Blog

56.

Lombok Utara, 04:53 pm.

Semakin saya menimbang-nimbang untuk menyudahi narasinya, makin kuat pula daya magnetis itu menjerat, bukan saja rasa penasaran, tapi juga perasaan saya sendiri—terjerat nyaris utuh; perasaan yang dengan sangat sadar dan rendah diri, saya akui, tidak pula penting dituliskan untuk kau baca. Tapi bukankah nyatanya memang cerita ini yang membangun rasa itu, Zikri…? Atau sebaliknya, rasa inilah yang jangan-jangan malah menjadi energi paling dominan bagi kemunculan catatan-catatan baru(?).

Saya bahkan merapalkan kembali kata-kata itu dua hari lalu: “Embarasa! Embarasa!”

*

Detik ini, bersama Gozali dan Pak Zul, saya berbincang tentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak ideal mengapresiasi bidang kesenian untuk masyarakat. Kami berbincang di atas berugaq kecil di bawah gerimis yang cukup berisik menerpa atap bambu yang berjarak 30 cm di atas kepala kami. Perbincangan itu menarik dan lucu, sebenarnya; tapi saya sedang terganggu oleh perasaan gundah yang samar-samar karena pikiran saya otomatis selalu mencuri-curi ingat “tos tinju” yang saya dapatkan darinya, dua puluh satu hari yang lalu, serta pesan-pesan yang bergulir dengan kurang lancar.

Saya tak bisa berbohong lagi (atau tak bisa mencari ujaran lain untuk mengalih-alihkan perhatian kita). Saya tengah jatuh hati, Kawan, pada ia yang sudah kita sepakati sejak beberapa minggu lalu menjadi subjek baru bagi catatan-catatan ini. Pada akhirnya, ini bukan hanya catatanku, tapi juga catatan untukmu. Mantra “embarasa” konon mengajarkan, walau ada kemungkinan gagal menjadi nyata, rasa harus (tetap) dikelola.

Ini semua adalah fragmen-fragmen kecil yang bisa kau gunakan sekadar untuk menerka-nerka.

Oh, iya! Paman saya bilang, selara dan gaya berujar saya masih sekelas “sinetron”. Catatan-catatan yang kau baca sejauh ini pun bisa jadi juga begitu.

Apa pun itu, udara Kerujuk (yang dingin dan berangin kencang di malam hari, tapi begitu terik pada pagi menjelang sore), ternyata berhasil memaksa saya untuk berhenti berkilah lagi. Saya lantas tak bisa tidak menerima tawaran untuk berendam di kali di balik taman-taman warga yang mengupayakan kebijakan duniawi. Di ujung sana, ibu-ibu dan gadis-gadis masih belum berhenti merendam diri. Kami harus menunggu giliran; saya pun menunggu pula diiringi kegelisahan di hati.

Handphone saya hampir saja terjatuh.

06.30 pm. Kini, di Lombok hingga tiga hari mendatang. Lalu, beberapa hari kemudian setelah tiba di Jakarta nanti, jika permohonan visa dikabulkan, perjalanan dilanjutkan ke Inggris selama seminggu.

Adakah mungkin kami akan sempat berbincang tentang Cerita Kulkas di sela-selanya…?

Sedangkan pesan-pesan via WhatsApp itu, hanya dibalasnya singkat-singkat saja.

Pukul 07:00 pm, di sisi barat daya dari lokasi bocah-bocah yang sedang menonton YouTube di tengah hamparan sawah kering, beberapa menit sebelum teman-teman Kopdar dari Gorontalo tampil ke hadapan warga Kerujuk, sambil menahan terpaan angin dingin senja, saya hanya baru bisa mengharapkan kemungkinan terjadinya pertemuan itu, pertemuan Cerita Kulkas (dan dunia-dunia utopia di bawah satu atap) sembari membayangkan senyumnya, juga mengingat bunyi nada medok Surabayanya.

Begitu merindunyakah saya…?!

10:02 pm. Pantomim di depan saya liris sekali… tentang mitos lokal. Tapi kegembiraan dan mood saya hanya berhasil terpicu menjadi baik (sedikit) oleh pertunjukan sebelumnya, yakni saat Three O Amphibi menyenandungkan kisah kepergian seseorang yang penting ke Cina sehingga membuat hati gerakan-gerakan yang sedang berlangsung di negeri siq siq o bungkuk ini sempat gundah, walau tak segulana saya. ***

Advertisements

55.

Jakarta, 04:14 am.

*fuuuh … adem..

Bayangkan jikalau tiupan itu adalah benar udara sungguhan yang dihembuskan dari mulut yang jujur, penuh ketulusan, dan dapat disentuh…, bukan himpunan piksel yang ditransfer lewat jaringan simulasi tak teraba, tak beremosi, dan artifisial…(!?)

Bayangkan jika dahi yang mengernyit hingga larut malam—ng…, saya kira memang begitu(?)—itulah yang menyambut apa yang dapat ditangkapnya sebagai tenteram (lantas bersama senyum ia terpejam)…,

…bukan ditangkap oleh mata yang sayup-sayup dan enggan bertahan—kali ae ‘mang begitu, ye, kaaan…? Bisa jaddeeeiii…(?!)—menyuntuki kelam saat menghadapi layar supra dan artifisialnya yang tergenggam (lantas menuju mimpi beriring gumam)…(!?)

Bayangkan seandainya tiupan itu memang benar berpindah sungguhan dari ruang lingkup keterbatasannya, secara fisik dan non-fisik…, dan bukan dalam cirinya yang terkini sebagai citra mental belaka yang begitu mengusik…(!?)

Bayangkan bagaimana itu nyata, bukan maya…

Bayangkan cara sinema menghadirkannya, bukan opera sabun televisi yang mengindahkannya…

Selamat datang di belantara kuratorial, … [Ah, saya tak perlu menyebut nama…] !

*

Teks di atas baru saya selesaikan pukul 11:29 am di bawah terik di Kelapadua. Eh, sudahkah Pascal tahu kalau kepala saya sekarang seperti Ikkyū-san…?

*

Teks ini baru saya terbitkan pukul 06:14 pm, di tengah proses membuat garis, garis, dan garis lagi…

Menuju gudang untuk meredam usikan itu, atau mendengarkan lewat jaringan tanpa gelombang…, jawabannya dikembalikan kepada kebebasan yang malah mengaburkan hasrat.

