Otty Widasari: Yang Melihat Media

cover otty widasari yang melihat media_caption

Lukisan dan Sinema

ADA TIGA HAL yang pertama sekali ingin saya utarakan dalam kuratorial ini, sehubungan dengan usaha untuk meletakkan pondasi dan kerangka dalam membangun nilai-nilai pemahaman terhadap aksi bermedia yang dilakukan oleh Otty Widasari—sengaja saya garisbawahi kata “bermedia”, karena itulah satu kata yang cukup mendeskripsikan sang seniman ini secara menyeluruh.

Pertama, jawaban sederhananya atas pertanyaan yang dulu pernah saya ungkapkan, “Mengapa selalu mencatat di buku harian?”, padahal kini, ia—sebagaimana orang kebanyakan—telah akrab dengan teknologi tanpa-tulis-tangan. Jawabannya biasa saja: “Agar tidak lupa.” Bukankah sekarang mencatat hal-hal kecil di perangkat digital nirkabel juga memungkinkan, bahkan (bagi sebagian besar orang) justru lebih memudahkan? Jadi, mengapa aktivitas menulis dengan tangan tetap menjadi penting baginya?

11053323_10153152416751732_3085117567335526632_n

Kedua, di banyak lembaran buku hariannya—ia sering menunjukkan beberapa halaman kepada saya dengan selalu semangat—Otty senang menggambar wajah orang-orang yang dekat dengannya atau berada di dekatnya. Ia juga suka menggambar hal-hal lain, seperti badan manusia, benda-benda bukan orang, atau bentuk-bentuk yang tidak mengacu ke objek riil selain titik-titik, garis-garis dan kotak-kotak. Akan tetapi, goresan pulpen atau cat air—dua alat yang paling sering ia gunakan untuk catatan hariannya, sejauh yang saya tahu—yang merupakan wajah-wajah orang, sangat dominan. Wajah-wajah orang yang ia gambar itu beberapa dapat saya kenali, beberapa tidak. Ia juga sering meminta saya menebak wajah siapa yang sudah ia gambar, menguji ketangkasan visual saya untuk mengilasbalik realitas dan pengalaman sehari-hari untuk dikontekstualisasikan dengan representasi yang terpampang di lembaran buku hariannya itu.

Sebelumnya, saya sempat menduga, berdasarkan perhatian saya terhadap kebiasaannya, mungkinkah kegiatan santai sehari-hari sambil menggambar wajah orang-orang itu adalah tindakan di bawah alam sadarnya untuk mempelajari karakteristik mereka yang ia kenal? Saya kemudian teringat, ketika kami pernah berdiskusi mengenai disiplin ilmu apa yang kami dambakan masing-masing, Otty menyebut bahwa ia ingin sekali mendalami antropologi. Baru beberapa menit yang lalu, saya menyadari, rasanya tak mungkin tindakan tersebut dilakukan tanpa kesadaran.

11998881_10153152416171732_5022548632416268854_n

Ketiga, komentar seorang kawan yang tinggal di Amsterdam terhadap lukisan-lukisan dan sketsa-sketsa Otty yang dibuat selama residensi satu bulan di Utrecht, Belanda, penghujung tahun lalu. Berdasarkan komentar kawan kami yang seorang pembuat filem itu, Otty memiliki jalan setapaknya sendiri: di saat orang-orang beralih dari teknologi seluloid ke teknologi serba digital untuk mencari kemungkinan-kemungkinan terbaru dalam memahami dunia representasi dan realitas citra diam maupun citra bergerak—atau justru jangan-jangan kita sedang berusaha berlari kencang untuk menghindari kenyataan, bahwa teknologi pun tak mampu hidup abadi—Otty justru bersinema menggunakan medium lukis.

“Lukisanmu menghidupkan yang telah mati,” kata kawan kami itu. Rasanya, bagi saya, Otty justru dengan sadar memanggil kembali kodrat media yang melekat di masa awal sejarah, yakni dengan melakukan perekaan bentuk dan pengungkaian kata melaui kegiatan menggores atau menyapu menggunakan tangan.

