Visual Vernakular dan Bahasa Seni Media Kini

Makalah ini dipresentasikan pada SIMPOSIUM NASIONAL SENI MEDIA INDONESIA, “Seni Media Sebagai Media Perubahan Sosial”, Pekanbaru, 10 – 11 Juli 2017, di UPTD Museum Taman Budaya Provinsi Riau.

Advertisements

SAYA AKAN MEMULAI makalah ini dengan terlebih dahulu meninjau kembali pameran FOLLOWING yang diadakan bulan Februari lalu di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran ini adalah bagian dari rangkaian acara OK. Video Festival 2017. Menurut pengamatan saya, pameran tersebut agaknya meniatkan dirinya sebagai suatu lanskap yang secara spesifik menyoroti perkembangan terkini dari gejala-gejala kesenian, dan praktik-praktik kesenian, yang berhubungan dengan teknologi media, khususnya gejala dan praktik pasca tahun 2000.

Dalam sebuah esai yang saya tulis untuk Jurnal Footage pada bulan yang sama, saya berargumen bahwa, secara umum, seniman-seniman yang dikurasi ke dalam pameran itu, rata-rata, adalah pelaku-pelaku yang menjadi penting seiring dengan upaya-upaya pembangunan diskursus yang dilakukan OK. Video sejak tahun 2003. Menjadi penting yang saya maksud, adalah dalam artian bahwa, mereka diperbincangkan pada dialog-dialog di medan seni rupa kita. Highlight yang dilakukan FOLLOWING agaknya menegaskan pembacaan itu. Tapi perlu diketahui pula bahwa perihal kuratorial dari pameran itu sendiri ternyata juga cukup mengundang semacam sinisme dari lingkungan teman-teman pegiat seni yang saya kenal, yakni tentang tidak adanya seniman perempuan yang terlibat di dalam pameran FOLLOWING—tapi sayangnya, sinisme itu hanya kencang di tataran gosip, dan sejauh penelusuran saya, belum ada pengamat seni yang menuliskan hal itu secara komprehensif dan objektif.

Bagi saya pribadi, yang menarik dari pameran itu justru bukanlah soal kehadiran atau keterlibatan para seniman-senimannya, juga bukan soal proporsi antara seniman perempuan dan laki-laki. Tapi, jauh keluar dari konteks itu, ialah soal cara pameran FOLLOWING dalam menggaungkan konsep dan imajinasinya mengenai perubahan perilaku publik seni pada masa sekarang, yakni semakin maraknya pengunjung pameran yang melibatkan media sosial (yang dioperasikan lewat gawai pintar, terutama) ketika berinteraksi dengan karya-karya yang ada. Pada konteks tertentu, tampaknya pameran FOLLOWING melihat gejala sosial semacam itu sebagai hal yang tak kalah penting dibandingkan karya-karya seni yang sedang dipamerkan. Menanggapi fenomena itu, pameran tersebut bahkan membuat semacam aturan, meskipun dalam penerapannya aturan itu tidak pula menjadi benar-benar wajib, bahwa “pengunjung yang datang diwajibkan mengunggah konten berupa gambar bergerak (video), foto, bunyi, teks, dan pertunjukan langsung di Instagram dengan menuliskan hashtag #followingexhibition.” Perhatikan di situ, bahwa pameran FOLLOWING, dengan tegas dan jelas, meminta pengunjung mengunggahnya ke Instagram.

Tentu, ide dari pameran FOLLOWING itu mengindikasikan bahwa, perilaku publik yang tidak melepaskan dirinya dari media sosial ketika mengunjungi pameran, adalah sebuah fenomena mutakhir yang perlu ditafsir, atau setidaknya direkam terlebih dahulu, di-database-kan, untuk diolah di kemudian hari. Dapat diduga, alasan memilih Instagram sebagai satu-satunya sasaran pameran FOLLOWING, ialah karena inovasi menggairahkan yang dimiliki layanan jaringan sosial tersebut: Instagram stories, live streaming video, multiple images, dan hashstag, yang agaknya bisa membuka peluang untuk kita dalam mencari kemungkinan-kemungkinan bahasa artistik baru dari praktik-praktik yang berkaitan dengan audiovisual.