“Nashar melakukan itu dua tahun, setiap hari!” seru UTM, melihat garis-garis di lembaran kertas saya. “Bisa ngga lu mengalahkannya, lebih lima hari saja…? Kalau bisa begitu, baru….”

“Tapi dia melakukannya tanpa melihat-lihat HP,” ujar UTM lagi, sambil berlalu. ***

54.

Jakarta, 17:38 am.

Sesaat setelah saya membalas pesan itu via email—ya, semoga saja saya tidak ngegembel di London—Dhuha yang duduk di sebelah saya memutar lagu “Sombody That I Used To Know”-nya Gotye di YouTube. Saya dulu pertama kali mendengar lagu ini (dan memutarnya berkali-kali) justru karena melihat versi covernya di YouTube—saya tahu versi cover itu dari Harris. Di Papua, saya dan Gelar juga memutar video cover lagu itu berkali-kali di kala rehat dari kegiatan workshop.

“Now and then I think of when we were together; Like when you said you felt so happy you could die; Told myself that you were right for me.” Begitu lirik awalnya. Saya sedikit mengira Dhuha sedang merefleksi isi lagu ini. Tapi saya ingat bagaimana para lelaki di kosan saya yang dulu berseru dengan takjub ketika si perempuan di video di bawah ini mulai bernyanyi.

Kami—saya dan Dhuna—kembali geleng-geleng kepala (saya sambil berseru, “Nemu aja, nih, orang, lagu bagus!”) saat UTM meminta kami memutar lagu Kimbra, berjudul “Settle Down”. Sebelumnya saya sempat bilang ke Dhuha untuk memutar lagu “Bad Liar”-nya Selena Gomez. Bukan apa-apa, saya jadi mendengar lagu ini karena kebetulan beberapa hari lalu saya melihat video tari di bawah ini (beberapa teman saya ada yang selalu meledek dan mencemooh orang-orang yang mengidolakan K-Pop; tapi saya biasanya berujar kepada mereka, “C’mon, Bro! We’re talking about culture!”)

Pada video tari di atas, lihat gerakan kaki mereka pada detik 00:31-00:36 dan detik 00:43-00:45, lalu pada detik 00:52-00:54 gerakan badan mereka! Saya mengamati bagian-bagian itu berkali-kali. Keserempakan yang terasa sudah otomatis!

Di catatan yang terbit sebelumnya, saya mengatakan bahwa ada draf catatan yang awalnya diniatkan terbit lebih dulu, tapi urung saya terbitkan. Begitu juga dengan catatan ini, ada versi catatan yang semata saya tinggal sebagai draf dan batal untuk saya terbitkan (dan saya malah membuat versi yang sedang kau baca sekarang). Soalnya, saya sedang di tengah kondisi galau, apakah akan mengakhiri catatan-catatan macam ini (dengan kata lain, mengakhiri “Marginal”) atau tidak. Kau ingatkan, saya pernah mencatat bahwa seri si orang baru ini membuat kondisi saya menulis dalam posisi “diketahui”…(?) dan karenanya saya harus menimbang-nimbang akan menerbitkan catatan yang mana. Sudah ada dua draf yang batal terbit karena kesadaran saya akan risiko-risiko yang bisa muncul tanpa diduga di kemudian hari. [—Saya jadi teringat kejadian di Pekanbaru lalu, ketika salah seorang kawan, mau tak mau, terjebak di kondisi sulit karena cukup keliru mem-post sesuatu di Instagram stories-nya.]

Lagi pula, perlu saya akui bahwa saya memang tak jago “fisika” (bahkan, untuk memahami sinema pun, tulisan-tulisan Deleuze yang menggunakan logika fisika itu saja, belum tuntas saya baca karena saya justru “keblinger” dengan kalimat-kalimatnya.) Dan hukum [si] Pascal pun memang juga sulit saya mengerti.

Pasalnya, kerumitan di dalam kepala saya, setidaknya, tergambarkan di lirik lagu “Bad Liar” itu.

Tapi, setelah menyaksikan dan kemudian sedikit menelusuri secuil trivia “Settle Down”, saya tarik kata-kata saya yang menyatakan bahwa “Bad Liar” adalah representasi dari apa yang saya gelisahkan. Bwahahaha!

“Settle Down” barangkali adalah yang paling pas mewakili hasrat saya yang sebenarnya terhadap… [akan saya jelaskan lain waktu—jadi, catatan “Marginal” tak jadi pula saya tutup!]

Lihatlah gerakan tarian figur utama dalam video di bawah ini! [Masih mau membantah kalau berjoget itu tidak menyenangkan…?]

Bagas, teman saya di kampus dulu, sering menyampaikan kata-kata pamungkas ke junior-juniornya saat dia “bertingkah” memberi petuah. Di akhir petuahnya, dia selalu berkata: “Ngga semua yang lu denger itu bener!”. Apa yang akan kau pikirkan jika saya menulis rima yang sama: “Nggak semua yang lu baca itu bener!” [?]

Dan UTM pun sempat menyuruh kami mendengar lagu “The Tale” dari Meredith Monk. Dan lagi-lagi saya hanya bisa melongo menyimak referensi dari orang ini. [Kalau meminjam ekspresi Tyas, saya akan berseru, “Pakyu!”]

Sudah, Bor! Catatan kali ini cukup sampai di sini dulu, yes! Hahaha!***

53.

Jakarta, 05:12 am.

Mba Tami baru saja datang ke markas kami untuk bersih-bersih. Markas ini memang selalu berantakan; ia yang membersihkannya setiap pagi.

Menulis catatan berikut agak merepotkan karena jaringan internet dini hari ini sedikit bertingkah, padahal tidak hujan—biasanya hujan menyebabkan mood yang berubah-ubah di diri Wi-Fi markas yang sudah berdebu itu.