12003420_10153152416906732_9106626487849214186_n

Di era termutakhir saat manusia telah mampu membuat dan menggunakan pelbagai teknologi perekaan super canggih yang dapat membuat representasi objek (lantas mereproduksinya) menjadi 100% serupa dengan bentuk riil, pemilihan “tata cara lama” untuk membingkai kenyataan dan imajinasi, seperti kegiatan melukis, saya rasa masih relevan untuk dilihat pada hari ini sebagai sebuah aksi untuk membaca bagaimana sesungguhnya kerja media dalam mengkonstruksi realitas dan sejarah kita.

12003898_10153152416586732_88244120644764666_n

Perlu diketahui—dan inilah alasan mengapa saya menyebutnya bermedia—keakraban Otty dengan media tidak hanya dengan lukisan dan tulisan (namun dua hal itu tetaplah yang utama baginya). Filem dan video—belakangan, ia senang menguliti teknologi digital pada ponsel pintar miliknya—adalah dua macam teknologi media yang turut memengaruhinya dalam memahami realitas dan representasi, terutama dalam aktivitasnya berjibaku dengan visual. Mengacu latar belakang tersebut, berarti ada aspek terkait gagasan sinema yang wajar dan patut disinggung dalam proyek pamerannya ini.

Merujuk kepada sejarah teori sinema, André Bazin pernah membahas benturan antara lukisan dan sinema (Bazin, 1967). Tentu saja, Bazin duduk di sisi sinema dalam menilai perbedaan sifat dan medium dari keduanya. Terutama, pokok-pokok yang dia sorot adalah soal kemungkinan yang terjadi jika lukisan—atau seni rupa—hadir ke dalam karya filem. Bazin lantas mengutarakan pandangannya mengenai perbedaan garis tepi yang membatasi visual di dalam lukisan dengan yang di dalam sinema/filem. Garis tepi “bingkai” (atau frame, yakni milik lukisan) berbeda dengan garis tepi “layar” (atau screen, yakni milik sinema): yang pertama memiliki gaya sentripetal—tarikan mengarah ke dalam—sementara yang kedua memiliki gaya sentrifugal—tarikan mengarah ke luar.

12004065_10153152416021732_617480907145423436_n

Bingkai yang membatasi gambar (picture) pada lukisan memposisikan dunia yang ada di dalamnya menjadi berdiri sendiri. Interpretasi seorang pelukis atas dunia riil terpusat ke dalam bingkai sehingga “keadaan terhubung” dengan dunia di luar bingkai itu hilang sama sekali meskipun visual yang kita lihat, bisa saja, merepresentasikan sesuatu yang ada di alam semesta. Bagi Bazin, dunia representasi pada lukisan adalah “daerah kontemplatif sang pelukis yang membuka semata-mata ke bagian dalam lukisan” (hal. 166) dan “menyertakan suatu ruang yang bisa dikatakan berorientasi ke tujuan berbeda” (hal. 165). Sementara itu, garis tepi pada layar adalah “tepian dari selapis alas yang menunjukkan sebagian saja dari kenyataan” (hal. 166) dan lebih tepat dilihat sebagai garis transparan yang memungkinkan dunia citra (image) di dalamnya niscaya terhubung tanpa batas ke alam semesta kita. Jika diandaikan ada sepotong bagian dari gambar lukisan yang ditampilkan sebagai citra di atas layar, pada dasarnya, gambar tersebut telah mengalami pemuaian, dan oleh karena itu “ruang lukisan kehilangan orientasinya dan batas-batasnya, dan dihadirkan ke imajinasi dengan tanpa batas apa pun” (hal. 166). Artinya, saat berhadapan dengan layar—dengan kata lain, berhadapan dengan sinema, contohnya, menonton filem tentang lukisan—sesungguhnya “penonton melihat gambar (lukisan) melalui perantaraan (atau alat bantu) milik sebuah bentuk seni yang sangat mengubah kodrat lukisan itu sendiri” (hal. 165).

