Mem-bakwan Sumatera Usai Ziarah ke Makam Oma

IMG_20140731_12294072

Di tulisan kemarin, nenek yang saya maksud adalah ibu dari ibu. Sedangkan di tulisan ini, nenek yang saya maksud adalah ibu dari ayah. Tadi siang kami sekeluarga (tanpa Bang Hauza, karena dia harus merawat anaknya yang baru berumur sekitar dua minggu) mengunjungi makam Oma.

Terakhir kali saya bertemu Oma adalah setahun yang lalu, juga pada Bulan Ramadhan dan suasana lebaran. Beberapa bulan kemudian, di Jakarta saya mendapat kabar dari Pekanbaru bahwa Oma meninggal, meninggalkan Opa yang sekarang terbaring sakit di rumahnya sendiri. Terkait kesendirian Opa ini, juga menjadi masalah yang mengesalkan. Sebab, anak-anak Opa seakan tak ada yang peduli dengannya. Ayah saya pernah menawarkan supaya Opa tinggal di rumah Dahlan Magek (ayah dari ibu) yang berada di Jalan Pepaya, sedangkan rumah yang di Jalan Sepakat (rumah Opa) diserahkan saja ke orang lain untuk mengurus kebersihan. Akan tetapi, usul ini ditolak Opa. “Bagaimana pun, lebih senang tinggal di rumah sendiri,” ucapnya. Ibu pernah mengusulkan supaya ia dan suaminya tinggal di rumah sang mertua supaya bisa mengurus pola makan Opa, tetapi usul itu ditolak ayah demi menghindari pergunjingan yang tak diinginkan dari pihak keluarga ayah, kakak-beradik. Sebab, di masa ketika Opa sakit ini, apalagi setelah meninggalnya Oma, percekcokan keluarga soal harta warisan menjadi demikian sensitif. Ayah tak mau ibu dituduh “menjilat” agar kebagian harta warisan. Saya pun yakin, tak mungkin ibu dan ayah ‘gila’ harta warisan. Saudara yang tinggal di rumah Opa (kakak ayah) sepertinya setengah-setengah merawat Opa. Kasihan, Opa. Setiap kali saya ke sana untuk menjenguknya, rasa sedih yang didapat.

Hal itu berkecamuk di dalam kepala saya selama berada di makam. Terlebih lagi, ketika melihat bunga hiasan yang terbuat dari bahan plastik ditancapkan di pusara Oma. Sebegitu merepotkannya kah mengurus “manusia tua” hingga menancapkan tetumbuhan alam pun dihindari supaya tak repot menyirami. Berjalan menuju mobil, saya hanya melantunkan ayat doa untuk jenazah, sembari mengumpati diri yang tidak bisa apa-apa mnghadapi masalah ini. Percekcokan keluarga besar, memang, selalu berada di luar kemampuan saya untuk menyelesaikannya, entah mengapa.

Di perjalanan menuju rumah, perbincangan kami pun tak jauh dari percekcokan keluarga yang sedang terjadi. Kali ini, dari pihak ibu. Sama saja bentuknya.

Bahkan, masalah itu pun menjadi bumbu ketika kami menuntaskan rasa lapar di warung Bakwan Sumatera yang selalu menjadi pilihan jika berjalan sekeluarga. Bakwan itu biasa saja. Hanya karena letaknya di jalan yang bernama Jalan Suamtera, si pemilik usaha menamakan produknya “bakwan sumatera”: bakwan yang disajikan dengan kuah, dimakan seperti kita makan empek-empek Palembang.

Tapi toh masalah keluarga besar itu hanya menjadi bahan obrolan—yang sejatinya disesalkan, tapi dimaklumi—oleh keluarga batih saya sendiri. Kakak dan adik saya, mungkin, bisa mengesampingkan itu dulu sejenak ketka menyantap bakwan. Saya sendiri, tak bisa. Jadinya, saya hanya makan bakwan dengan ‘kehambaran’ yang tak bisa dijelaskan.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s