36.

Lombok Utara, 05:29 am

Kini aku di Kecamatan Pemenang. Beberapa hari lewat tanpa ada pecakapan denganmu, Suitcase Kid. Ternyata tak selamanya kepalaku akan suntuk berpikir mengenaimu. Kalau orang bilang aku sedang jatuh cinta (aku juga mengatakannya demikian), kiranya tepat kalau kita sekarang berujar: jatuh hati pun ada batas kebertahanannya. Bukankah begitu? Mungkin kau tidak setuju, tapi beberapa kali dalam chat panjang kita, sadar atau tidak, kau juga menunjukkan keterbatasanmu untuk bertahan terhadap perasaan senangmu dengan seseorang yang lain. Sering kali, sebagaimana orang-orang juga biasa mengalaminya, keterbatasan itu membeku menjadi jeruji (pada beberapa waktu) dan berubah menjadi tuas (di lain kesempatan) sehingga membuat gairah kita mendekam atau melompat ke titik ekstasi yang melampaui perasaan semata-mata senang; faktor umumnya ialah kekecewaan atas hal-hal kecil atau ketakjuban pada gejala-gejala besar di luar ketubuhan manusia.

Dan kini, aku menemui gejala besar yang lebih baru yang menyita perhatianku dari persoalanmu (meskipun beberapa teman masih saja menggunjingkanmu dan itu membuatku terus saja mengumpat). Aku bersyukur karena gejala besar itu justru peristiwa sosial yang demikian positif: pesta rakyat. Sayang sekali kau tak dibolehkan berangkat ke pulau ini.

Di sini, mereka tak pernah mendefinisikan diri sendiri (secara individual), tapi berusaha merumuskan keberadaan kolektif diri mereka. Mereka menjalankan aktivismenya dengan landasan keimanan tanpa berkoar takbir dan menyerbu toko miras. Mereka Islam, tapi bukan FPI. Merekalah yang menyerukan kekuatan dari kebhinnekaan suatu masyarakat yang terdiri dari tiga agama: Hindu dan Budha, dua agama lainnya. Fenomena di komunitas ini adalah pelajaran yang penting, setidaknya buat diriku sendiri: mereka tiada sibuk mendefinisikan dirinya sendiri. Moral mereka tidak mengarah ke dalam (ke tubuh individual diri mereka masing-masing), tetapi mengarah ke luar (ke orang lain, ke gunung, sawah, ladang, jalanan, sungai, laut, dan… ke tetangga mereka).

Penampakan dan pengalaman semacam inilah canduku yang sebenarnya kuinginkan, Suitcase Kid…

Dan kunci siq siq o bungkuk, seperti yang aku coba jelaskan kepada Maria dua malam lalu, adalah empati. Ya, memang empati..

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s