12009775_10153152416861732_6569372676048057134_n

Penjelasan Bazin tersebut menunjukkan, bahwa perbedaan “bingkai” dan “layar” dapat diindikasi dari aspek “tangibilitas” materialnya, terutama ketika mereka dipresentasikan ke hadapan orang-orang. Sementara kita dapat meraba material yang ada di dalam “bingkai”, yang kita saksikan di atas “layar” sesungguhnya hanyalah cahaya yang tak dapat disentuh. Inilah yang kemudian mendorong Bazin untuk menyatakan bahwa gambar lukisan yang ditangkap kamera, yang citranya kita lihat di layar tontonan, sesungguhnya telah mengalami pergeseran sifat, bentuk dan medium. Lukisan yang dimaksud telah “menerima sifat spasial sinema dan menjadi bagian dari sinema itu sendiri” (hal. 166).

Refleksi dialektis terhadap teori itu, mungkin, memancing kita untuk melemparkan pertanyaan sederhana: bagaimana jika suatu proses yang berkenaan dengan gambar (pictorial process) itu dibalik, dari ranah sinema ke ranah seni rupa (atau dari filem ke lukisan)? Jika itu dilakukan, bukankah inisiatif itu dengan demikian akan menyertakan suatu ruang yang diorientasikan dalam sebuah haluan yang berbeda, yakni ruang yang berkiblat ke arah atau tujuan yang sama sekali berlainan dengan maksud citra bergerak? Lantas, apa spekulasi yang dapat diajukan dari perubahan itu, khususnya di masa kini?

Ones Who Looked at the Presence

PROYEK PAMERAN INI adalah bagian dari proyek seni berkelanjutan Otty Widasari yang dimulainya sejak residensi di Utrecht, Belanda, tahun lalu. Sang seniman mengembangkan dan mengeksplorasi hubungan antara media, arsip, aksi dokumentasi, dan fenomena reproduksi.

Otty melakukan riset mendalam terhadap arsip-arisp kolonial yang menunjukkan bagaimana teknologi perekaman dan gambar bergerak hadir di Hindia Belanda serta bagaimana reaksi orang-orang pada masa itu terhadap kamera. Otty pernah menyampaikan pendapatnya kepada saya, bahwa kamera, bagaimanapun, akan selalu menggugah sebuah lokasi, apakah itu berupa penolakan ataupun penerimaan dari subjek-subjek yang akan disorot oleh teknologi tersebut. Reaksi terhadap kamera, setidak-tidaknya, terlihat dari tingkah laku atau sikap seseorang ketika berada di dekat teknologi tersebut.

Liputan Harian Kompas (12 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Harian KOMPAS (12 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.

Arsip-arsip yang dikumpulkan dan menjadi bahan riset utama Otty adalah materi gambar bergerak hasil rekaman yang dilakukan oleh penjajah kolonial terhadap tujuh lokasi, yakni Balikpapan, Banjarmasin, Toraja, Jakarta (dan Bandung), Jawa Tengah, Lamalera (Kabupaten Lembata), dan Papua. Peristiwa dan situasi di setiap lokasi yang direkam tersebut memiliki muatan spesifiknya masing-masing.

Rekaman di Balikpapan menunjukkan suasana di sekitar pelabuhan dan pantai di dekat sebuah teluk dan bukit, dan di lokasi itu terdapat suatu area kilang minyak. Kamera menyorot pemandangan dari arah kapal datang, dan kita akan melihat orang-orang Barat—yang sangat dapat diduga adalah petugas kilang minyak di masa itu—beraktivitas di sekitaran pantai, semacam berlibur di sela hari-hari kerjanya. Ada juga subjek-subjek yang merupakan orang-orang berkulit cokelat yang tampak sebagai kuli.

