30.

Jakarta, 2:20 am

Dipikir-pikir lagi, lagu yang saya sematkan pada post sebelumnya memang tak terlalu memuaskan. Tapi perlu diakui bahwa visualnya membius saya.

Beberapa hari ini, kepala saya belum juga lepas dari memikirkan Suitcase Kid. Sesuntuk yang sedikit demi sedikit membisikkan duga-duga: agaknya arah jalan saya memang bukan ke sana. Sedangkan ketertarikan saya pada karyanya, itu lain soal. Tokonya sudah tutup. Perbincangan tentang ide “membaca buku di berbagai tempat” (sebuah tawaran praktik performatif lainnya yang tak kalah menarik) dengan seorang peneliti yang kebetulan hadir malam tadi, menyita perhatian saya daripada penampilan musik elektronik dari orang yang beberapa menit sebelumnya saya ajak berbincang.

Ketakutan memang tak perlu dicari. Dia ada di benak setiap orang. Pertanyaannya, barangkali, bukan bagaimana memicu takut, tetapi bagaimana meletakkan konteks ketakutan itu. Sementara ini, dalam catatan saya, Suitcase Kid tidak gagal mengartikulasikan ketakutan (sesuai dengan studinya selama ini—argumen tersebut berdasarkan dari apa yang saya amati dari beragam image di media sosialnya, serta dari diskusi-diskusi yang berlangsung sangat singkat), tetapi tampaknya ia gagal menemukan definisi yang tepat yang dibutuhkan oleh orang-orang yang ia libatkan. Tapi, toh, itu tak perlu dipikirkan lebih jauh karena keluhan itu pun hanya mampir ke telinga saya dari dua, tiga orang saja. Karenanya, argumen ini masih belum kuat untuk mendedahnya lebih jauh.

Sayang sekali saya tak berkesempatan untuk mengalami. Tapi, justru, di sinilah posisi minat saya: saya justru melihat bahwa apa yang dilakukan olehnya, perempuan yang kita bicarakan ini, sangat signifikan justru bukan karena pengelanaannya menapaki ketakutan. Ada hal lain… Ya, saya yakin ada hal lain, yang belum terang terlihat di depan mata saya. Tapi kesamarannya begitu mengusik. Benar-benar mengusik. (Perlu saya tegaskan, supaya tidak salah paham sebagaimana keluhan salah seorang dari “generasi ngambek”, bahwa ini bukan persoalan emosional, melainkan sangat rasional. Seharusnya memang begitu.)

Dengan kata lain, jalan ini memang tanpa batas. Tanpa batas. Dan saya yakin, di suatu sisi nanti akan ditemukan persimpangannya. Mungkin oleh saya, atau bisa jadi oleh orang lain. Yang jelas, arah jalannya memang sedang bercabang ke arah yang berbeda satu sama lain.

Sui Zhen, karyanya seolah menjadi asap yang semakin mengaburkan apa yang mengusik saya. Sialan!

Tapi, dari segi bunyi, lagu ini lebih unggul dari video musik yang saya lekatkan pada post sebelumnya. Secara visual…? Ampun! Saya mual~~~ (Ngga, ding! Ini juga tak kalah penting! #asyek).

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s