Enter title here

43.

Jakarta, 06:29 am.

Beberapa hari belakangan, nama kota dan angka jam berujung “am/pm” (seperti yang tertulis di atas kalimat ini) aku bubuhkan berkali-kali di website yang sedang kugarap bersama teman-teman sesama pegiat “seni media”. Ya, Suitcase Kid, ini tentunya nanti berkaitan juga dengan rencanaku yang akan mengunjungi tempatmu kalau kau sudah di Jakarta lagi: aku akan mengambil beberapa data di sana sembari berbincang tentang banyak hal denganmu. Tapi pagi ini—dengan mata yang belum terlelap sejak kemarin—aku mengalihkan layar ke halaman blog ini. Lagi-lagi, berhadapan dengan teks.

Beberapa rekan mulai jengah dengan sikapku yang sudah tampak seperti robot, kehilangan “ranah sosial”. “Bahkan menoleh pun, tidak, ketika dipanggil!” celetuk salah satu di antara mereka. Aku tak bisa membantah karena kenyataannya memang seperti itu. Tapi keadaan inilah yang memang tak akan pernah berhenti dinegosiasikan, bukan? Entah dengan apa caranya nanti, sesuntuk terhadap pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung menjedakan waktu luang ini, bagaimana pun, tak boleh mengubah sikap seseorang menjadi sesuatu yang bisa mengiritasi penglihatan orang lain. Aku tak boleh menjadi robot, memang, dan karenanya aku menerima celetukan-celetukan mereka. Itu semacam teguran. Setidaknya, sebagai peringatan agar aku tak “hilang”. Yang mereka keluhkan, dengan kata lain, bukanlah kualitas pekerjaan, tetapi bagaimana sikapku dalam menanggapi tenggat waktu proyek dan situasi padat acara yang—juga telah diakui oleh beberapa orang lainnya—cukup membuat semuanya stres, bukan hanya diriku sendiri.

Ada beberapa hal yang ingin aku utarakan ke dalam teks-teks percakapan khayali ini, tapi urung karena pertimbangan-pertimbangan etis dan gengsi. Di samping itu, aku justru malah bertanya-tanya, bagaimana kabarmu di Yogyakarta sekarang, Suitcase Kid? Kau, walau masih di tengah masalah yang belum selesai, tetap bermobilisasi dengan derajat keseringan yang cukup tinggi. Saat aku di Surabaya, kau di Lombok dan Bali. Sebelumnya, kau sempat main ke Yogyakarta pula, kalau aku tak salah ingat—sebentar… memang benar, kan waktu si bos “Trash Squad” mengadakan diskusi kecil-kecilan tentang desain itu, yang sempat kutonton live lewat Instagram, kau tengah berada di area Mangkuyudan…?!—dan beberapa minggu lalu, kita pun bertemu di kota itu, sehari sebelum aku kembali ke Jakarta. Aku masih teringat-ingat Rugun—nama yang aneh—si dukun tarot yang manis itu, Suitcase Kid. Keriangan yang tergambarkan di wajahnya, agaknya, lebih membius dan menawarkan rasa kesal yang diakibatkan oleh penyesalan karena tak berani menegur-sapa dirinya saa itu—justru kau yang aktif bergosip dengannya karena rupanya kalian satu almamater. (Dan ketika tiba di Jakarta subuh hari, kami para laki-laki masih saja menggunjingkannya. Dua di antara kami, sebenarnya tertarik dengan gadis itu). Meskipun sebenarnya, kemampuannya dalam membaca tarot itu (yang bagiku, hal itu masih saja meragukan) yang justru membuatku tertarik untuk tetap memikirkan sosoknya.

Mba Tami tengah mencuci piring sekarang. Aku harus tidur, karena nanti sore harus ke gudang untuk bertemu Ari, mendiskusikan perkembangan website yang tengah kami kerjakan. Seharusnya! Malam harinya harus bertemu Ade—bukan Ade yang kutemui di Yogyakarta, melainkan Ade yang sering kita gosipkan—untuk melakukan semacam wawancara mendalam. Masih dalam rangka proyek yang sama. (Padahal, ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harus segera dikerjakan pula. Ah… betapa padatnya bulan-bulan ini!)

