Aktivasi Ruang Demi Seni Sehari-hari

cover kaleidoskop_caption_1024

“KALIAN…, ANAK MUDA itu, butuh sesuatu…membuat yang lain…!” begitu pernyataan dari WokTheRock, yang di-post oleh akun media sosial Instagram @kaleidoskop.project, dua hari sebelum saya memulai tulisan ini.

Jika diamati dan didengarkan dengan saksama potongan rekaman yang berdurasi kurang lebih 15 detik tersebut, dia yang disebut sebagai Kurator Jogja Biennale 2015 itu sempat menyinggung kata “biennale” dan “triennale” dengan nada yang, rasanya, mengesankan bahwa kedua hal itu bukanlah tujuan pokok dari pernyataannya. Mungkin sekali, jika dugaan saya tak salah, WokTheRock saat itu sedang mengapresiasi penyelenggaraan KALEIDOSKOP—yang pada tahun pertamanya ini mengangkat tajuk “Jauh Dekat 2015”—sebagai program pameran dua tahunan untuk seniman muda terkini Yogyakarta yang mencoba memberikan kemasan berbeda dari salah satu kecenderungan di lingkungan seni kita. Kecenderungan yang saya maksud ialah hasrat untuk menyelenggarakan pameran besar (baik berkelompok maupun tunggal) yang menonjolkan individualitas seniman, beraksi secara artistik dengan orientasi menghasilkan object-based artwork, lantas semakin menguatnya elitisme seniman di tengah masyarakat.

02

Faktanya, kuratorial KALEIDOSKOP pertama ini sejak awal memang diniatkan untuk tampil berbeda, tidak mau terjebak pada dua kata “dua tahunan” yang rentan membatasi seniman dengan beban-beban “biennale”—apalagi, jika beban-beban itu muncul sebagai buah dari kesalahkaprahan memaknai Biennale. Itu siratan yang saya tangkap dari jawaban Syafiatudina, Kurator KALEIDOSKOP 2015, dalam wawancara yang saya lakukan di Ace House, Kamis pagi, 17 September, pasca pelaksanaan presentasi publik “Jauh Dekat 2015”-nya, tanggal 15-16 September. Inti perbincangan kami pun memang tidak membahasKALEIDOSKOP—proyek pameran yang digagas oleh Kedai Kebun Forum, Ruang Mes 56, Ace House Collective ini—sebagai “biennale-nya anak muda” secara lebih jauh.

Saya justru berpendapat bahwa perhelatan “Jauh Dekat 2015” penting untuk dicatat karena peristiwanya turut berkontribusi membumbui perdebatan tentang bagaimana cara kita menilai suatu inisiatif, tindakan, dan peristiwa artistik. Sejak tahun 2008, akumassa, melalui praktik-praktik kewargaannya, juga ikut bergulat dalam perdebatan itu, bahkan hingga ke forum-forum dan meja persidangan akademis. Saya pun menyadari, perlu ada usaha yang lebih untuk menawarkan ancang-ancang baru bagi segala bentuk pola pikir yang berhubungan dengan kegiatan seni di Indonesia, dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan lain. Misalnya, kehadiran sesuatu yang sebelumnya tak lumrah dari sudut pandang artistik seni sebagai hal yang sekarang ini mau tak mau harus diterima oleh kalangan pelaku seni, karena sesuatu itu telah menjadi bagian darinya. Toh, bukankah selama ini, seni, dengan segala “ketidaklumrahannya” itu, telah diterima oleh keseharian kita? Tentu seni, sejatinya, tidak akan menolak hal yang sebaliknya: menerima yang sehari-hari sebagai seni itu sendiri.

