Sekarang ke Langit

Teman saya dulu, di tengah-tengah kesibukan kami mengejar deadline skripsi, pernah mengolok-olok kebiasaan seorang dosen yang senang memotret langit di senja hari. “Tipikal dosen yang selalu galau,” ujarnya, sembari melirik ke teman saya satunya yang hingga detik itu juga galau karena belum menemukan cowok idaman.

Di era media sosial ini, ketika kita digairahkan oleh kehadiran instagram dan path, manusia mulai mengikuti gerak perilaku teknologi untuk meng-klik objek. Tak ada lagi perilaku menggambar. Semuanya mendambakan kesempurnaan semirip yang faktual. Teknologi fotografi, salah satunya, memenuhi hasrat itu. Tapi, beberapa orang di lingkungan pertemanan saya, lebih senang menjadikan langit sebagai objek.

Sebelum-sebelumnya, saya tak begitu sering melirik langit untuk dipotret. Tapi, tadi sore, langit begitu menggoda untuk saya bidik.

Beberapa jam yang lalu: Wah, ada kehebohan di ruang makan. Oh, sate sudah datang. Memang, rencananya malam ini keluarga saya di rumah akan pesta sate padang. Ada Uda Rajul, kakak sepupu—cucu tertua di keluarga besar saya—yang sedang kayak dan menjadi penyandang dana bagi terselenggaranya pesta malam ini. Yuk, lah! Kita makan sate saja.

Sekarang malam telah larut. Dua menit lagi akan berganti hari. Artikel Snowdon masih menanti untuk diselesaikan. Segera!

TandaTangan_latar_transparant

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s