Blog

maheib, all I want is nothing more…

Katanya, kita bisa menemukan jiwa terbijak di lara kehidupan, di momen paling menyakitkan. Tapi, di dalam momen itu, juga ada hasrat kebencian yang berusaha menggoda kita untuk memilihnya. Kita hanya bisa memilih salah satu.

Saya tak bisa menentukan pilihan: “jiwa terbijak” atau “hasrat kebencian”. Yang jelas, kini saya hanya bisa merasakan sakit tak terkira dan keputusasaan tiada tara karena momen itu.

Hhh…! Kau biarkan Zikarumu terluka dan hancur, Heib! đŸ˜„
Ingatlah bahwa lukanya tak akan pernah sembuh dan dirinya yang seutuhnya tak akan pernah pulih.

All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
‘Cause if I could see your face once more
I could die as a happy man I’m sure
When you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side

But If you loved me
Why did you leave me?
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I’ll find somebody

Like you, oh…

‘Cause you brought out the best of me
A part of me I’d never seen
You took my soul wiped it clean
Our love was made for movie screens

But If you loved me
Why did you leave me?
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I’ll find somebody

Like you, oh…

Advertisements

Dari Luar Ke Dalam Layar, lalu Ke Luar Layar

Artikel ini adalah esai yang saya buat sebagai pengantar kuratorial untuk karya seni performans berjudul Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out Of In The Penal Colony, 2017) karya Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Hanif Alghifary, dan Ragil Dwi Putra — dimuat dalam katalog presentasi karya tersebut. Keempat seniman tergabung ke dalam kelompok studi, bernama 69 Performance Club, Jakarta. Karya ini dipresentasikan secara khusus di tiga lokasi di Eropa, yakni di S.M.A.K. (Ghent, Belgia), Tranzitdisplay (Praha, Ceko), dan Acacias (RU) (Jenewa, Swiss).

Poster “Out Of In The Penal Colony” untuk presentasi di Tranzitdisplay, Praha, Ceko.

SAYA PRIBADI MENYETUJUI pandangan-pandangan yang menganggap bahwa cerpen Franz Kafka yang ditulis pertama kali tahun 1914, In The Penal Colony, adalah alegori dari detik-detik keruntuhan sistem hukum lama yang serba fisik, ritualistik, dan gigantik. Di akhir cerita itu, kita seolah dihadapkan pada suatu keadaan baru yang belum (dan sangat mungkin akan sulit) diuraikan; Kafka agaknya menawarkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana kita mengandaikan diri kita di tengah situasi yang serba tak terdefinisi dan tak tersentuh—tetapi secara nyata hadir sebagai suatu rutinitas keseharian baru—di saat kuasa-kuasa terpusat membelah diri menjadi pecahan-pecahan pengetahuan dan bahasa yang memungkinkan produksi-produksi difusional berupa kontrol alam bawah sadar.

Sebagaimana Deleuze menambahkan catatan untuk pandangan teoretik Foucault, bahwa Masyarakat Disiplin (Disciplinary Societies) telah bertransformasi menjadi Masyarakat Kontrol (Societies of Control), inilah saatnya kita harus mengakui pandangan Deleuze tentang bagaimana ritus-ritus berpembatas (‘sites of confinement’) telah menjadi “dunia tanpa dinding” (‘infinite world’), tetapi justru sedang melipatgandakan “energi pemenjaraan” (‘panoptic energy’) dalam bentuk tergaibnya; era analog digeser oleh era digital yang mengakumulasi sengkarut sirkulasi komunikasi hingga ke alur terumitnya. Aparatus teknologis pun kini melompat dalam jarak yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.

Namun, satu hal: konon, menurut Manovich (1995), kita belum juga beranjak dari dunia layar (the era of the screen).

Layar, kiranya, adalah kandidat yang paling mungkin menjadi “penjara abadi” (‘imperishable enclosure’)[1] di kehidupan manusia. Ketimbang berbicara tentang sistem hukum dan penghukuman lewat bahasa deskriptif yang naïve, upaya untuk mendisrupsi kemapanan sistem kontrol tanpa akhir itu barangkali akan membuahkan inspirasi-inspirasi yang lebih menyegarkan lewat refleksi estetik atas elemen-elemen yang membangun konsep “aparatus”—jejala yang dibangun, muncul dari, dan berada dalam sebuah hubungan kekuasaan dan jaringan/rezim pengetahuan.

Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out of in The Penal Colony, 2017) adalah proyek seni performans yang digagas oleh Forum Lenteng, yang menjadi bagian dari 69 Performance Club—sebuah platform yang mendorong studi kolaboratif berkelanjutan tentang performativitas, yang diinisiasi oleh organisasi tersebut sejak awal tahun 2016 dengan melibatkan sejumlah seniman di Indonesia. Karya performans yang diniatkan sebagai presentasi khusus ini mencoba mengambil inspirasi dari cerpen Kafka itu dalam rangka meluaskan kajian Forum Lenteng sendiri tentang situasi media dan seni pada masa sekarang.

Saya mengamini beberapa pemikir yang cenderung tidak berniat untuk mendefinisikan “aparatus” secara terang-terangan, lurus, dan tegas—sebagaimana yang dipercayai oleh Agamben bahwa “
terminology is the poetic moment of thought” (Agamben, 2006, “What Is an Apparatus?”). Alasannya tentu saja karena adanya beragam kompleksitas (baik yang terkandung di dalam maupun yang terhubung dari luar) istilah tersebut. Sejalan dengan itu, saya kira Di Luar Ruang Suaka Hukuman dikembangkan sebagai proyek seni performans yang bukan dalam rangka menanggapi secara ilustratif, apalagi eksplanatoris, cerpen In The Penal Colony. Akan tetapi, mengacu kepada beberapa poin dari cerita itu—yang oleh para performer dianggap paling signifikan membentuk impresi kita mengenai sebuah sistem/mekanisme pengaturan (‘a kind of regulatory mechanism or system’)—yang telah dipilih sebagai materi untuk diinterpretasi ke dalam bentuk seni performans, saya berpendapat bahwa karya ini lebih sebagai upaya untuk mendeklamasikan artikulasi-artikulasi puitik tentang perubahan-perubahan yang sedang berlangsung pada masa sekarang—yaitu, era modulasi dan serba-berlayar ini—di mana praktik multikorporasi lintas wilayah akibat globalisasi, digitalisasi, dan ekspansi jaringan dunia maya adalah keadaan faktual yang membangun situasi multi-kontrol-diri masyarakat dunia.

Deklamasi atas hal itu pada karya ini, sebagaimana dapat dilihat kemudian, dipertunjukkan melalui suatu dramaturgi teknologis yang mencoba merefleksikan posisi tubuh manusia (i.e. para performer) di dalam situasi riil-nya sekaligus keterhubungannya dengan realitas citraan (atau dunia representasional), yang mana citraan-citraan itu pada masa sekarang telah dapat ditransmisikan secara langsung lewat suatu sirkuit elektronis yang diatur sedemikian rupa sehingga membuka kemungkinan tentang komposisi bahasa artistik yang secara sadar melibatkan perangkat-perangkat media saat ini—bisa dibilang, perangkat-perangkat yang mereka gunakan merupakan aparatus kontemporer—sebagai bagian utama dari langgam bahasa ataupun gaya ungkapnya.

Para seniman yang menciptakan karya ini, yaitu Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Ragil Dwi Putra, dan Hanif Alghifary—keempatnya adalah partisipan 69 Performance Club—dengan sengaja mengimprovisasi terjemahan mereka sendiri mengenai konsep aparatus, baik yang mengacu kepada gagasan-gagasan yang terkembang di era lama (analog; fisik) dan yang terbangun di era [media] baru (digital; tak dapat disentuh), serta hubungan timbal balik di antara keduanya.

The Man, Decipher, The Wound, dan The Script adalah empat kata kunci yang mengandung gagasan dan semangat untuk mendekonstruksi sistem regulatoris. Di satu sisi, keempat kata kunci ini adalah tapal-tapal batas yang menunjukkan bagaimana mekanisme regulatoris bekerja; jampi-jampi yang mengantarkan imajinasi tentang kekudusan hukum dan penghukuman, tentang aparatus yang—mengadopsi kalimat Agamben—melepaskan segala hal (termasuk kita, manusia) dari kewajaran-kewajaran profan dan menempatkannya ke lingkungan yang terpisah (terisolasi).