03

Sebetulnya, pelaksanaan KALEIDOSKOP tahun ini di Yogyakarta, yang dilakukan oleh satu kurator dan empat belas seniman itu, sedikit-banyak, mirip dengan aksi yang dilakukan akumassa dalam proyek akumassa AdHoc di Kelurahan Paseban, Senen, Jakarta Pusat, untuk Jakarta Biennale 2013: SIASAT. Saya berpikir bahwa kemiripan di antara keduanya merupakan hal menarik yang perlu kita perbincangkan bersama. Alih-alih sekadar soal “anak muda” atau “seniman muda”, saya rasa kita juga perlu mengapresiasi ide-ide seni yang bergerak untuk mengaktifkan “publik bukan seni” sebagai bagian dari peristiwa tersebut. Sebagaimana kata Dina, sapaan si kurator, kepada saya: “Bagaimana kita melihatperistiwa sebagai medium.”

– § –

04
Seniman partisipan KALEIDOSKOP ketika sedang mengikuti kegiatan workshop di Kunci Cultural Studies Center, Ngadinegaran, Yogyakarta. (Foto adalah dokumentsi KUNCI, diakses dari aku instagram @kaleidoskop.project).

“JADINYA KITA MALAH bikin karya bareng-bareng, Zik!” begitu kira-kira penggalan kalimat yang keluar dari mulut Abi, beberapa hari sebelum presentasi publik “Jauh Dekat 2015” dilaksanakan. Saat itu, dia dan dua rekannya, Rambo dan Hanif (mereka bertiga terdaftar sebagai partisipan KALEIDOSKOP 2015 dengan nama Klub Karya Bulu Tangkis), di sela kesibukan proyek “Jauh Dekat 2015”-nya, menemui saya yang sedang mempersiapkan pameran tunggal Otty Widasari, Direktur Program akumassa, di Ark Galerie.

Cerita Abi saat itu membuat saya penasaran, karena katanya, output final dari proyek yang mereka lakukan dalam KALEIDOSKOP tidak akan berbentuk “pameran” seperti yang dilakukan Jakarta 32°C (festival seni kontemporer dua tahunan untuk anak-anak muda dan mahasiswa di Jakarta).

Seniman peserta KALEIDOSKOP di markas Ace House. (Foto diambil dari akun instagram @kaleidoskop.project).
Seniman peserta KALEIDOSKOP di markas Ace House. (Foto diambil dari akun instagram @kaleidoskop.project).

Abi, Rambo dan Hanif bercerita kepada saya, bahwa para partisipan KALEIDOSKOP yang telah berminggu-minggu menghabiskan waktu bersama untuk berdiskusi dan mengelaborasi ide karya, justru menemukan keasikan kolektif yang mendorong mereka untuk memutuskan bekerja secara kolaboratif. Hal itu diakui pula oleh Dina—atau justru menegaskan agenda yang disusun oleh kurator ini [?]—bahwa ada perubahan pola yang terjadi selama proses pengerjaan proyek, yang menurutnya di luar ekspektasi pribadinya sendiri.

“Ternyata, aku menemukan bahwa mayoritas dari mereka (partisipan—red) sudah cocok satu sama lain,” ujar Dina. “Hubungan yang tadinya profesional, antarseniman ini, itu mulai berkembang menjadi afinitas, ketertarikan yang sama, yang tadinya profesional akhirnya jadi personal.”

Hanif, Abi dan Rambo (tiga orang sebelah kiri) ketika mengikuti kegiatan KALEIDOSKOP di markas Ace House. (Foto diambil dari akun instagram @kaleidoskop.project).
Hanif, Abi dan Rambo (tiga orang sebelah kiri) ketika mengikuti kegiatan KALEIDOSKOP di markas Ace House. (Foto diambil dari akun instagram @kaleidoskop.project).

Dina pun menjelaskan, bahwa latar belakang penyusunan kuratorialnya untuk KALEIDOSKOP adalah ide yang berangkat dari Made in Commons, sebuah proyek kolaboratif yang ia lakukan dengan KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta, yang juga berkolaborasi dengan Stedelijk Museum Amsterdam. Proyek ini dimulai tahun 2013 dan baru berakhir Maret lalu. Fokusnya adalah mempelajari secara bersama-sama tata cara pengelolaan dan pendistribusian sumber daya nirmaterial dan material yang juga dilakukan secara bersama-sama. Untuk mencapai tujuan terciptanya “aksi bersama” itu, menurut Dina, kegiatan berbentuk pameran tidaklah cukup sehingga diperlukan aksi-aksi kecil yang sifatnya durasional dan berkelanjutan, sebagaimana halnya sebuah metode riset. Karena ketertarikannya dengan ide ini, Dina berpikir bahwa ‘biennale’ (apalagi dengan embel-embel “biennale seniman muda” yang sempat disinggung panitia KALEIDOSKOP saat mengenalkan proyek ini kepadanya) bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan ide tersebut. Kalaupun ide itu tetap digunakan, hasilnya akan sangat jauh berbeda.

