lain waktu. Semoga saja di saat itu, aku sudah sembuh.

(Oh, tapi aku senang, karena hari ini kau terlihat sangat enerjik dan membahana, melanjutkan proyek “konspirasi”-mu yang terbaru itu. Kau tetap saja menarik. Bukankah, begitu…?)

38.

Jakarta, 02:40 am

Tahukah kau, Suitcase Kid, bahwa musuhku yang paling mengesalkan (walau bukan yang tersulit) adalah radang tenggorokan?!

Mereka sudah sering menyuruhku berhenti merokok. Tapi, cobalah kau bertanya kepada siapa pun yang masih menjadi perokok hari ini, ‘kan kau peroleh jawaban bahwa mengubah kebiasaan yang buruk ini memang susah sekali.

Yang sangat tidak mengenakkan adalah, musuhku itu selalu mengganggu setiap kali tubuhku berpindah kota. Dan hingga detik ini, di tengah demam dan batuk berdahak yang tak kunjung berhenti, dan di saat bersenandungnya Tatsuro Yamashita (kupilih secara asal dari Youtube sekadar untuk meyakinkan diri bahwa ruangan ini memang tak berhantu), mataku belum juga terlelap.

Cih!

37.

Lombok Utara, 00:43 am

Suitcase Kid, beberapa menit yang lalu kau menjawab pertanyaanku bahwa semangatmu telah kembali dan kini kau sudah bisa bekerja seperti hari-hari biasa (aku berharap, semoga memang sebaik keadaan sebelum ledakan media sosial itu). Aku bukan orang yang berjasa atas keadaan yang membaik ini karena aku yakin, ada pihak-pihak lain yang benar-benar membantumu, baik langsung maupun tidak. Aku justru membangun dialog dengan diri sendiri, selain jadi orang yang sibuk bertanya ini dan itu untuk memenuhi rasa ingin tahuku.

Meskipun mereka dan dirimu sendiri belum bisa menghela napas dan berujar kata “selesai” untuk masalah ini, setidaknya harapan itu ada. Sedangkan diriku, untuk berharap bisa berkata bahwa masalah ini “akan selesai”-pun, kesempatan itu sepertinya tak akan pernah datang kepadaku. Bukan karena aku menantang gagasanmu, tapi karena jarak di antara kita tampaknya memang enggan untuk menyempit, dan jalan tanpa batas yang disenandungkan oleh Sui Zhen itu memang bercabang ke arah yang berlawanan sama sekali.

Belakangan, aku kembali teringat Warsaw dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai. Untung saja mereka tak menagih apa-apa. Siba tengah disibukkan oleh hal-hal tambahan pasca pesta rakyatnya beberapa hari lalu; ia harus menyelesaikan tetek bengek administratif sebelum kembali fokus kepada artikel-artikel Bernas-nya. Rasanya tak mungkin mendesakkan pekerjaan rumah dari Warsaw itu kepadanya sekarang ini.

Sementara itu, pada cerita yang lain, Sheila tak kunjung membalas pesanku, Suitcase Kid. Apakah mungkin karena ia tengah mendaki gunung di Taman Nasional sehingga enggan membalas pesan tentang kabar mahasiswa-mahasiswa Indonesia, rekan-rekan kita, di Polandia itu? Atau justru ia memang tak tertarik untuk membahasnya sama sekali? Ah, ya, sudahlah! Aktivisme mereka tampaknya memang demikian layu; sama saja seperti aktivisme kelas teri di kampus-kampus Depok yang dikelola oleh mahasiswa tingkat S1. Padahal, setahuku, mereka yang sempat kami temui di Warsaw itu, termasuk Sheila sendiri, adalah mahasiswa yang menempuh tingkat Master. Ini turut mengingatkanku pada keluhan Bening tentang mandeknya gerakan atau inisiatif mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Inggris (sebelumnya, aku sempat menduga bahwa mungkin saja karena Bening kurang aktif sehingga gagal menemui lingkaran-lingkaran intelektual yang menggairahkan di sana). Sebaliknya, pesan dari Zimu Zhang, seorang kenalanku dari Cina, yang menanyakan kabar festival film di Jakarta, terasa lebih melegakan dahaga. Menarik kiranya jika bisa bertemu dengannya sekali lagi di tahun ini. Wajar saja, kemarin Hafiz menegaskan kepada Oka, Dhoom, Gozali, Hamdani, dan Siba, bahwa terdapat kebutuhan mendesak bagi kita untuk meluaskan cakrawala berpikir demi membuka jaringan internationale, semangat global, lintas kawasan. Aku kira, Siba dan Gozali lebih mengerti esensi semacam ini daripada yang lain karena mereka memiliki ketulusan dalam bertindak. Mereka sugab mendublar-dublar dalam artian yang nyata, wujud konkret dari apa yang tengah mereka wacanakan: siq siq o bungkuk. Tak ada selain rasa hormat yang dapat kuberikan kepada mereka. Aku bangga mengenal mereka dengan sangat dekat.

