34.

Pekanbaru, 1:20 am.

Aku tertegun membaca artikel yang kau bagikan di kolom chat kita beberapa menit lalu. Mungkin sekali orang-orang eksklusif akan mengira bahwa itu adalah sebuah tulisan berisi penghakiman tanpa pengetahuan. Mereka menilainya dari sudut pandang ego mereka sebagai orang yang sehari-harinya terus bertindak atau berpikir di bidang ini. Tapi, idealnya kita tak bisa menyalahkan si penulis, apalagi merendahkannya dengan mengatakan bahwa ia tak mengerti seni. Sebab, sebagai bagian dari publik yang kebebasan suaranya dijamin oleh konstitusi, si penulis memiliki hak istimewa untuk memberikan penilaian, meskipun kita bisa saja mendebat bahwa isinya cuma tudingan-tudingan yang tak sedikit mengandung kekeliruan, pengetahuan yang cukup asal, dan menyalah-nyalahkanmu. Namun, dalam hal ini (dan hal-hal lain, di konteks apa pun), aku tidak akan sudi menyalahkannya karena kita, pegiat seni, bukanlah (dan tidak akan pernah tidak bukan) kelompok manusia yang lebih tahu dari yang lain. Kita semua sama bodohnya, sama pintarnya. Akan menjadi salahlah kita jika (bahkan walaupun sedikit saja) berpikir bahwa si penulis itu tidak mengerti seni.

Tidak, Suitcase Kid! Aku tak akan menyalahkannya. Dan memang itulah situasi yang perlu kita hadapi dengan kebesaran hati. Apakah aku harus berkata pula: “Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti…” … ? Apakah harus begitu? Tentu saja tidak! Karena, toh, ini adalah sebuah monolog untuk menampar pikiranku sendiri ketimbang suatu tawaran untuk menggugahmu. Karena memang bukan itulah tujuanku membuka komunikasi khayali ini, dengan sedikit berharap akan menjadi agenda “masa depan bersifat spekulatif”. Tujuanku sederhana saja: kita perlu berpikir ulang, tentang apa yang tengah berlalu, untuk menakar kebijakan-kebijakan pada diri kita sendiri untuk menghadapi saat-saat yang dalam waktu dekat akan segera tiba.

Dan semalaman ini, kita berbincang tentang cukup banyak trivia, tentang si anu dan si anu yang lain. Kau yang lebih banyak bercerita, sedangkan aku mendengarkan dengan tulus dan penuh minat. Saat kau bertanya tentangku, tak banyak yang bisa kuceritakan karena aku bukan pengungkai cerita menarik di saat niatku justru diselimuti ketulusan. Kalau harus membual dengan tujuan tertentu, aku adalah salah satu jagonya. Tapi bukan itu yang sedang kulakukan padamu, Suitcase Kid.

***

Masih ingatkah kalian bahwa di malam toko itu tutup, saya berbincang dengan seorang musisi elektronik (yaaa, begitulah saya menyebutnya sementara ini…) yang penampilannya ternyata kalah menarik dengan ajakan berbincang dari seorang peneliti…? Belakangan saya tahu, pemuda itu adalah teman dari perempuan yang sudah lebih dari sebulan hinggap di kepala saya ini.

Dan dari cerita Suitcase Kid tentang pemuda itu, saya sekali lagi merasa dapat memahami bahwa betapa dunia yang saya jalani ini tak akan pernah lepas dari segi-segi yang selalu membuat perut saya mual: persaingan, eksistensi, dan hal kekanak-kanakan lainnya. Seolah-olah seni telah terlupakan begitu saja sebagai ruang untuk menciptakan keberpihakan pada kebenaran. Apa sebab? Karena pada akhirnya orang-orang seperti ini (mungkin juga saya termasuk di dalammya) hanya akan tampil dalam kepalsuan yang haus pengakuan. Generasi yang demikian jauh dari cita-cita aktivisme yang telah dipancangkan pijakan-pijakan awalnya oleh orang-orang terdahulu.

***

“Apa guna kau menggumam seperti ini?!” kau mungkin akan bertanya, membantah dengan hardikan.

Aku punya hati kecil yang terdiri dari dua kamar, satu sama lain saling melontarkan bunyi-bunyi yang berseberangan. (Bukankah seperti itu kiranya Meliala pernah mengajarkan aku dan beberapa kawan tentang mesin konflik batin yang akan membuahkan moral demi mengimbangi pikiran-pikiran rasional…? Sebentar…! Aku juga ingat bahwa Fauzan juga pernah mengucapkan hal serupa. Dia menggunakan ikan dan roh gentayangan sebagai poros retorikanya). Di kamar yang satu, ada sebuah kursi goyang kecil yang bersedia untuk kau duduki, di sebelahnya ada pula meja kecil dengan sebuah catatan yang juga kecil untuk siap kau baca dengan saksama: catatan ini (dan beberapa lainnya yang sudah ter-post-kan). Tapi, kamar yang lainnya justru terkunci rapat dan di pintunya tertulis: DILARANG MASUK. Oh, ayolah! Apakah kau tak paham bahwa tulisan ini pun juga tak netral dari kegalauan-kegalauan yang persis sama dengan latar curhatan yang kau utarakan padaku dua, tiga, empat, lima hari belakangan? Jadi, aku rasa sebijaknya kau tidak usah gusar dan mengeluh dan menyesalkan catatan ini. Sebagaimana yang telah kukatakan padamu: “Hidup tidak akan indah jika semuanya bisa dijelaskan.”

Aku masih ingat kau hanya merespon kalimat itu dengan ” Aduh 😦 ”

Apa makna reaksi itu? Aku juga tak mengerti jelas…, tapi tak perlu pula dijelaskan, toh…?!

***

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s