Rekaman di Banjarmasin menunjukkan suasana kota dan pasar. Ada pedagang [tukang obat?] yang menawarkan barang dagangannya. Anak-anak bermain-main, dan beberapa di antaranya merespon kehadiran kamera, seakan menyapa kita tanpa ada rasa beban sama sekali. Rekaman di Toraja adalah peristiwa upacara adat penguburan mayat. Sementara itu, rekaman di Lamalera menunjukkan aktivitas penduduk lokal ketika berburu paus—di antara para pemburu paus itu, ada juru tombak yang bergelar lamafa.

Rekaman di Jakarta—dan juga Bandung, tetapi tidak terlalu banyak—menunjukkan suasana di sekitar Waterlooplein (sekarang kita mengenalnya dengan nama Lapangan Banteng) dan aktivitas orang-orang bermain bola. Sedangkan rekaman di Jawa Tengah menunjukkan aktivitas dan suasana pembangunan rel kereta api yang pada masa itu (akan dimanfaatkan) sebagai jalur distribusi bahan-bahan logistik, serta aktivitas penduduk setempat dan para petugas kolonial saat mengeksploitasi tanaman jati. Jalur kereta yang dimaksud melintasi daerah Magelang, Muntilan dan Yogyakarta. Rekaman lokasi Jakarta dan Jawa Tengah ini dapat kita ketahui dibuat oleh J.C. Lamster (berdasarkan teks yang tertera di dalamnya), dan tampak diperuntukkan sebagai laporan mengenai perkembangan pembangunan infrastruktur kepada pemerintah kolonial Belanda—pembangunan jalur kereta itu, misalnya, telah dimulai sejak Raja Willem I.

Sementara itu, rekaman di Papua, menceritakan kehidupan masyarakat suku Asmat. Rekaman ini telah dikonstruksi sebagaimana dokumenter yang umumnya kita kenal, menceritakan keadaan di periode pascakemerdekaan Indonesia, tahun 1948-1952 [?]. Akan tetapi, rekaman ini sebagiannya berisi foto-foto dokumentasi. Pada skena-skena gambar bergerak, beberapa di antaranya kita dapat melihat aktivitas subjek-subjek anggota suku yang sedang menyampan perahu atau satu-dua orang yang menyadari sedang diperhatikan oleh kamera.

Liputan Harian Kompas (20 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Harian KOMPAS (20 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.

Otty sendiri tumbuh menjadi dirinya sekarang dengan karakter hasil tempaan pengalaman menjelajah begitu banyak lokasi. Di masa remaja, Otty juga sering berkunjung ke lokasi-lokasi seantero Jawa. Selain itu, kisah-kisah dari ibunya mengenai daerah perumahan tempat terletaknya area kilang minyak di Balikpapan—kota kelahiran dan masa kecil Otty—dan cerita-cerita di Ambarawa, menjadi faktor penguat betapa Otty memiliki pengalaman personal yang kuat dengan daerah-daerah tersebut. Di Balikpapan itu, misalnya, kisah ibunya tentang cahaya-cahaya lampu perumahan di area kilang minyak yang katanya dahulu membentuk mahkota Wilhelmina di malam hari, terbentuk menjadi suatu imajinasi yang tak dapat dilepaskan dari romantisasi sang seniman terhadap lokasi tersebut. Bahkan di Jakarta, tempat-tempat peninggalan kolonial pun menjadi lokasi yang sering ia kunjungi bersama ayahnya, ke berbagai tempat yang dulunya menjadi tempat bermain ayahnya sewaktu kecil saat tinggal di Jl. Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat. Latar belakang ini menunjukkan, bahwa beberapa lokasi yang terekam di dalam arsip citra bergerak, memiliki korelasi dengan pengalaman personal Otty yang selalu berpindah-pindah. Pengalaman ketubuhan terhadap lokasi tersebut, tentunya, memengaruhi bagaimana Otty menginterpretasi arsip-arsip citra bergerak tersebut.