Ah, sialan! Aku baru ingat bahwa ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan; sepulang dari Lombok Utara ini, kota Jakarta akan terasa begitu berat karena aku akan kembali ke kebiasaan semula: tidak menatap gunung, sawah, sungai, dan laut…, juga tetangga. Sebab, layar-layar supra tentunya lebih kuat memaksa gesture diriku untuk kembali menjadi workaholic yang menyebalkan! (Atau, sebagaimana kritik Otty, justru akulah yang terlalu lemah untuk berpaling dari ultima teknologis ini, tenggelam dalam keindividualan yang memuakkan.)

Lalu, masih ada teks kuratorial, editorial, dan perihal-perihal database lainnya. Sialan, oh, sialan!

Tapi, kenyataannya memang begitu, Suitcase Kid. Bagaimana pun, kita memang harus kembali “bekerja”. Syafiatudina pernah berujar, pekerjaan kita adalah memproduksi hal-hal untuk menciptakan (atau untuk mengisi) waktu luang orang lain. Terkesan ironis, tapi faktanya kita tetap saja berada di bidang ini.

Pesta rakyat di Pemenang tahun ini selesai, tapi dalam beberapa bulan ke depan, di Jakarta, aku dan beberapa teman masih mengharapkan perayaan-perayaan tentang diorama, seni media, dan sinema. Keadaan ini sering menyebalkan karena waktu yang tersedia terasa sangat padat, tapi ia terus menjadi candu dalam bentuk yang lain karena melalui upaya-upaya semacam inilah kegemilangan-kegemilangan sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Pemenang itu, bisa kita wujudkan. Atau setidaknya, situasi ini bisa menciptakan komunikasi yang lebih berarti, tidak layu sama sekali.

Bukankah begitu, sebagaimana yang mereka juga tahu, betapa menariknya percakapan-percakapan awalku denganmu, Sheila…? Denganmu, Bening…? Dan… tentu saja kau juga, Suitcase Kid?

36.

Lombok Utara, 05:29 am

Kini aku di Kecamatan Pemenang. Beberapa hari lewat tanpa ada pecakapan denganmu, Suitcase Kid. Ternyata tak selamanya kepalaku akan suntuk berpikir mengenaimu. Kalau orang bilang aku sedang jatuh cinta (aku juga mengatakannya demikian), kiranya tepat kalau kita sekarang berujar: jatuh hati pun ada batas kebertahanannya. Bukankah begitu? Mungkin kau tidak setuju, tapi beberapa kali dalam chat panjang kita, sadar atau tidak, kau juga menunjukkan keterbatasanmu untuk bertahan terhadap perasaan senangmu dengan seseorang yang lain. Sering kali, sebagaimana orang-orang juga biasa mengalaminya, keterbatasan itu membeku menjadi jeruji (pada beberapa waktu) dan berubah menjadi tuas (di lain kesempatan) sehingga membuat gairah kita mendekam atau melompat ke titik ekstasi yang melampaui perasaan semata-mata senang; faktor umumnya ialah kekecewaan atas hal-hal kecil atau ketakjuban pada gejala-gejala besar di luar ketubuhan manusia.