“Ternyata mereka setuju,” kata Dina, tertawa.

07

Saat wawancara ini terjadi, Ace House, yang menjadi base camp mereka selama proyek KALEIDOSKOP, masih dalam suasana sepi karena sebagian besar para seniman partisipan masih terlelap. Malam hari sebelumnya, setelah menutup acara “Jauh Dekat 2015”, seniman-seniman yang sudah seperti ‘kolektif dadakan’ ini berpesta hingga pagi dini hari.

Ditemani jeruk hangat yang kami pesan dari pedagang angkringan yang mangkal di depan Ace House, saya pun melanjutkan pertanyaan yang sedari awal membuat saya penasaran.

“Lalu, kenapa proyek ini berangkat dari ‘waktu luang’?” tanya saya, terkait dengan topik yang menjadi fokus mereka.

“Kita berdasar pada apa yang kita temukan dalam kegiatan dan diskusi-diskusi yang berlangsung selama proses pengerjaan proyek ini,” jawab Dina. “Satu temuannya adalah, bahwa selama kita bekerja sama dalam kolektif yang ‘dipaksakan’ ini, durasi kerja kita semakin panjang. Makan siang, itu kerja, karena sambil diskusi. Naik sepeda, beli rokok, itu kerja. Duduk kayak gini, tuh, kerja. Maksudnya, memang seperti kerja beneran, berdiskusi. Kita bahkan membuat semacam time table, dan aku minta mereka (partisipan—red) menandai mana kegiatan-kegiatan yang kerja dan nonkerja.  Yang termasuk ‘gak kerja’ itu adalah tidur. Akhirnya, ya, kita ngomongin tentang itu, durasi kerja yang panjang. Bahwa, ini karakter dari ekonomi kreatif, yang kerja itu justru otaknya, kerjanya bisa di mana saja. Bagaimana sebenarnya, dalam seni, kerja di sini artinya adalah kita bekerja untuk menciptakan waktu luang bagi orang lain.”

Dina juga menerangkan lebih jauh, bahwa di media cetak arus utama pun, seni-budaya diletakkan dalam rubrik khusus yang masuk dalam kategori ‘waktu luang’ atau hiburan, misalnya edisi Harian Kompas yang terbit di hari Minggu. Dan menurutnya, meskipun di masyarakat kita belum ada tradisi atau budaya bermuseum, pada kenyataannya kegiatan mengunjungi museum—atau acara-acara kesenian lainnya—memang selalu dilakukan di hari-hari ‘waktu luang’.

“Kita (seniman—red) bekerja untuk menciptakan waktu luang bagi orang lain, tapi kita justru tidak punya waktu jeda yang luang, selain tidur,” ujar Dina.

KALEIDOSKOP 2015: Simulasi 01. (Foto dari dokumentasi tim KALEIDOSKOP).
KALEIDOSKOP 2015: Simulasi 01. (Foto dari dokumentasi tim KALEIDOSKOP).

