44.

Jakarta, 07:58 am.

Haihaaai…, Suitcase Kid! Semalam kita bertemu lagi. Bukan di toko ketakutan, tapi di pasar suci, dan di sana pula semalam aku mengikuti percakapan-percakapan dengan beberapa teman, tentang harapan-harapan. Beberapa harapan itu mereka perjualbelikan (dan kau sempat pula membelinya beberapa, yang kau bayar dengan sebuah pisang. Aku tahu dengan jelas, tak ada alasan lain selain untuk kebutuhan risetmu mengenai tarot); beberapa yang lain hanya meletakkan harapan itu di meja perundingan.

Aku tak habis pikir, di pasar suci tadi malam ternyata masih ada saja seniman-seniman yang mengeluhkan “komunikasi” yang membuat karyanya sulit memasuki celah-celah penerimaan yang dimiliki sejumlah kurator dan “penyandang panggung dan karir”. Padahal, kita sama-sama tahu kalau inti sari seni adalah komunikasi itu sendiri. Dengan merujuk kepada konteks itu, seniman ataupun kurator yang mengalami “krisis komunikasi” itu berarti mengalami kerugian waktu dan tenaga di banyak lapisan kekaryaan. Hal yang sungguh sangat merugi! Sedangkan @mmndn13, kulihat juga bahwa ternyata tadi malam pun ia hadir di gudang yang sama dengan kita, walau berbeda waktu beberapa menit saja. Tapi bukan untuk membeli harapan, agaknya; ia dan temannya sedang mengisi waktu luang, hedon, atanya.

Aku? Kau tahu sendiri, Suitcase Kid, bahwa kerjaku ialah menciptakan waktu luang untuk orang lain. Benar, bukan?

Tapi aku senang, Suitcase Kid! Tampaknya kau sekarang sudah semakin bersemangat; sudah bisa “mengabaikan” kasus itu walau belum ada kepastian akan kata “SELESAI”. Masalah ini bagaikan ombak… yang datang tiba-tiba menghantam tepi pantai, lalu surut dengan cepat… tapi kita tahu ia pasti akan datang lagi, segera datang. Bedanya, tak seperti ombak di lautan, ultima media sosial adalah modulasi-modulasi yang tak kasatmata. Tapi setidaknya sekarang kau sudah punya papan selancar, Suitcase Kid; dan aku gembira mendengar kabar kau tengah berselancar pelan-pelan, mulai menyapa lagi ikan-ikan di laut: kita semua.

Lebih dari gembira itu, ialah salut untukmu! Semoga lancar proyekmu nanti di Jepang! Kita masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum kau menyeberang lintas negara, sedangkan aku kali ini cukup melintasi batas pulau dalam negeri saja. Di Pekanbaru nanti, kuharap aku akan menerima kabar-kabar menarik darimu tentang negara yang (menurut analisa Ayos) sedang mengalami ketakutan setengah tanah-air itu. Hahaha!

Oh, iya! Bukankah kau semalam bertanya, “Kapan lu main…?”

Jika tak ada halangan, mungkin tiga hari lagi… sehari sebelum kau terbang ke Jepang. Kita perlu berbincang soal yang lain pula: melompat ke kemungkinan yang bukan semata baru belaka, tetapi yang juga bisa menawarkan celah-celah mikroskopis yang dapat menghindarkan kita dari “krisis komunikasi” yang menjangkiti pergaulan mudi-muda. 

Yaaah, atau satu bulan kemudian, sepulangmu dari sana (Ah, itu mungkin di tengah-tengah kesibukanku mengurus simposium sinema!): mungkin menarik juga jika aku bisa meninjau tulisanmu secara lebih saksama. #asyek

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s