33.

Pekanbaru, 4:39 am.

Hampir setiap hari aku bertanya kabar, jawabanmu tak menunjukkan tanda-tanda baik. Meskipun agak mereda, hal-hal yang kau lakukan untuk menegaskan suasana baik itu justru menjadi cermin yang bisa membuatku melihat bahwa semuanya belum baik-baik saja. Sedangkan beberapa menit lalu, dengan gamblang kau menjawab, “Tidak aman.”

Ada dua hal yang membuatku gundah. Pertama, situasi yang kau hadapi, yang nyatanya memang semakin rumit (ditambah hal-hal baru yang bukan saja mengejutkanmu, tetapi bahkan aku). Kedua, rasa khawatirku (yang agaknya) tak masuk perhitungan sebagai hal yang perlu kau pikirkan (Oke! Aku akui alasan kedua ini memang bukan masalah penting dan memang tak perlu kau pikirkan, karena ini hanya masalah perasaan sentimentil belaka; padahal masalah nyata yang sedang kau hadapi jauh, jauh lebih penting, Suitcase Kid).

Kakiku baru saja menapak di Pekanbaru dan kepalaku berpikir rumah kelahiran memanglah surga. Pada senja dua hari yang lalu, aku juga melihat surga dalam bentuk yang lain di pinggir Danau Kembar, tatkala matahari terbenam perlahan dan melukiskan perubahan demi perubahan garis-garis di langit. Beruntunglah mereka yang mengetahui impresionisme, tapi aku tak berdaya untuk mengangkat kamera. Aku terpana, sembari memikirkanmu. Aku rasa, visual yang seperti itulah yang sepertinya mungkin benar-benar bisa mengenyahkan beban pikiranmu selama beberapa menit. (Ah! Sayang sekali aku tak tahu judul lagu yang diputar Gelar waktu itu. Lagunya menarik dan mengentalkan suasana, walau tak sejenius Sun Ra. Akan kutanya nanti padanya, dan akan kuberitahu padamu setelahnya, berharap kau akan menyukainya walau mendengar tanpa sinema impresionistik di depan mata).

Dan semangat-semangatku kini, Suitcase Kid, sungguh sangat ambigu. Kita tahu, HB Jassin telah berucap kepada pengadilan (dan juga kepada kita) bahwa seni seharusnya diadili oleh seni itu sendiri. Kau tentu sudah membaca tulisan Jurnal Karbon beberapa hari lalu, kan? Kita tahu akan hal ini dari tulisan yang cukup bijak itu. Tapi publik adalah pemegang suara segala. Dan celakanya, suara publik adalah momentum yang tak pernah tidak dijadikan peluang bagi mereka yang berkepentingan. Dalam situasi ini, kau yang dituduh telah melukai perasaan orang-orang, justru mengalami luka yang nyata dan tak dipedulikan orang-orang itu. Bukan hanya kau, aku pun menangis tersedu-sedu setiap mendengar kegelisahan-kegelisahanmu. Atau mungkin kau tak pernah menangis, tapi itu bukan berarti pula membuatku malu mengakui bahwa aku menangis sedih mengetahui sedikit semi sedikit kemungkinan arah masalahmu ini.

Suitcase Kid, apa yang bisa kulakukan detik ini selain berkhayal(?): jika aku ada di sampingmu, ku ‘kan letakkan telapak tangan kananku di atas kepalamu seraya berbisik, “Seni selalu berpihak kepada kebenaran, kepada yang tertindas. Percayalah!”

Kita masih harus melihat (atau aku masih harus menunggu), akan bagaimanakah kiranya persoalan ini mencapai bentuk akhirnya? Akan kemanakah kemudian arah angin-angin yang menyelimutinya…?

Karenanya, kita memang perlu meluaskan ketabahan hingga tak terhingga, Suitcase Kid…

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s