Sebentar…! Coba saya ingat-ingat dulu apa saja PR yang seharusnya saya selesaikan segera: dua kuratorial untuk di Yogyakarta (harus kelar minggu ini), makalah untuk di Lombok (juga minggu ini), editorial untuk e-journal Sayurankita edisi pertama (bulan depan), melengkapi informasi tentang Apium graveolens L. di katalog tanaman (minggu ini), TOR untuk buku media art for beginners (sudah harus ada setidaknya bulan depan), materi-materi untuk residensi (kalau ternyata saya benar ditugaskan untuk berangkat), artikel kritik untuk dimuat di Jurnal Footage, dan terjemahan makalah Song Jihyeon…

Nah, oke! Nama yang saya sebut terakhir itu adalah nama dari seorang kurator asal Korea Selatan. Kemampuan bahasa Inggrisnya (speaking) tidak terlalu baik, tetapi makalahnya cukup penting untuk ditafsirkan ke bahasa Indonesia. Dan sebenarnya ini PR yang paling urgent—[Oh, iya! Saya juga ingat harus menuntaskan membaca buku karya si Huizinga itu sesegera mungkin supaya saya tidak terlalu bego saat berdiskusi untuk membahas tema festival tahun depan! Anggra sudah memegang versi bahasa Indonesianya, kalau saya tak salah…]

Apakah saya sudah pernah mengatakan—oh, salah, seharusnya saya tidak bertanya “apakah”, tapi seharusnya berseru “tahukah kau”—bahwa sebenarnya ada satu catatan yang masih tersimpan sebagai draft (yang semestinya menjadi catatan No. 52)…? Sampai sekarang, saya masih menimbang-nimbang, apakah akan menerbitkannya atau tidak, atau justru menghapusnya saja. Dhuha pernah berpendapat bahwa catatan-catatan saya yang sudah terbit memang berisi cerita yang cukup “frontal”; akan bagaimana reaksinya kira-kira jika membaca draft itu…? Hahaha! Saya pun penasaran, bagaimana pula reaksi Pascal kalau ia juga membacanya? Hm…!?

Mungkin Pascal sudah tiba di Gambir sekarang ini. Gila juga dia! Saya kira tak akan ada jeda yang cukup untuk memejamkan mata sejenak sebelum ia kembali bekerja, pagi-pagi [?] Melelapkan diri di dalam kereta selama perjalanan tentu bukan pilihan istirahat yang benar, apalagi hanya dua-tiga jam perjalanan. Oh, atau mungkin jam kerjanya baru akan mulai sore nanti? Ya, semoga saja…

Haduuu! Sebenarnya saya ingin mencukur rambut, tapi enggan juga rasanya harus berjalan kaki menuju ATM untuk mengambil cash!

Tadi malam, saya dan beberapa teman di markas membaca buku Mochtar Lubis, Harimau! Harimau! (1975) di kegiatan klub baca. Setiap satu bab dibaca oleh satu orang dengan lantang; jadi kami membaca bergantian hingga buku itu tuntas pada pukul (kira-kira) setengah dua malam. Pascal sendiri memberi kabar bahwa kegiatan penutupan yang berlangsung di sana—sayangnya tidak berbentuk party (“Haha closing doang mana ada kemdikbud party,” begitu ketiknya, di pesan WhatsApp)—baru selesai pada pukul dua malam. [Dan ia segera bergerak menuju Jakarta dini hari tadi…?! Gila! Hahaha!]

Ada satu lagu yang saya rasa menarik untuk Pascal dengarkan selama berada di kereta. Lantunan nada pada musik lagu ini, paling tidak, bisa membuat kepala kita bergerak sedikit-sedikit melepas penat—tapi liriknya justru mengandung nuansa penat (menurut saya). Tapi saya sudah bilang, kan, bahwa saya lebih tertarik pada bunyi…? Bunyi lebih ekspresif ketimbang hanya kata-kata. [Oh, iya! Beberapa hari lalu, masalah pilihan “kata” saja bisa membawa saya ke sebuah perdebatan yang tidak menarik; bukan karena berkecil hati, tapi justru karena hilangnya rasa respect saya terhadap lawan debat saya itu, akhirnya saya tak menanggapi opininya lebih jauh.]

Bunyi memang “bahasa” yang lebih bijak. Jadi, abaikan saja lirik lagu di bawah ini—atau kau boleh saja menginterpretasi liriknya dengan cara dan sudut pandang yang berbeda; tafsir suka-suka. Saya sendiri mencoba mencari-cari artikulasi tafsir atas lirik lagu ini yang barangkali bisa sesuai dengan ke-giat-an dan ke-ringkas-an yang melekat pada Pascal.

Bukan teknis video musiknya yang membuat saya terkesan, tapi justru tarian si figur utama. Betapa menari adalah hal yang benar-benar #asyek untuk diamati. Penelusuran saya di YouTube, beberapa menit lalu, lantas menjalar ke video-video tarian. Dan sampailah saya pada satu video di bawah ini; ada gerakan dari tari mereka yang mirip (atau mengingatkan saya) pada suatu gerakan yang selalu dilakukan Hanif kalau mood jogetnya muncul ketika sedang berada di tengah-tengah party (lihat menit 01:02 dan menit 01:17).

Oke, baiklah! Saya akui juga, memang, bunyi bagaimanapun tak bisa lepas dari visual, dan karenanya [terutama untuk konteks lagu] juga tak lepas dengan kata (atau…, kemudian lirik).

In case you don’t know, let me tell you: ada hal yang disebut dalam lirik lagu Korea yang melatari dance di atas, yang menurut saya, juga melekat di diri Pascal. Tapi saya ragu apakah Pascal bisa (atau bersedia) menari selepas itu…[!?] *colek-colek! Bwahahaha!

06:16 am. Ah, untung saja Yuki sudah memesan nasi uduk pagi ini! #asyek ***

52.

Jakarta, 03:36 am.

Tanggal 2 September 2017 lalu, saya tahu Cerita Kulkas (2017, karya Shindy Farrahdiba—bisa diakses di Storial.co) dari Pascal. Cerita 32 bab; narasi setiap babnya pendek-pendek. Si pengarang menempatkan pembaca sebagai tokoh kulkas, untuk menyimak peristiwa di dapur di dalam rumah sepasang suami-isteri yang baru saja menikah. Kuantitas ceritanya minimal, begitu pula latarnya. Tapi kualitasnya boleh diperhitungkan.