Liputan Majalah GATRA (25 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Majalah GATRA (24-30 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.

Praktik yang dilakukan Otty terhadap arsip-arsip itu adalah dengan menonton semua rekaman gambar bergerak yang ia kumpulkan, lalu ia menginterpretasi visual yang ditontonnya di layar komputer jinjingnya itu menjadi banyak lukisan, membedah satu demi satu dari setiap adegan dan mengolahnya menjadi imajinasi baru yang dituangkan ke atas kertas.

12032960_10153184652626732_5301002338128912714_n1
Liputan Harian Tribun Jogja (27 September, 2015) tentang Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence di Ark Galerie.

Interpretasi lainnya juga dilakukan dengan merekam ulang citra-citra gambar bergerak dari arsip tentang tujuh lokasi tersebut. Caranya, Otty meletakkan komputer jinjingnya di lokasi-lokasi yang berelasi dengan lokasi dan peristiwa di masa lalu yang terekam di dalam arsip, lalu memutar arsip-arsip gambar bergerak mengenai tujuh lokasi tersebut di komputernya. Sementara komputer itu menyala dan memutar arsip gambar bergerak, Otty merekamnya menggunakan kamera video ponsel pribadi. Bidikan kamera video dilakukan dengan ambilan yang bergerak menjauh atau zooming out. Kemudian, di lokasi yang berbeda (yang tetap memiliki relasi dengan lokasi sebelumnya), video yang ia buat tadi diputar di komputer jinjing yang sama, dan Otty merekam video baru yang menyorot komputer yang sedang memutar video pertama, juga dengan teknik ambilan zooming out. Di lokasi ketiga, giliran hasil video kedua itu yang diputar di komputer untuk pengambilan video yang ketiga, dan begitu seterusnya, hingga citra bergerak dari arsip yang ia gunakan di awal seakan hilang tenggelam di dalam rekaman video yang dibuat oleh Otty. Proses ini dilakukan berkali-kali dan di lokasi yang berbeda-beda, sehingga hasil rekaman yang dibuat Otty menunjukkan realitas yang berlapis-lapis, meleburkan representasi peristiwa masa lalu dengan representasi peristiwa di masa kini.

Liputan Majalah TEMPO (15 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Majalah TEMPO (24 September 4 Oktober, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.

Di samping itu, dalam bentuk karya video yang lain, Otty merekonstruksi materi-materi arsip gambar bergerak itu dengan cara mem-blow up beberapa adegan melalui editing. Di karya video yang ini, Otty memilih-pilah adegan-adegan dari arsip gambar bergerak yang menunjukkan adanya subjek yang menoleh, melihat, atau menyadari kamera. Wajah subjek-subjek tersebut lantas difokuskan melalui teknik zooming in.

Liputan Koran TEMPO (29 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Koran TEMPO (29 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.

Melalui tiga cara yang dijelaskan di atas, eksperimen yang dilakukan oleh Otty dalam proyeknya, baik yang karya lukisan maupun yang karya video, menjadi aksi untuk membuka lipatan interseksi antara lokasi, kehadiran, dan fungsi dari materi-materi/tubuh/medium, dan juga gesture sosial. Dengan melukis, Otty seakan sedang melakukan “pause” untuk menciptakan daya jeda reflektif melalui medium yang berbeda, dan dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa medium lukis melepas ide penjedaan itu dari otoritas aparatus cyborgian kamera dan peranti pemutaran. Sedangkan pada karya video yang dibuatnya—di dalam pameran ini, alih-alih sekadar layar, citra bergerak dari video itu nantinya justru akan diproyeksikan ke atas kertas—Otty seakan sedang mereduksi nilai-nilai yang melekat pada materi arsip gambar bergerak itu dan mengubahnya menjadi karya seni yang memiliki orientasi berbeda: menggerogoti keterbatasan akses terhadap masa lalu dan mentransformasinya menjadi materi otentik baru yang aksesibel untuk masa kini. Metode ini memberikan celah bagi penafsiran baru untuk mengungkap selubung misteri yang menghubungkan “kehadiran teknologi”, “kehadiran tubuh”, “lokasi”, “reaksi subjek-subjek”, “gesture sosial”, “masa lalu” dan “masa kini”.

