31.

Solok, 2:13 am

Ah… Suitcase Kid… 😦

Aku bahkan belum berhasil melihat dengan jelas (lantas mengartikulasikannya dengan bijak) persoalan-persoalan urgent dari apa yang sudah kau lakukan, namun publik telah lebih dulu menunjukkan malapetakanya. Ya, apa namanya kalau bukan malapetaka yang tengah menimpamu kini?

Aku terlambat, gerak gelombang opini massa lebih cepat, lugas, dan tanpa tedeng aling-aling meletakkan kesalahan padamu dengan sangat berat. Dan tak ada yang lebih membuat hatiku sedih menyadari bahwa aku hanya bisa berucap: “Tetap semangat…!” Dukungan yang sangat klise, basi, dan mungkin pula memuakkan di matamu. Tapi aku memang bagian dari publik itu, yang, setelah dipikir-pikir lagi, memang menolak apa yang sudah kau lakukan.

Seandainya saja aku menemukan kejanggalan ini lebih awal… tak akan kubiarkan ini terjadi.

Nyatanya, bukan ketakutan-ketakutan yang selama ini kita dugalah yang semestinya kau gali, melainkan ketakutan akan konsekuensi teknologis yang benar-benar di luar prediksi. Juga, yang lebih utama, ketakutan tentang kegegabahan manusia yang tak dewasa lantas lalai dan dengan ceroboh malah menerabas etika, yang pada akhirnya berujung pada penghakiman publik yang menusuk dengan kejam karakter si terhujat tanpa belas kasih dan pengertian atas duduk perkara. Aku adalah penentangmu, tetapi sekaligus orang yang begitu khawatir tentang keadaanmu kini. Berat rasanya untuk bertanya: Bagaimana keadaanmu kini? Mungkin tak ada yang lebih khawatir daripada aku sekarang ini.

Aku adalah orang yang paling tak ingin melihatmu kemudian jatuh dan menyerah hanya karena masalah ini. Kau memang salah (di mataku, dan di mata publik lainnya), tapi bukan berarti kau lantas dihilangkan. Bagiku, ini merupakan kesalahan yang terjadi karena ketidakpahaman, bukan kesalahan karena nafsu kejahatan. Tapi, masyarakat bukanlah pemegang keadilan sehingga pengadilannya terkadang menimbulkan kepahitan. Sepahit itulah tenggorokanku kini, detik demi detik melihat alur media yang secara otomatis menjalankan perannya untuk melanggengkan polemik ini.

Aku ingin tetap melihatmu, Suitcase Kid. Aku ingin kau tetap ada.

Dan pandanganku secara pribadi sebagai temanmu, sebagai orang yang peduli terhadapmu, tak akan berubah sama sekali meskipun kali ini kau melakukan kesalahan fatal. Aku ingin kau tetap berkarya.

Kesedihanku sungguh sama dengan kegundahanmu. Tak bisa lagi kupingkiri bahwa aku sepertinya memang telah mencintaimu sampai ke titik ini.

Tatkala mimpi dan ramalan membutuhkan tafsir, di saat itulah kaki akan melangkah. Ke mana? Agaknya, kita perlu sejenak melangkah pulang ke rumah, memeriksa kembali rak demi rak estetika yang tak akan pernah lepas dari etika.

Suitcase Kid, aku akan tetap menjadi temanmu, dan akan terus mendukungmu.

Setidaknya, masalah ini telah dan akan menjadi pelajaran berharga buatmu, buatku, buat mereka, buat kita yang juga adalah bagian dari masyarakat yang sedang terluka.

Tetap semangat dan tegar, Suitcase Kid!

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s