Dan kini, aku menemui gejala besar yang lebih baru yang menyita perhatianku dari persoalanmu (meskipun beberapa teman masih saja menggunjingkanmu dan itu membuatku terus saja mengumpat). Aku bersyukur karena gejala besar itu justru peristiwa sosial yang demikian positif: pesta rakyat. Sayang sekali kau tak dibolehkan berangkat ke pulau ini.

Di sini, mereka tak pernah mendefinisikan diri sendiri (secara individual), tapi berusaha merumuskan keberadaan kolektif diri mereka. Mereka menjalankan aktivismenya dengan landasan keimanan tanpa berkoar takbir dan menyerbu toko miras. Mereka Islam, tapi bukan FPI. Merekalah yang menyerukan kekuatan dari kebhinekaan suatu masyarakat yang terdiri dari tiga agama: Hindu dan Budha, dua agama lainnya. Fenomena di komunitas ini adalah pelajaran yang penting, setidaknya buat diriku sendiri: mereka tiada sibuk mendefinisikan dirinya sendiri. Moral mereka tidak mengarah ke dalam (ke tubuh individual diri mereka masing-masing), tetapi mengarah ke luar (ke orang lain, ke gunung, sawah, ladang, jalanan, sungai, laut, dan… ke tetangga mereka).

Penampakan dan pengalaman semacam inilah canduku yang sebenarnya kuinginkan, Suitcase Kid…

Dan kunci siq siq o bungkuk, seperti yang aku coba jelaskan kepada Maria dua malam lalu, adalah empati. Ya, memang empati..

35.

Jakarta, 11:10 am

Mengapa ada begitu banyak orang yang senang mendefinisikan dirinya sendiri, secara sadar atau tidak? Tak sedikit pula yang aku kenal. Ini selalu membuatku berpikir terus tentang esensi kerendahhatian dan aktivisme itu, Suitcase Kid.

Malam tadi kau berkata bahwa sesuatu menyerang perutmu hingga menjadi mual. Sesuatu itu adalah teks tentang isi kepala dari orang yang ditakuti oleh semua orang. Kepribadian orang macam itu telah difilemkan oleh Hitchcock. Aku merasa bersalah karena faktanya, tanpa sengaja dan tanpa ada pikiran jahat apa pun, justru akulah yang mengirimkan teks itu kepadamu sekitar satu atau dua minggu sebelum ledakan berita tentang kasusmu terjadi. Padahal, saat itu, aku hanya terpikir bahwa literatur tersebut mungkin berguna bagimu untuk memahami beragam konteks, agar kau tak mengawang-awang, supaya kau mengerti hal-hal tentang ketubuhan dan pola pikir—yang kata beberapa orang, harus dipahami baik secara sosiologis maupun antropologis.

Aku jadi mengingat-ingat lagi beberapa kejadian dan percakapan kita, untuk menemukan jawaban, apa gerangan yang mendorongmu membuka berkas yang aku berikan? Ah, ya! Aku sepertinya bisa menebak. Kau semalam tengah berniat menyaksikan The Wind Will Carry Us, ya? Hm… mungkin juga bukan. Tapi memang, filem itu (yang aku kira tak ada di dalam berkas yang aku berikan padamu) memang pas untuk mengimbangi ide-ide yang sedang kau coba bangun dalam rangka mendapatkan penjelasan alternatif mengenai fenomena orang-orang yang—secara bablas mendefinisikan dirinya sendiri—pada akhirnya menyerah terhadap dunia (atau justru mengharapkan lembaran baru di lapisan dunia lain). Dan kita sama-sama menyaksikan bahwa kejadian-kejadian semacam itu masih terus bergentayangan di sehari-hari kita. Kau menangkap maksudku? Ya, fenomena yang telah diangkat oleh Durkheim dalam kajiannya yang terbit tahun 1897.

Aku pun masih geli (walaupun sudah bisa kusangka), orang semacam UTM pun mengamati video yang menghebohkan publik media sosial beberapa hari lalu itu, dengan sesuntuk yang khas sebagaimana biasanya.