***

Terlepas dari hal-hal yang kusinggung pada paragraf-paragraf di atas, alasan mengapa kali ini aku tidak mengetik percakapan khayali untuk blog ini melalui layar smartphone, adalah karena rasa penasaran terhadap beberapa akun wordpress yang entah mengapa senang membubuhkan “like” di terbitan-terbitan tak berjudul (yang kumasukkan ke dalam kategori “Marginal”) ini. Aku menduga bahwa mereka mungkin juga suka membuka dashboard blog mereka masing-masing, atau menyimak linimasa di kolom reader di wordpress mereka, melalui smartphone pribadi; dan aku bertanya-tanya juga, apakah mereka selalu membaca terlebih dahulu postingan orang lain sebelum menekan tombol “like” itu…? Ah, ya…! Ngomong-ngomong soal dashboard, ternyata Ari tak terbiasa dengan istilah ini. Bahasa-bahasa drupal ternyata berbeda sama sekali—sempat terjadi miskomunikasi, bahkan, antara aku dan Ari, sehingga beberapa postingan di proyek website yang kami kerjakan itu hilang (walau tak seutuhnya). Sarana pengembang website semacam itu memang benar-benar membingungkan. Aku bahkan menghabiskan waktu satu setengah hari hanya untuk menjawab rasa penasaran tentang di mana letak “node-node” yang sudah kubuat sebelumnya. Aku tak menemukan hasil, selain jawaban bahwa “node-node” itu hanya bisa diakses lewat halaman “super-admin” (aku tak tahu istilah yang lebih tepat dalam bahasa yang dikenal Ari), yakni area si brain-ware yang mengerti code dan sebangsanya, yaitu si Ari yang namanya sudah beberapa kali kusebut/tulis di artikel ini.

Dan tentang akun-akun wordpress itu, menarik kiranya untuk menyapa mereka dengan cara melibatkan “kehadiran” mereka di catatan “Marginal” ini. Beberapa blogger sering kali menggunakan cara ini untuk saling terhubung, selain aktif berkunjung ke halaman blogger lain dan bertegur sapa sesama mereka. Aku juga sering melakukan hal ini—maksudku, berkunjung ke halaman blogger lain—saat baru pertama kali mengelola blog pribadiku. Tapi, cara itu ternyata berbahaya, karena akan menyita banyak waktu dan menyebabkan tugas-tugas kuliahku terbengkalai—hal yang sama juga terjadi saat orang dulu mulai marak menggunakan Facebook, di masa-masa ketika istilah “kepo” belum kita kenal akrab seperti sekarang.

Mungkin, menyisipkan hyperlink yang seakan menjadi jendela untuk menyapa mereka tak akan berefek apa-apa—tapi aku yakin, setidaknya sebuah “ping-balik” akan sampai di notification blog mereka (kecuali jika mereka menutup akses “ping-balik” itu sebelum menerbitkan postingan yang mereka inginkan). Responnya? Paling-paling catatan ini hanya mendapat klik-an “like” lagi, atau komentar sepintas lewat saja.

Hingga kini, aku takjub, bagaimana caranya ada blog yang bisa memuat ratusan komentar dan si blogger pun demikian aktif menjawab setiap komentar yang diterimanya…? Seandainya saja bulan-bulan ini tak sepadat kenyataannya, perhatianku terhadap keaktifan blog ini mungkin bisa meningkat tajam; aku akan lebih aktif berselancar dan menyapa mereka, para akun-akun wordpress itu, satu per satu—oh, tapi belum tentu, karena biasanya aku akan nongkrong seharian di GSE atau membaca komik sebanyak mungkin untuk mengisi waktu luang, dan dengan kata lain, blog ini pun tetap hanya akan tersentuh sekali-sekali saja.

***

Mengetik di layar komputer besar dengan keyboard yang lebar, membuat jari di kedua tanganku lebih leluasa, lebih bergerak cepat, sehingga bisa mengetik lebih banyak. Menggunakan computer mouse juga sangat mempermudah operasi ini. Contohnya, menghadirkan Umi Sholikhah ke dalam kalimat ini lewat pengaturan hyperlink menjadi lebih mudah ketimbang di layar smartphone. Bukankah begitu, Umi? Aku lebih senang memanggilmu “Umi” karena “Ika” (tanpa huruf “h”) adalah panggilan untuk seorang temanku di organisasi—ia juga seorang blogger. Aku berharap bisa membaca lanjutan cerita tentang Pak Lek Jan itu, tentu saja.