Menanggapi lebih jauh pertanyaan saya, Dina memaparkan bahwa selama proyek KALEIDOSKOP berjalan, ia dan para seniman melakukan dua macam simulasi sebagai pra-presentasi publik “Jauh Dekat 2015” untuk membicarakan ‘waktu luang’ tersebut. Simulasi pertama, ialah kegiatan tidur. Dengan simulasi ini, mereka berbicara soal sudut pandang dalam memaknai kerja: bagaimana jika tidur menjadi sebuah kerja? Melalui simulasi itu—meminta semua seniman partisipan melakukan performance tidur, benar-benar tidur—aktivitas tidur pun menjadi sebuah kerja (yakni, kerja seni). Simulasi kedua, kegiatan diskusi, tetapi menggunakan teknologi berkirim pesan via telepon seluler, yakni aplikasi Whatsapp. Semua partisipan hadir di dalam ruang fisik yang sama, tetapi kegiatan diskusi berjalan di ruang maya. Menurut saya, ini juga berhubungan dengan ‘waktu luang’ tatkala ‘forum-forum gembira’ melalui fitur grup whatsapp diubah fungsinya menjadi ruang diskusi yang dijalankan secara serius.

KALEIDOSKOP: Simulasi 02 (Foto dari dokumentasi KALEIDOSKOP).
KALEIDOSKOP: Simulasi 02 (Foto dari dokumentasi KALEIDOSKOP).
KALEIDOSKOP: Simulasi 02 (Foto dari dokumentasi KALEIDOSKOP).
KALEIDOSKOP: Simulasi 02 (Foto dari dokumentasi KALEIDOSKOP).

Karena saya berangkat dari perspektif akumassa untuk menyusun rangkaian pertanyaan, saya pun bertanya, “Selama proses kegiatan KALEIDOSKOP, pada fase mana terjadi proses transfer atau aksi berbagi pengetahuan dengan warga masyarakat, dalam artian yang konkret?”

Pertanyaan ini dijawab oleh Dina dengan menjelaskan bahwa seniman-seniman didorong untuk melakukan riset di seluruh area lokasi yang menjadi tempat kegiatan mereka, yakni di sekitaran Jalan Mangkuyudan, Kelurahan Mantrijeron, Yogyakarta. Meskipun sejak awal metode yang mereka lakukan sangat berbeda dengan akumassa—di akumassa, bukan seniman tapi justru wargalah yang menjadi partisipan kegiatan—proses riset (misalnya, observasi lokasi dan negosiasi perizinan dengan pengurus RT-RW-kelurahan) yang dilakukan seniman-seniman ini membuka suatu dialog yang menuntut mereka harus menjelaskan secara detail maksud dan agenda kegiatan KALEIDOSKOP. Dalam dialog-dialog dengan warga itulah, menurut Dina, terjadi transfer pengetahuan dan pengalaman timbal-balik antara seniman dan warga. Seniman menjadi mengerti apa yang dibutuhkan warga, sedangkan warga menjadi mengerti apa manfaat yang dapat ditarik dari kerja-kerja berbasis seni.

– § –

11

SIANG MENJELANG SORE, 15 September, saya berjalan menuju lokasi pertunjukan acara “Jauh Dekat 2015” yang dalam beberapa menit akan segera dibuka. Pasukan KALEIDOSKOP memilih sebuah bangunan kosong peninggalan Perum DAMRI (Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia) yang jaraknya hanya 3-5 menit berjalan kaki dari Ace House. Ketika berada di depan gerbang, saya mendengar sebuah pengumuman yang berasal dari pengeras suara sebuah tower, memberitahukan bahwa hari itu dan esoknya, di Ex-Pool DAMRI, Jalan Mangkuyudan No. 50A, akan dihelatkan sebuah kegiatan seni yang diinisiasi oleh anak-anak muda. Si pemberi pengumuman mengimbau seluruh warga RT-RW yang tinggal di sekitaran sana untuk datang beramai-ramai ke acara tersebut.

Tim KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” melakukan briefing sebelum membuka acara.
Tim KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” melakukan briefing sebelum membuka acara.

Saat memberikan kata sambutan pada pembukaan acara “Jauh Dekat 2015” (yang juga dihadiri oleh perangkat RW dan Pak Lurah Mantrijeron), Pak Pur sebagai RT yang menjadi tuan rumah, memaparkan bahwa gedung DAMRI yang menjadi lokasi pertunjukkan tersebut, awalnya, diyakini sebagai tempat yang angker. Jarang ada warga yang berani masuk ke area gedung itu akibat desas-desus keangkerannya. Namun, menurutnya seniman-seniman muda ini sangat berpikiran rasional dan berani sehingga dapat membuktkan bahwa ternyata, area gedung DAMRI itu bisa difungsikan sebagai tempat yang nyaman bagi kegiatan-kegiatan publik.