“Kau melewatkan ultima media sosial, kalau begitu,” katanya, saat aku mengaku tak kuat melihat video yang telah dihapus oleh Facebook itu.

Mengapa orang-orang tak pernah jengah mendefinisikan dirinya sendiri, Suitcase Kid…?

Aku sering mengira bahwa ini adalah persoalan laten yang diselimuti ego masyarakat industri yang telah melupakan kearifan-kearifan kolektif yang semestinya kita junjung. Padahal, bangsa kita adalah masyarakat industri yang prematur. Kau mungkin tak setuju, begitu juga beberapa orang yang lain, seperti perempuan yang menarik hatiku beberapa waktu lalu, perempuan yang suka sekali pulang-pergi Jakarta-Bandung. Akan tetapi, apa pun yang akan kau katakan, aku justru tidak bisa untuk tidak setuju dengan kolektivitas, dan karenanya aku menolak pandangan perempuan Bandung itu ketika ia mengkritik beberapa perkembangan di daerah Jakarta Selatan.

Tadi malam juga, aku mengamati Maria. Walau berbeda masalahnya, keberadaanku di sampingnya difaktori oleh hal yang sama: pertemanan, dan kepedulian. Belakangan ia tampak mulai bisa menikmati kegembiraan dalam bentuk yang lain, yang berbeda dengan apa yang pernah ditawarkan oleh paguyuban kampus yang memuakkan itu. Tapi, aku sekarang malah menjadi kebingungan untuk menjawab hal-hal yang terlihat jelas sekarang. Apalagi kalau memperhatikan mereka (Asti, Rayhan, Anggra, Pingkan, dan… Melisa…[?] dan… Tyas. Ah, ya… Tyas. Ada lagi: Rambo, Padang, Hanif…, ya, Hanif… dan mungkin juga Ragil).

Aduuuh, Suitcase Kid!

Bukan terang yang kudapat, malah keruwetan tentang bagaimana orang-orang bersikap, berperilaku, dan memandang dirinya sendiri.

Mengapa begitu banyak orang yang suka sekali, sadar atau tidak, mendefinisikan dirinya sendiri…?

34.

Pekanbaru, 1:20 am.

Aku tertegun membaca artikel yang kau bagikan di kolom chat kita beberapa menit lalu. Mungkin sekali orang-orang eksklusif akan mengira bahwa itu adalah sebuah tulisan berisi penghakiman tanpa pengetahuan. Mereka menilainya dari sudut pandang ego mereka sebagai orang yang sehari-harinya terus bertindak atau berpikir di bidang ini. Tapi, idealnya kita tak bisa menyalahkan si penulis, apalagi merendahkannya dengan mengatakan bahwa ia tak mengerti seni. Sebab, sebagai bagian dari publik yang kebebasan suaranya dijamin oleh konstitusi, si penulis memiliki hak istimewa untuk memberikan penilaian, meskipun kita bisa saja mendebat bahwa isinya cuma tudingan-tudingan yang tak sedikit mengandung kekeliruan, pengetahuan yang cukup asal, dan menyalah-nyalahkanmu. Namun, dalam hal ini (dan hal-hal lain, di konteks apa pun), aku tidak akan sudi menyalahkannya karena kita, pegiat seni, bukanlah (dan tidak akan pernah tidak bukan) kelompok manusia yang lebih tahu dari yang lain. Kita semua sama bodohnya, sama pintarnya. Akan menjadi salahlah kita jika (bahkan walaupun sedikit saja) berpikir bahwa si penulis itu tidak mengerti seni.

Tidak, Suitcase Kid! Aku tak akan menyalahkannya. Dan memang itulah situasi yang perlu kita hadapi dengan kebesaran hati. Apakah aku harus berkata pula: “Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti…” … ? Apakah harus begitu? Tentu saja tidak! Karena, toh, ini adalah sebuah monolog untuk menampar pikiranku sendiri ketimbang suatu tawaran untuk menggugahmu. Karena memang bukan itulah tujuanku membuka komunikasi khayali ini, dengan sedikit berharap akan menjadi agenda “masa depan bersifat spekulatif”. Tujuanku sederhana saja: kita perlu berpikir ulang, tentang apa yang tengah berlalu, untuk menakar kebijakan-kebijakan pada diri kita sendiri untuk menghadapi saat-saat yang dalam waktu dekat akan segera tiba.