Melihat Mereka yang Melihat dan Tidak Melihat ke Arah Kamera

POLEMIK YANG JUGA menjadi persoalan untuk dipaparkan dalam pameran ini ialah tentang material arsip gambar bergerak itu sendiri. Dua kata yang perlu kita cermati ialah “representasi” dan “reproduksi”. Faktanya, rekaman yang dikumpulkan Otty sesungguhnya adalah reproduksi dari rekaman original yang dimiliki oleh bangsa Barat. Sementara di masa lalu rekaman originial itu diambil dengan teknologi seluloid, sekarang ini Otty justru memiliki dan menyaksikan reproduksinya dalam bentuk materi digital (video).

12002758_10153152416526732_2012836527117340511_n

Situasi tersebut mengindikasikan persoalan tentang aksesibilitas sang seniman—dan juga orang-orang kebanyakan—terhadap arsip sebagai materi pengetahuan. Di masa kolonial, bukan hanya sumber daya alam, praktik kolonisasi pada dasarnya juga mengeruk dan tidak menyisakan sedikit saja pengetahuan soal media kepada bangsa yang dijajah. Segala macam aktivitas kehidupan di tanah jajahan direkam, lalu dibawa oleh aparatus kolonial ke negara mereka masing-masing dan di simpan di dalam ruang-ruang arsip yang jaraknya ribuan kilometer dari lokasi asal. Di saat kita ingin mengetahui materi-materi tersebut untuk dipelajari saat ini, akses kita atasnya sangat terbatas. Memang, pada masa sekarang, akses itu sebenarnya telah dibuka oleh teknologi digital dan juga internet. Namun, materi arsip yang dapat kita lihat tetap hanyalah tampilan yang tak lebih dari hasil reproduksi yang sesungguhnya telah kehilangan daya auratiknya. Bukan hanya jarak, sistem penguasaan ilmu pengetahuan seperti itu, dengan demikian, membuat kita juga berjarak sangat jauh dengan masa lalu; berjarak dengan sejarah kita sendiri.

11036952_10153152416951732_4839258548904617951_n

Keterbatasan inilah, salah satunya, yang coba dibicarakan oleh Otty dalam lukisan-lukisan Ones Who Looked at the Presence-nya. Pada sebagian lukisan-lukisannya di pameran ini, sang seniman menangkap wajah-wajah dan gesture tubuh dari subjek-subjek yang terekam kamera kolonial, dan mengidentifikasinya dengan membubuhkan kalimat “yang melihat ke arah kamera” dan “yang tidak melihat ke arah kamera” di beberapa lukisan. Pola yang kita temukan ialah, hanya sedikit subjek lokal (orang yang dijajah) yang melihat ke kamera dalam gesture yang mengerti akan fungsi teknologi tersebut. Berbeda dengan subjek-subjek yang merupakan orang Barat: mereka secara sadar merespon kamera yang membidik mereka sebagai alat yang dapat “mengabadikan” momen. Hal itu tertunjukkan, misalnya, dari ekspresi wajah dan tubuh dari subjek-subjek yang dilukis oleh Otty: orang lokal melihat ke kamera dengan tatapan datar atau dengan pose canggung—atau kita bahkan merasakan suatu impresi keterusikan dari subjek itu—sedangkan orang Barat justru melihat dengan gesture riang gembira atau dengan pose yang siap, seperti mengangkat topi atau melambai-lambaikan tangan. Argumentasi mengenai perbedaan sikap ini ialah, teknologi kamera, pada dasarnya, adalah buah dari modernitas dan sejatinya merupakan kultur Barat; kamera adalah representasi dari modernitas. Namun, modernitas dalam hal ini tidak hanya dilihat melalui aspek kemunculan dan penguasaan terhadap teknologi, tetapi juga struktur-struktur yang terukur sehubungan dengan kehidupan, mental dan sikap serta kesadaran yang dikonstruksi oleh sistemnya.