Pembukaan KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” di Ex-Pool DAMRI, Kelurahan Mantrijeron, Yogyakarta.
Pembukaan KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” di Ex-Pool DAMRI, Kelurahan Mantrijeron, Yogyakarta.

Saat saya berdiskusi dengan Rambo, malam harinya, saya jadi tahu bahwa alasan pemilihan gedung DAMRI sebagai lokasi acara ternyata juga cukup menarik. Masih berhubungan dengan ide mereka mengenai ‘waktu luang’, bahwa aktivitas kerja di perkotaan memunculkan dampak pembangunan yang demikian cepat, tapi di antara gerak pembangunan itu, ada satu titik lokasi yang ‘berhenti’, yakni gedung DAMRI tersebut. Para seniman KALEIDOSKOP pun berinisiatif mengaktifkan sesuatu yang berhenti itu, salah satunya adalah membuat beragam acara kesenian di dalamnya. Isu mengenai DAMRI juga menarik, karena seperti yang diutarakan Dina saat membuka acara “Jauh Dekat 2015”, bahwa masalah krisis angkutan kota di Yogyakarta sesungguhnya juga terepresentasi dari objek riil bus-bus yang terbengkalai di dalam gedung yang ditinggalkan tersebut. Ironi inilah yang kemudian juga menguatkan niat para seniman KALEIDOSKOP untuk memilih Ex-Pool DAMRI sebagai lokasi peristiwa seni: bekerja untuk mengaktifkan sebuah ruang yang mati sebagai tempat baru demi penciptaan ‘waktu luang’ bagi warga, yang secara tidak langsung justru akan mengaktifkan warga itu sendiri.

Seniman-seniman KALEIDOSKOP menempel poster di dinding di area jalan masuk ke gedung DAMRI.
Seniman-seniman KALEIDOSKOP menempel poster di dinding di area jalan masuk ke gedung DAMRI.

Namun, ada cerita yang mengusik selama persiapan acara “Jauh Dekat 2015” ini. Menurut Dina—begitu pula yang saya dengar dari Abi, Rambo dan Hanif—awalnya gedung kosong itu benar-benar terbuka, dalam artian tidak ada pembatas resmi (semacam pagar atau palang pintu) yang menutupnya. Saat empat belas seniman KALEIDOSKOP mulai keluar-masuk gedung untuk observasi, serta mengurus perizinan dengan pihak DAMRI yang kantornya telah berpindah di lokasi yang lain, di suatu hari secara tiba-tiba gedung tersebut diberi pagar.

“Ini menarik. Aksi kami seakan memberi tahu pihak DAMRI bahwa gedung itu adalah aset berharga,” ujar Dina.

Inisiatif mengokupasi sebuah ruang yang awalnya seperti tak ada batas dengan warga itu, justru memunculkan batas fisik, karena ada pagar baru yang menutup area gedung. Tapi, apakah itu menyebabkan keterbatasan lain yang akan menyulitkan warga untuk memanfaatkan gedung yang tak terpakai tersebut? Jika awalnya gedung itu mati karena ditinggal pemiliknya dan hampir tak pernah didekati oleh karena mitos-mitos gaib yang beredar, kini warga masih harus berhadapan dengan keterbatasan baru: sang pemilik mulai menunjukkan bahwa mereka masih menguasai area gedung DAMRI.

“Itu bagaimana?” tanya saya kepada Dina.

“Itu menjadi keuntungan yang lain,” jawab Dina. “Karena dengan begitu, warga justru memiliki patokan yang jelas jika ingin menggunakan gedung tersebut. Mereka jadi tahu harus ke mana mengurus izin, tidak lagi terjebak dengan mitos-mitos yang beredar.”

Artinya, seni dalam hal ini memecah mitos-mitos itu menjadi sesuatu yang lebih konkret: paling tidak, warga tidak perlu membuat proposal ke hantu.