Dan semalaman ini, kita berbincang tentang cukup banyak trivia, tentang si anu dan si anu yang lain. Kau yang lebih banyak bercerita, sedangkan aku mendengarkan dengan tulus dan penuh minat. Saat kau bertanya tentangku, tak banyak yang bisa kuceritakan karena aku bukan pengungkai cerita menarik di saat niatku justru diselimuti ketulusan. Kalau harus membual dengan tujuan tertentu, aku adalah salah satu jagonya. Tapi bukan itu yang sedang kulakukan padamu, Suitcase Kid.

***

Masih ingatkah kalian bahwa di malam toko itu tutup, saya berbincang dengan seorang musisi elektronik (yaaa, begitulah saya menyebutnya sementara ini…) yang penampilannya ternyata kalah menarik dengan ajakan berbincang dari seorang peneliti…? Belakangan saya tahu, pemuda itu adalah teman dari perempuan yang sudah lebih dari sebulan hinggap di kepala saya ini.

Dan dari cerita Suitcase Kid tentang pemuda itu, saya sekali lagi merasa dapat memahami bahwa betapa dunia yang saya jalani ini tak akan pernah lepas dari segi-segi yang selalu membuat perut saya mual: persaingan, eksistensi, dan hal kekanak-kanakan lainnya. Seolah-olah seni telah terlupakan begitu saja sebagai ruang untuk menciptakan keberpihakan pada kebenaran. Apa sebab? Karena pada akhirnya orang-orang seperti ini (mungkin juga saya termasuk di dalammya) hanya akan tampil dalam kepalsuan yang haus pengakuan. Generasi yang demikian jauh dari cita-cita aktivisme yang telah dipancangkan pijakan-pijakan awalnya oleh orang-orang terdahulu.

***

“Apa guna kau menggumam seperti ini?!” kau mungkin akan bertanya, membantah dengan hardikan.

Aku punya hati kecil yang terdiri dari dua kamar, satu sama lain saling melontarkan bunyi-bunyi yang berseberangan. (Bukankah seperti itu kiranya Meliala pernah mengajarkan aku dan beberapa kawan tentang mesin konflik batin yang akan membuahkan moral demi mengimbangi pikiran-pikiran rasional…? Sebentar…! Aku juga ingat bahwa Fauzan juga pernah mengucapkan hal serupa. Dia menggunakan ikan dan roh gentayangan sebagai poros retorikanya). Di kamar yang satu, ada sebuah kursi goyang kecil yang bersedia untuk kau duduki, di sebelahnya ada pula meja kecil dengan sebuah catatan yang juga kecil untuk siap kau baca dengan saksama: catatan ini (dan beberapa lainnya yang sudah ter-post-kan). Tapi, kamar yang lainnya justru terkunci rapat dan di pintunya tertulis: DILARANG MASUK. Oh, ayolah! Apakah kau tak paham bahwa tulisan ini pun juga tak netral dari kegalauan-kegalauan yang persis sama dengan latar curhatan yang kau utarakan padaku dua, tiga, empat, lima hari belakangan? Jadi, aku rasa sebijaknya kau tidak usah gusar dan mengeluh dan menyesalkan catatan ini. Sebagaimana yang telah kukatakan padamu: “Hidup tidak akan indah jika semuanya bisa dijelaskan.”

Aku masih ingat kau hanya merespon kalimat itu dengan ” Aduh 😦 ”

Apa makna reaksi itu? Aku juga tak mengerti jelas…, tapi tak perlu pula dijelaskan, toh…?!

***

33.

Pekanbaru, 4:39 am.

