39.

Jakarta,  00:38 am

Radang tenggorokan belum hilang sementara denyut urat kepala belakang, tepatnya di atas leher sisi belakang, tak sedikit pun berhenti sejak semalam, seolah nyinyir memberitahukan bahwa aku masih sakit. Sedangkan Sheila, ah…, sudahlah! Aku sudah beberapa hari ini tak bisa mengetik barang separagraf pun isi kuratorial tentang film-film pangan (sebenarnya, menentukam film yang mana yang semestinya akan ditayangkan nanti, proses itu juga belum kulakukan) gara-gara demam pascaliburan ke Lombok ini. Pikiran-pikiran tambahan yang membuat hati gusar akan memperparah sakit, sepertinya.

Otty sering mengkritikku: “Lu jadi orang, santai dikit, napa sih…?!!!” Menurutnya, sakit radangku ini selalu menyerang karena aku selalu mumet dan penuh dengan kekesalan.

Kujawab: “Iya, sih…”

Hanya itu. Mungkin dia ada benarnya juga… tapi aku sendiri juga bingung: harus sesantai bagaimana lagi? Hahaha!

Intinya: sakit beberapa hari ini membuat aktivitasku menciut hingga sedemikian sedikit ukurannya sampai ke “hanya menatap dan mengetik layar smartphone saja”. Melanjutkan tulisan? Gagal total! Faaak! Mencoba diskusi di Kebun Pancoran? Akibatnya, malam ini: kepalaku serasa benar-benar akan meledak dengan tanpa sugab mendublar-dublar.

Jadi, jika untuk mengharap kabar-kabar baru dari perempuan jelita (Ingat! Sheila, panggilannya,) itu saja rasanya sudah semakin membuat kepalaku serasa akan pecah dengan, lagi-lagi, tanpa mendublar-dublar, apalagi harus membahas hal-hal yang sebenarnya masih jauh dari kesanggupan untuk kurealisasikan: hidup sebagai vegetarian. (Meskipun, barang kali, itu justru jawaban untuk mengalahkan musuh bebuyutanku ini, si radang tenggorokan kampret!)

***

Saya mencoba meninjau dengan saksama beberapa blogger yang sudah “menyukai” beberapa post yang saya terbitkan dengan label kategori “Marjinal” di blog pribadi ini. Sematan tag #cinta adalah yang menonjol pada terbitan-terbitan terbaru di blog pribadi mereka masing-masing.

Ah, ya, emang! Topik cinta memang yang paling mudah, menyenangkan, menarik, dan laku, populer untuk diceritakan (minimal, akan jadi bahan gosipan, selain topik seks dan kejahatan…), bahkan mungkin jauh, jauh sebelum teknologi teks ditemukan.

Hm…, saya berniat ingin menulis apa tadinya? Tiba-tiba saja ide tulisan itu bersembunyi entah ke mana… Ck!

***

Mataku sekarang lambat laun menjadi semakin perih, Suitcase Kid… dan kiranya baik jika kita melanjutkan percakapan khayali ini lain waktu. Semoga saja di saat itu, aku sudah sembuh.

(Oh, tapi aku senang, karena hari ini kau terlihat sangat enerjik dan membahana, melanjutkan proyek “konspirasi”-mu yang terbaru itu. Kau tetap saja menarik. Bukankah, begitu…?)

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s