37.

Lombok Utara, 00:43 am

Suitcase Kid, beberapa menit yang lalu kau menjawab pertanyaanku bahwa semangatmu telah kembali dan kini kau sudah bisa bekerja seperti hari-hari biasa (aku berharap, semoga memang sebaik keadaan sebelum ledakan media sosial itu). Aku bukan orang yang berjasa atas keadaan yang membaik ini karena aku yakin, ada pihak-pihak lain yang benar-benar membantumu, baik langsung maupun tidak. Aku justru membangun dialog dengan diri sendiri, selain jadi orang yang sibuk bertanya ini dan itu untuk memenuhi rasa ingin tahuku.

Meskipun mereka dan dirimu sendiri belum bisa menghela napas dan berujar kata “selesai” untuk masalah ini, setidaknya harapan itu ada. Sedangkan diriku, untuk berharap bisa berkata bahwa masalah ini “akan selesai”-pun, kesempatan itu sepertinya tak akan pernah datang kepadaku. Bukan karena aku menantang gagasanmu, tapi karena jarak di antara kita tampaknya memang enggan untuk menyempit, dan jalan tanpa batas yang disenandungkan oleh Sui Zhen itu memang bercabang ke arah yang berlawanan sama sekali.

Belakangan, aku kembali teringat Warsaw dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai. Untung saja mereka tak menagih apa-apa. Siba tengah disibukkan oleh hal-hal tambahan pasca pesta rakyatnya beberapa hari lalu; ia harus menyelesaikan tetek bengek administratif sebelum kembali fokus kepada artikel-artikel Bernas-nya. Rasanya tak mungkin mendesakkan pekerjaan rumah dari Warsaw itu kepadanya sekarang ini.

Sementara itu, pada cerita yang lain, Sheila tak kunjung membalas pesanku, Suitcase Kid. Apakah mungkin karena ia tengah mendaki gunung di Taman Nasional sehingga enggan membalas pesan tentang kabar mahasiswa-mahasiswa Indonesia, rekan-rekan kita, di Polandia itu? Atau justru ia memang tak tertarik untuk membahasnya sama sekali? Ah, ya, sudahlah! Aktivisme mereka tampaknya memang demikian layu; sama saja seperti aktivisme kelas teri di kampus-kampus Depok yang dikelola oleh mahasiswa tingkat S1. Padahal, setahuku, mereka yang sempat kami temui di Warsaw itu, termasuk Sheila sendiri, adalah mahasiswa yang menempuh tingkat Master. Ini turut mengingatkanku pada keluhan Bening tentang mandeknya gerakan atau inisiatif mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Inggris (sebelumnya, aku sempat menduga bahwa mungkin saja karena Bening kurang aktif sehingga gagal menemui lingkaran-lingkaran intelektual yang menggairahkan di sana). Sebaliknya, pesan dari Zimu Zhang, seorang kenalanku dari Cina, yang menanyakan kabar festival film di Jakarta, terasa lebih melegakan dahaga. Menarik kiranya jika bisa bertemu dengannya sekali lagi di tahun ini. Wajar saja, kemarin Hafiz menegaskan kepada Oka, Dhoom, Gozali, Hamdani, dan Siba, bahwa terdapat kebutuhan mendesak bagi kita untuk meluaskan cakrawala berpikir demi membuka jaringan internationale, semangat global, lintas kawasan. Aku kira, Siba dan Gozali lebih mengerti esensi semacam ini daripada yang lain karena mereka memiliki ketulusan dalam bertindak. Mereka sugab mendublar-dublar dalam artian yang nyata, wujud konkret dari apa yang tengah mereka wacanakan: siq siq o bungkuk. Tak ada selain rasa hormat yang dapat kuberikan kepada mereka. Aku bangga mengenal mereka dengan sangat dekat.

Ah, sialan! Aku baru ingat bahwa ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan; sepulang dari Lombok Utara ini, kota Jakarta akan terasa begitu berat karena aku akan kembali ke kebiasaan semula: tidak menatap gunung, sawah, sungai, dan laut…, juga tetangga. Sebab, layar-layar supra tentunya lebih kuat memaksa gesture diriku untuk kembali menjadi workaholic yang menyebalkan! (Atau, sebagaimana kritik Otty, justru akulah yang terlalu lemah untuk berpaling dari ultima teknologis ini, tenggelam dalam keindividualan yang memuakkan.)

Lalu, masih ada teks kuratorial, editorial, dan perihal-perihal database lainnya. Sialan, oh, sialan!

Tapi, kenyataannya memang begitu, Suitcase Kid. Bagaimana pun, kita memang harus kembali “bekerja”. Syafiatudina pernah berujar, pekerjaan kita adalah memproduksi hal-hal untuk menciptakan (atau untuk mengisi) waktu luang orang lain. Terkesan ironis, tapi faktanya kita tetap saja berada di bidang ini.

Pesta rakyat di Pemenang tahun ini selesai, tapi dalam beberapa bulan ke depan, di Jakarta, aku dan beberapa teman masih mengharapkan perayaan-perayaan tentang diorama, seni media, dan sinema. Keadaan ini sering menyebalkan karena waktu yang tersedia terasa sangat padat, tapi ia terus menjadi candu dalam bentuk yang lain karena melalui upaya-upaya semacam inilah kegemilangan-kegemilangan sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Pemenang itu, bisa kita wujudkan. Atau setidaknya, situasi ini bisa menciptakan komunikasi yang lebih berarti, tidak layu sama sekali.

Bukankah begitu, sebagaimana yang mereka juga tahu, betapa menariknya percakapan-percakapan awalku denganmu, Sheila…? Denganmu, Bening…? Dan… tentu saja kau juga, Suitcase Kid?

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s