Hampir setiap hari aku bertanya kabar, jawabanmu tak menunjukkan tanda-tanda baik. Meskipun agak mereda, hal-hal yang kau lakukan untuk menegaskan suasana baik itu justru menjadi cermin yang bisa membuatku melihat bahwa semuanya belum baik-baik saja. Sedangkan beberapa menit lalu, dengan gamblang kau menjawab, “Tidak aman.”

Ada dua hal yang membuatku gundah. Pertama, situasi yang kau hadapi, yang nyatanya memang semakin rumit (ditambah hal-hal baru yang bukan saja mengejutkanmu, tetapi bahkan aku). Kedua, rasa khawatirku (yang agaknya) tak masuk perhitungan sebagai hal yang perlu kau pikirkan (Oke! Aku akui alasan kedua ini memang bukan masalah penting dan memang tak perlu kau pikirkan, karena ini hanya masalah perasaan sentimentil belaka; padahal masalah nyata yang sedang kau hadapi jauh, jauh lebih penting, Suitcase Kid).

Kakiku baru saja menapak di Pekanbaru dan kepalaku berpikir rumah kelahiran memanglah surga. Pada senja dua hari yang lalu, aku juga melihat surga dalam bentuk yang lain di pinggir Danau Kembar, tatkala matahari terbenam perlahan dan melukiskan perubahan demi perubahan garis-garis di langit. Beruntunglah mereka yang mengetahui impresionisme, tapi aku tak berdaya untuk mengangkat kamera. Aku terpana, sembari memikirkanmu. Aku rasa, visual yang seperti itulah yang sepertinya mungkin benar-benar bisa mengenyahkan beban pikiranmu selama beberapa menit. (Ah! Sayang sekali aku tak tahu judul lagu yang diputar Gelar waktu itu. Lagunya menarik dan mengentalkan suasana, walau tak sejenius Sun Ra. Akan kutanya nanti padanya, dan akan kuberitahu padamu setelahnya, berharap kau akan menyukainya walau mendengar tanpa sinema impresionistik di depan mata).

Dan semangat-semangatku kini, Suitcase Kid, sungguh sangat ambigu. Kita tahu, HB Jassin telah berucap kepada pengadilan (dan juga kepada kita) bahwa seni seharusnya diadili oleh seni itu sendiri. Kau tentu sudah membaca tulisan Jurnal Karbon beberapa hari lalu, kan? Kita tahu akan hal ini dari tulisan yang cukup bijak itu. Tapi publik adalah pemegang suara segala. Dan celakanya, suara publik adalah momentum yang tak pernah tidak dijadikan peluang bagi mereka yang berkepentingan. Dalam situasi ini, kau yang dituduh telah melukai perasaan orang-orang, justru mengalami luka yang nyata dan tak dipedulikan orang-orang itu. Bukan hanya kau, aku pun menangis tersedu-sedu setiap mendengar kegelisahan-kegelisahanmu. Atau mungkin kau tak pernah menangis, tapi itu bukan berarti pula membuatku malu mengakui bahwa aku menangis sedih mengetahui sedikit semi sedikit kemungkinan arah masalahmu ini.

Suitcase Kid, apa yang bisa kulakukan detik ini selain berkhayal(?): jika aku ada di sampingmu, ku ‘kan letakkan telapak tangan kananku di atas kepalamu seraya berbisik, “Seni selalu berpihak kepada kebenaran, kepada yang tertindas. Percayalah!”

Kita masih harus melihat (atau aku masih harus menunggu), akan bagaimanakah kiranya persoalan ini mencapai bentuk akhirnya? Akan kemanakah kemudian arah angin-angin yang menyelimutinya…?

Karenanya, kita memang perlu meluaskan ketabahan hingga tak terhingga, Suitcase Kid…

32.

Solok, 6:36 pm

Berbincang denganmu, membuat kepalaku terus berpikir, Suitcase Kid… bahwa medan senirupa kita nyatanya memang menuju titik penghancuran tembok, yang akan membuka gagasan-gagasan baru. Sayangnya, saat ini kita baru hanya bisa berkata: “Semoga saja!”

Kini, orang-orang berjalan di jalur setapak arbitrer. Entah bagaimana nanti…(?)