Ada satu bab yang membuat saya terpingkal geli, yang menyinggung fenomena WhatsApp. Selebihnya, karya ini adalah kisah sederhana tentang suasana di bawah atap rumah kelas menengah; karya yang, menurut kesan saya pribadi, mengandung upaya untuk mencapai utopia domestik. Hanya saja, Cerita Kulkas masih belum membongkar “isi” kulkasnya sendiri dengan total. Lagipula, cerita ini pun masih dimotori oleh subjek, sedang kehadiran objek di dalamnya tak lebih dari sekadar perenyah mood pembaca.

Menyimak Cerita Kulkas di layar komputer yang tampil ke hadapan mata saya dalam bentuk halaman website, yang menjadi menarik justru esensinya sebagai “karya online“. Komentar si pengarang pada bagian bawah—serta bagaimana sejawat-sejawatnya memberikan tanggapan di kolom komentar—mungkin juga bisa dilihat sebagai lapisan lain dari “narasi” Cerita Kulkas. Terkait hal ini, konteks yang saya tangkap justru aroma “urbanista” yang berdamai dengan rivalitas-rivalitas yang berhubungan dengan mekanisme kapital.

Saya pernah menggunakan istilah “abstraksi” di salah satu kuratorial film yang saya buat. Cerita Kulkas, agaknya, bisa dijadikan sebagai contoh karya tulis yang “mengabstraksikan” ekspektasi pembaca. Sebagai karya sastra, saya tidak berani berkomentar banyak, selain tak menemukan polemik apa pun yang sifatnya politis—jangan salah paham, saya bukan sedang menyinggung “politik praktis”!—dari dramaturgi dapur yang dicoba untuk digambarkan oleh si pengarang. Andaikan Cerita Kulkas bisa merepresentasikan “politik dapur”… [Oke…! Biasanya, kalau kritik ini diteruskan, obrolan kita akan jadi sangat serius dan membosankan. Hahaha!]

Tapi, apa pun itu, membaca cerita tersebut, yang nongol di kepala saya justru suatu latar yang, menurut saya, juga tergambarkan secara tidak langsung di dalam sebuah lirik lagu. Atau, dengan mendengar lagu itu, saya sering mengimajinasikan suatu hubungan yang mirip dengan Cerita Kulkas.

Saya tidak tahu, apakah Pascal mendengar lagu ini juga…?

Dari segi selera, saya lebih suka versi cover di atas daripada versi original yang disenandungkan oleh Beirut. ***

 

51.

Jakarta, 04:52 am.

….aduh,…! Saya rindu…

50.

Jakarta, 03:12 am.

Ketika saya menoleh dengan kegalauan karena pesan WhatsApp belum juga dibalas, saya berujar di dalam hati: “Ah, betapa senangnya dia…?!”

Saat itu, UTM sedang melukis menggunakan tinta Cina di atas kertas; melukis wajah saya—awalnya ia ingin melukis botol di dalam gelas, tetapi urung dan memutuskan untuk melukis saya saat saya memperhatikannya.

“Kalau ditulis di dalam katalog, disebutnya bagaimana, Om?” tanya saya. “Tinta Cina di atas kertas, atau…? Dalam bahasa Inggris, maksud gue…”

Chinese ink on paper,” jawabnya, lugas sambil menganggukkan kepala. “Atau bisa ‘ink‘ saja. Tapi, kan, ada tinta India juga. Jadi, ‘Chinese ink‘ lebih tepat.”

Wajah saya yang dilukis oleh UTM beberapa menit lalu.

Sebenarnya, saya sudah tahu bagaimana ketentuan tentang penulisan informasi medium sebuah karya di dalam katalog. Hampir setiap tahun, sejak 2014, saya mendapat pekerjaan sebagai editor (dan asal kau tahu, sampai sekarang saya masih saja panik kalau mengingat bahwa, pada katalog-katalog yang kami terbitkan, masih ada beberapa kesalahan, baik dalam hal isi maupun layout. Itu sangat menjengkelkan, memang. UTM adalah guru yang selalu menegur saya tentang kesalahan-kesalahan itu. Ketelitiannya luar biasa!).

Jadi, beberapa menit lalu itu, saya sebenarnya bertanya basa-basi saja kepada UTM. Juga, karena saya melihat medium yang digunakan UTM: tinta Cina. Soalnya, tiga hari terakhir ini, telinga, mata, dan perasaan saya cukup peka dengan kata atau hal-hal yang berhubungan dengan “Cina”, “China”, “Tionghoa”, “Tiongkok”, atau “Chinese”, atau apa pun yang mengarah ke sana atau berkaitan dengannya. Dia menjadi sesuatu yang sedang ingin saya dekati sekarang ini (dan nanti). Mendekatinya dalam bentuk dan cara yang bagaimana, saya juga belum tahu pasti. Akan tetapi, saya memiliki maksud yang sudah pasti untuk apa. [Maksud yang saya miliki tentu saja berbeda dengan Melisa, tapi beruntunglah ia karena sudah pernah menginjakkan kaki di negara itu!]

“Ah, betapa senangnya dia…?!” seru saya dalam hati, saat melihat UTM melukis. Orang ini tampak begitu ringan; sosok yang [konon] bisa dibilang telah melepas beban-beban hubungan sosial-ekonomi dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk kebudayaan. Dalam kasus kehidupannya, barangkali, tidak ada lagi jenis kegalauan hati sebagaimana yang tengah saya alami saat ini. Terkadang, saya berpikir ingin menjadi seperti dia. [Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin—beberapa orang ada yang berkata, “Dia itu kasus khusus, satu berbanding satu juta orang, sosok yang muncul sesekali dalam beberapa dekade,” bagitu kata mereka (kalimat mereka dengan sengaja saya lebih-lebihkan dalam catatan ini, memang!)]

Bahkan, ada juga yang pernah berkata, kalau kau ingin tahu contoh konkret seorang Nihilis dan Anarkis, dialah UTM. “Wow! Keren sekali!” seru saya dalam hati saat mendengar cerita itu. Tapi belakangan saya sadar, kekaguman seperti itu hanya akan menjadi kontradiksi (dan juga kontraproduksi) bagi signifikansi kehadiran orang-orang semacam UTM di kehidupan kita. Bentuk “kekaguman” yang tepat dan bijak terhadap orang-orang seperti itu, mungkin, adalah dengan “menganggapnya biasa saja, seperti kita”. Tapi—silakan kau tanya satu per satu orang-orang yang mengenal dekat UTM!—menuruti saran untuk “berhenti” mengagumi UTM itu tidak mudah. Saya tidak bercanda!