Di sisi yang lain, jika kita menyetujui pandangan Agamben bahwa hal-hal yang telah dipisahkan lewat suatu aktivitas ritual semacam itu (termasuk, menurut saya, adalah peristiwa penjatuhan vonis, ataupun penerapan kontrol dan disiplin oleh para penguasa terhadap pihak-pihak yang didominasi oleh mereka) dapat dipulihkan dan dikembalikan ke ruang wajarnya melalui suatu aksi penggunaan atau penciptaan kontra-aparatus—yakni, Profanation (‘hujatan atas yang suci’), dalam istilah Agamben—maka, deklamasi berulang-ulang dari keempat kata kunci tersebut yang dilakukan oleh para seniman dengan memanfaatkan distorsi-distorsi elektronis dalam performans ini—turut serta di dalamnya ialah [re]produksi langsung dari gambar dan suara yang dihasilkan melalui gerak konstan tubuh mereka sendiri, bahkan diperluas efeknya dengan teknologi internet—tidak lain adalah tindakan performatif konkret yang dilakukan secara intens dalam rangka mengganggu kemapanan sistem kontrol dari aparatus itu sendiri. Sebagaimana Kafka yang melalui cerpennya mencoba mengalegorisasikan sejauh apa suatu sistem hukum, penghukuman, dan pengaturan mampu bertahan, Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah artikulasi subjektif para performernya dalam rangka niat yang sama. Bahwa, imajinasi tentang keruntuhan sistem yang kini ada, dan kedatangan sebuah era dengan sistem yang baru, barangkali, perlu diandaikan lewat suatu teror yang puitik.

Namun sepertinya, pengandaian-pengandaian yang demikian, yakni imajinasi tentang penggeseran suatu mekanisme lama oleh mekanisme yang baru, selalu akan tetap menuntut keseimbangan. Dalam pandangan yang ekstrem, sebagaimana tergambarkan dalam cerpen Kafka, kiranya peruntuhan mesin ritual yang gigantik itu (masih) membutuhkan suatu martir yang secara sadar mengamini kesezamanan sang aparatus—dan hal ini mengindikasikan bahwa “kejatuhan” sebuah aparatus akan tetap terjadi dengan mengikuti sifat dan karakter elemen-elemen yang membangunnya.

Jikalau Kafka menganggap penghancuran yang fisik membutuhkan pengorbanan fisik pula dalam peristiwa yang sakral—The Officer yang dengan detail mengorasikan kemegahan sang mesin (aparatus), lantas menyerahkan tubuhnya sebagai subjek penghukuman terakhir untuk sang mesin sebelum menuju kehancurannya—para performer Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah subjek-subjek yang merayakan kelindan teknologi media masa kini. Mengikuti sifat dan karakter aparatus kontemporer, maka bukan lagi fisik, tapi mereka memilih untuk “memerangkapkan” citra tubuh mereka ke dalam layar—entitas yang menjadi “aparatus abadi” kita itu—dengan maksud untuk mendorong ke titik terjauh imajinasi mereka sendiri tentang bahasa media yang lebih eksperimental, jikalau bukan tentang dunia media (atau aparatus-aparatus) yang lebih baru.

Karena kita masih akan tetap berada di bawah “kungkungan gaib” dunia layar itu, yang berarti mekanisme regulasi masih akan tetap eksis hingga waktu yang tak dapat diduga ujungnya, peristiwa-peristiwa ritualistik kiranya bisa didapuk dan sekaligus diempang lewat permainan bahasa seni—dalam konteks karya ini, ialah seni performans. Atau setidaknya, dengan cara menguatkan kesadaran kita tentang bagaimana subjektifikasi (‘peng-identitas-an’—dalam pengertian saya) itu juga diproduksi dan ditentukan definisinya oleh aparatus kekuasaan.

Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah bagian dari upaya para seniman tersebut untuk mencari kemungkinan baru bagi cara pandang kita terhadap dunia yang “divonis” sebagai era layar ini. Bagaimana kita kemudian—subjek yang berusaha melepas belenggu aturan demi aturan yang ada—jika tak lagi berada di bawah “kuasa” layar? ***

 

Catatan Kaki:

[1] “Penjara Abadi” adalah istilah dari saya sendiri untuk mengabstraksikan keadaan faktual yang perdebatannya “diprovokasi” oleh Lev Manovich ketika ia menjelaskan “arkeologi layar komputer” (lihat Lev Manovich, 1995, An Archeology of a Computer Screen). Menurutnya, kultur layar sudah ada bahkan jauh sebelum kamera dan teknologi layar ditemukan, termasuk sejak era lukisan gua. Sekarang ini, “layar” barangkali adalah entitas kontemporer yang tak akan pernah bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari; hanya karena interaksi dengan layar, interaksi antarmanusia pun bisa tereduksi hingga ke situasi yang cukup mengkhawatirkan—kita seakan-akan terpenjara dan teralienasi dari kawajaran-kewajaran atau bahkan hakikat kemanusiaan. Layar secara tidak langsung “mengontrol” alam bawah sadar manusia. Tentunya, gagasan ini tidak serta merta membuat kita memilih kata ‘prison’ sebagai diksi dalam bahasa Inggris. Saya merasa kata ‘enclosure’ lebih tepat karena kata tersebut secara kultural membawa narasi-narasi historis yang berhubungan dengan bagaimana “teknologi itu kemudian berkembang” hingga ke titik tercanggihnya pada masa sekarang (dan mungkin terus ke masa depan).

Referensi:

Agamben, G. (2009). What Is an Apparatus?. Dalam G. Agamben, What Is an Apparatus? and Other Essays (D. Kishik, & S. Pedatella, Penerjemah., hal. 1-24). Stanford, California: Standford University Press.

Deleuze, G. (1992). “Postscript on the Societies of Control”. October , 59 (Winter), 3-7.

Hildebrand-Nilshon, M., Motzkau, J., Papadopoulos, D. (2001). Reintegrating sense into subjectification. Dalam J. R. Morss, N. Stephenson, H. van Rappard, (Editor), Theoretical issues in psychology. Boston: Kluwer Academic Publishers.

Kafka, F. (2003, October). In the Penal Colony (terj. Ian Johnston). Diperoleh tanggal 8 November 2017, dari situs web The Kafka Project: http://www.kafka.org/index.php?aid=167

Manovich, L. (1995). An Archeology of a Computer Screen. Diperoleh tanggal 8 November 2017, dari situs web Lev Manovich: http://manovich.net/content/04-projects/011-archeology-of-a-computer-screen/09_article_1995.pdf

62.

London, 00:11 am.

Sekitar dua puluh menit setibanya saya di homestay yang beralamat di Hornsey Lane Gardens ini, usai menghadiri penayangan film terakhir di hari Minggu di acara BFI London Film Festival 2017, saya baru ingat bahwa saya belum mencatat apa pun untuk Marginal tentang keberadaan saya di London. Hahaha!

Hampir tak ada waktu menulis… berangkat ke acara festival pagi-pagi sekali, pulang sudah larut malam. Jaringan internet pun susah (NYARI COLOKAN LAPTOP JUGA SUSAH KARENA LUBANG COLOKANNYA BEDA!!!). Nomor UK yang saya beli, kuota datanya sudah habis, sedangkan uang persediaan di kantong tak memungkinkan membeli kuota baru yang harganya bisa untuk makan tiga hari itu.

Yang lebih bodohnya, saya juga baru sadar saya tak mempunyai stok foto yang baik untuk Marginal. Hampir semua kabar keberadaan saya di kota ini terunggah di Instagram Stories dan hilang begitu saja (karena saya tidak mengaktifkan fitur unduh otomatis pada akun Instagram saya).

Ya, tapi setidaknya ada dua foto di bawah ini:

Kiri ke kanan: Shai Heredia (Direktur festival film EXPERIMENTA, India), Benjamin Cook (Direktur LUX, Inggris), Tráș§n Duy HÆ°ng (penulis dan kurator, Vietnam), May Adadol Ingawanij (penulis, kurator, dan akademisi, dan ko-direktur Centre for Research and Education in Arts and Media (CREAM), Universitas Westminster), dan saya.

Foto di atas diambil beberapa saat setelah simposium Experimenta BFI LFF 2017 (kami semua menjadi pembicara di satu panel yang sama) usai, dan kami melepas lelah sambil merokok di luar gedung Box Office British Film Institute.

Lalu ada foto ini juga:

Di pinggir salah satu jalan menuju Tate Britain.

Foto di atas saya ambil tanpa ancang-ancang dan tanpa niat untuk mengambil foto. Hahaha.