Kau juga mungkin perlu membacanya, Suitcase Kid! Memang tulisannya tak seperti tulisanmu, yang selalu abstrak dan rumit itu—aku sering frustrasi membacanya. Oleh karenanya, tulisan bersifat sharing experience itu adalah terapi yang baik untuk menghalau beban-beban akibat “ultima media sosial” yang menghantuimu belakangan ini. Ibarat kata Oomleo, tulisan semacam itu adalah “sombong yang halal”, atau “narsis yang layak diterima” karena yang ditawarkannya ke publik adalah teks (walau tak seunggul karya sastra) yang mengandung naratif tertentu, bukan citra yang rentan manipulasi oleh perangkat-perangkat teknologis dan sudut ambilan kamera.

Dalam praktik-praktik literasi media yang aku lakukan bersama teman-teman di beberapa komunitas, tulisan semacam itu (tulisannya Umi) sangat diamini sebagai cara untuk menjelaskan posisi kita di tengah-tengah suatu masyarakat secara lebih berwibawa. Tapi, bukan berarti aku hendak bermaksud untuk mengatakan bahwa produksi gambar perlu dihindari sama sekali. Karena untuk konteks “visual”, ternyata video-video yang diproduksi teman-teman kita di Solok, tak kalah menariknya. Bentuknya berbeda dengan vlog-vlog yang dibuat selebriti YouTube yang menekankan kemasan menarik tak ubahnya reality show televisi. Vlog Kampuang mengutamakan “bahasa [visual] awam” (atau, untuk istilah kasarnya: “bahasa pasar”, sedangkan istilah kerennya: “bahasa vernacular“) dalam memanfaatkan fitur kamera yang ada pada mobile phone. Mereka bahkan, pada beberapa video, dengan terang-terangan menjadikan gerak tubuh spontan si pemegang kamera sebagai bagian dari estetika video mereka. Aku pernah menulis topik ini di sebuah artikel kuratorial untuk sebuah program film, mengenai vernacular video itu. Makanya, Suitcase Kid, ketika di Jogja tempo hari, kusarankan kau untuk mencoba hal-hal “dokumentari”. Mungkin saja di ranah itu kau akan menemukan jawab, yang bisa saja lebih meriah sifatnya, untuk memetakan proyek tarot-mu itu.

Di catatan ini juga aku hadirkan Ziza. Walaupun ia menyebut bahwa tulisan-tulisan random di blognya adalah “ocehan yang terabaikan”, kehadirannya tentu tak bisa diabaikan untuk konteks catatan “Marginal” bernomor 43 ini, karena ia adalah salah satu akun wordpress yang juga pernah meng-klik “like” untuk postinganku. Selain itu, tulisannya tentang Red Day juga tak boleh kita abaikan, Suitcase Kid. Aku pun baru mengetahui adanya istilah “red day” untuk menyebut masa menstruasi perempuan dari artikel yang ditulis Ziza.

Kalau kau, bagaimana, Suitcase Kid? Apakah kau juga menggunakan istilah yang sama untuk menyebut hari datang bulanmu?

Apa pun itu, yang jelas kita harus sama-sama sepakat bahwa tentu saja menjadi sebuah kewajiban bagi kami, para laki-laki, untuk memahami posisi perempuan. Pemberian hak secara proporsional dan perlakuan secara setara itu tidak hanya pada konteks bagaimana seorang pria memahami perempuan, tetapi bagaimana kita sama-sama bisa menciptakan lingkungan sosial yang mendukung gagasan-gagasan kesetaraan itu. Orang-orang sering salah mengartikan “kesetaraan” sebagai “persamaan”, padahal apa yang diperjuangkan kaum feminis tentang “tuntutan akan kesetaraan” sebenarnya adalah usaha untuk mendapatkan perlakuan-perlakuan yang adil dan layak sesuai kebutuhan bagi kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) dalam berbagai hal, baik aspek biologis, fisiologis, psikologis, sosial, maupun kultural.