– § –

TULISAN SAYA INI sempat tertunda selama beberapa hari karena kesibukan mengurus kegiatan yang lain. Sudah sebelas hari KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” berlalu. Abi, Rambo dan Hanif tampaknya betah di Yogyakarta. Saya tidak tahu, apakah mereka masih berada di kota itu, tapi hingga hari ini, saya belum melihat batang hidung mereka di Forum Lenteng.

Beberapa hari yang lalu, sekelompok mahasiswa Jurusan Krminologi Universits Indonesia, datang menemui saya untuk berkonsultasi mengenai acara proyek sosial yang akan mereka lakukan di bulan Oktober hingga November. Mereka berkata, “Kami ingin bikin pameran, Bang!”

Karenanya, kepala saya kembali menerawang pengalaman ketika mengerjakan proyek akumassa AdHoc dua tahun lalu di Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Mengundang beberapa pegiat akumassa dari beberapa kota untuk datang ke Jakarta, kami kemudian tinggal selama beberapa minggu di sebuah kontrakan di kelurahan itu, berbaur dengan warga lokal di sana, saling bertukar pengalaman dan gagasan untuk membuat sesuatu di sebuah lapangan, bernama Lapangan Perintis. Salah satunya, kegiatan lokakarya fotografi menggunakan kamera ponsel bersama anak-anak di lingkungan Paseban selama tiga hari.

17

18

Dokumentasi akumassa AdHoc (2013) di Paseban, Senen, Jakarta Pusat.
Dokumentasi akumassa AdHoc (2013) di Paseban, Senen, Jakarta Pusat.

Kegiatan lokakarya itu ditutup dengan semacam aksi ‘performance’. Kami, pegiatakumassa AdHoc, bersama anak-anak peserta lokakarya fotografi, menempel karya-karya foto yang sudah dicetak ke salah satu dinding bangunan di pinggir Lapangan Perintis. Aksi men-display beramai-ramai itu, menurut Otty Widasari, juga dapat dilihat sebagai peristiwa yang artistik dan menawarkan suatu estetika lain dalam seni: estetika berkomunitas, barangkali. Bukan lagi dilakukan terbatas hanya oleh seniman, proses peletakan objek-objek seni di sebuah ruang pamer (yang dalam hal ini, adalah ruang publik) mengalami pergeseran makna tatkala aksi itu dilakukan secara sadar oleh warga masyarakat umum. Dengan kata lain, definisi seni pun mengalami perubahan pula (walau sedikit saja). Tidak hanya dapat melihat karya fotografi, orang-orang yang berlalu lalang atau nongkrong di sekitaran lapangan itu juga dapat menyaksikan sebuah pertunjukan tentang bagaimana proses karya-karya itu ditampilkan ke publik. Situasinya kalang kabut, anak-anak menempel foto-foto hasil jepretan mereka sendiri di tempat yang mereka inginkan, sangat riuh. Foto-foto yang jumlahnya ratusan itu terpajang secara ‘berantakan’ di dinding, tetapi menunjukkan suatu pola tertentu sehingga ‘susunan tidak teratur’ itu menjadi sebuah ‘keteraturan organik’ yang memberikan pengalaman keindahan yang berbeda. Kesimpulan saya berdasarkan pengalaman tersebut, itulah seni, di situlah aspek artistiknya.

Saya pun mendorong kawan-kawan mahasiswa kriminologi UI untuk melakukan hal yang sama: melakukan lokakarya di markas mereka yang lokasinya berada di tengah-tengah kampung di dekat Jalan Kober, Depok, dan melibatkan warga lokal di sana dalam kegiatan-kegiatan mereka. Jujur saja, usulan saya itu juga dipengaruhi oleh pengalaman sehabis menyaksikan KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015”.