Di satu sisi, aturan yang diterapkan pameran FOLLOWING itu bisa saja kita sebut sebagai pengulangan tirani media sosial terkait “demokrasi”, karena menghadirkan suatu regulasi sekunder—publik didikte sampai ke persoalan apakah harus mengambil foto atau tidak—dan yang perlu digarisbawahi, dikte itu diumumkan oleh pameran FOLLOWING secara gamblang.

Di sisi yang lain, aturan semacam itu dapat pula kita maklumi sebagai bentuk dari kegelisahan yang dimiliki diskursus seni, khususnya seni media, yakni urgensi untuk merumuskan bagaimana sesungguhnya posisi perilaku-perilaku pubik seni semacam itu, atau perilaku-perilaku netizen ini, dalam dinamika perkembangan seni media kita. Misalnya, sepenting apa dan setidakpenting apa sebuah citra narsis seseorang yang tengah berdiri di depan atau di samping karya dalam sebuah pameran, yang ada pada sebuah akun Instagram milik entah siapa, yang tanpa sengaja kita temukan di timeline Instagram kita sehari-hari? Apakah keberadaan postingan-postingan itu, serta peristiwa berfoto-foto narsis orang-orang yang kita jumpai pada berbagai acara kesenian, merupakan aspek yang bisa berkontribusi mengubah cara pandang dan pemahaman kita mengenai seni? Atau jangan-jangan gejala yang datang dari publik, atau yang sedang terjadi pada publik ini, layak pula kita lihat sebagai suatu entitas seni tersendiri yang bukan semata berposisi sebagai reaksi terhadap karya dan peristiwa seni belaka? Cukup radikal juga, tapi bukan berarti tidak mungkin, jikalau misalnya kita dengan berani menyebut bahwa citra-citra yang diunggah ke media sosial itu adalah suatu bahasa baru di dalam seni, sebuah bahasa dari karya seni tanpa otoritas kepengarangan seorang seniman, barangkali? Pada konteks itu, kita patut berterima kasih kepada kegelisahan yang ditularkan oleh pameran FOLLOWING.

Yang menjadi lebih rumit dan kompleks kemudian, ialah gejala ini tidak terjadi di ranah seni saja, tetapi juga di ranah-ranah yang lain. Dan bagi saya, gejala publik media yang saya singgung itu, yang pada kenyataannya secara umum memang sedang terjadi di semua ranah kehidupan manusia zaman sekarang, mau tidak mau menjadi tanggung jawab disiplin seni media untuk menafsirkannya, jikalau kita ingin seni media kita menjadi seni media yang tidak berpikiran sempit.

Berhubungan pula dengan soal perilaku bermedia masyarakat yang tidak bisa lepas dari media sosial itu, Peter Snowdon, sutradara film asal Inggris yang membuat film berjudul The Uprising (2013), sebuah dokumenter yang membingkai isu Arab Spring dengan merespon footage-footage peristiwa revolusi yang diunggah netizen Youtube, pernah menawarkan istilah ‘video vernakular‘. Baginya, warga yang mengunggah rekaman-rekaman video peristiwa revolusi di Arab itu bukan saja para revolusioner sosiopolitik, tetapi juga revolusioner bahasa media. Dalam konteks teoritisasi yang ia tawarkan, ‘video vernakular’ bukan saja mengacu tentang rekaman-rekaman video yang diproduksi oleh warga biasa, tetapi juga menegaskan kebaruan estetika dalam visual gambar bergerak. Menurut Snowdon, bentuk visual gambar bergerak dari rekaman-rekaman Youtube ini memiliki attitude tersendiri, yang berbeda dari attitude visual-visual elite—atau yang biasa diartikan sebagai visual yang diproduksi oleh kalangan profesional. Bentuk visual yang serupa, mirip, dapat pula kita lihat pada karya-karya Jonas Mekas, sebagai salah satu contoh. Akan tetapi, tentu saja Jonas Mekas bukan pelaku ‘video vernakular’ karena konteks kesadarannya dalam merekam jauh berbeda dengan warga revolusi Arab yang merekam konflik masyarakatnya. Jikalau Mekas memiliki motif dan modus seni, atau memiliki kerangka tentang kebenaran filmis, warga revolusi Arab memiliki motif dan modus dokumentasi. Jikalau narasi pengalaman yang disajikan Mekas berdasarkan pada keterampilan mata, warga revolusi Arab menyerahkan diri kepada performa tubuh mereka yang menggenggam ke mana-mana kamera sembari berlari-lari menghindari serbuan peluru. Akan tetapi, motif dan modus dokumentasi ini secara luar biasa mengubah mekanisme produksi, distribusi, serta fundasi artistik bahasa visualnya.