11988634_10153152416806732_8288421648224155242_n

Lukisan, dalam konteks pameran tunggal Otty di Ark Galerie, dengan kemampuan sublimitasnya untuk memunculkan daya auratik, memainkan peran untuk mengembalikan sisi kemanusiaan yang telah terlanjur tenggelam oleh kedigdayaan modernitas Barat. Aksi melukis justru menjadi cara Otty untuk mengimplementasikan aksi literasi media dan mendadar mekanisme kerja media massa—rekaman-rekaman digital hasil reproduksi arsip original itu, bagaimanapun, sekarang telah menjadi bagian dari wacana media massa. Estetika di dalam seni, sejatinya, berpeluang untuk memecahkan keterbatasan-keterbatasan kita saat berhadapan dengan kontrol media. Sebagaimana filem, kesadaran Otty terhadap lukisan salah satunya didorong oleh hasrat untuk memahami medium, karena pemahaman atas medium adalah dasar untuk memahami mekanisme sistem produksi media itu sendiri.

11986556_10153152416096732_6603734582195688504_n

11998956_10153152415966732_1108988465318390797_n

12002898_10153152416286732_4341885628071461816_n

Menjawab pertanyaan yang saya utarakan di akhir bagian subjudul pertama esai ini, ide dan metode yang sedang dikembangkan dan diwacanakan oleh Otty dalam proyek Ones Who Looked at the Presence, layaknya, dapat kita nilai sebagai sebuah usaha untuk meraih kembali harta karun yang telah dicuri oleh sistem kolonialisme itu—harta karun yang saya maksud ialah akses dan kebebasan atas pengetahuan dan sejarah—dan meletakkannya secara tepat di ranah konteks seni kontemporer saat ini. Lukisan, dengan demikian, tidak lagi terjebak dalam kerangka usang. Sebagai manusia zaman sekarang, Otty sedang melakukan “perekaman antropologis” atas peristiwa-peristiwa masa lalu. “Daya bingkai (frame)” dan “ruang” pada lukisan menjadi suatu legitimasi untuk membuat gambar-gambar yang dilukis Otty, berdasarkan visual yang ia lihat dan pelajari dari arsip-arsip gambar bergerak itu, tidak menjadi sekadar pengulangan visual dari materi gambar bergeraknya (dengan kata lain, bukan reproduksi), melainkan sebagai bentuk yang benar-benar baru, sebagai representasi baru, yang memiliki orientasi yang berbeda: menjadikannya sebagai materi pengetahuan universal dan bebas yang murni berasal dari tangan manusia yang lahir di tanah asalnya.***

Bibliography

Bazin, A. (1967). “Painting and Cinema”. Dalam A. Bazin, & H. Gray (Penyunt.), What Is Cinema? (H. Gray, Penerj., Vol. I, hal. 164-169). London: University of California Press Ltd.


Tulisan ini merupakan esai kuratorial yang saya buat untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, yang berlangsung dari tanggal 10 September hingga 15 Oktober, 2015 di Ark Galerie, Yogyakarta. Selain sebagai dokumentasi, esai kuratorial, berjudul “Otty Widasari: Yang Melihat Media” saya muat di blog ini dengan tujuan agar dapat dibaca oleh khalayak yang lebih luas. Foto-foto yang diikutsertakan diambil oleh Hafiz Rancajale.

Lihat Pernyataan Kuratorial di link ini.

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Otty Widasari: Yang Melihat Media”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s