Kau, yang sudah menyimak catatan saya sejak catatan No. 29, tentu tahu bahwa seharusnya ini bukan tentang UTM. Ya, memang bukan tentang dia. Singgungan mengenai lukisan itu sebagai pengantar catatan kali ini, terlintas begitu saja di dalam kepala saya sesaat setelah UTM menyelesaikan dan memberikan lukisannya kepada saya. Saya menyukai lukisan itu.

Menceritakan UTM, saya kira, akan jadi menarik karena saya juga sudah menceritakannya sedikit (dalam obrolan) kepada Pascal—yang juga punya aktivitas menggambar (walaupun kini sudah tidak seintens dulu, akunya). Saya mencoba membayangkan, bagaimana jika Pascal mengenal dekat UTM atau orang-orang seperti UTM? [—Eh, sebentar…! “Orang-orang seperti UTM”…??? Rasa-rasanya, sekarang ini UTM tiada duanya, deh…?!].

Mas Andang—[Bwahahaha! Bosque dipanggil “Mas”, Heib!]—tadi pagi memberikan komentarnya tentang kinerja Pascal di Sinekol kepada saya. Dapat diketahui dari komentar itu, Andang kagum dan salut dengan inisiatifnya. Nah, benar, kan…?! Ternyata kebiasaan saya mengobservasi kualitas para relawan festival tiap tahun berbuah baik juga. Tahun lalu dan tahun sebelumnya, saya juga bertemu dengan relawan-relawan potensial yang kini sudah jadi teman-teman seperjuangan: Dhuha, Anggra, Asti, Ika, Melisa, dan Pingkan. Sejumlah relawan lain juga sudah aktif di forum yang berbeda, tapi sangat berkaitan dengan apa yang kami lakukan kini. Kalau Rayhan, dia kasus khusus yang lain lagi; bukan saya yang menemukannya, tapi dia membawa dirinya sendiri ke ranah yang kini sedang saya geluti. [Waduh! Saya seharusnya tidur sekarang karena pukul delapan pagi mesti ke UI untuk menghadiri simposium yang salah satu panelisnya adalah Rayhan! Njir, bangun pagi, woey!!!]

Di sini, sekarang ini, juga sudah ada Walay, (dan Naufal yang tinggal di Surabaya), dan Robby, dan Yonri (yang terakhir ini, sih, salah satu aktivis yang terpercaya!). Semoga saja mereka semua bertahan! Sebab, hidup bergerak untuk apa yang organisasi saya cita-citakan bukanlah pekerjaan mudah. Apa yang sebenarnya dilawan, tidak akan pernah hilang. Organisasi dan jaringan pertemanan ini hanya akan terus ada dan bertahan jikalau apa yang kami lawan juga tetap ada.

Tapi, saya mengajak Pascal terlibat di kegiatan-kegiatan semacam ini, jujur saja, bukan dalam rangka mendesakkan apa yang benar/tepat kepadanya tentang film/seni/budaya. Jangan salah paham! Alasan sebenarnya adalah untuk menawarkan pengalaman yang berbeda. Bisa jadi, ajakan ini akan menjadi sesuatu yang berarti dan berkesan, kan…? Memang inilah yang tengah kami rencanakan dalam obrolan-obrolan kecil, bahwa kami berancana melakukan kegiatan kreatif untuk mengalami hal yang menggembirakan. [Dan masih ada satu alasan lagi, sejujurnya! Haha!]

Sinekol—kita sebut saja begini karena alasan yang rasanya tak perlu saya jelaskan—adalah ruang aksi yang sangat potensial di Jakarta sekarang ini, menurut saya. Tentu, dengan catatan jika mereka mengelola diri dengan disiplin yang tinggi. Menimbang pengalaman yang sudah dimiliki oleh si orang baru yang saya ceritakan ini, Sinekol adalah tawaran ruang yang paling tepat untuknya. Secara resiprokal, Pascal dan Sinekol akan saling membangun. Kita bisa lihat nanti—tapi, sekali lagi, dengan catatan jika mereka (yang kini sudah beranggotakan lima orang, dan juga dengan beberapa tambahan SDM yang bukan menjadi “anggota inti”) mau mengelola diri dengan disiplin yang tinggi.

Sinekol juga bisa menjadi forum dan kanal yang terbijak bagi dunia perfilman mahasiswa. Pasalnya, mereka mengumpulkan film-film mahasiswa bukan dengan tolok ukur dikotomis “film bagus” dan “film jelek”. Misi mereka justru mengumpulkan sebanyak-banyaknya film, karena visi mereka adalah “membaca” gejala-gejala yang ada dengan memahami faktor-faktor yang melingkungi semua film yang pernah diproduksi para mahasiswa [yang targetnya mencakup] se-Indonesia. Dengan begitu, candrawala—istilah “cakrawala” sudah tidak laku, Heib! Seriously!—perkembangan sinema dan sineas muda dapat dipelajari. Jika sudah jadi, database yang sedang dikembangkan Sinekol, suatu saat nanti (CATAT: jikalau mereka berhasil mengelola diri dengan disiplin yang tinggi) akan menjadi source yang tak ternilai pentingnya.

Belum lagi jika kita membahas potensi dari jaringan yang [akan] mereka miliki. Saya demikian bergairah ketika pertama kali mendengar Andang bercerita tentang inisiatif ini. Bayangkan: suatu jaringan luas untuk konteks disiplin pengetahuan yang sangat spesifik; jaringan film mahasiswa!

Dan kini, Sinekol memiliki space yang dapat mereka kelola dengan leluasa—dan baik pula dampaknya bagi space itu sendiri jika ia dikelola oleh Sinekol. Saya merasa beruntung karena mengetahui gerakan ini dari nol, dan akan terus melihat perkembangannya! Kalaupun gerakan ini berhenti, paling tidak di masa depan saya dapat bercerita kepada anak saya—[mungkinkah anak saya nanti bermata sipit? Hahaha! *ngarep]—bahwa, “Dahulu, [sebuah niat atau] gerakan progresif yang sangat keren di bidang film juga pernah ada di zaman Ayah muda!” *tsaaah

Jika kau mengabaikan celetukan-celetukan yang sengaja saya selipkan di beberapa bagian dalam catatan ini, kau tentu akan menyadari bahwa catatan ini cukup penting sebagai sebuah dokumen historik—dan ini berlaku untuk semua tulisan karya siapa pun, tentu saja—meskipun tak akan pernah dimuat ke dalam jurnal akademik. Atau, lebih tepatnya begini: saya berpikir bahwa apa yang saya coba jelaskan di atas merupakan sesuatu yang penting, dan karena itu saya mencatatnya. Paling tidak, ini memang penting sebagai catatan saya pribadi.