Aku pribadi mendukung jika ada pemberlakuan hari libur kerja bagi perempuan yang sedang menjalani masa datang bulan (jikalau ketentuan itu memang mungkin diterapkan); itu bukan dalam rangka merendahkan derajatnya atau memanjakannya atau membeda-bedakannya, tetapi adalah upaya untuk mendukung gagasan kesetaraan hak (sebagaimana kita juga mendukung hari libur bagi ibu hamil dan menyusui). Dan tak benar jika ada laki-laki menuntut “hal yang sama” dengan dalih yang dicari-cari persamaannya, atau mengeluhkan hal itu. Karena yang kita perjuangkan bukanlah “persamaan” antara perempuan dan laki-laki, melainkan “kesetaraan” hak dan kewajiban sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Rissaid barangkali akan tertarik membuat puisi tentang topik ini: perempuan dan laki-laki, tentang keterhubungan antara keduanya, atau apa pun. Entah mengapa, untaian kalimatnya tentang perpisahan itu mengusik mataku: “rindu” yang bisa jadi akan terus tumbuh “dewasa” oleh ruang dan waktu, dan tatkala pertumbuhan itu tak menemukan titik jenuhnya, di situlah kita baru menyadari adanya perpisahan. Aku pribadi tak ingin mengaitkan puisi itu dengan “cinta-cinta-an”, Suitcase Kid. Alih-alih, aku justru teringat bagaimana alam hadir dengan manusiawi di dalam Hujan di Bulan Juni-nya Sapardi; alam benar-benar bertindak sebagai “manusia” itu: Hujan bulan Juni adalah yang terbijak. Menarik kiranya jika kini kita justru berbicara tentang “kebendamatian” yang berubah menjadi “kemakhlukhidupan”. Puisi, atau “teknologi puitik”, memungkinkan hal itu.

***

Tampaknya, catatan ini perlu kujeda, Suitcase Kid. Karena kelopak mataku sungguh tak kuat menahan kantuk…

Pengetikan catatan ini kuhentikan sementara pada pukul 09:01 am. (Oh, c’mon! I still have a lot of works! Ck….!)

***

Dan detik ini adalah pukul 02:42 am, hari berikutnya. Paragraf-paragraf di atas kutulis hari kemarin. Perbincangan kita sampai pada perkenalan dengan Audhina Novia Silfi, perempuan yang mengaku sangat menyenangi warna biru. Mengunjungi blognya, aku justru penasaran, apakah Audhina sekarang sedang lelah? Hahaha…! [Bercanda, Dhin!] Karena itulah kalimat yang tertangkap oleh mataku pertama kali di blognya—kalimat yang aku maksud itu adalah postingan terbaru di blognya. Isinya juga puisi, sama seperti Rissaid. Oh, sepertinya bukan…, puisi itu bukan tentang dirinya yang kelelahan. Setelah kubaca puisinya, Audhina bercerita tentang seseorang sebatang kara, yang ia umpamakan seperti bunga tulip, yang tengah dirundung kesedihan.

Terkadang benar juga, bahwa mengucap “aku lelah” adalah cara paling sederhana untuk mengungkapkan intisari dari kerisauan atas masalah-masalah yang sulit diurai lewat kata-kata. Semua orang pasti mengalami itu. Apakah puisi itu berangkat dari peristiwa yang diamati oleh Audhina? Atau barangkali itu adalah ungkapan lain dari si penyairnya sendiri tentang pengalaman personalnya. Terkait hal itu, puisi memang tidak mengandaikan suatu eksplanasi, oleh karenanya ia mengamini deklamasi: pesan yang diabstraksikan menjadi sebuah permainan bahasa. Apa pun bentuknya, puisi selalu punya daya tarik untuk dianekatafsirkan.

Ngomong-ngomong soal kata “lelah” itu, yang menarik juga untuk kita perbincangkan ialah, selelah apa pun manusia, manusia itu tak akan pernah lelah untuk mendefinisikan atau didefinisikan oleh pikiran-pikiran. Bukankah aku juga pernah bertanya-tanya padamu tentang hal ini pada sebuah catatan (bernomor 35), Suitcase Kid? Ada empat akun wordpress yang membubuhkan “like” untuk postingan itu. Selain Ziza dan Umi, ada Toro dan Bang Ical.

Toro sepertinya tak memiliki alamat blog pribadi. Sedangkan Bang Ical, dia bukan siapa-siapa…

Sebentar… … … tapi setelah kubaca-baca, orang bernama asli A. A. Rosyid ini ternyata pernah belajar wingchun (ya, aku yakin dia memang benar-benar ahli wingchun). Itu, sih, jelas kalau dia adalah siapa-siapa, Suitcase Kid. Iya, kan? Bukti lainnya, tulisan-tulisan Bang Ical menarik, memiliki daya dan etos tertentu dalam usahanya berbagi pandangan. Tulisan terbarunya di waktu aku mengunjungi blognya beberapa menit lalu adalah tentang pentingnya literasi.