20

Acara KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” itu berlangsung selama dua hari. Orang-orang yang ingin menyaksikan penampilan band (hari pertama) di acara “Jauh Dekat 2015”, dianjurkan membayar tiket masuk, tapi tiketnya adalah beras. Tapi bukan berarti jika tidak membawa beras, tidak bisa masuk. Sebab, semua acara terbuka untuk warga umum. Oleh panitia, beras-beras yang sudah terkumpul itu kemudian digunakan sebagai bahan untuk memasak bersama oleh seniman-seniman (dilakukan di hari kedua), dan mengundang warga-warga sekitar untuk hadir menyantapnya.

Acara masak-masa bersama di hari kedua KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015”. (Foto dari dokumentasi KALEIDOSKOP).
Acara masak-masa bersama di hari kedua KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015”. (Foto dari dokumentasi KALEIDOSKOP).

22 23 24

Saya masih ingat, di antara semua rangkaian acara (penampilan band, mural, kegiatan masak berjamaah, dan nonton bareng), betapa menariknya penampilan Lansia Band di acara pembuka “Jauh Dekat 2015” itu. Tampil dengan gestureyang kaku, mereka memainkan alat musik dengan sound system sederhana—sering kali nada lagunya terdengar sumbang—lima orang personel lanjut usia itu melantunkan lagu-lagu lawas. Dua orang seniman dari KALEIDOSKOP, Rambo dan Arum Tresnaningtyas, turut tampil berkolaborasi dengan Lansia Band. Mungkin, bagi penonton yang menginginkan pertunjukan musik yang baik, penampilan Lansia Band tampak tidak artistik sama sekali. Tapi, bagi saya, justru penampilan merekalah puncak dari gagasan tentang “seni bersama warga” yang dilakukan oleh “Jauh Dekat 2015”. Sebab, sejauh amatan saya, pada saat penampilan mereka, interaksi natural antara ‘pelaku seni’ dan ‘warga awam’ terjadi dengan sangat cair: terjadi dialog yang jelas antara si pemain musik di pangung dan warga yang menyaksikannya di bangku penonton, karena di antara mereka, hubungan kekerabatan sosial itu telah terbangun cukup lama. Dengan kata lain, acara itu tidak hadir hanya untuk “publik seni”, tetapi untuk publik yang benar-benar umum.

Lansia Band tampil di KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” (Foto dari akun instagram @kaleidoskop.project).
Lansia Band tampil di KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” (Foto dari akun instagram @kaleidoskop.project).

Kembali ke istilah yang saya singgung di awal tulisan, Federica Martini (penulisJust another exhibition. Histories and politics of biennials, Postmedia Books, 2011) menganggap Biennale adalah tentang potensi hubungan-hubungan diplomatik serta rencana-rencana pembaruan urban. Ia tak sekadar berbicara tentang “di sini dan sekarang” dan dampaknya terhadap “spektakularisasi sehari-hari”. Martini juga melihat bahwa peristiwa kultural (atau perisitwa seni) dalam konsep Biennale harus merujuk, memproduksi dan membingkai sejarah sebuah lokasi dan memori-memori kolektif warganya.

Saya pribadi setuju dengan pengertian Biennale yang saya kutip dari Wikipedia itu, bahwa yang artistik dari Biennale adalah juga terletak pada kepekaan sang seni dan seniman terhadap relasi-relasi yang mungkin terbentuk antara diri mereka dan warga, tentang bagaimana hubungan itu berjalan secara timbal balik. Bahwa, yang artistik kini tidak lagi dinilai semata-mata dari tampilan fisik, menurut saya, Dina tak perlu khawatir apakah KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015” itu telah mengingkari harapan-harapan tentang perayaan dua tahunan.

Tim KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015”.
Tim KALEIDOSKOP “Jauh Dekat 2015”.

Anak muda itu, butuh sesuatu…membuat yang baru, yang bisa menjauhkannya dari ketidakpercayaan diri atas definisi-definisi seni yang mapan, dan mendekatkannya kepada warga yang selalu siap berpartisipasi, untuk mewujudkan seni yang sifatnya lebih sehari-hari.***


Tulisan ini sudah pernah dimuat di Jurnal akumassa (28 September, 2015).

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Aktivasi Ruang Demi Seni Sehari-hari”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s