42.

Yogyakarta, 00:16 pm.

Hari terakhir di Jogja. Hari pertama puasa. Pukul dua siang nanti, kereta akan berangkat dari Lempuyangan menuju Jatinegara.

Tadi malam kita akhirnya bertemu lagi, Suitcase Kid. Kau terlihat lebih kecil daripada sebelumnya, sedikit berbeda dengan saat pertama kali kita bertemu. Tapi kau menganggapku terlihat lebih muda. “Kalau begini, kan enak. Kita jadi seumuran…” katamu (padahal, umurmu dua tahun lebih tua dariku). Yang kutangkap, kau belum juga terlihat lepas secara utuh dari ketakutan-ketakutanmu. (Ketakutan semacam itu juga terjadi pada semua orang, tentu saja).

Tadi malam kita bertemu Rugun—sebentar… apakah namanya memang begitu?—si dukun tarot (begitu saja aku menyebutnya, ya). Dan dari caranya melayanimu, yakni memberikan jasa untuk membaca persoalan-persoalanmu, aku menarik kesimpulan bahwa, dalam transaksi “terawangan masa depan” itu, terjadi suatu mekanisme kontrol; relasi antara yang dominan (si pembaca ketakutan, lalu mengkomodifikasinya menjadi bahan-bahan psikologis yang lantas bisa diuangkan, misalnya) dan yang inferior (pemilik ketakutan, yang membarter ketakutannya untuk sekadar mendapat “ketenangan” atau “jawaban”). Transaksi ketakutan (termasuk di dalamnya: kekhawatiran, ekspektasi, harapan, dan cita-cita) adalah wujud lain dari kontrol itu sendiri.

Lalu percakapan kita berlanjut ke ide-ide yang barangkali bisa divisualkan untuk karyamu, tetapi aku lebih cenderung setuju jika kau membuat dokumentari—(Perhatikan! Menggunakan huruf “r”; ini bukan typo)—tentang tetangga… atau tentang kamarmu, misalnya. Aku memaparkan itu sembari terus mengamati si dukun tarot yang—bukan hanya aku yang berpendapat seperti ini, tapi hampir semua laki-laki di pasar itu tadi malam, kukira—terlihat sangat manis dan cute. Kepalanya menghentak-hentak ketika musik terdengar gembira, dan senyumnya masih tergambarkan di ingatanku sekarang ini. Pemandangan ekstatif seperti itu baru berakhir tatkala Rambo mengambil alih kemudi gelombang.

Lambat laun sepi, seorang demi seorang kembali ke rumah masing-masing, bersiap-siap sahur.

Lalu siang ini, beberapa kawan masih berbincang tentang makanan yang bisa ditinggalkan untuk Kunci, sebelum kami semua (yang sudah jauh hari tampaknya, dilabeli “warlok” oleh warga lokal di sini) kembali ke Jakarta. Sayang sekali, aku lebih banyak menghabiskan waktu di daerah Mangkuyudan ketimbang di markas Lifepatch… padahal perbincangan dengan Ade beberapa hari yang lalu, adalah sesuatu yang juga aku cari-cari. Sedangkan Sita, dia sibuk dengan pacarnya sehingga niatan untuk berbincang mengenai ketakutanku akan krisis kita bersama ini, yang pernah juga aku paparkan padamu, belum juga bisa terlaksana.

Yah, begitulah, Suitcase Kid! Haha!

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s