Untuk konteks Indonesia, sejauh yang saya tahu, yang telah mencoba menerapkan konsep ‘video vernakular’ ini ialah Gelar Soemantri lewat proyek kolaboratif bersama warga di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, dengan nama proyek “Montase Air”. Pada Panel 2, Simposium Nasional Seni Media Indonesia (2017), kemarin, Otty Widasari menyinggung karya ini, yakni inisiatif Gelar yang menyerahkan kamera video kepada bocah-bocah lokal di kecamatan tersebut ketika mereka akan berenang dan mandi ke pantai Bangsal. Gerak tubuh bocah-bocah itu, yang merekam tanpa tendensi konstruktif dalam menentukan arah sudut ambilan gambar, pada kenyataannya menghasilkan suatu visual gambar bergerak yang menunjukkan derajat vernakularitas tertentu, yang layak ditafsir sebagai suatu counter yang dihasilkan secara organik terhadap dominasi visual pariwisata yang selama ini mengontaminasi kearifan lokal di Lombok. Karya Montase Air milik Gelar, adalah sebuah karya seni oleh si seniman, tetapi footage-footage hasil rekaman bocah-bocah tersebut pada dasarnya telah menjadi suatu produk yang lepas dari belenggu otoritas kepengarangan (atau dengan kata lain, steril dari visi individu pengarang). Sebagai karya yang puitik, ia dapat berdiri sendiri, seperti halnya rekaman-rekaman revoulsi Arab Spring yang ada di YouTube, yang juga dapat berdiri sendiri sebagai visual yang puitik terlepas apakah footage itu berada di dalam konstruksi film The Uprising atau tidak.

Pembahasan mengenai konsep ‘vernakular’ dalam makalah ini, dengan kata lain, saya ajukan sebagai salah satu pintu untuk mencoba mendapatkan formulasi yang paling mungkin agar kita bisa mengakui signifikansi dari citraan-citraan yang bersirkulasi di media sosial yang telah saya singgung di awal, juga termasuk peristiwa-peristiwa dari aksi merekamnya itu. Apakah bisa kita melihat gejala itu sebagai sebuah bahasa pula? Agaknya, OK. Video hendak menjawabnya, bisa. Kalau memang demikian, apakah rumusan Seni Media yang kita perbincangkan sekarang ini juga bisa, atau berani, untuk melihatnya demikian?

Kerancuan yang barangkali dapat muncul kemudian, ialah arti harfiah dari vernacular itu dalam bahasa Indonesia. Sederhananya, vernacular konon diartikan sebagai ‘bahasa daerah’. Bisa jadi hal ini akan dikaitkan pula dengan “bahasa lokal”. Tapi, apakah “lokal” yang dimaksud searti dengan “vernacular” yang kita singgung di sini? Saya pribadi menawarkan pemikiran bahwa “vernacular” mengacu pada bahasa dari medium, yakni bahasa sosio-estetik dari teknologi yang bisa dibilang adalah bahan dasar seni media. Konsep ‘vernakular’ di sini bisa saja menerabas batas teritori karena dalam banyak konteks, ia bisa menjadi bahasa global. Konsep yang saya utarakan memang berkaitan erat dengan soal sikap dan bentuk perlakuan kita terhadap teknologi media itu sendiri, terhadap medium, dan bagaimana medium itu sebenarnya juga memengaruhi perilaku kita dalam menanggapinya. Hashtag Instagram, misalnya, tidak menutup kemungkinan adanya konektivitas dari seluruh pengguna media sosial di seluruh dunia, sejauh si mesin mampu menggenerasi algoritma yang memungkinkan hal itu. Sedangkan “lokal”, ia mempertimbangkan konteks teritori dan waktu, bahkan kelas dan status sosial. Dengan kata lain, “lokal” lebih menitikberatkan isu.

