35.

Jakarta, 11:10 am

Mengapa ada begitu banyak orang yang senang mendefinisikan dirinya sendiri, secara sadar atau tidak? Tak sedikit pula yang aku kenal. Ini selalu membuatku berpikir terus tentang esensi kerendahhatian dan aktivisme itu, Suitcase Kid.

Malam tadi kau berkata bahwa sesuatu menyerang perutmu hingga menjadi mual. Sesuatu itu adalah teks tentang isi kepala dari orang yang ditakuti oleh semua orang. Kepribadian orang macam itu telah difilemkan oleh Hitchcock. Aku merasa bersalah karena faktanya, tanpa sengaja dan tanpa ada pikiran jahat apa pun, justru akulah yang mengirimkan teks itu kepadamu sekitar satu atau dua minggu sebelum ledakan berita tentang kasusmu terjadi. Padahal, saat itu, aku hanya terpikir bahwa literatur tersebut mungkin berguna bagimu untuk memahami beragam konteks, agar kau tak mengawang-awang, supaya kau mengerti hal-hal tentang ketubuhan dan pola pikir—yang kata beberapa orang, harus dipahami baik secara sosiologis maupun antropologis.

Aku jadi mengingat-ingat lagi beberapa kejadian dan percakapan kita, untuk menemukan jawaban, apa gerangan yang mendorongmu membuka berkas yang aku berikan? Ah, ya! Aku sepertinya bisa menebak. Kau semalam tengah berniat menyaksikan The Wind Will Carry Us, ya? Hm… mungkin juga bukan. Tapi memang, filem itu (yang aku kira tak ada di dalam berkas yang aku berikan padamu) memang pas untuk mengimbangi ide-ide yang sedang kau coba bangun dalam rangka mendapatkan penjelasan alternatif mengenai fenomena orang-orang yang—secara bablas mendefinisikan dirinya sendiri—pada akhirnya menyerah terhadap dunia (atau justru mengharapkan lembaran baru di lapisan dunia lain). Dan kita sama-sama menyaksikan bahwa kejadian-kejadian semacam itu masih terus bergentayangan di sehari-hari kita. Kau menangkap maksudku? Ya, fenomena yang telah diangkat oleh Durkheim dalam kajiannya yang terbit tahun 1897.

Aku pun masih geli (walaupun sudah bisa kusangka), orang semacam UTM pun mengamati video yang menghebohkan publik media sosial beberapa hari lalu itu, dengan sesuntuk yang khas sebagaimana biasanya.

“Kau melewatkan ultima media sosial, kalau begitu,” katanya, saat aku mengaku tak kuat melihat video yang telah dihapus oleh Facebook itu.

Mengapa orang-orang tak pernah jengah mendefinisikan dirinya sendiri, Suitcase Kid…?

Aku sering mengira bahwa ini adalah persoalan laten yang diselimuti ego masyarakat industri yang telah melupakan kearifan-kearifan kolektif yang semestinya kita junjung. Padahal, bangsa kita adalah masyarakat industri yang prematur. Kau mungkin tak setuju, begitu juga beberapa orang yang lain, seperti perempuan yang menarik hatiku beberapa waktu lalu, perempuan yang suka sekali pulang-pergi Jakarta-Bandung. Akan tetapi, apa pun yang akan kau katakan, aku justru tidak bisa untuk tidak setuju dengan kolektivitas, dan karenanya aku menolak pandangan perempuan Bandung itu ketika ia mengkritik beberapa perkembangan di daerah Jakarta Selatan.

Tadi malam juga, aku mengamati Maria. Walau berbeda masalahnya, keberadaanku di sampingnya difaktori oleh hal yang sama: pertemanan, dan kepedulian. Belakangan ia tampak mulai bisa menikmati kegembiraan dalam bentuk yang lain, yang berbeda dengan apa yang pernah ditawarkan oleh paguyuban kampus yang memuakkan itu. Tapi, aku sekarang malah menjadi kebingungan untuk menjawab hal-hal yang terlihat jelas sekarang. Apalagi kalau memperhatikan mereka (Asti, Rayhan, Anggra, Pingkan, dan… Melisa…[?] dan… Tyas. Ah, ya… Tyas. Ada lagi: Rambo, Padang, Hanif…, ya, Hanif… dan mungkin juga Ragil).

Aduuuh, Suitcase Kid!

Bukan terang yang kudapat, malah keruwetan tentang bagaimana orang-orang bersikap, berperilaku, dan memandang dirinya sendiri.

Mengapa begitu banyak orang yang suka sekali, sadar atau tidak, mendefinisikan dirinya sendiri…?

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “”

  1. Pingback: Enter title here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s