Aku pribadi setuju, bahwa “literasi atas segala hal”-lah yang menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu yang membuntukan setapak pertanyaan kita, supaya kita bisa memasuki ruang baru, demi menemukan jawaban. Ketika pertama kali aku menyapamu lewat catatan “Marginal” ini, aku mengira barangkali ketakutan yang kau perdagangkan di “toko ketakutan”-mu itu bisa menjadi kunci untuk krisis tertentu—baru saja kemarin malam aku bercerita kepada Dhuha, tentang krisis apa yang kumaksud: krisis “generasi ngambek” (ini adalah persoalan lain yang tak kalah renyah untuk kita perbincangkan lain waktu). Tapi ternyata asumsiku meleset. Untuk memahami barang-barang yang kau jual waktu itu, kita rupanya masih membutuhkan kunci yang lain. Agaknya (tapi kini aku yakin), kunci yang sebenarnya untuk membuka tokomu adalah literasi. Lebih tepatnya, “literasi media”. Seandainya saja kau menemukan kunci ini lebih awal, atau aku yang menemukannya lebih awal, atau teman-teman kita yang menemukannya lebih awal, kita dan semua orang pasti tak akan sebegitu kagetnya saat terciprat getah dari ultima media sosial itu.

Ah… ultima media sosial! UTM sialan! Dia selalu saja menemukan istilah yang tepat untuk merangkum fenomena terkontemporer dan terkontekstual. Lain kasusmu, lain kasus rekaman bunuh diri di Facebook, dan lain pula kasus-kasus persekusi yang diperbincangkan orang-orang belakangan ini. Terlepas dari perbedaan keyakinan, ideologi, dan pilihan politik yang memang exist di masyarakat kontemporer, kini kita bisa sama-sama menarik kesimpulan sementara—kusematkan kata “sementara” di sini karena bisa jadi simpulan ini akan meleset pula nantinya—bahwa pangkal dari persoalan-persoalan yang berunutan terjadi dan kita saksikan belakangan ini (beberapa bahkan sudah dialami olehku dan kau juga) adalah krisis literasi media.

Perihal tentang literasi media ini, sebagaimana yang sudah kusebut juga beberapa kali di beberapa artikel di blogku ini, bahwa sejak 2009, aku giat berkecimpung dalam inisiatif-inisiatif akar rumput yang mewacanakan gagasan itu. Tak lain adalah untuk mendapatkan pengertian yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat di mana aku tinggal.

Seperti sekarang, misalnya, dalam “proyek senimedia” yang sedang kukerjakan, aku menyadari bahwa literasi media tak hanya terbatas pada persoalan bagaimana kita bisa secara dewasa memanfaatkan teknologi media, tetapi juga pada pemahaman paling fundamental mengenai “logika-logika” bermedia itu sendiri. Bayangkan saja, bahkan dalam berkata-kata di kehidupan sehari-hari pun, sekarang ini, semua orang sadar tak sadar telah mengubah gaya bahasanya. Aku bahkan juga tak bisa menghindari penyebutan beberapa istilah per-blog-an dalam catatan ini; juga tergoda untuk menerapkan beberapa praktik yang dua puluh tahun lalu telah diteorikan oleh Lev Manovich, meng-hyperlink-kan beberapa halaman baru demi menciptakan kehadiran sebuah konten, yakni kehadiran akun-akun wordpress yang sudah kita ajak kenalan lewat catatan ini.

Mungkin bagi para blogger masa sekarang, praktik ini sudah sangat biasa dan terasa tak istimewa. Tapi, jika membayangkan bagaimana orang-orang [sejak tahun] 1960-an sudah mampu mengimajinasikan tentang suatu form baru dari sebuah medium (atau media) yang sungguh-sungguh sangat berbeda dari sifat buku bacaan (cetak) konvensional—tak tanggung-tanggung, ditegaskan juga lewat beragam manifesto, salah satunya ialah kritik keras terhadap multi-mediocrity yang muncul kemudian sebagai buntut dari lompatan dan percepatan perkembangan “media baru”—temuan ini menurutku sangat luar biasa. Dan tentu saja kosakata-kosakata semacam ini perlu kita sadari, bukan hanya dihafalkan, tetapi juga dipahami aspek historis serta dampak ekososbudpol-nya.