Saya ingin mencoba memberikan satu contoh lain, yang saya rasa mungkin dapat dikatakan mendekati upaya elaborasi mengenai bahasa ‘video vernakular’ ini dalam suatu rangkaian praktik berkelanjutan. Sebuah komunitas di Solok, bernama Komunitas Gubuak Kopi, dalam beberapa bulan terakhir giat menggalakkan program Vlog Kampuang. Komunitas ini dengan cukup percaya diri meninggalkan tuntutan-tuntutan perfeksionis yang sering kali muncul ketika membuat karya video, terutama dalam kaitannya dengan alat produksi, cara produksi, dan bentuk sajian visual. Secara cukup radikal, komunitas ini menggali potensi dari kebiasaan merekam sehari-hari sebagai sebuah bahasa baru untuk karya video. Menariknya, walaupun mereka menggunakan istilah Vlog, karya-karya mereka tak tampil sebagaimana karya-karya para amatir YouTuber yang sadar atau tidak masih berorientasi untuk mencapai kesempurnaan bahasa visual yang elite, yang serupa dengan hasil-hasil profesional. Akan tetapi, karena latar belakang mereka sebagai pegiat seni dan juga memiliki latar belakang pendidikan mahasiswa seni, produk video yang mereka hasilkan tentunya tidak sederajat dengan video-video warga revolusi Arab atau video-video rekaman bocah-bocah Pemenang. Terlebih lagi, produksi ini diniatkan sebagai sebuah platform, dalam kerangka studi, yang dengan sendirinya menempatkannya pada posisi elite juga, dengan kata lain, motif dan modus produksi yang mereka lakukan tetap berada di bawah otoritas kepengarangan. Namun, ia tetap menjadi penting karena memposisikan hal ini sebagai eksperimen bahasa.

Sampai di sini, saya berpikir bahwa pembahasan seni media kita yang belum tuntas justru bukan lagi terletak pada soal-soal representasi dan presentasi, sebagaimana yang dulu diperdebatkan dalam pameran Influx tujuh tahun yang lalu. Alih-alih, persoalan yang mesti kita perhatikan lebih jauh ialah bahasa, bahasa seni, lebih spesifik: bahasa seni media. Meskipun sebenarnya, perihal presentasi dan representasi itu pun juga erat terkait dengan, atau menjadi bagian dari, bahasa sebuah karya atau peristiwa seni, terutama jika kita berbicara tentang bagaimana menyajikan sebuah karya seni atau proyek seni kepada publik. Namun, dalam level yang lebih kompleks, yang tidak semata berhenti pada masalah tentang keberadaan sebuah karya di dalam ruang pamer atau bukan di ruang pamer, langsung atau tidak langsung, konseptual atau tidak konseptual, pemahaman terhadap bahasa seni media akan menunjukkan kualitas keakraban kita terhadap bahan pokok dari seni media, yakni teknologi media itu sendiri.

Saya pribadi berpendapat bahwa bahasa seni media seharusnya bahasa yang bersifat aksi dalam rangka memproduksi konteks. Konteks adalah tujuan dari bahasa audiovisualnya, sekaligus bahasa aksinya. Inilah yang agaknya akan memberikan napas baru bagi seniman, dan menjelaskan kembali posisinya di tengah-tengah situasi global terkini ketika kecanggihan dan kemudahan akses dari teknologi telah membuat semua orang menjadi sangat mungkin dan bisa memproduksi audiovisual yang tak kalah indah dan jenialnya. Sederhananya, jika kita setuju bahwa persoalan bahasalah yang harus kita tuntaskan, barangkali menarik juga untuk mengatakan bahwa, sekarang ini yang layak disebut sebagai seniman bukan semata mereka yang memproduksi karya audiovisual, tetapi yang juga dengan sadar memproduksi konteks. Seni adalah memproduksi konteks.

Maka dengan kerangka berpikir seperti itulah barangkali kita kemudian bisa mengartikulasikan dan menafsirkan gejala publik seni pada masa sekarang, publik yang bermedia sepanjang hari itu. ***

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s