Dua foto di atas adalah yang terbaik dari apa yang ada seadanya di galeri ponsel saya. Tidak representatif, memang! Bwahahahahaha…!!!

Ngantuk, Om…! Good night~~~

61.

Jakarta, 00:26 am.

Sudah, ya! Nilai fisika saya tidak baik. Saya akui pula saya memang tidak piawai soal rumus-rumusan. Sekarang, saya cukup menjalani jalur yang lurus-lurus saja. 

11 Oktober nanti, lembar catatan harus baru sama sekali, dengan berisikan hal-hal yang patut diprediksi.

Catatan yang disengaja untuk diketahui ini sebijaknya saya akhiri. Saya harus lepas dari keterpenjaraan yang saya permainkan. Tujuh belas catatan sudah cukup sebagai pengalaman untuk merasakan kerelaan dipantau. Kesimpulannya: justru kenyataan bahwa kita tak dipantau itulah yang menjadi kontrol yang sesungguhnya atas diri yang mengamini disiplin yang diterima secara “sukarela”.

Hello, it’s me, it’s me, Baby
I thought about us for a long, long time
Maybe I think too much but something’s wrong
Something that said it doesn’t last too long, too long
Maybe I shouldn’t think of you as mine, mine, mine, mine, mine
But I can’t help it, Baby

– Erykah Badu –

Mungkin ini hanya gejala candu bulu kuduk merinding belaka. Semakin merasa terpuruk, semakin merasa ada. Saya mungkin sedang dibodohi oleh ilusi dan romantisisme “berada di titik paling terbawah” yang begitu-begitu. Dan sikap seperti ini pada kenyataannya sungguh sangat tidak penting!

Tidak ada tolok ukur harus bagaimana, seperti apa dan siapa, sebenarnya. Ini semua tak lebih dari cara belajar saya sendiri untuk jujur. Minimal, jujur ke diri sendiri.

(Saya sempat berpikir-pikir akan membuat password khusus untuk catatan tentang spascalita yang terakhir ini. Tapi, ya, sudahlah, itu tidak perlu! Bodo amat! Hidup saya toh tak sepenting itu sampai mengira bahwa orang akan rela mencari-cari dan mengulik-ulik atau kepo-kepo demi membaca catatan-catatan semacam ini!)

Oke, Heib! Jendela saya tutup. Soal jendela sebelah sana, terserah dia saja. Lagipula, kalau dilihat dari sini, kayaknya memang tak pernah dibuka sama sekali sama si empunya.

“Eba”, agaknya, nama yang lucu untuk catatan baru berikutnya.

Seriously, I’m a baduist. ***

[Tamat]

60.

Jakarta, 10:06 pm.

😓😱😂

59.

Jakarta, 01:55 am.

Ketika bibi bersabda dan legenda terkini menduga, di saat itulah saya berpikir kembali tentang selera. Tapi, anjuran-anjuran mutakhir meyakinkan saya bahwa yang termasygul pun sesungguhnya bukanlah masalah. 

Lantas saya berpikir, adakah baik jika kata-kata itu dilepaskan sebelum kaki menginjak eropa—Oh, ya! Visa saya tembus dan sudah dapat dipastikan saya akan ke London tanggal tiga—atau dibiarkan begitu saja…? Arah si pemegang pena, atau gagasan sahabat terdekat saya?

Ya…, paling tidak, catatan ini masih akan terus berlanjut. Kita lihat Minggu nanti, Goethe akan membuka jendela yang mana.

Yang paling saya harapkan ialah, semoga tiga bulan ini akan berlanjut terus dengan tiga bulan berikutnya, lalu tiga bulan berikutnya lagi, tiga bulan lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga kita urung mengurangi jumlah hari-hari yang bisa dilalui dengan menari.

Bukankah yang seperti itu lebih menarik…, Cal? Haha.

Ini hari ketika sejarah dipermainkan dan kemudian mewujud menjadi arena lanjutan bagi penyimpangsiuran darah-darah tradisi antara kau dan aku… 2 September lalu, kita berbincang lewat halaman-halaman narasi yang lain, memang; tapi itu mewakili kegelisahan semesta tentang kezaliman rezim 32 tahun itu.

58.

Jakarta, 07:07 pm.

