41.

Jakarta, 01:05 pm

Aku sering bertanya-tanya, Suitcase Kid, apakah kegusaran yang sering melanda kita itu disebabkan oleh kedengkian, atau semata keinginan untuk membuat orang lain mengerti? Yang mana pun jawabannya, di kala sadar aku akan mafhum bahwa tak ada kebaikan yang terkandung di kedua jawaban itu. Sebab, yang meraja adalah ego. Gautama pernah berujar bahwa tatkala orang mengkritik ucapanmu, jika sedikit saja terbersit di dalam hatimu kemarahan atau kejengkelanmu terhadap orang yang mengkritik, itu menandakan kau tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau ucapkan kepada si pengkritik itu. Pemikir yang bijak tak pernah gusar, dengan kata lain.

Tapi aku bukanlah manusia yang begitu. Aku masih memiliki kedengkian, keirihatian, hasrat kebintangan, ria, dan aku masih terbilang sebagai manusia egois. Aku benci dengan kenyataan itu, tapi tak sanggup pula jika harus menutup-nutupinya. Apalah arti kata-kata atau tulisan-tulisan bijak jika aku masih belum berani mengakui segala keburukan yang ada dalam diriku ini?

Dan yang menjengkelkan sekarang ini adalah aku sedang gusar karena jengkel dengan orang lain, sedetik setelah terbangun dari tidur semalam dan mataku menatap layar kaca supra-antropologis yang ada di tanganku ini. Aku marah, dan karenanya aku juga membenci diriku sendiri.

Kudengar kabar bahwa kau kini sedang di Bali dan akan segera menyeberang menuju Nusa Ceningan. Sempatkanlah waktu mampir ke Pemenang di Pulau Lombok! Kau akan lihat bagaimana teman-temanku di sana bisa mengubah kejengkelan kita menjadi kebaikanmeskipun bagaimanapun juga mereka sama seperti kita, tak lepas dari sifat-sifat buruk itu (toh, kita semua manusia biasa, kan?). Tapi mereka, agaknya, memang berada di luar kategori yang pernah dituding Kartini sebagai “orang-orang yang berdosa karena mengatasnamakan agama”. Mereka punya siq-siq o bungkuk yang pernah kuceritakan kepadamu beberapa waktu lalu. Itu mungkin baik untuk melenyapkan kejengkelanmu pula akibat kasus itu. Pelajarilah siq-siq o bungkuk itu dengan saksama!

Tapi, ya, apa pun lah!

Yang jelas, aku memang sedang jengkel sekarang ini, dan itu tak bisa kubendung!

Lekaslah pulang, Suitcase Kid! Biar kualihkan kekesalan ini dengan berbincang tentang hal-hal lain bersamamu.

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s