05:29 am. Saya sengaja mengulur-ulur waktu supaya dapat mengetik kalimat ini tepat di pukul 05:29, hanya karena niat ingin menyebut “tiga jam yang lalu”. Ya, tiga jam yang lalu ia mengatakan di kolom chat bahwa ia akan berangkat pukul lima—Aha! Saya ingat kalau saya pernah menulis puisi tentang kota tujuannya itu, beberapa tahun yang lalu! [Tapi di mana puisi itu sekarang?]. Dan untuk mengulur-ulur waktu, saya sempat membaca beberapa bab Cerita Kulkas, sekadar mencari poin-poin menarik untuk diobrolkan dengannya nanti, lebih-kurang 10 hari lagi.

Sudah bangunkah ia? Barangkali ia sedang bakbikbuk—Ya, saya membayangkannya dengan suara yang memang berbunyi “bak bik buk”. Hahaha!—karena mengejar waktu untuk segera menuju stasiun[?]

Kepentingannya pergi ke kota itu karena terlibat menyelenggarakan kegiatan yang juga berhubungan dengan sinema, adalah alasan yang pas (bagi saya) untuk menganggapnya bukan orang sembarangan.

“Orang yang mana lagi ini?!” begitu mungkin kau menggerutu, ketika (ternyata) masih membaca catatan saya sampai di paragraf ini. Hei, sudahlah! Jangan pula kau tanya ini siapa! Karena, kelanjutan gumam saya, seperti ini jadinya:

“Beberapa menit setelah rancangan surat-surat itu ditulis, saya melihat senyum yang bertahan cukup lama dan menyegarkan di wajahnya tatkala ia melihat gawai pintarnya. Jelas bukan karena ke-supra-antropologis-an teknologi mobile, juga bukan karena cahaya elektronis yang samar menerpa hidungnya, melainkan ultima dari konten yang tengah ia baca dan ia tanggapi pada momen itu. Detik itu, saya tersadarkan bahwa ada suatu hubungan sosial miliknya yang tak mampu saya terka bagaimana petanya, orang-orangnya, dan harapan-harapannya atas hubungan-hubungan itu.

Saya juga menjadi sadar: jalan menuju Cina memang masih sungguh sangat jauh sekali. Dan apakah kira-kira saya mampu menyentuhnya? Gerak dunia hari itu (hingga kini dan nanti) tiba-tiba jadi terasa berat, atau menjadi lambat layaknya langkah kaki sang rahib di film Tsai Ming-liang. Tapi, toh, ini bukan sebuah perjalanan spiritual-estetis atau apa pun yang berbau-bau seperti itu. Ini kegelisahan yang sebenarnya jauh lebih sederhana saja. Pikiran yang kemudian mampir di kepala saya: ternyata keakraban yang dicapai juga berkonsekuensi pada tertegaskannya jarak (karena jarak itu justru semakin terlihat dalam sebuah keakraban). Seandainya dunia ini persis seperti sinema, kita tak butuh banyak energi dan kekhawatiran selain melarutkan diri dalam ruang gelap, menikmati alur sebagaimana adanya—atau, jika boleh saya memodifikasi perkataan Huizinga, kita hanya perlu “enjoying the play (hal yang pasti dilakukan oleh Homo Ludens; oleh kita semua).”

06:17 am. Kegelisahan yang sama seperti tadi malam, saat saya memperhatikan UTM melukis. Belum ada balasan. Barangkali seseorang yang sedang saya tunggu balasan pesan WhatsApp-nya itu memang tengah bergegas dengan bunyi “bak bik buk”…, atau mungkin tidak menganggap pesan saya penting sama sekali[?] Bwahahaha! (tawa masygul yang menggelikan…! Haha!).

Dan sepertinya tak mungkin saya memejamkan mata pagi ini, karena saya ingin melihat Rayhan mempresentasikan Visual Jalanan di panggung Kriminologi. ***

49.

Jakarta, 02:28

2 September 2017.

Jika benar benda memang tak bisa bicara, setidaknya mereka bisa menyimpan cerita.

Mungkin saat ini Pascal sudah mendengkur. Kalau begitu, mari kita tidur…

48.

Jakarta, 02:44 am.

“I get butterflies in my stomach,” ujar salah seorang kenalan saya di suatu malam, sewaktu saya di Utrecht, Belanda, tiga tahun lalu. Ah, tapi sungguh saya lupa siapa namanya! Dia masih muda; dan malam itu, senyum tak pudar-pudar dari wajahnya. Di momen itu, saya tidak mengerti, apa yang ia maksud dengan “kupu-kupu di dalam perut”…?

Percakapan itu terjadi selang beberapa menit setelah saya melewatkan detik-detik gugup di depan sejumlah tamu—anggur di tangan saya rasanya nikmat sekali karena kelegaan yang saya dapati usai melewati detik-detik itu. Sebagai bagian dari rangkaian program residensi kurator yang saya ikuti, malam itu saya harus mempresentasikan pandangan saya tentang perkembangan seni media di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun pasca-1998.

Saat Otty menjelaskan makna idiom yang diucapkan kenalan kami, barulah saya mengerti bahwa si bujang yang umurnya sedikit lebih tua dari saya itu sedang berbunga-bunga hatinya. Sembari menanggapi ceritanya dengan seruan, “Oh, really? Good… good!”, di dalam hati, saya juga berujar: “Jiah, di perut gue kupu-kupunya lebih banyak, nih, Bor, bekas presentasi tadi… zzz..!” Meskipun sesi presentasi saya sudah berlalu, masih ada sesi ketiga di mana saya harus duduk bersama Otty untuk menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin mengenai isi presentasi kami berdua. Percakapan yang menyebut “kupu-kupu” itu berlangsung di waktu jeda, sesaat sebelum Otty naik ke panggung untuk mempresentasikan karyanya. Saya yang masih gugup dan “mabuk” akibat presentasi was wes wos agaknya tak merasakan keringanan suasana sedikit pun oleh cerita si bujang (tapi saya mendengarkannya dengan penuh minat).