Diskusi dengan Shai Heredia (India) dan May Adadol Ingawanij (Thailand, tapi kini berbasis di UK) berjalan dengan baik. Saya ternyata tak perlu menulis paper panjang, cukup memberikan teks singkat saja terkait rencana presentasi di sana. Yang menjadi PR ialah saya justru harus memikirkan masak-masak dan memilih film apa yang tepat dan layak untuk diperbincangkan di simposium itu.

Perbincangan via WhatsApp dengan Siba pun memberikan energi baru. Inisiatif yang mereka rencanakan untuk dua-tiga bulan ke depan—yaitu, berkenalan dengan para tetangga, khususnya kaum ibu—mewakili gagasan paling esensial dari gerakan perempuan (dan pemberdayaan perempuan) dalam bentuk apa pun. Tak ada yang lebih bijak dan berwibawa daripada niat untuk berkenalan secara mendalam, sedangkan gerak perlawanan yang menggebu-gebu dan banal (yang bahkan sering kali pula memicu terciptanya diskriminasi sekunder terhadap perempuan) tak masuk dalam kamus komplotan dari Kecamatan Pemenang ini.

Pengalamn di Kerujuk semakin meyakinkan saya bahwa menari adalah terapi paling jitu untuk mengobati hal-hal lainnya yang mengusik.

.

.

.

…dan rindu pada Kerujuk (dan orang-orang yang terlibat di pertemuan itu) adalah rindu yang lebih bijak daripada rindu-rindu yang lain. #asyek

57.

Lombok Utara, 02:28 pm.

Sebentar lagi saya tiba di bandara, dan pukul empat terbang menuju Jakarta. (Tapi kini saya dipaksa berhenti di sebuah warung yang hidangannya nikmat sekali, karena hujan begitu derasnya).

Saya sungguh sangat ingin sekali bisa bertatap muka dengan “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”. Sungguh!

56.

Lombok Utara, 04:53 pm.

Semakin saya menimbang-nimbang untuk menyudahi narasinya, makin kuat pula daya magnetis itu menjerat, bukan saja rasa penasaran, tapi juga perasaan saya sendiri—terjerat nyaris utuh; perasaan yang dengan sangat sadar dan rendah diri, saya akui, tidak pula penting dituliskan untuk kau baca. Tapi bukankah nyatanya memang cerita ini yang membangun rasa itu, Zikri…? Atau sebaliknya, rasa inilah yang jangan-jangan malah menjadi energi paling dominan bagi kemunculan catatan-catatan baru(?).

Saya bahkan merapalkan kembali kata-kata itu dua hari lalu: “Embarasa! Embarasa!”

*

Detik ini, bersama Gozali dan Pak Zul, saya berbincang tentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak ideal mengapresiasi bidang kesenian untuk masyarakat. Kami berbincang di atas berugaq kecil di bawah gerimis yang cukup berisik menerpa atap bambu yang berjarak 30 cm di atas kepala kami. Perbincangan itu menarik dan lucu, sebenarnya; tapi saya sedang terganggu oleh perasaan gundah yang samar-samar karena pikiran saya otomatis selalu mencuri-curi ingat “tos tinju” yang saya dapatkan darinya, dua puluh satu hari yang lalu, serta pesan-pesan yang bergulir dengan kurang lancar.

Saya tak bisa berbohong lagi (atau tak bisa mencari ujaran lain untuk mengalih-alihkan perhatian kita). Saya tengah jatuh hati, Kawan, pada ia yang sudah kita sepakati sejak beberapa minggu lalu menjadi subjek baru bagi catatan-catatan ini. Pada akhirnya, ini bukan hanya catatanku, tapi juga catatan untukmu. Mantra “embarasa” konon mengajarkan, walau ada kemungkinan gagal menjadi nyata, rasa harus (tetap) dikelola.

Ini semua adalah fragmen-fragmen kecil yang bisa kau gunakan sekadar untuk menerka-nerka.

Oh, iya! Paman saya bilang, selera dan gaya berujar saya masih sekelas “sinetron”. Catatan-catatan yang kau baca sejauh ini pun bisa jadi juga begitu.