Teman-teman dalam catatan ini, yang aku libatkan kehadirannya sebagai “tokoh-tokoh baru” yang kukenalkan kepadamu, Suitcase Kid, tentu saja bukan sebagai kelinci percobaan. Sebab, mereka memang benar-benar exist, dan memiliki otoritasnya sendiri: mereka sangat mungkin memberikan tanggapan balik (bahkan tak menutup kemungkinan memberikan kritik). Atau justru mereka akan mengabaikannya begitu saja? Apa pun kemungkinannya, catatan ini mengamini ide tentang cultural interface itu, karena memang itulah salah satu titik utama jika kita ingin berbicara soal literasi media. (Aku juga jadi berpikir sekarang, sepertinya melibatkan lebih banyak blogger ke dalam catatan “Marginal” ini akan menjadi sebuah studi yang menarik pula).

Barangkali juga mereka akan bertanya, siapa sebenarnya kau, Suitcase Kid? Untuk sementara ini, aku cukup menjawab pertanyaan semacam itu dengan jawaban: kau bukan tokoh khayalan meskipun percakapan ini adalah karangan belaka.

Dan karena tampaknya catatan bernomor 43 ini cukup panjang dan ditulis dengan cukup spesial, tak ada salahnya kuberi judul, kan? Bagaimana, Suitcase Kid? Hm… dengan tetap mengacu pada tujuannya ditulis, yakni tentang eksperimen ultima media sosial—adakah orang yang membantah bahwa wordpress sebenarnya juga media sosial?—maka tulisan ini kuberi judul “Enter title here”. #asyek

Mereka yang mencintai dunia per-blog-an, mungkin akan tertawa geli membaca kalimat nomor dua terakhir itu.***

 

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

9 thoughts on “Enter title here”

  1. Holaa kak..😱ini luar biasa menurutku. Artikel ini pasti punya peluang buat disunting lagi. Karena begitu banyak yang aktif di wordpress. Kakak kalau mungkin lagi enggak sibuk bisa gabung sama kita di grup WA, semua nama di artikel ini juga ada di sana.hahaha dan bayangkan kegaduhannya.
    .
    Wah…aku malu banget, kenapa pula tulisan teratas blog ku yg jelek itu yg dibahas.buahaha. btw, 100 buatmu kak, atas tebakan bahwa itu puisi bukan tentang diriku sediri,tapi mengenai orang lain.
    .
    Kak. Kapan-kapan bikin clue yang lebih jelas ya tentang Suitcase Kid.😂aku termasuk jiwa-jiwa kepo.
    .
    kalimat kedua terakhir itu cukup bikin aku cengengesan.haha. selera humormu tinggi,kak. #hasyeek aku mah receh.
    .
    Di artikel ini aku suka kalimat ini
    “…..Seandainya saja kau menemukan kunci ini lebih awal, atau aku yang menemukannya lebih awal, atau teman-teman kita yang menemukannya lebih awal, kita dan semua orang pasti tak akan sebegitu kagetnya saat terciprat getah dari ultima media sosial itu……”
    .
    Mirip kalimat favoritku di kumpulan cerpen Norman Erickson Pasaribuan. Hehe
    .
    Posting terus ya kak..insya’allah mampir.😉

    Liked by 1 person

  2. Halo kak, dapat salam dari si pemilik ocehan random yang terabaikan 🙌
    Saya takjub dengan pendapat kakak soal kesetaraan, ternyata ada yang memahami tulisan saya sampai seluas itu, terima kasih pengertiannya kak 🙂
    Suitcase Kid pastilah orang yang beruntung 🙂
    Semangat kuliahnya ya kak!

    Liked by 1 person

  3. Ya…ku jawab hyperlinkmu menjadi jendela dan aku disini, menyapa. 🙂

    “melainkan “kesetaraan” hak dan kewajiban sesuai kebutuhan dan kemampuan.”

    Untuk seorang lelaki yang tidak serta merta menumbuk rata ideologi feminisme, aku suka. 🙂

    Liked by 1 person

  4. Entah sejak kapan saya selalu berbinar mata kalau nemu tulisan yang bercerita tentang Suitcase Kid 😃 dari awal saya tahu dia nyata (berpikir begitu). Dan tentang dia siapa, biarlah tetap rahasia.

    Liked by 1 person

  5. “….. apa yang diperjuangkan kaum feminis tentang “tuntutan akan kesetaraan” sebenarnya adalah usaha untuk mendapatkan perlakuan-perlakuan yang adil dan layak sesuai kebutuhan bagi kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) dalam berbagai hal, baik aspek biologis, fisiologis, psikologis, sosial, maupun kultural.” 🙋

    Sejak tadi saya mencari petunjuk siapa itu Suitcase Kid 😃

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s