Syukur, semuanya berjalan lancar; kami cukup puas dengan hasil dari acara malam itu. Ketika meninjau video dokumentasi dari presentasi yang saya lakukan, saya baru ngeuh bahwa saya mengenakan jaket yang sangat tidak formal. Meskipun begitu, saya bangga dan merasa jenaka karena saya menampilkan wajah The Popo ke hadapan orang-orang Belanda. Hahaha!

Jadi, hari Kamis sore lalu, Popo kehabisan stok alpukat. Beberapa menit setelah Pascal pulang ke Lebul, perbincangan di tempat rapat menjadi tak menarik. Rencana minum coklat bersama Reza pun urung karena dia menghilang entah ke mana—tapi sejujurnya, saya memang enggan membeli segelas coklat saat itu karena orang yang sebenarnya ingin saya ajak minum coklat sudah tidak berada di tempat; dia bukanlah si Reza, bukan pula si bosque yang membahana itu.

Tapi, malam harinya di markas organisasi—markas yang lokasinya lain lagi—berlangsung dengan cukup menyenangkan (meskipun saya harus begadang sampai dini hari pula, menemani Otty menuntaskan esainya). Apalagi sirkulasi teks di layar ponsel saya juga memicu mood yang tidak biasa. Saya sendiri sulit menjelaskannya, apa dan bagaimana gerangan makna yang dibawa oleh mood kala itu kepada saya.

Keesokan harinya, Dhuha bangun dengan disusul oleh keluhan dari dirinya sendiri mengenai gagalnya rencana yang dia susun dalam rangka niat mengikuti sholat ied. Tapi saya kira, mood orang-orang di markas kami pagi itu cukup terobati karena si Barista tiba-tiba datang dari Bandung—ternyata dia asal Jogja, dan kini tinggal di Jakarta tapi kuliah sambil bekerja di Bandung. Topik percakapan darinya tidak ada yang menarik, malah saya yang banyak bertanya dengan jahil tentang dirinya dan aktivitasnya selama kuliah (atau sebenarnya, saya tak terlalu antusias dengannya karena isi kepala saya diganggu oleh pertimbangan: kirim pesan atau tidak). Ketika Asti bersedia untuk bercerita lebih detail mengenai rahasia-rahasia yang seharusnya sudah kami perbincangkan jauh-jauh hari sebelum festival, barulah mood saya berhasil menggerakkan jari tangan ini untuk mengetik dan mengirim pesan. Untung saja masalah deadline untuk pameran di Polandia—Otty yang akan berangkat ke sana pada bulan Oktober nanti mewakili organisasi kami—sudah sedikit tertangani, sehingga saya bisa mengirim pesan yang lain, termasuk juga pesan yang membuat perut saya dipenuhi kupu-kupu.

“Yaya?” adalah jawaban yang mendatangkan demikian banyak kupu-kupu. Meskipun bunyi dari gelas alpukat gagal terdengar, saya nyatanya bisa mendapatkan bunyi lain yang juga menarik. Saya gembira karena “The Fall” bisa membuat saya berjoget (di dalam hati). Hahaha!

“Nite..”, walaupun mungkin tak membawa (atau tidak dikandungkan ke dalamnya) maksud apa pun selain niat beramah-tamah, di mata saya ia menjadi kata yang sepertinya akan membawa tanda-tanda lain; tanda yang akan menuntun saya menuju waktu-waktu ketika saya bisa mendengar lebih jelas bunyi kepakan sayap kupu-kupu di dalam perut ini: kupu-kupu yang seperti apakah mereka kiranya?

Jadi, dini hari ini saya pun juga bisa [dan ingin] berkata: “I get butterflies in my stomach!”

Apakah kupu-kupu yang sama juga berada di dalam “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”…?

Zikri, bukankah kau harus tidur karena harus berjalan pagi ini pukul delapan?!! ***

47.

Jakarta, 01:30 am.

Beberapa detik lalu, saya berniat menguntai kalimat lembut yang cukup panjang. Sudah sempat terketik, tapi lantas saya hapus.

12:31 pm.

Belum pernah seumur-umur leher saya merasa demikian ringan seusai rapat panas. Baru kemarin sore, itu pengalaman pertama. Dan di sini saya hendak berspekulasi pula: apakah pengerjaan buku yang ditawarkan Jakarta 32°C itu akan berjalan seringan dan semenggairahkan rapat kemarin? Jawabannya bisa saja “Ya!”, dengan ketentuan bahwa jika saya—[oke, dalam konteks ini, etisnya saya harus menyebut “kita”]—jika kita berada sangat dekat dengan “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”. Itulah situasi yang sejak jauh-jauh hari selalu saya dambakan: kesetaraan.

13:40 pm.

Dan rasanya, baru kali ini saya sangat berhati-hati memilah kalimat untuk “Marginal”. Kenapa, ya?

Ada tiga orang yang merespon Instagram Stories saya semalam; mereka merespon cuplikan catatan No. 46 yang dengan sengaja saya post untuk… [alasannya akan saya utarakan lain waktu]. Hanya satu orang yang tahu persis apa catatan ini. Kau bisa menebak siapa, kan?

Sekarang ini, di lantai dua, di ruang studio, Yonri bermain gitar, menyenandungkan satu lagu yang kami nyanyikan tadi malam untuk menghibur hati Robby. Oh, ya! Satu hal lagi (yang saya rasa penting untuk dicatat): Yuki belakangan sering memutar lagu-lagu The Cranberries setelah kami semua bosan dengan NDX.

Tapi tahukah kau, tadi malam, beberapa menit setelah saya berkata, “Duduklah di sini! Sekarang waktunya jujur-jujuran!” kepada beberapa teman yang menghadiri makan malam, salah satu teman kami menerbitkan post di Instagram pribadinya sembari menyatakan kekagumannya pada kinerja tim yang bekerja untuk festival yang baru saja berlalu. Dapat diduga, tersirat dalam post itu suatu maksud yang diharapkan oleh si pemilik akun Instagramnya akan dapat ditangkap oleh seseorang yang sebenarnya ia tuju. Saya dan Anggra, atau saya dan Asti, cukup sering membahas topik-topik seperti ini.