Apa pun itu, udara Kerujuk (yang dingin dan berangin kencang di malam hari, tapi begitu terik pada pagi menjelang sore), ternyata berhasil memaksa saya untuk berhenti berkilah lagi. Saya lantas tak bisa tidak menerima tawaran untuk berendam di kali di balik taman-taman warga yang mengupayakan kebijakan duniawi. Di ujung sana, ibu-ibu dan gadis-gadis masih belum berhenti merendam diri. Kami harus menunggu giliran; saya pun menunggu pula diiringi kegelisahan di hati.

Handphone saya hampir saja terjatuh.

06.30 pm. Kini, di Lombok hingga tiga hari mendatang. Lalu, beberapa hari kemudian setelah tiba di Jakarta nanti, jika permohonan visa dikabulkan, perjalanan dilanjutkan ke Inggris selama seminggu.

Adakah mungkin kami akan sempat berbincang tentang Cerita Kulkas di sela-selanya…?

Sedangkan pesan-pesan via WhatsApp itu, hanya dibalasnya singkat-singkat saja.

Pukul 07:00 pm, di sisi barat daya dari lokasi bocah-bocah yang sedang menonton YouTube di tengah hamparan sawah kering, beberapa menit sebelum teman-teman Kopdar dari Gorontalo tampil ke hadapan warga Kerujuk, sambil menahan terpaan angin dingin senja, saya hanya baru bisa mengharapkan kemungkinan terjadinya pertemuan itu, pertemuan Cerita Kulkas (dan dunia-dunia utopia di bawah satu atap) sembari membayangkan senyumnya, juga mengingat bunyi nada medok Surabayanya.

Begitu merindunyakah saya…?!

10:02 pm. Pantomim di depan saya liris sekali… tentang mitos lokal. Tapi kegembiraan dan mood saya hanya berhasil terpicu menjadi baik (sedikit) oleh pertunjukan sebelumnya, yakni saat Three O Amphibi menyenandungkan kisah kepergian seseorang yang penting ke Cina sehingga membuat hati gerakan-gerakan yang sedang berlangsung di negeri siq siq o bungkuk ini sempat gundah, walau tak segulana saya. ***

55.

Jakarta, 04:14 am.

*fuuuh … adem..

Bayangkan jikalau tiupan itu adalah benar udara sungguhan yang dihembuskan dari mulut yang jujur, penuh ketulusan, dan dapat disentuh…, bukan himpunan piksel yang ditransfer lewat jaringan simulasi tak teraba, tak beremosi, dan artifisial…(!?)

Bayangkan jika dahi yang mengernyit hingga larut malam—ng…, saya kira memang begitu(?)—itulah yang menyambut apa yang dapat ditangkapnya sebagai tenteram (lantas bersama senyum ia terpejam)…,

…bukan ditangkap oleh mata yang sayup-sayup dan enggan bertahan—kali ae ‘mang begitu, ye, kaaan…? Bisa jaddeeeiii…(?!)—menyuntuki kelam saat menghadapi layar supra dan artifisialnya yang tergenggam (lantas menuju mimpi beriring gumam)…(!?)

Bayangkan seandainya tiupan itu memang benar berpindah sungguhan dari ruang lingkup keterbatasannya, secara fisik dan non-fisik…, dan bukan dalam cirinya yang terkini sebagai citra mental belaka yang begitu mengusik…(!?)

Bayangkan bagaimana itu nyata, bukan maya…

Bayangkan cara sinema menghadirkannya, bukan opera sabun televisi yang mengindahkannya…

Selamat datang di belantara kuratorial, … [Ah, saya tak perlu menyebut nama…] !

*

Teks di atas baru saya selesaikan pukul 11:29 am di bawah terik di Kelapadua. Eh, sudahkah Pascal tahu kalau kepala saya sekarang seperti IkkyĆ«-san…?

*

Teks ini baru saya terbitkan pukul 06:14 pm, di tengah proses membuat garis, garis, dan garis lagi…

Menuju gudang untuk meredam usikan itu, atau mendengarkan lewat jaringan tanpa gelombang…, jawabannya dikembalikan kepada kebebasan yang malah mengaburkan hasrat.

“Nashar melakukan itu dua tahun, setiap hari!” seru UTM, melihat garis-garis di lembaran kertas saya. “Bisa ngga lu mengalahkannya, lebih lima hari saja…? Kalau bisa begitu, baru….”

“Tapi dia melakukannya tanpa melihat-lihat HP,” ujar UTM lagi, sambil berlalu. ***