Itu jadi salah satu alasan lain, mengapa saya selalu bertanya—sebagaimana sering saya cantumkan pada catatan saya yang dulu-dulu—mengapa ada demikian banyak orang yang senang “mendefinisikan” dirinya sendiri? Dan… mengapa saya juga senang mendefinisikan diri sendiri—[atau berharap didefinisikan oleh orang lain?]…?

Terkadang saya menganggap hal ini manusiawi, tapi tak jarang pula saya menyadarinya sebagai “penyakit” yang bisa jadi akan menjebak cara berpikir kita semua ke dalam sebuah kekeliruan.

Namun, saya harus mengakui bahwa teruntuk tiga catatan terakhir, motif saya ialah memang untuk “ingin dibaca” oleh satu orang saja; satu orang yang saya tempatkan bukan sebagai rekan bincang sebagaimana kehadiran tokoh dalam narasi sebelumnya. Saya justru ingin bercerita ketimbang berbincang.

Karena ini adalah cerita tentang “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”, dan juga tentang ia yang memiliki nama yang lebih-kurang sama dengan figur yang menemukan hukum itu.

Akan tetapi, bukan soal “nama” yang sebenarnya menarik perhatian saya. Melainkan: bunyi.

Yumni pernah menyatakan bahwa “bunyi” memiliki kemampuan visualnya sendiri yang dapat melampaui keajaiban “visual”-nya visual.

Asal kau tahu, saya sangat mudah terlena dengan suara…, dengan bunyi. Dan bunyi, ia sering kali mengandaikan gerak meskipun tak ada gerakan yang terlihat mata. Mungkin kini Pascal bisa sedikit lebih mengerti—atau justru di matanya semakin terlihat betapa ribet-nya saya—mengapa joget itu menyenangkan dan mengapa saya senang melakukannya. Saya pun heran, mengapa ada orang yang susah sekali diajak berdansa—si barista yang sudah pulang ke Bandung itu, salah satunya [dengan menyisakan satu orang depresi pula]—?

Tapi, oke, argumen Hafiz dua hari lalu menyadarkan saya: kita harus menghargai pilihan sikap orang lain; atau ujaran GM (sebenarnya dia sendiri mengutipnya dari Barbara Ward): “Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan.”

Yah, apa pun itu, yang jelas bunyi adalah pangkal dari semua ini. Di suatu pagi, beberapa hari sebelum festival dimulai, perhatian saya ditarik oleh suatu daya magnetis yang demikian kuat, yang berasal dari suara satu orang saja. Daya magnetisnya semakin kuat terasa sejak kemarin sore, apalagi setelah ia menerangkan bagaimana cara mengucapkan nama, tadi malam.

Saya teringat sebuah pengalaman ketika masih kuliah di UI dulu: tanpa melihat tampang seseorang yang tengah menyapa teman saya yang berdiri di balik punggung saya sore itu, saya langsung menyadari bahwa dalam beberapa semester ke depan, kepala saya akan dipenuhi oleh suatu kegalauan; kegalauan yang dapat diartikan macam-macam—konyolnya, kegalauan waktu itu tidak berlangsung dalam suatu alur yang pas untuk diurai dalam catatan. [Eh, tapi kau harus ingat, ya, bahwa dalam memutuskan apakah saya akan menulis catatan atau tidak, saya tidak pernah mengacu pada kisah-kisah sedih atau bahagia!].

Produksi catatan ini, faktanya, didasarkan oleh alasan untuk dapat memahami “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”, lewat suatu penciptaan hubungan yang sungguh personawi dan intim. Saya sedang membuka jendela saya sendiri, dan berharap jendela di seberang sana juga terbuka, sehingga bisa mendengar kelanjutan bunyi yang tentunya jauh lebih menarik.

Ringkasnya, “Kal” adalah bunyi bagi sapaan yang tidak biasa di telinga dan lidah saya. Dan inti dari catatan ini, dan catatan-catatan selanjutnya nanti, sungguh sangat sederhana. Saya yakin bahwa kau pun sudah dapat menduganya sejak saya memberikan pengumuman tentang keputusan untuk mengakhiri narasi lama dan sekaligus mengawali narasi baru ini—[Wah, sudah seperti Kafka saja, ya, kelihatannya? Oh, tidak, tidak! Jangan salah paham! Catatan ini tentu konteksnya sangat jauh berbeda sama sekali…].

“Sederhana, dan mudah ditebak. Tapi ditulis dengan demikian ribet,” mungkin begitu Pascal akan berujar.

Tapi, bukankah tulisan panjang ini sesungguhnya bagian dari usaha untuk memvisualkan bunyi (sebagaimana puisi)…?

Lagi-lagi, perbincangan kita kembali ke bunyi.

Bunyi…, bunyi, dan bunyi.

Kira-kira, akan bagaimanakah nanti bunyi yang akan saya dengar di kala menenggak secangkir alpukat sore ini (kalau kesempatan itu dapat dilakukan—dan kalau stok alpukatnya masih ada di warung Popo)? Dan akan bagaimanakah suasana dan situasi berikutnya setelah catatan ini terbaca? Saya memutuskan untuk tidak melemparkan cuplikan catatan ini ke Instagram Story—tapi mungkin khusus untuk catatan No. 47 ini saja—dan menyerahkannya kepada kehendak bunyi-bunyi elektronis kita.

Apa pun yang akan terjadi setelah ini, catatan saya sepertinya belum akan berakhir dalam 5 atau 6 catatan mendatang. Dan memang, kelanjutan catatan ini sangat pantas untuk tidak diprediksi, sebagaimana sifat dasar suatu bunyi.

Saya begitu takjub ketika mengetahui bahwa, untuk berbicara sinema, Deleuze dan Bazin malah menggunakan rumus fisika. Saya berasa ditampar: “Berarti, selama di sekolah menengah dulu, gue ngapain aja, yak…???!”

Masalahnya sekarang, rumus “hukum tekanan air” adalah salah satu mata pelajaran fisika yang tidak saya kuasai sewaktu di bangku kelas 7 dulu. Hahaha! Apa yang akan terjadi dengan catatan ini, kalau begitu? Haha!

Eh, sebentar…! Rumus untuk “tekanan bunyi” itu yang seperti apa, ya…??? ***